
“Wihh gilak!!! Kampung- kampung ternyata ayam kampus!”
“Ayam kampung turun harga jadi ayam kampus tuh!”
“Bosan hidup susah kali! Makanya harga diri saja digadaikan!”
“Namanya juga Lon…”
Segala macam hinaan Jesse baca di sana bersamaan dengan Jane dan Alsen dengan gawai mereka masing-masing. Tak ada filter yang menyaring ketikan mereka. Biarpun Jesse berpenampilan susah, namun bukan berarti harga diri harus tercurah. Semua orang mengetik sesuka hati mereka tanpa memperdulikan perasaan orang lain lagi. Tak ada yang memikirkan bagaimana hati Jesse yang terluka karena ucapan-ucapan itu.
“Gilakk!! Kurag ajar kali jempol mereka. Ketemu langsung awas aja! Hilang semua jempol kalian semua!” ancam Jane.
Kini serasa dirinya telah mendidih. Ia tidak rela sahabatnya menjadi bulan-bulanan masa. Mending saja kalua benar. Itu semua hanya fitnah semata yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan bodohnya mereka semua percaya dengan berita hoax. Padahal kalua dilihat dengan jeli, jelas sekali editan itu. Namun iliterasi mereka yang sangat kurang, membuat mereka mau menjadi target.
“Wihh… ngeri sekali…”
Di tengah amarah Jane yang membara, Alsen malah semakin menyulut kemarahan Jane dengan bercanda. Tak menunggu 2 detik pun, sebuah bantal telah melayang ke wajah Alsen.
“Busettt galak benar!!”
“Biarin! Dari pada kamu yang sedari tadi tidak bereaksi apapun. Padahal ini sahabatmu sendiri loh yang dihina! Bagaimana mungkin kamu bias setenang ini? ckckckck…” Jane menggelengkan kepalanya heran, “…sungguh-sungguh tak berperikemanusiaan!”
“Atau jangan-jangan kamu adalah bagian dari mereka semua? Ngaku! Sebenarnya kamu dua orang kan?!” tuding Jane kemudian.
Tak terima dengan tuduhan Jane, Alsen pun ingin beranjak pergi. Namun kesabarannya menahannya untuk tetap berada di sana. Alsen menghela napas kasar. Sampai kapan pun, berdebat dengan wanota hanya akan menguras energinya.
Ting
Sebuah notifikasi terdengar lagi. Kali ini sebuah foto kembali beredar bahkan beredar dengan tak terkendali lagi. Sebuah foto telanjang dua orang lawan jenis tengah melakukan having **** muncul di hadapan mereka. Komenan para penghuni group menjadi riuh seketika. Wajah Jesse terpampang nyata di dalam foto itu.
Jesse, Jane, dan Alsen membulatkan mata mereka seketika. Tak mereka sangka, dang pelaku tidak main main mengedit foto itu.
__ADS_1
“Astajim!! Mataku ternodai!” celetuk Alsen.
“Heh curut! Kurang ajar ya kamu! Itu bukan Jesse! Iya kan Jes?” tanya Jane dengan nada setengah kesal.
“Ck! Kalian tau bagaimana diriku!” jawab Jesse tanpa berniat menjeaskan apapun. Ia tidak pernah merasa melakukan hal-hal yang tidak pantas seperti itu. buktinya saja ia masih perawan hingga detik itu.
“Tuh dengar!!” bentaknya pada Alsen. Kemudian Jane beralih menatap Jesse. “Sudah kubilang. Iya kan Jess! Kalau kita tidak sesekali memberinya pelajaran, mau sampai kapan dia jera? Lihat! Dia semakin menjadi!” ujar Jane dengan amarah yang kian membara.
Jane tidak peduli dengan Alsen lagi. Ia masih mengomel kala perbincangan mereka semua semakin panas. Banyak dugaan semakin ke mana-mana, tak terkendalikan. Sedangkan Jesse sendiri masih melihat gawainya dalam diam, seakan mengabaikan erkataan yang terlontar dari mulut Jane. Ia seperti melihat-lihat foto itu dengan jeli. Verb bulliying tak sudah tidak bias ia hiraukan lagi. Jari telunjuk dan jari tengahnya sibuk menge-zoom foto itu, hingga beberapa menit ia masih terdiam.
“Wait…wait!” Jesse menginterupsi Alsen dan Jane. Alsen dan Jane yang semula masih sibuk beradu mulut pun seketika pun berhenti.
“Coba deh kalian perhatikan foto-fotonya lagi!” titah Jesse kepada kedua sahabatnya itu.
Alsen dan Jane kembali ke tempat mereka duduk semula. Mereka meraih gawai mereka yang ada di atas meja, tak jauh dari sana.
