
Sesampainya di kos-kosan, Jesse masih berpikir keras akan apa uang ia lihat itu. Pikiran dan hati tidak sejalan. Pikirannya melarangnya keras untuk berpikir terlalu memikirkan apa yang ia lihat, sedangkan hati nuraninya menyuruh dirinya untuk berpikir dan berpikir. Ada kejanggalan mulai dari ia melihat banyak mobil lewat yang menuju ke jalan buntu. Seingat dia waktu kecil, ketika ia masih suka berkeliling tanpa tujuan, ia tidak pernah melihat tempat yang terhubung dari jalan itu.
Bukan tanpa alasan. Pohon yang semakin lebat pun menjadi gambaran jika mobil-mobil itu mengisyaratkan sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada yang mereka tuju selain hutan itu sendiri. Apa lagi mobil itu bukanlah mobil yang digunakan penjaga hutan untuk berpatroli.
"Aaarggghh!!! Sial! Aku tidak mau berpikir sendirian."
Jane mengambil gawainya dan mulai mencari nama Jane dan Alsen. Dalam satu waktu, menggunakan fitur panggilan video yang disediakan aplikasi.
"Kalian dah sampai," tanya Jesse basa-basi.
"Ada apa?" tanya Alsen. Dari mimik wajah Jesse, Alsen tau jika ada hal yang ingin Jesse sampaikan.
"Apa?" tanya Alsen sekali lagi.
"Kalian ada merasa aneh gak sih? Terutama saat mobil kita hampir saja tertabrak mobil-mobil itu di hutan?" Jesse kembali melontarkan pertanyaan.
Jane dan Alsen mengerutkan dahi mereka. Antara iya dan tidak, jujur saja mereka baru kepikiran saat ini.
"Menurut kalian, aneh gak sih mobil mewah masuk hutan dengan jalan buntu?"
Brak!!
Tiba-tiba saja Alsen berdiri. "Iya benar, ada kejanggalan di sini. Tidak mungkin mobil itu datang ke hutan begitu tanpa alasan."
"Nah itu yang kumaksud!" ujar Jesse sedangkan Jane masih menyimak kedua sahabatnya. Ia masih sibuk berpikir sendiri. Ia membutuhkan waktu yang lebih untuk mencerna semuanya.
"Ada yang masih ingat nomor kendaraannya tidak?" celetuk Jane tiba-tiba.
Alsen menggeleng. Ia terlalu sibuk marah karena ulah mereka. Dan hal itu cukup membuatnya menyesal.
"B351R"
__ADS_1
"Hah?? Kata apa itu? Berarti bukan."
Sikap Jane yang aneh, menuai banyak pertanyaan dari Jesse dan Alsen.
"Kau kenapa?" tanya Alsen.
"Tidak sesuai ekspektasiku. Padahal tadi aku aman excited jika nomor plat itu membentuk sebuah isyarat sesuai dengan film yang pernah kuliah!"
Seketika itu juga, Jesse dan Alsen melongo. Ia tidak habis pikir akan pemikiran Jane yang terkadang out of the box. Mau heran, tapi itulah Jane.
"Astaga Jane!!! Pikiranmu kejauhan. Hal-hal kek gitu hanya ada di film Jane..."
Alsen tidak habis pikir dengan pikiran Jane. Bisa-bisanya bisa mikir seperti itu.
"Ya kan kukira. Siapa tau kan begitu?" Jane membela dirinya sendiri.
"Kan biasanya tu nomor plat itu adalah nomor rahasia yang membentuk suatu kata yang mengisyaratkan sesuatu gitu. Siapa tau kan itu juga begitu," ujar Jane lagi.
"Coba deh Sen, lacak dulu nomor itu."
Tanpa basa-basi, Alsen mencari komputernya dan membukanya seketika. Ia telah meletakkan gawainya di meja dengan kamera yang mengarah pada dirinya. Tangannya sibuk memencet tombol-tombol itu.
"Mobil itu tidak terdaftar di negara ini."
Berulang kali Alsen mencoba, namun hasilnya nihil. Nomor kendaraan itu tidak ada di jajaran nama data pemerintah.
"Kok bisa ya ..." ujar Jesse bermonolog.
"Kalian pernah dengar tidak, kalau ada seseorang yang berkuasa, tapi tidak ada yang tau keberadaannya? Keberadaannya yang menjadi simpang siur membuat mereka seakan hanyalah mitos belaka," ujar Jane. Ia pernah mendengar cerita itu dari ayahnya,l.
"Iya ingat. Dan bukti itu semakin mengarah dengan adanya nomor kendaraan yang tidak terdaftar di negara manapun. Seakan pemiliknya itu adalah orang yang sangat berkuasa dan berpengaruh," imbuh Jesse.
__ADS_1
"Wih... Tumben sekali pikiranmu benar. Biasanya aja tidak ada benar-benarnya sama sekali..."
Antara mengejek dan memuji, apapun itu, perkataan Alsen terdengar sangat menyebalkan.
"Tidak usah mengejek! Gak lucu!" ujar Jane kesal.
"Ih... Siapa yang mengejek? Aku memujimu tau!
"Bodo amat! Terserah."
🌹
Seorang wanita tak henti-hentinya menangis tersedu. Teguran dari para penjaga tidak ia dengarkan. Lakban yang membungkam mulutnya, semakin membuat dadanya sakit lantaran kesulitan bernapas.
"Diam! Atau saya habisi saat ini juga!" ujar penjaga itu. Ia tidak kuat mendengar suara rintihan-rintihan yang memekakan telinga. Tak kunjung diam, tangisan itu semakin lama semakin kencang.
"Siapa yang ingin memusnahkannya?!"
Tiba-tiba seorang lelaki itu masuk tanpa mereka ketahui. Ia murka kala mendengar ada yang ingin memusnahkan wanita itu tanpa titahnya.
"Sekali saja kalian menyentuhnya selain aku, jangan harap masih bisa lihat cahaya." ujarnya lagi. Tidak ada yang berani membatah. Membantah sekali saja, bayarannya nyawa.
"Pastikan jangan sampai dia kabur!" titah lelaki itu.
Lelaki itu berjongkok tetap di depan wanita itu. Ia tersenyum menyeringai.
"Bertahanlah sumber uangku!"
Yeah... Wanita itu akan segera diperjualbelikan di pasar ilegal.
Setelah mengucapkan demikian, ia pergi meninggalkan wanita itu dalam kegelapan.
__ADS_1