
Prolog
Dunia ini terasa berhenti, ketika aku melihat kenyataan pahit yang aku alami. Ibuku yang kehilangan nyawa tepat di depan mataku, saat aku berusia 10 tahun. Masa di mana seharusnya aku merasakan kasih sayang kedua orang tuaku, terbungkus kehangatan yang seakan tak tertembus hawa dingin yang siap kapan saja menyerang. Namun sebaliknya. Aku harus melihat kejadian tragis yang tak pernah bahkan tak ingin walau hanya dalam bayangan.
Aku hanya bisa melihat kekejian melalui lubang kunci yang sudah rapuh, di balik pintu lemari kecil di sudut ruangan.
Sudut-sudut ruangan dan diriku menjadi saksi bisu jeritan dan suara tangis ibuku yang meminta ampun tanpa di dengar.
Bengis
Tak ada hati
Mereka tak menghiraukan air mata ibuku. Aku membungkam mulutku dengan tanganku agar isak tangisku tak terdengar. Aku memejamkan mataku sekejab. Air mataku telah luruh, membanjiri pipiku.
"Aaaaagggrrhh"
Suara itu menjadi suara terakhir, sebelum suara derap kaki perlahan menghilang dari ruangan yang kini sunyi itu. Aku mengintip dari lubang kunci itu. Tak ada seorangpun terlihat. Aku pun memutuskan untuk keluar.
Spontan, aku menutup mulutku kembali dengan kedua tanganku. Tak pernah ingin kulihat, aku melihat tubuh ibuku bersimbah darah, sudah tak bernyawa. Aku berlari memeluk tubuh yang sudah lemas tanpa memperdulikan darah yang kini memenuhi tubuhku.
"Ibuu..."
Aku meraung dalam kesendirian. Seketika itu juga terbesit suatu tekad agar mereka membayar atas semua kekejian mereka.
Dan inilah aku, dengan segala misi tersembunyi yang aku bawa dalam hidupku.
The secret mission.
🌹
"Rose!! Buka kaca kanan. Max, lacak terus lokasi target utama!"
Rose dan Max melakukan perintah itu tanpa banyak tanya. Kaca kanan mobil terbuka semua. Tidak lebar, hanya setengah, namun cukup baginya untuk menargetkan lawan. Sedangkan suara ketikan sudah mulai terdengar cepat tertekan. Jemari Max mulai lincah dengan otak briliannya yang sejalan.
Dengan cepat namun tepat, ia mengarahkan pistolnya ke luar. Pelatuk itu tertarik dan terlepas cepat.
Dor dor dor dor
Seiringan dengan suara tembakan yang terdengar, mobil mobil yang mereka kejar mulai oleng. Peluru peluru itu menembus ban mobil lawan membuat keseimbangan mobil itu tidak stabil. Suara suara mobil bertubrukan terdengar hebat dan beruntun. Bahkan ada yang masuk ke jurang. Korban-korban berjatuhan. Kecelakaan lalu lintas tak terelakan lagi.
"Upssii, maaf," ucap seorang berinisial J dengan nada merendahkan tanpa rasa bersalah. Orang yang berurusan dengannya ibarat hama yang harus ia brantas. Sudah selayaknya harus dimusnahkan dengan senang hati. Membiarkan hama itu tetap hidup sama saja dengan bunuh diri.
Dor dor
Suara tembakan itu bersamaan dengan mobil mereka yang sedikit bergetar. Untung saja mobil yang mereka pakai adalah mobil anti peluru. Serangan balik itu telah dilancarkan. Namun sayangnya peluru-peluru itu hanya menyentuh bagian luarnya saja. Biarpun begitu, menyentuh sedikit, artinya telah mengusik mereka.
__ADS_1
"Sial!!! Mereka sangat menyebalkan. Belum tau saja mereka berhadapan dengan siapa," ujar wanita itu dengan tersenyum miring. Tangannya gesit meraih pistol lain dengan peluru yang masih penuh.
"Aku minta satu," ujar Rose dengan tatapan yang masih fokus ke jalan.
J yang mengerti pun langsung memberikan sebuah pistol untuk Rose. Dengan lincah berani, Rose membelah konsentrasinya menjadi dua fokus. Dengan sebelah tangannya yang gesit menarik pelatuk, ia masih sangat gesit untuk menyingkirkan mobil-mobil lawan hanya dengan sebuah tangan memegang kendali setir mobil.
Di dalam mobil itu, suara tembakan dan peluru yang melesat, tak membuat fokus Max teralih. Max tetap mengerjakan tugasnya dengan santai, seakan-akan tak terjadi sesuatu.
"Dapat!"
Lokasi yang Max cari telah terlihat. Ia yang semula duduk tenang di jok depan pun bersorak ria dengan mengepalkan tangannya kegirangan.
