The Last Mission

The Last Mission
Bab 4 Foto Misterius


__ADS_3

Suara renyahnya dari cemilan yang hancur di dalam mulut pun kini telah mendominasi ruangan yang sunyi itu. Ketiga gadis berbaring di kasur dengan sebungkus camilan di tangan mereka masing-masing. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka saling terdiam.


“Enggh!!” Alice membalikkan badannya menjadi tengkurap. Kedua sahabatnya itu pun mengikuti Alice. Mereka seperti anak ayam yang mengikuti induknya ke manapun dan apapun yang dilakukan oleh sang induk.


“Kalian ada ide gak?” Tanya Alice frustrasi. Ia masih belum menemukan bagaimana cara untuk menjatuhkan Jesse.


Kraukk


Sebuah makanan ringan masuk ke dalam mulut, bulat-bulat. Tak hanya sekali dua kali. Caca melakukannya berulang kali. Suara itu membuat telinga Alice tidak nyaman.


“Ihhh!!! Berhenti dulu napa? Gatel kupingku lama-lama,” omel Alice.


“Apaan sih Lis? Aku laper tauk!”


Caca merebut bungkus makanan itu dari tangan Alice.


Baru jemarinya hampir menyentuh sebuah camilan, bungkus makanan itu telah berpindah tangan kembali. Alice sedang tidak ingin mendengar suara kriuk dari mulut Caca. Suara itu semakin menambah amarah yang sedari tadi membara di dalam hatinya itu.


“Shutt!” Resa bergumam kepada Caca. Tatapan matanya mengisyaratkan pada Caca untuk mengalah dahulu. Perkara makanan akan lama terselesaikan andai Caca tidak kunjung mengalah.


Caca menghembuskan napasnya kasar. Mau tak mau ia harus menuruti perkataan Resa. Atau persahabatannya dengan Alice akan dipertaruhkan.


“Ada ide gak, Sa?” tanya Alice pada Resa.


“Entahlah. Aku tidak tahu. Yang aku tahu saat ini adalah, aku lapar.” Resa menyengir seketika. Rasa lapar membuatnya kesulitan untuk berpikir. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah makanan. Perkara lain akan menjadi terbelakang.


Alice berdecak kesal. Pada nyatanya kedua sahabatnya itu sama saja. Mereka sulit diajak serius tanpa sogokan makan.


“Eh-eh? Mau ke mana?” tanya Caca panik kala melihat Alice yang beranjak dari tempat tidur mereka.


“Gak usah banyak tanya. Ikut atau tidak!” Alice terus berjalan ke luar kamar.


“Ikutt!!!” jawab Caca dan Resa serentak. Mereka bergegas mengejar Alice yang berjalan cukup cepat.


“Eh-eh…. Sandalku!!” ujar Resa panik. Sandalnya terlepas dari kakinya kala ia berlari mengejar Alice.


“Cepat Sa!” titah Caca yang sudah mendahului Resa.


“All you can it!” teriak Caca.


Mata Caca dan Resa berbinar kala Alice membawanya ke tempat makan. mereka bisa memakan semua menu makanan yang ada di sana sepuasnya.


Slogan mereka : perut kenyang hati pun kenyang.

__ADS_1


,🌹


“Hufftt…”


Aroma manis semerbak tercium dari kepulan asap vape yang Danen hisap. Ia lebih menyukai vape dari pada rokok batangan langsung. Baginya aroma tembakau hanya akan membuatnya batuk-batuk. Ia tidak ingin mati konyol karena asap rokok.


"Bagaimana dengan cabang utama?"


Danen kembali menghisap vape miliknya dalam-dalam. Kepulan asap itu tercipta kembali memenuhi ruangan itu.


"Penjualan di cabang utama memiiki meningkat sebanyak 20 persen dari biasanya. Strategi yang kita gunakan sangat tepat. Namun kita harus segera memunculkan produk baru, agar produk sebelah tidak mudah menirunya," ungkap Yohan, orang kepercayaan Danen.


"Hmmm... Kebiasaan mereka tidak kreatif!" gerutu Danen. "Lakukan yang terbaik! Pertahankan posisi kita!"


"Baik, Tuan!"


Seketika tatapan mematikan melayang kepada Yohan. Lirikan kesal itu menghakiminya saat itu juga.


"Sudah kubilang berapa kali ha?! Aku tidak suka dipanggil begitu. Kenapa kau ngeyel sih?" omel Danen. Sedangkan Yohan dengan sopan masih menunduk.


"Kau lebih tua dariku. Ayolah! Gak perlu seformal itu padaku!" Danen menghisap vape itu lagi.


