The Last Mission

The Last Mission
Bab 2 Kebiasaan


__ADS_3

Kriiiing


Stelan alarm berbunyi untuk yang keempat kalinya. Seorang gadis mematikan alarm itu untuk kesekian kalinya pula. Ia hanya menekan layar handphonenya agar suara itu tak mengganggunya lagi.


Seketika ia mengingat sesuatu. Sebelah matanya ia buka sedikit.


"Hari apa ini?" gumamnya pada dirinya sendiri.


"Haaaa... Astaga Tuhan!"


Gadis itu terbangun, duduk dengan punggung tegak. Tatapan matanya lurus ke depan.


"Hari Jumatt!!!" Ia beranjak dari ranjangnya segera. Ia berlari ke sana ke mari hanya untuk mengumpulkan peralatan mandi yang akan ia gunakan. Ia bergerak kalang kabut. Hari ini juga, pagi ini ada ujian di kampusnya pukul sembilan pagi. Sedangkan ia sendiri masih sibuk di rumah di pukul setengah sembilan. Secepat apapun ia bergerak, waktu tiga puluh menit tidak akan bisa membawanya ke kampus tepat waktu.


🌹


"Aihh malas sekali loh!" gumam seorang pria sembari menguap lebar. Tak ada gairah hidup kala ia terbangun di pagi itu. Sudah ia pastikan hari-harinya akan menyebalkan dan membosankan.


Ia tak peduli dengan waktu yang berjalan terus menerus. Ia tak peduli dengan ujian di kampusnya yang tinggal 15 menit lagi akan di mulai. Menggosok gigi dengan mata setengah terpejam pun ia lakukan. Nyawanya seakan tengah keliling ke ujung dunia.


🌹


"Duhhh ... Apa sih ini isinya? Perasaan kemarin sudah kucatat materinya di otakku. Masih aja susah sekali mengerjakannya," ujar seorang mahasiswi cantik. Di tengah banyaknya mahasiswa di ruangan itu, ia adalah mahasiswi terempong. Bagaimana tidak. Sedari awal ujian dimulai, ia sibuk mempertanyakan jawaban yang ia sendiri tidak paham. Berbicara di tengah kesunyian dengan menghiraukan tatapan sinis dari mahasiswa lainnya.


"Apa kau lihat-lihat!" tanyanya kala lirikan mata tajam seakan ingin mengulitinya.


"Idiiihh!! Kau yang kenapa?! Berhentilah bergumam. Kupingku panas!" ucap temannya langsung.


"Jane! Shuutt shuutt!!" ujar seorang di belakang meja Jane yang memberikan kode. Namun jane tidak menanggapinya. Ia masih sibuk beradu mulut dengan temannya yang lain.


"Duuhh gawat!"


Seorang mahasiswa yang bernama Cecep itu memilih untuk tidak ikut campur kala sepasang mata kian menatap ke arah mereka tajam.


"Aku tidak ikut campur," gumamnya memilih diam, mencari aman.


"Heh heh heh!! Ada apa di sana?! Kerjakan soal kalian atau saya anggap kalian selesai sekarang!" tegur dosen yang melihat kejadian itu.


Sontak Jane langsung mengaduh. Dia merutuki dan menyumpahi temannya dalam hati. Ia hanya bisa menatap tajam kepada teman yang menegurnya itu. Tatapan dosen itu lebih mematikan.


"Iya Pak, maaf," ujar mereka bersamaan dengan kepala tertunduk.


Cecep hanya bisa menggelengkan kepalanya singkat sembari mengerjakan soal yang ada di mejanya.


🌹


"Huffftt..."


Helaan napas terdengar dari hidung ketiga manusia yang tengah duduk saling berhadapan di meja kantin. Mereka menyangga dagu mereka dengan kedua tangan mereka masing-masing. Wajah mereka terlihat lesu tak bergairah. Tak ada seorangpun yang berniat memulai pembicaraan, padahal sudah setengah jam mereka duduk bersama di sana.


"Kalian kenapa sih?" ucap mereka bersamaan. Mereka menutup mulut mereka masing-masing.


"Jawab satu satu!"

__ADS_1


"Jangan mengikutiku!"


Lagi lagi mereka mengucapkannya bersamaan. Mereka memutar bola mata mereka malas. Mereka benci diikuti.


"Ah sudahlah aku cabut dulu!" pamit seorang lelaki yang kini bangun, hendak meninggalkan meja itu. Tangannya sibuk memainkan tusuk gigi di mulutnya.


"Idih ... Gitu aja ngambeg! Sono dah sono!" ucap salah seorang gadis di antara mereka. Lelaki itu berjalan meninggalkan meja mereka tanpa memperdulikan ucapan Jane.


"Kenapa sih dia, Jess?" tanya Jane seiring dengan punggung


Jesse hanya mengedikkan bahunya singkat. Ia tidak tahu menahu. Lagian dirinya juga tidak mau ikut campur urusan orang lain sebelum orang itu mengijinkan dirinya ikut campur.


"Kayak gak tau aja. Setiap hari kan dia kesurupan hantu. Kadang diem, kadang heboh, kadang mager, kadang juga kadang-kadang."


Jesse memiringkan jari telunjuknya di dahinya.


Jane tertawa mendengar penuturan Jesse. "Oh iya lupa."


"Gimana ujianmu?" tanya Jane kemudian, pada Jesse.


Jesse meringis canggung. "Telat. Tinggal 15 menit baru sampai."


Jane melongo. Sahabatnya itu masih belum berubah. Bisa-bisanya masih saja telat bangun padahal hari itu ujian. Kejadiannya sudah berulang kali dan tetap saja masih terjadi.


