The Last Mission

The Last Mission
Bab 7 Pria dan Mobil Misterius


__ADS_3

“Kapan kita balik ke kota?” tanya Jane tiba-tiba. Ia membereskan sebagian barangnya ke dalam tas yang ia bawa. Begitupun juga dengan Jesse. Ia menyiapkan barang yang biasa ia bawa ke kota. Sedangkan Alsen masih bersantai di teras belakang rumah.


“Terserah. Mau sekarang atau nanti malam, aku ikut saja. Kan Alsen juga yang bawa mobil,” jawab Jesse yang juga sibuk dengan ranselnya.


“Alsen!!!”


“Hmm!!!” terdengar suara gumaman keras yang terdengar dari arah Alsen berada.


“Apa?” tanya Alsen singkat. Alsen memilih mengalah dan menghampiri para wanita itu.


“Mau balik kapan?”


Tak langsung menjawab, Alsen pergi ke luar lagi. Ia melihat cuaca di daerah itu dan sekitarnya lantas kembali masuk menghampiri Jesse dan Jane. Cuaca tidak memungkinkan jika malam nanti ia harus mengemudikan mobil dengan cuaca yang mendung. Belum lagi kabut tebal yang hanya menyisakan beberapa meter jarak pandang saja. Ia tidak ingin hal yang tidak mereka inginkan tejadi sia-sia.


“Ayo sekarang saja.”


Jesse dan Jane mengangguk sigap. Mereka memilih untuk tidak menyia-nyiakan cuaca bagus di sore itu. perjalanan mereka dari desa itu ke kota membutuhkan waktu kurang lebih tiga setengah jam perjalanan. Perjalanan yang cukup untuk membuat punggung mereka encok.


“Minggir, biar aku saja yang nyetir!”


Jane menyerobot kursi kemudi yang pintunya baru saja Alsen buka.


“No… biar pria yang mengemudi. Pria sejati tidak akan membiarkan para wanita mengemudikan mobil jarak jauh,” ujar Alsen beralibi.


Jujur saja ia rindu menyetir jarak jauh. Sekalian biar saja Jesse dan Jane beristirahat. Tubuh mereka yang lebih lemah haruslah ia lindungi. Lagi pula daya tahan pria lebih kuat dibandingkan dengan kedua tubuh lemah itu. tak peduli benar atau salah anggapannya, yang terpenting tubuhnya lebih kuat.


Jane memutar bola matanya malas. Baginya ucapan Alsen hanyalah sebuah alasan untuk terhindar dari aib yang terbuka saat ia tertidur. Alsen tidak bias menahan kantuk saat ia hanya terdiam di dalam mobil dalam perjalanan yang lebih dari 1 jam. Membosankan! Ia tidak ingin mati kebosanan dan menjadi bulan-bulanan kedua makhluk menyebalkan yang selalu memojokannya sendirian.


“Ayo! Kapan berangkat?” tanya Jesse yang kini sudah berada di dalam mobil.


“Dah sana! Jesse dah nunggu itu!” titah Alsen tak terbantahkan. Jane mendengkus kesal.


“Iya-iya!”


“Nah gitu dong,” ujar Alsen penuh kemenangan. Ia mulai duduk di balik kemudi dan menjalankan mobil itu dengan keahlian menyetir yang ia miliki.

__ADS_1


🌹


“Menurut kalian, apa mungkin kampus kita yang sangat luar biasa terkenalnya bias semengerikan itu?” tanya Jane membelah kesunyian di tengah pohon-pohon rindang yang mengiringi perjalanan mereka.


“Entahlah. Aku juga tak yakin.”


Ingin sepenuhnya Jesse mempercayai clientnya seperti yang sudah-sudah, namun kali ini kenyataan yang ada di depan matanya seakan membungkam kepercayaannya itu.


“Jangan mudah percaya dengan apa yang kita lihat, sekalipun itu tepat ada di depan mata kita sendiri. Banyak tipu daya yang menjadi penutup mata, hingga mata kita seakan buta, padahal hanya tertutup kain saja.” Alsen menyeletuk begitu saja. Ia menatap kedua sahabatnya yang ada di jok belakang itu melalui kaca yang kecil.


Jesse dan Jane berusaha mencerna apa yang Alsen maksud itu. Semuanya terlihat begitu samar. Tidak ada yang benar-benar bias mereka percaya saat ini.


