The Nature Queen

The Nature Queen
03 Kisah Lee Na


__ADS_3

" Malu kok dijewer. Gak malu, loe bully anak orang tadi?"


Chan Yi melepaskan jewerannya, saat sampai di tempat Lee Na berada.


" Minta maaf sekarang! Kalo gak, gue aduin Loe ke Ayah,"


Mau gak mau, Hyun nurutin Kakaknya, Chan Yi. Hyun minta maaf sama Lee Na, atas apa yang ia lakuin selama ini pada Lee Na.


" Maafin Gue ya, Na. Gue salah selama ini," tutur Hyun tulus.


Lee Na tersenyum dan mengangguk.


" Gak papa kok, gue udah maafin loe,"


" Thanks ya,"


So Yun terbelalak dengan apa yang dilakuin Hyun.


" Oppa, apa yang Oppa lakuin? Gak salah aku, Oppa minta maaf sama Cupu ini? Dimana harga diri Oppa selama ini? Dan siapa Chan Yi, Oppa? Kenapa kau begitu nurut sama dia?" tanya So Yun bertubi-tubi.


Hyun tersenyum mendengar pertanyaan dari So Yun, yang bertubi-tubi. Ia menghampiri pacarnya tersebut. Lalu memeluknya dengan tulus.


" Aku gak berubah kok. Aku masih kayak dulu. Aku nurutin Chan Yi, karena ia Kakak ku. Aku minta maaf sama Lee Na, karena kasihan tiap hari di bully mulu. Coba kalau kita di posisi dia, apakah kita akan setegar dia?"


" Loe gak demam kan, Bro?" tanya seorang siswa yang datang tiba-tiba.


Hyun melepaskan pelukkannya, dan menoleh ke arah suara tersebut.


" Gak kok, Gue sehat seperti biasa,"


Chan Yi menyeringitkan dahinya.


" Hyun, siapa dia?"


" Oh, ya. Kenalin dia namanya Feng Liu Xiang, biasa di panggil Feng Li. Dia anak kelas sebelah. Feng Li, kenalin ini Kakak Gue. Namanya Xiao Chan Yi Yang, biasa di panggil Chan Yi,"


Mereka berdua bersalaman. Chan Yi terkejut seketika, ia merasakan ada yang beda dari Feng Li. Saat itu juga, Chan Yi melihat sekilas matanya. Warna silver menghiasi mata Feng Li. Tapi, hanya 10 detik saja.


' Siapa kau?' batin Chan Yi.


Tak ada reaksi dari Feng Li. Ini pertanda bahwa, Feng Li hanyalah keturunan.


" Senang berkenalan dengan Loe, Feng Li. Boleh Gue tahu, Hyun bully anak orang berapa kali?"


Feng Li tersenyum dengan pertanyaan Chan Yi.


" Bagi Hyun, tidak menyenangkan tanpa bully anak orang. Tapi, entah ada angin apa dia hari ini tulus sama orang?" ucap Feng Li dengan senyum jahilnya.


Chan Yi melirik tajam Hyun. Hyun hanya mengalihkan pandangannya.


" Gue pinjam Hyun dulu, ya? Gue mau kasih pelajaran dia," ucap horor Chan Yi.


" Tentu saja boleh! Dia, kan Adik Loe," ujar Feng Li.


Hyun terbelalak dengan perkataan Feng Li.


" Feng Li, Loe...."


" Ikut Gue!" potong Chan Yi sambil menarik Hyun paksa.


Hyun hanya menuruti Kakaknya itu. Hingga sudah jauh dari keramaian orang, Hyun bertanya pada Chan Yi.


" Ada apa sih, Kak? Kenapa Loe narik Gue? Di tarik ke Perpustakaan, lagi!" Decih Hyun.


Chan Yi tersenyum.


" Loe lupa tadi waktu jam pelajaran, ada yang mau Gue jelasin?"


" Gak lah," ujar Hyun sambil duduk di kursi baca Perpustakaan.


Chan Yi duduk di sebelah Adiknya.


" Sebelum Gue jelasin, ada yang mau Gue sampaikan ke Loe. Loe harus hati-hati dengan Geng Cute Girl, dan Feng Li," ujar Chan Yi serius.

__ADS_1


Hyun terkejut dengan perkataan Chan Yi barusan.


