The Last Mission

The Last Mission
Bab 3 Sebuah Perkara


__ADS_3

Bab 3


Jesse Anjani


"Ya, Bu?"


"Presentasikan resume kamu di depan!" titah seorang dosen yang menunjuk Jesse.


Jesse yang asik menyangga dagunya sembari menatap ke luar jendela pun terperanjat. Ia mulai berdiri di tempat duduknya, di baris paling belakang, lantas mengikuti arahan sang dosen tanpa banyak bicara. Rasa kantuknya itu membuat wajahnya terlihat kusut. Itu sebabnya sang dosen sengaja memanggil Jesse pertama kali, agar Jesse lebih serius lagi saat berada di kelasnya.


Semua mata memandang ke arahnya. Mereka menatap bukan dengan sorot mata yang kagum. Namun sebaliknya. Tatapan itu seakan menghakimi Jesse. Jesse tetap tenang berjalan ke depan, mengabaikan tatapan-tatapan itu. Baginya, tatapan-tatapan itu hanya akan ia anggap sebagai lalat yang lewat.


🌹


"Bagus!" puji Sang Dosen dengan singkat, tanpa ekspresi yang berarti. Beliau masih enggan mengakui kecerdasan Jesse yang sedikit di luar nalar. Tampilannya saja yang menyepelekan. Namun ternyata Jesse melampaui kecerdasan teman seangkatannya.


Seusai menjawab di depan, Jesse dipersilahkan untuk kembali ke tempat duduknya. Pada akhirnya ia bisa lepas dari dosen killer itu.


"Hufft menyebalkan!" rutuk Jesse dalam hati. Diam-diam ia menarik napas dalam sembari berjalan ke tempat duduknya. Jesse tak menyadari ada bahaya yang mengintainya.


Duk! Brakkk!!!


Tubuh gadis itu kini tersungkur ke lantai. Wajah nyaris menyentuh lantai. Seisi ruangan itu menahan tawanya. Sedangkan sang pemilik kaki itu tersenyum penuh kemenangan. Ia mengejek Jesse.


Jesse hanya terdiam. Tak ada rasa iba sedikitpun dari teman-temannya. Kalaupun ada, mereka tak akan ada yang berani membantu Jesse.


"Ada apa, Alice?" tanya sang dosen kala mendengar kegaduhan yang ditimbulkan dari sebuah meja yang terdorong tubuh Jesse.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Ini Jesse malah mau menangkap kodok! Dia berniat mau mencelakai saya, Bu. Dia ingin memberi saya kodok. Padahal dia tau kalau saya phobia kodok, Bu!" adu Alice dengan wajah melas. Jesse tak percaya dengan apa yang Alice katakan. Sungguh, kata-kata Alice berkebalikan, 180 derajat.


"Tidak, Bu. Dia bohong!" sanggah Jesse, membela dirinya sendiri. Tak ada teman yang akrab dengannya di sana. Tak ada pula orang yang percaya padanya. Mereka memilih untuk tidak percaya sekalipun mereka melihat kebenaran. Lebih baik mengamankan diri dari Alice dari pada harus ikut menjadi target Alice berikutnya.


Dosen itu menggelengkan kepalanya. Ia menghela napas kasar. Masih berulah saja Jesse di kelasnya. Ia lebih percaya pada Alice.


"Bohong gimana? Bukankah kamu yang bersalah? Dari segi manapun, saya tetap percaya pada Alice," ujar dosen itu. Sikap Jesse membuatnya lebih mempercayai Alice. Lagi pula, Alice merupakan mahasiswa kesayangan para dosen. Tidak mungkin Alice melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu.


"Tapi dia yang salah, Bu. Bukan saya!"


"Bagaimana kamu bisa membuktikannya?" tantang dosen itu.


"Mereka semua saksi matanya."


Jesse menunjuk semua mahasiswa di ruangan itu dengan mantap. Sedangkan mereka semua yang ditunjuk hanya diam, tanpa memberikan kesaksian. Mereka mencari posisi aman dari pada harus berhadapan dengan Alice.


"Apa itu benar?" tanya sang dosen sedikit melunak.