“Apapun yang terjadi, kita hanya boleh percaya penuh dengan tim kita. Di luar itu harus kita uji terlebih dahulu. Kawan bias jadi musuh dan musuh bias menjadi kawan. Dan kita harus siap dengan hal itu!” ujar Alsen lagi.


Brak!!!


Tiba-tiba saja sebuah mobil melintas kencang. Badan mobil itu menyerempet bagian depan mobil yang mereka kendarai. Hampir saja mereka kehilangan nyawa. Badan mereka bertiga terkantuk ke depan. Untung saja keseimbangan mereka sudah terlatih, sehingga mereka mampu mengendalikan gerakan darurat yang sepele namun bias mengurangi cidera kecelakaan.


“Woey!!! Matamu kau taruh mana?!” teriak Alsen mengumpat. Suaranya tidak mungkin terdengar, namun tetap saja Alsen melakukan itu untuk melampiaskan kekesalan.


Jesse menatap jalan dengan mobil yang telah menghilang di balik panjangnya jalan yang memanjang dengan deretan pepohonan yang membuat jarak pandang mereka tidak jauh.


"Hati-hati!" ujar Jesse. Sudah melintas dari depan mobilnya, Jesse masih saja menatap mobil itu. Ia sendiri heran. Baru kali ini ada beberapa mobil yang berkejar-kejaran melintasi daerah itu.


"Thanks"


Jesse hanya mengangguk singkat. Ia masih menatap ke arah mobil itu melaju meskipun mobil yang mereka tumpangi telah mulai berjalan menyusuri jalan yang tak lebih dari 3 meter itu. Mobil-mobil itu benar-benar menyita perhatian Jesse.


"Apa yang kau lihat, Jess?" tanya Jane heran.


"Tidak," kilah Jesse yang masih enggan memberitahu apa yang ada dalam benaknya.


"Oke. Jangan main rahasia-rahasiaan di antara kita," ujar Jane.


"Iya... Tidak kok."

__ADS_1


Seketika itu juga, Jesse bersyukur telah dipertemukan dengan mereka berdua. Kehadiran Jane dan Alsen cukup untuk mengisi hidupnya yang sampai saat ini masih kosong.


🌹


Senyum menyeringat terlukis di bibir pria pitu. Ia mendorong seorang wanita hingga terjungkal hebat. Wanita itu menjerit tertahan, lantaran mulutnya terbungkam dengan isolasi dan kain telah mengikat kedua tangan wanita itu. Air mata wanita itu luruh seketika. Air bening itu mengalir tak tertahankan menyadari dirinya tidak berdaya dan sadar jika dirinya dalam bahaya.


"Cup cup cup cup ... Tidak usah menangis anak manis. Harusnya hari ini kita bersenang-senang bukan? Lihat ini!"


Pria itu memperlihatkan seperangkat alat yang terbungkus dalam wadah transparan. Ada borgol, ada tali tambang, ada bulu, dan masih banyak lagi peralatan lainnya.


"Anak manis dilarang manis," ujarnya sekali lagi sembari mengusap air mata yang menetes itu.


"Dan kamu akan bisa merasakan nikmatnya surga dunia. Saya yakin, setelah ini kamu malah ketagihan dan memintaku berulang kali untuk melakukan hal yang sama. Bukankah sangat menyenangkan?"


Perkataan itu membuat wanita itu semakin merinding ketakutan. Ia semakin meringkuk ke belakang, mengurangi jarak antara dirinya agar pria itu tak terlalu dekat padanya.


"Utututu... Mau kemana anak manis, saya rasa aku sudah cukup bersabar padamu."


Wajah wanita itu semakin ketakutan. Semua orang memandangnya rendah. Tak ada seorangpun dari mereka yang ada di sana, memiliki belas kasihan dan berniat untuk membantunya. Dada sesak karena menangis, membuat dirinya kesulitan untuk bernapas.


Sreett


lakban itu telah terlepas.


Cup


Sebuah kecupan hangat nan kasar mendarat ke bibir wanita itu. Badan wanita itu seakan terpaku. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Kala itu juga ia tersadar. Sekuat tenaga wanita itu mendorong tubuh sang pria.


"Kurang ajar!!! Ajari dia sopan santun!!"


ujar sang pria sebelum meninggalkan tempat itu. Ia tidak suka dengan penolakan. Baginya penolakan berarti menjatuhkan harga dirinya.


Sedangkan wanita itu meringkuk, menangis dalam diam. Ia ingin pulang.


🌹

__ADS_1


Salam hangat,


#bibit yang berusaha tumbuh 🌱


__ADS_2