“Ada apa sih, Jes??” tanya Jane penasaran. Ia masih belum bias mencerna apa arah ucapan Jesse.
“Ck! Banyak tanya kau. Sudah lakukan dulu aja gimana sih? Nanti lagi komennya!” ujar Alsen menyergah ucapan Jane yang terlalu banyak bertanya itu. ingin maklum karena otak Jane memang sedikit kurang dibandingkan dengan dirinya dan juga Jane. Namun kesabarannya tidak sebanyak itu untuk memaklumi kekurangan Jane.
“Coba lihat baik-baik deh! Kalian merasa ada yang janggal tidak?” tanya Jesse sekali lagi. Pada detik itu juga, Alsen dan juga Jane melihat kembali ke layar gawai mereka masing-masing. Mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang telah Jesse lakukan.mereka mengamati dari semua sisi. Mulai dari ban mobil, , plat mobil yang sebagian terlihat, kaki seorang laki-laki yang terliat sampai betis, sepatu, celana, dress, dan semua bagian itu pun menjadi objek mereka. Mereka juga mengamati satu foto lainnya lagi.
“Apanya yang janggal, Jess? Bukankah memang benar kedua foto ini hanyalah editan?” tanya Jane yang masih belum mengerti.
Jesse menepuk dahinya sendiri. Benar-benar. Ke-oonan Jane menjadi pelatih kesabarannya.
“Aduh Jane, bukan itu maksudku. Kalua itu sudah tidak perlu menjadi sorotan. Yang perlu mnejadi sorotan itu adalah … coba kalian liat dari kedua foto itu. adakah kalian melihat kesamaan di antaranya?”
Jane kembali mengamati foto itu lagi. Sedangkan Alsen menatap kedua sahabatnya itu sembari meminum kopi yang belum lama ia buat.
“Perhatikan sebuah kalung yang melingkar di lereh ceweknya. Kalian pernah melihat kalung ini tidak?” tanya Jesse sembari memperbesar bagian-bagian foto itu agar Jane juga meihatnya.
__ADS_1
“Seperti tidak asing. Tapi au melihatnya di mana ya?” Jane mengingat-ingat kalung itu. Ia yakin kalua serratus persen kalung itu bukanlah milik Jesse dan serratus persen pula ia yakin kalau ia pernah melihat kalung itu.
Alsen berdecak sok pintar. “Gitu aja mikir lama. Kalung itu adalah kalung sama yang dipakai oleh seorang wanita yang berada di komplotan mereka pada malam itu. gitu saja masih tidak ingat, Jane… Jane…”
Jane berusaha mengingat lagi. Dan tepat. Kalung itu ada di leher wanita itu. Seorang wanita yang berada di ujung komplotan itu. Wanita itu berdiri seperti seorang ketuanya.
Jane menatap Jesse dengan telunjuk tangan yang menunjuk mantap.
“Wanita itu!” ujar Jesse dan Jane bersamaan.
“Benar gadis itu kan, Sen?” tanya Jesse pada Alsen.
“Tepat! Wanita itu pemilik kalung ini,” ujar Alsen membenarkan.
“Namun apa hubungan mereka bertiga dengan wanita pemilik kalung ini?” tanya Jane pada Alsen.
Alsen mengedikkan bahunya. Apa yang mereka lihat seperti kebetulan yang hanya kebetulan saja. Tidak mungkin mereka bertiga bisa mendapatkan foto itu begitu saja. Apa lagi wanita itu menyandang latar belakang yang bukan kaleng-kaleng. Ada komplota hitam yang ia sandang.
“Sen, selidiki ini semua. Aku yakin, jika memang mereka bertiga ada hubungannya dengan wanita itu, maka bukan tidak mungkin, keberadaan kita akan segera tercium oleh mereka. Kita harus lebih berhati-hati lagi.”
Jesse tidak tahu pasti akan dugaannya. Namun jika dugaannya benar, maka keberadaan mereka sangat terancam.
Alsen mengangguk, “Baiklah. Sekalian, gosip ini aku urus juga secepatnya.”
“Jangan! Biarkan saja gosip ini memanas dan berjalan seperti sebagaimana semestinya. Kita lihat saja nanti,” ujar Jesse dengan berbagai kemungkinan di dalam benaknya.
Untuk menghadapi masalahnya kali ini, mereka tidak boleh gegabah. Mereka harus tetap tenang, tapi pergerakan mereka tidak boleh mencurigakan. Mereka harus bersikap selayaknya orang lain menghadapi masalah seperti itu.
"Aku harus menemukannya sebelum dia menemukanku!" tekad Jesse dalam hati.
🌹
__ADS_1
Salam hangat,
#bibit yang berusaha tumbuh 🌱