Satu persatu mereka terlihat melihat ke arah Alice, bahkan hanya dengan lirikan pun ada. Nyali mereka menciut. Bukan apa-apa. Selain menjadi target bullyan selanjutnya, mereka takut perusahaan orang tua mereka kolabs, dihancurkan oleh perusahaan ayah Alice. Perusahaan ayah Alice sudah menguasai pasaran 70% di bidang industri. Bukan tidak mungkin keluarga mereka akan hancur dalam sekejab saja.


Sang dosen menunggu jawaban dari mereka semua. Namun nihil. Mereka bungkam dengan kepala yang sedikit menunduk.


"Lihat! Mau cari pembelaan apa lagi kamu?! Kamu bersalah. Cepat minta maaf! Atau ibu juga akan skors kamu!" desak sang dosen.


"Bu!! Ini semua tidak adil. Semuanya mendesakku untuk mengakui kesalahan yang tidak saya perbuat. Bahkan mereka tidak ada yang membantu saya padahal mereka semua tau! Apa perlu kita ke ruang CCTV untuk melihat rekam CCTV di ruangan ini?" Jesse menatap kamera CCTV yang mengarah ke tempatnya.


"Untuk apa CCTV? Bilang saja kalau kamu tidak mau ngaku? Teganya kau ingin menyakitiku," ujar Alice yang bersikap seakan dirinya adalah korban. Air mata palsu menjadi bukti pendukung hingga membuat dosen itu iba.

__ADS_1


"Tidak perlu! Kamu hanya perlu minta maaf!"


Tak ada sahutan lagi dari Jesse. Jesse hanya berdiri mematung sembari menatap ke arah dosen itu dengan tatapan datar. Dosen itu kesal karena diabaikan.


"Kalau kamu tidak bisa menghargai Ibu sebagai dosen kamu, kamu mengulang mata kuliah ibu tahun depan!" ujarnya tegas tak terbantahkan.


"Ya."


Tak ada bantahan yang keluar dari mulut Jesse. Lebih baik ia mengulang dari pada menjatuhkan harga dirinya. Ia berbalik lantas kembali ke tempat duduknya. Alice menatap punggung yang membelakanginya itu dengan senyum penuh kemenangan.


"Rasakan!" gumam Alice. Ia berhigh five dengan teman segengnya yang duduk di sebelahnya. Mereka berdua berusaha meminimalisir suara telapak tangan yang saling bergesekan agar tidak terdengar dosen mereka.


"Kurang ajar!!" Jesse mengepalkan tangannya erat. Ia tidak bisa menumpahkan emosinya di sana. Penampilannya yang cupu, membuat ruang geraknya terbatas.


🌹


"Hufft"


Jesse menghela napas, hingga membuat kedua sahabatnya itu saling memandang satu sama lain. Mereka yang menyantap makanan mereka, sejenak menghentikan aktivitas.


"Makanlah dulu."


Jane menyodorkan makanan milik Jesse yang sedari tadi hanya dijadikan pajangan. Hanya seperti syarat duduk di kantin.


"Malas!"


"Tumben sekali. Kau kenapa?" tanya Alsen.


"Biasa. Curut-curut itu berulah. Aku harus mengulang matkul bu galak itu satu semester," jelas Jesse.


"Bu Galak? Bu Dian maksudnya?" tanya Jane memastikan. Mereka bertiga memang kuliah di kampus yang sama. Tapi mereka memilih prodi yang berbeda.


"Hmm" Jesse hanya bergumam.


"Wah... Benar-benar ya! Gak ada berhenti-berhentinya itu manusia!" Jane mulai emosi. Ia tidak suka sahabatnya diperlakukan tidak baik.


"Emang kurang ajar. Tapi sudahlah. Membahas mereka hanya akan membuat nafsu makanku semakin berkurang!"


Jesse mengakhiri pembicaraan. Ia meraih semangkuk makanan miliknya itu.


Brak!!


Mereka dikejutkan dengan gebrakan meja di meja mereka. Jesse memejamkan mata, menahan amarah. Tangannya memegang lengan Jane yang bersiap memberi Alice pelajaran agar tak melanjutkan niatnya. Sedangkan Alsen duduk di kursinya dengan memainkan tusuk gigi di mulutnya sembari melihat pertunjukan di depannya itu. Memang kawan biadab.


