
B351R
Nomor plat itu menjadi pengisi ruang kosong dalam pikiran Jesse. Dirinya berpikir keras akan hal itu hingga masalah pembulian pada dirinya ia anggap seperti udara lewat. Logikanya menyetujui pemikiran Jane namun ia belum bisa percaya sepenuhnya. Masih harus ada beberapa bukti untuk memperkuat spekulasi itu. Atensinya tereksploitasi membuatnya tidak menyadari jika kedua sahabatnya datang menghampirinya duduk di salah satu gasebo di taman kampus.
"Woey!!" Alsen yang terbiasa dengan keusilan dan keisengannya mengagetkan Jesse hingga Jesse berjengit kaget. Tatapan tajam Jesse layangkan. Ia kesal dan terganggu dengan keberadaan mereka berdua. Jesse berdecak kesal.
"Ck! Apaan sih?! Ga jelas!" ujarnya menohok. Jesse tidak suka diganggu jika dia sedang sibuk. Tepatnya sibuk dengan pikiran sendiri.
Jane tertawa mengejek Alsen, "Kasihan deh lo kenal omel!" ucapnya tanpa bersuara. Begitu kira-kira yang tersirat pada raut wajah Jane.
Alsen hanya memutar bola matanya malas.
Mereka berdua mengambil tempat yang kosong di dekat Jesse. Mereka saling menatap lantaran melihat Jesse yang kembali termenung dengan headset yang menyumpal kedua telinganya. Mereka saling bertanya dengan menggerakkan bibir tanpa bersuara. Sesekali Jane mengedikkan bahunya. Dirinya juga tidak tau jika Jesse sudah termenung sendirian.
"Apa sih yang kau pikirkan? Ayolah bilang sama kami. Kita kan sudah lama sama–sama. Masak masih harus sembunyi-sembunyi."
Alsen membuka suara. Ia sendiri juga penasaran dengan arah pikir Jesse. Dirinya bukan paranormal yang mengetahui jalan pikir orang lain secara cepat dan tepat.
__ADS_1
Jesse hanya menoleh sebentar. Ia menyenderkan punggungnya pada punggung kursi kayu yang ia duduki lantas matanya menyapu ke seluruh penjuru, memantau keadaan. Setelah dirasa cukup aman, ia mencondongkan badannya mendekat ke arah Alsen dan Jane.
"Kukira ucapan Jane ada benarnya. Nomor plat itu bukan sembarang plat. Sepertinya film itu memang nyata." Jesse mengingat kejadian kemarin. Sedangkan Alsen masih setia mendengarkan.
"Nah kan benar kataku. Aku bilang juga apa!" ujar Jane dengan mata berbinar penuh kemenangan.
Alsen menggaruk dahinya dengan telunjuk kirinya. Jujur saja ia jengah dengan kelakuan Jane. "Narsis aja terus!" gumamnya malas dan masih terdengar jelas.
Jane memelototkan matanya menatap Alsen. "Kayak tidak pernah sombong aja. Perasaan kau lebih parah!" sewot Jane tidak terima. Kalau dihitung, lebih banyak kenarsisan Alsen dibanding dirinya. Mungkin kalau dihitung, kenarsisannya hanya sepucuk jari Alsen.
Jane memutar bola matanya malas mendengar jawaban unfaedah dari bibir Alsen. Bagaimana bisa ia berteman dengan manusia modelan Alsen. Badan boleh tinggi besar, cakep, wajah mulus. Tapi akhlak minus. Hadeuuhh!!
Jesse menghela napas kesal, hingga hembusan napas itu terdengar di telinga Aksen dan Jane. "Ck! Bisa gak sih kalian diam? Pusing aku dengernya! Mending kalian pergi dari pada membuatku makin pusing!" usir Jesse. Mereka yang berdebat, imbas yang ia dapat.
Alsen hanya menampilkan cengiran kuda ala Alsen. Sedangkan Jane masih jengah dengan sikap Alsen.
Suasana menjadi hening. Jane dan Alsen pada akhirnya menyerah. Mereka sibuk memainkan hp mereka sembari menunggu Jesse yang tetap sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
"Dahlah! Aku pulang!" Jesse berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu tanpa menghiraukan kedua sahabatnya yang memanggilnya berulang kali.
Sesampainya di kosan, Jesse merebahkan dirinya di kasur dengan alas yang tidak begitu empuk namun cukup nyaman dengan kosnya sekarang. Kondisi kos nya memang tidak mewah, fasilitasnya pun biasa aja. Tapi kehidupan itu yang ia inginkan sekarang apa lagi pekerjaannya mengharuskannya harus bisa menjadi apa saja.
Netranya menatap langit-langit kamar. Tangannya memeluk guling yang ada di atas tubuhnya. Pikiran-pikiran tentang banyaknya kemungkinan berseliweran di dalam otaknya. Ia sendiri tidak berniat menghentikan aktivitas melamunnya.
🌹
"Jangan sampai ketahuan!!" titah seorang pria dengan pakaian tertutup serba hitam. Pria itu menyuruh anak buahnya mengeluarkan beberapa boks kardus. Pria itu melihat ke segala penjuru arah untuk memastikan keadaan aman. Ia tidak mau mengambil risiko akibat tindakannya yang gegabah. Keadaan memang mendukung. Halaman belakang kampus sudah sepi. Lagi pula tidak ada orang yang berani menjamah tempat itu lantaran tempat itu mempunyai rumor angker sepanjang masa.
Mereka melaksanakan titah pria misterius dengan patuh. Kecepatan mereka memindahkan barang tidak diragukan lagi. Hanya butuh beberapa menit, kini barang sudah dipindahkan.
"Cabut!"
Mereka meninggalkan tempat itu setelah barang yang mereka bawa telah mereka simpan di tempat yang tidak terjamah. Dengan begitu aksi mereka tidak akan pernah ketahuan.
🌹
__ADS_1