"Putar balik! Target ada di utara pantai, kira kira sejauh 3 km dari arah pantai. Kita harus cepat, sebelum mereka menyebrang pulau."
Max terus melihat ke titik merah yang terus bergerak.
"Siall! Rupanya mereka benar benar ingin bermain-main dengan kita! Cecunguk cecunguk tengik itu... Arrgghh!"
Mereka berhasil dikecoh. Lawan mereka mempunyai strategi yang cukup kuat untuk mengalihkan perhatian J dan kawan-kawan. Sang musuh tahu, bagaimana cerdiknya J dan kawan-kawan. Mereka tak mau kecolongan.
Rose yang berada di belakang kemudi pun mengerti. Ia memutar setirnya tiga ratus enam puluh derajat agar mobilnya berbalik arah dengan cepat. Lantas ia menambah kecepatan mobil itu dengan skill mengemudinya yang di atas rata-rata. Biarpun ia seorang wanita, namun kemampuannya tidak usah diragukan lagi.
"Lempar granat!!" titah Rose yang kini melihat mobil-mobil lawannya telah berbalik mengejar mobil yang ia tumpangi.
Max mengabaikan komputer di depannya sejenak. Ia mengambil sebuah granat asap yang tak jauh di sampingnya.
"Damnn!!"
Hampir saja. Sebuah peluru melesat hampir saja menembus dahinya. Ia menarik napas lega.
"Kurang ajar ya. Jangan harap aku kasih hati! Hatiku cuma ada satu ..."
Seketika J dan Rose menepuk dahi mereka masing-masing.
"Masih aja dia melawak!" gumam J.
"Padahal kepalanya hampir saja hilang!" gumam Rose menimpali, mengingat peluru lawan hampir saja membuat kepala Max bocor.
Mereka berdua serentak geleng-geleng.
Duar!!!
Granat itu telah dilempar. Kepulan asap tebal menyelimuti banyak mobil di belakang mereka. Ada beberapa mobil yang oleng ke samping kanan dan kiri jalan, terjun bebas ke jurang yang dalam.
"Wow... Emejing!" seru Max dengan wajah boddohnya kala asap itu mengepul tebal.
__ADS_1
Max yang masih melihat ke arah belakang, kini menyipitkan matanya beberapa waktu kemudian.
"Woaaaah"
Buru-buru ia memasukkan seluruh badannya ke dalam mobil. Detak jantungnya meningkat 2 kali lipat. Tak hanya satu peluru. Beberapa peluru yang muncul dari balik asap itu hampir menghilangkan nyawanya. Masih ada 3 mobil yang bisa bertahan di balik tebalnya asap.
Secepat kilat, Max mengambil satu buah granat lagi. Senyum merekah terlukis di wajahnya itu.
"Rasakan ini!!"
Duaaarr!!!
Granat itu meledak hebat. Kali ini granat itu mampu membakar mobil-mobil yang membuntuti mereka.
"Perfect! Marvelous!!"
Max tersenyum bangga. Tangannya menepuk-nepuk dadanya sendiri.
J dan Rose hanya memutar bola mata mereka malas.
"Serah!" gumam J tak mau menanggapi Max. Sedangkan Rose memilih untuk menambah kecepatan mobil mereka agar sampai di tempat tujuan tepat waktu.
🌹
Boom duaar!!!
Sebuah gudang markas terbakar hebat. Segerombolan manusia yang menggiring 1 wanita dengan tali yang mengikat tangan pun berbalik. Mereka mulai was-was melihat markas mereka di bom tiba-tiba.
"Ha-Aaa... Uupsii, maaf tidak sengaja," ujar J dengan senyum mengejek. Max dan Rose berdiri di samping J, mengapit J.
"Ah... Kurang meriah. Harusnya yang banyak, sekalian rayain tahun baru," imbuh Max yang membuat sang musuh semakin terhina.
"Dasar bocah tengik bau kencur! Kalian sudah mulai ikut campur. Jangan salahkan kami kalau kami harus bertindak keras terhadap kalian!!" ancam ketua komplotan itu yang tidak terima. Kalimat mereka melukai harga dirinya.
"Uuu takut..." ujar Rose mengejek.
"Lakukan jika bisa. Hama-hama seperti kalian harus diberantas sampai tuntas!" imbuh J dengan tatapan datar. Matanya menatap tajam bak sebilah pisau yang siap melesat.
"Dalam mimpimu!" ujar sang musuh tak percaya. Mereka meremehkan kemampuan 3 serangkai itu apa lagi dengan dua anggota gadis bau kencur. Tenaganya juga pasti tidak seberapa, menurut pemikirannya.
"Sayangnya mimpi itu nyata!" Max tersenyum licik.
🌹
Salam hangat,
__ADS_1
Bibit yang berusaha tumbuh 🌱