"Gilak! Kau ngapain aja? Aku gak yakin kalau kau belajar. Muka muka seperti dirimu bukanlah tipe orang rajin belajar!" Jane menatap Jesse dengan tatapan menyelidik.


"Ooo ya sudah jelas tidak. Aku hanya ingin tidur saja," jawab Jesse santai, membuat Jane menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku?? Sudah jelas dong belajar! Tapi ya gitu. Gak ingat." Kali ini giliran Jane yang meringis canggung. Berulang kali ia belajar, namun berulang kali juga ia lupa.


"Yee... Itu mah kau saja yang oon!"


Seketika Jesse dan Jane menoleh ke sumber suara. Kini telah berdiri sosok lelaki yang beberapa waktu lalu meninggalkan mereka.


"Kau ya!!" ujar Jane sembari memukul keras lengan kekar yang berusaha meraih kentang goreng.


"Aduh!!" rintih lelaki itu. "Emang kenyataannya. Ya kan, Jess?" Ia mencari pembelaan kepada Jesse. Mereka memang tidak pernah bisa akur.


"No coment!" Jesse memilih diam dari pada ia harus mendapat salah satu lirikan maut dari keduanya. Di antara mereka bertiga, memang hanya Jane yang kecerdasannya standar.


"Dari mana kau, Sen?" tanya Jane dengan kemarahan yang sudah mereda. Jane memang mudah marah, namun semudah itu juga emosinya mereda.


Alsen menarik kursi di meja itu.


"Biasa. Dari menabung," ujarnya santai tanpa dosa. Menabung yang ia maksud adalah membuang hajat. Perutnya kini terasa lega.


"Idiiiuuhh!!! Bisa-bisanya ya kita makan dan kau bicarakan hal menjijikan itu?" ujar Jane sewot.


"Cerewet! Jess saja tidak masalah!" Alsen melirik ke arah Jesse, mencari pembelaan.


"Bukan tidak masalah. Tapi dia hanya diam saja. Malas berbicara dengan kau!" hardik Jane tidak mau kalah


"Aku tidak peduli!" ujar Alsen dengan ledekan.

__ADS_1


"Sudah sudah. Kalian kenapa juga sih? Tak pernah akur kalau sama-sama. Pusing kepala saia." Jesse berusaha menengahi adu mulut di antara kedua sahabatnya itu. Di manapun mereka bertemu, tidak ada kata akur di dalamnya.


"Gimana ujianmu tadi, Sen?" tanya Jesse kemudian. Ia mengambil beberapa potong kentang, lantas memasukkan ke dalam mulutnya satu persatu.


Dengan tangan yang sibuk memainkan tusuk gigi di tangannya, Alsen menjawab, "Membosankan! Soal soal itu tak cukup sulit untuk dikerjakan!"


"Sombong sombuuuooong!!!" sindir Jane, panas. Bukan iri, lebih tepatnya muak saja dengan kenarsisan yang selalu Alsen tunjukan.


"Emang kenyataan. Dasar otakmu saja yang kentang!" ejek Alsen.


"Aaww!!! Sadiss!" ujar Alsen yang meringis kala kakinya diinjak keras oleh Jane.


"Ngapain sih kamu balik lagi?! Sudah bagus bagus kau pergi!"


"Ya suka suka akulah! Sewot kali!" gumam Alsen di akhir kalimat.


Jesse menundukkan kepalanya dengan sebelah tangan yang menutup daun telinga kupingnya.


"Sudah sudah! Mau sampai kapan kalian berantem. Sakit kupingku lama-lama dengerin ocehan kalian!" Jesse angkat bicara. Tidak tahu dengan cara apa ia harus memisah keduanya.


"Sampai dunia hancur!!" ujar Jane dan Alsen bersamaan.


"Udah ya... Dari pada berantem mulu, mending ke KUA sana. Berumah tangga sekalian."


"Ogah!!!" jawab mereka bersamaan lagi. mereka saling beradu tatapan sengit lantas melengos.


Alsen menghela napas kasar.


"Gimana dengan dia saat ini?" tanya Alsen memecah keheningan. Dia yang dimaksud adalah anak gadis pejabat yang akan diperjualbelikan.


"Dia? Dia siapa?" tanya Jane kepo. Koneksi pikirannya yang buruk membuat dirinya lambat menangkap informasi. Namun beda lagi jika ia menjalankan misi. Seakan kemampuan berpikirnya berubah 180 derajat.


"Ck diam dulu kenapa? Kalau otaknya loading, tunggu dulu baru bertanya."


Jawaban Alsen membuat Jane mencebikkan bibirnya, kesal.


"Tadi sih katanya sudah beres. Dia dah pulang ke rumah dengan selamat."


"Syukurlah," jawab Jane dan Alsen bersamaan. Mereka menarik napas lega. Perjuangan mereka tidak sia-sia.


Jesse menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat keadaan di sana.


"Tapi jangan berharap hidup kita aman aman saja. Kita harus tetap waspada. Tetap jaga diri kalian. Tetap seperti ini kalau kita tidak menjalankan misi," titah Jesse.


Mereka berdua mengangguk bersamaan. Mereka paham apa yang Jesse maksud.


"Oke aku pulang. Jangan lupa akhir pekan nanti ke rumahku!" ucap Jesse yang kini beranjak berdiri. Ia ingin kembali ke kosan untuk beristirahat, menghilang sejenak dari dunia yang membuatnya lelah itu.


🌹


Salam hangat,


#bibit yang berusaha tumbuh 🌱

__ADS_1


__ADS_2