"Maaf, Tuan," jawab Yohan sopan.


"Maaf, Tuan." Yohan meminta maaf lagi. Sontak Danen meraup wajahnya sendiri dengan sebelah tangannya.


"Serah!" Danen menyerah. Ia pergi dari ruangan itu, meninggalkan Yohan sendirian. Meeting mereka pun belum usai. Namun Danen sudah terlanjur badmood.


Yohan cukup tau diri saja. Tidak mungkin ia menuruti semua hal yang Danen minta. Kebaikan Danen mampu menyelamatkan hidupnya di titik terendahnya kala ia kehilangan rumah, keluarga dan adik yang meninggal karena luka bakar yang parah. Kehadiran Danen di hidupnya sudah cukup untuk merubah hidupnya.


Yohan menatap pintu yang menyisakan bayang-bayang tubuh Danen. Ia tersenyum tulus. Dalam hati ia berikrar, ingin tetap berada di samping Danen, apapun dan bagaimanapun keadaan dan posisi Danen.


🌹


"Jess! Apa apaan sih? Aku tu geram tau gak? Kenapa kau tidak melawan saat mereka menyerangmu? Kenapa kita tidak boleh membantumu? Mereka sangat keterlaluan! Harusnya sesekali kita beri pelajaran biar dia kapok!" ungkap Jane jujur. Ia tidak suka sahabatnya itu dibully seperti itu. Apa lagi itu di depan publik.


Dengan santainya, Jess menggosokkan handuk ke rambut kepalanya yang masih basah. Sedangkan Alsen hanya duduk bersandar pada kursi panjang di ruangan itu, sembari menatap kedua sahabatnya itu dalam diam.


"Gak segampang itu, Jane!"


"Apa lagi sih?! Kenapa kenapa? Kan tidak papa kalau kita menggunakannya sesekali? Terus bagaimana denganmu kalau begini terus?! Iiihhhh ...! Dasar penyamun!" omel Jane kembali.


"Tidak bisa! Pergerakan kita bisa saja terdeteksi oleh mereka. Beruntung pula identitas kita tidak diketahui oleh mereka. Tapi bukan tidak mungkin mereka bisa menemukan kita secepatnya."

__ADS_1


Mereka yang dimaksud adalah para musuh yang mengintai mereka.


"Nah betul itu. Makanya sumbu tu dipanjangin!" Alsen angkat bicara. Kali ini ia setuju dengan pendapat Alice. Pergerakan yang salah, hanya akan membuat lokasi mereka terdeteksi dan pada akhirnya identitas kita akan dibongkar, dan penyamaran kita akan terbongkar lebih cepat. Ruang lingkup pergerakan kita pun akan semakin sempit.


"Hufft!!!" Jane menghela napas kasar.


"Terus gimana dong? Itu anak kalau dibiarkan terus menerus pun sama saja. Yang ada dia semakin merasa berkuasa!" ujar Jane semakin kesal. Belum terjadi saja Jane sewot seperti itu, bagaimana jika hal itu terjadi?


"Dahlah biarkan saja! Yang penting jangan sampai kita terpancing untuk mengeluarkan apa yang kita bisa. Itu saja. Urusan Alice biar menjadi urusanku sendiri," tekad Jesse.


"Tidak bisa begitu dong Jess..."


"Bisa tidak bisa harus bisa," sahut Jesse cepat.


"Hmm" Jane bergumam kesal sebagai jawaban Jesse.


"Eh iya. Siapa tadi cowok itu? Kamu kenal ya?" tanya Jane kepo. Langkah sigap untuk melindungi Jesse sangatlah tepat. Ia meleleh dibuatnya.


"Apaan sih?! Biasa aja, Jane."


"Tapi itu ... Arrgh cakep loh. Gantle lagi!" seru Jane. Jesse yang mengalami, dia sendiri yang heboh. "Meleleh hati adek, bang!!"


"Lebay!! Aku juga bisa seperti itu!"


Alsen membela dirinya sendiri.


"Heleh apaan?! Lihat tadi? Tidak bisa kan?"


"Ya-ya itu kan kalah cepet doang!"


"Hilih!!"


Tiba-tiba notif gawai pun terdengar. Mereka bertiga meraih gawai milik mereka masing-masing.


"Jess??"


Jane melihat sebuah foto yang memperlihatkan punggung yang gak lain adalah dirinya.


Tak lama kemudian, notifikasi group mereka ramai seketika. Mereka menggunjingkan Jesse tepat di depan mata Jesse.


🌹


Salam hangat,

__ADS_1


#bibit yang berusaha tumbuh 🌱


__ADS_2