"Selamat mengulang satu semester lagi, besti!!" ejek Alice. Ia menatap Jesse dengan tatapan merendahkan. Tangannya bergerilya menyentuh rambut Jesse yang dikuncir kuda.


"Sepertinya makananmu akan lebih enak kalau aku tambahi ini."


Alice menuang minuman bersoda ke dalam kuah soto milik Jesse.


Alice menatap Jesse dengan senyum miring. Begitupun juga dengan dua orang temannya yang mengapit Alice.


"Dan minumanmu akan semakin menyegarkan kalau aku tambahi ini."


Sesendok sambal dimasukan ke dalam minuman Jesse.

__ADS_1


"Bagus, Sa," puji Alice pada sahabatnya, Resa.


Jane yang bersiap berdiri pun Jesse tahan.


"Jess!!" ujar Jane geram.


Jesse hanya menatap Jane agar Jane tidak melakukan hal lebih.


"Kenapa diam?! Bisu ya? Kasihan..." ejek Alice.


"Bukan bisu. Dia takut sama kamu, Lis," ungkap Caca, teman Alice yang lain.


"Ututututu... Begitu ya!" Alice mengangguk-angguk. Dengan gesit, tangannya meraih mangkok soto itu. Saru detik berikutnya, kuah itu sudah membasahi tubuh Jesse.


"Alice!!!" bentak Jane tidak tahan lagi. Serentak, waktu itu juga kedua teman Alice memegangi tubuh Jesse.


"Shuttt" Alice meletakkan telunjuknya tepat di bibirnya sendiri. "Diam! Atau dia mandi lagi? Belum lengkap bukan, kalau soto tanpa sambal?" ancam Alice dengan sebuah gelas yang kini sudah berada di atas kepala Jesse.


"Jess! Lawan Jess! Kenapa diam saja!" Jane gemas dengan sahabatnya itu. Ia tahu, jika Jesse hanya berusaha mengalah. Mengalah bukan berarti lemah.


"Betul itu. Lawan seharusnya," ejek Alice. Ia yakin, Jesse tidak berani melawannya.


Jane yang tidak tahan pun berusaha ingin merebut segelas air sambal itu. Sedangkan Alice yang sadar akan hal itu, segera menumpahkan air sambal itu.


Alsen yang sedari tadi hanya diam, kini pun ia berdiri dan ingin menangkis gelas itu.


1


2


3


"Aaaarrrgghh!!" jerit Alice. Air sambal itu mengenai kakinya. Alice berusaha menggerakkan kakinya agar air sambal itu tak terlalu lama membasahi kakinya.


"Keterlaluan!" ucap seorang pria.


Suara itu tak asing di telinga Alice. Alice segera mendongakan wajahnya. Betapa terkejutnya ia melihat sosok lelaki di depannya itu.


"Danendra," gumam Alice tak percaya. Ternyata bukan Alsen yang berhasil menangkis segelas sambal itu, namun Danendra, lelaki idaman Alice.


"Kamu tidak apa?" tanya Danendra lembut, seusai membentak Alice.


"Tidak apa!" jawab Jesse singkat.


"Aa..." Danendra menurunkan pandangannya. Secepat mungkin, Danendra melepas kemeja yang ia gunakan sebagai outer. Ia menutup tubuh Jesse dengan pakaian miliknya.


"O-oh. Terima kasih," ujar Jesse canggung. Ia malu. ternyata bagian dalam pakaiannya yang kontras dengan kaos putih yang ia pakai pun terlihat.


Danendra mengajak Jesse pergi dari sana. Alsen pergi membuntuti mereka.


"Wleek!!" Jane menjulurkan lidahnya, mengejek Alice and the genk, sebelum ia juga melangkah mengikuti kemana Jesse pergi. Sedangkan Alice menatap mereka tajam. Tangannya mengepal sempurna. Ia benci dengan pemandangan di depannya.


"Gembel tidak tau diri!!!" gumam Alice geram.


"AARRGGH!!" Alice meraung di kantin itu, tak peduli dengan tatapan pasang mata yang ada di sana.

__ADS_1


"Awas kau ya!!!" ancamnya kesal.


__ADS_2