The Last Mission

The Last Mission
Bab 6 Misi Baru


__ADS_3

Benar saja. Setibanya di kampus, Jesse menerima berbagai perlakuan yang tidak baik. Ada yang mengejeknya tepat di depan wajahnya, ada yang menyindirnya, ada yang melemparinya sampah, dan bahkan ada yang melemparinya telur busuk.


“Hufft!! Untung saja aku bawa baju ganti. Kalau tidak… iyuhhh baunya…”


Jesse bercermin di kaca besar yang ada di kamar mandi. Ia mencium tubuhnya yang sudah bersih itu. Masih tercium bau telur busuk yang menempel di indra penciumannya lantaran seharusnya bau itu sudah tidak mungkin melekat.


“Jane… Jane. Coba cium. Bau tidak?” tanya Jesse pada Jane yang baru saja masuk menyusul Jesse. Ia khawatir dengan sahabatnya itu.


Jane mencondongkan tubuhnya mendekat ke badan Jesse. Ia membaui tubuh jane dengan hidung mungilnya itu.


“Bau…”


“Hah? Beneran?” tanya Jesse panic.


“Iya bau. Bau sabun wangi. Kamu mandi ya?”


“Iya hehehe … aku sudah pastikan kalua ini bakal terjadi. Jadi dari pada badanku bau semua, mending sedia paying sebelum hujan. Benar kan?” ujar Jesse dengan senyum di wajahnya. Namun Jane tahu. Di balik senyumnya itu pasti tersimpan kesedihan. Jesse berusaha terlihat baik-baik saja.


“Jangan menatapku seperti itu! Aku baik-baik saja.” Jesse tidak suka dikasihani. Ia paling anti diperlakukan special hanya karena kasihan.


“Nggak!” ujar Jane ketus.


“Kau sudah bertemu Alsen belum?” tanya Jesse kemudian. Ia ingin memastikan apa sja yang sudah Alsen lakukan.


“Belum. Entah kemana tu anak. Tau sendiri lah!” jawab Jane jujur. Di antara mereka, Alsen memang makhluk yang paling random. Apa saja bias dilakukan tanpa ada orang yang bisa menduganya.


“Ya sudah, ayo ke kelas. Kelas sudah mau dimulai,” ajak Jesse. Ia berjalan mendahului Jane.


“Kau yakin mau sendirian?” tanya Jane mengkhawatirkan Jesse.


“Iya. Sudah sana. Jangan berpikiran aneh-aneh. Semua akan baik-baik saja. Percayalah.” Jesse tersenyum. Ia berusaha mengambil hati sahabatnya itu agar bia lebih tenang.


Sementara itu, di lain tempat ada tiga orang yang tersenyum miring melihat penderitaan Jesse. Yeah… mereka sang pembuat ulah. Mereka puas dengan hasil kerja Resa yang berhasil mengedit wajah Jesse dengan wajah orang lain. Tidak mereka sngka ternyata hasilnya semulus itu, hingga membuat banyak orang mampu percaya hanya dalam sekali melihat.


“Ayo ke kelas!” ujar Alice mengajak Resa dan Caca mengikuti Jesse yang kini berjalan ke kelas. Alice tak sabar ingin melihat kelanjutan dari cerita yang telah mereka siapkan.

__ADS_1


🌹


Di dalam kelas, Jesse merasa ada orang yang mengawasinya dari kejauhan. Kenyamanannya seakan sirna kala itu juga. Ia mengikuti kelas, namun ia harus terus waspada akan banyak hal yang mungkin saja bias terjadi.


“Oke saya akhiri, selamat siang!”


“Siang, Pak” jawab semua murid serentak.


Mereka semua menatap jijik ke arah Jesse. Mereka masih ssaja berbisik-bisik, dan bisikan itu sangat mengganggu di telinga Jesse. Jesse menghela napas kasar.


“Apa lihat-lihat?!”


“Ihh… sensi!”


Mereka pergi meninggalkan Jesse.


Jesse kembali menikmati kesendiriannya. Ia lebih suka sendiri dari pada harus duduk bersama dengan manusia gosip unfaedah seperti mereka. Ia memasang earphone di telinganya. Musik ia putar keras-keras untuk menenangkan pikiran dan juga hatinya. Ia berusaha waras di tengah ketidakwarasan.


“Hai!”


“Oh kamu,” ujar Jesse singkat. Pria itu adalah orang yang menyelamatkannya waktu itu, Danendra. Baginya Danendra adalah orang asing dan ia tidak tertarik mengobrol dengan orang asing.


“Segitunya kau ingin lepas dari kemiskinan? Ck… rendah sekali harga dirimu.” Danendra berusaha untuk memancing Jesse berbicara.


“Lebih baik diam kalau tidak tahu apa-apa,” sahut Jesse cuek. Bahkan tatapannya tak teralihkan dari sebuah buku yang ia baca.


“Justru karena aku tak tahu, makanya aku ingin bertanya padamu,” ujar Danendra bersikeras ingin mengobrol dengan Jesse.


“Terserah! Mau dijelaskan bagaimapun, juga tidak aka nada yang percaya.”


Jesse masih bersikap dingin dengan keberadaan Danendra di sana.


“Pergilah! Dia akan salah paham lagi.”


Dia yang Jesse maksud adalah Alice. Mendengar napasnya saja Alice tidak suka, apa lagi melihatnya berduaan dengan sang pria idaman.

__ADS_1


Melihat Danendra yang tak beranjak sedikitpun dari sana, Jesse memilih untuk pergi dari sana sebelum permasalahan semakin kompleks. Ia tidak peduli dengan keberadaan Danendra. Yang ia butuhkan adalah ketenangan untuk dirinya sendiri dan berusaha meminimalisir kesalahan yang bias saja ia buat tanpa sengaja.


“Menarik!” ujar Danendra dengan tatapan yang masih tak mau terlepas dari punggung sempit yang kian menjauh itu. Bibirnya membentuk garis lengkung sempurna ke atas. Vape yang selal ia kalungkan dengan tali di lehernya pun ia mainkan berulang kali. Ada keinginan untuk memiliki Jesse. Sikap Jesse yang misterius membuatnya penasaran dan ingin mengetahuinya lebih dalam lagi.


//


“Ada tugas untuk kalian!”


Di rumah tua dekat hutan, mereka bertiga berkumpul untuk melaksanakan rapat mingguan. Mereka yang semula tengah beristirahat, kini mereka beranjak dari kasur yang sejak tadi menariknya. Mereka duduk mengelilingi gawai. Seorang lelaki paruh baya berbicara melalui sambungan telepon. Suara berat berwibawanya meyakinkan mereka bahwa client itu bukanlah sembarang client.


“Loudspeaker!” titah Jesse lirih, namun terdengar tegas, tak terbantahkan.


Alsen mengangguk patuh.


“Di duga ada penyeludupan narkoba di kampus ternama. Kampus itu kampus swasta terfavorit dan memiliki segudang prestasi dengan kepintaran mahasiswa yang tidak bias diragukan lagi. Kampus itu menjadi tujuan utama para pejuang kuliah di seluruh dunia,” jelas lelaki itu tanpa menyebutkan nama kampus itu. Saat itu juga, Jesse, Jane, dan Alsen saling berpandangan, bergantian. Mereka tidak menyangka jika kampus mereka adalah kampus yang dimaksud lelaki itu. Dalam benak mereka masing-masing, mereka bermonolog, “Apa iya benar?”


Jesse, Jane, dan Alsen masih menyimak penjelasannya. Orang itu berbicara tanpa memperkenalkan identitasnya. Mereka telah membuat kesepakatan, siapa saja yang menjadi cliet mereka tidak perlu mengungkapkan identitas, dan client tidak perlu mengetahui siapa dan bagaimana rupa Jesse, Jane, dan Alsen. Yang mereka tau hanyalah : agen itu mempunyai formasi 1 lelaki dengan 2 wanita dan yang perlu mereka tau adalah bahwa keperluan masing-masing pihak sudah terpenuhi. Sang client urusannya terselesaikan, sedangkan Jesse, Jane, dan Alsen sebagai agen rahasia mendapat bayaran dari jerih payah mereka dan prinsip mereka juga terpenuhi. Hama haruslah diberantas tuntas!


“Kalian harus berhasil menemukan mereka, sebelum banyak korban jiwa gila bahkan hilang nyawa karena ketergantungan.”


Lelaki yang diduga paruh baya itu menghela napas kasar. “Saya tidak tahu berapa banyak bandar narkoba yang berhasil menyusupkan obat haram itu. namun yang pasti saya percaya. Kalian dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan baik.”


Lelaki itu percaya penuh. Sudah banyak rumor yang membicarakan jika Agen Rahasia Mawar Hitam itu bukanlah agen sembarang agen. Terbukti mereka mampu menyelesikan berbagaii macam masalah berbahaya yang tidak bias diatasi oleh pihak berwenang saja.


“Oke”


Jawaban singkat yang terlontar dari bibir Jesse menjadi penutup sambungan telepon itu.


“Kita harus benar-benar ekstra hati-hati,” pesan Alsen yang mendapat anggukan dari Jesse dan Jane.


🌹


Salam hangat,


#bibit yang berusaha tumbuh 🌱

__ADS_1


__ADS_2