" Maksud Loe apa, Kak?"


" Mereka bukan manusia biasa tapi, mereka merupakan keturunan. Entah mereka sudah tahu atau belum, Gue gak tahu pasti. Tapi, intinya kita harus hati-hati dengan mereka,"


Hyun menyeringitkan dahinya.


" Termasuk So Yun, pacar Gue?"


" Ya, Gak lah. So Yun gak bahaya. Tapi, tebar pesona kayak Loe,"


" Dasar Pangeran Ceroboh. Kata-kata Loe ingetin Putri Sei Lee, aja. By the way, Gue jadi kangen sosok dia," ujar Hyun.


Chan Yi memandang Hyun.


" Cya.... Kangen sama Calon Kakak Ipar Loe, juga?" sindir Chan Yi.


" Kenapa, gak boleh Gue tanya Calon Kakak Ipar sendiri?" tanya Hyun.


" Ya, boleh. Hmm... Dia.."


Sementara di tempat lain, Geng Cute Girl tengah berkumpul. Mereka sekarang ada Ruang Osis. Tempat Yao Shi sebagai Ketua Osis.


" Heessss... Sebel.. Seeebeeel," ujar So Yun.


Ia membenamkan wajahnya di meja.


" Loe kenapa, Yun?" tanya Yao Shi.


" Gue sebel aja. Pacar Gue minta maaf sama Cupu, tau gak?"


" Nggak," ujar Yao Shi, dan Xie Mi bersamaan.


So Yun menghela nafas.


" Ya, iya lah. Loe berdua juga hilang entah kemana?"


" Sorry, Gue tadi ada rapat Osis," kata Yao Shi.


" Hhh.. Ya, yang Ketua Osis. Gak tanya lagi. Kalau Loe, Xie Mi. Kemana aja, Loe?"


Xie Mi menunjukkan senyum tak bersalahnya.


" Gue tadi bolak-balik ke Toilet. Perut Gue sakit," ujarnya.


" Kebanyakan makan Cabai sih, Loe," kata Yao Shi.


Yao Shi dan So Yun tertawa riang. Sedangkan, Xie Mi hanya manyun dengan perkataan dari Ketua Gengnya itu.


Tak lama kemudian..


Duuutttt.....


Suara kentut Xie Mi yang sangat nyaring. Bau menyengat memenuhi Ruang Osis.


" Uhuk... Uhukk.. Hhh.. Pergi sana ke Toilet, buat bau aja, Loe disini!" pintah So Yun.


" Ya, Gue pergi dulu, ya? Udah gak tahan, nih," ujar Xie Mi sambil memegang perutnya.


" Ya, udah sono pergi!" Suruh Yao Shi.


Xie Mi langsung lari ke Toilet. Yao Shi dan So Yun tertawa terbahak-bahak, melihat kelakuan Xie Mi.


Di sisi lain...


" Tapi, Gue curiga sama Lee Na, Kak," ujar Hyun tiba-tiba.


" Lee Na... Lee Na yang kau bully itu?" tanya Chan Yi.


Pertanyaan yang ampuh untuk membuat Hyun manyun.


" Gue curiga dia bukan manusia biasa. Coba Kak, Loe pikir ada gak manusia pintar dalam segala bidang. Gak ada, kan?"

__ADS_1


" Dia dapet peringkat berapa?" tanya balik Chan Yi.


Hyun menghela nafas.


" Dia peringkat satu. Sedangkan, Gue peringkat dua ," tuturnya.


" Tapi, Gue gak merasakan apa-apa di dekat Lee Na,"


" Itu memang aneh," kata Hyun


Chan Yi menyeringitkan dahinya.


" Kenapa jadi bahas Lee Na? Tadi, kan bahas Putri Sei Lee," heran Chan Yi.


" Ya. Karena Gue curiga, ia Putri Sei Lee. Coba Loe kaitkan dengan peristiwa Putri Sei Lee yang berenkarnasi jadi manusia!"


Chan Yi berpikir keras. Ia tengah mengaitkan peristiwa Putri Sei Lee.


" Ada benarnya juga, sih. Lain waktu kita berdua selidiki hal ini!" kata Chan Yi.


Hyun menganggukkan kepalanya.


Kringgg....


Bel masuk telah berbunyi. Menandakan para Murid Hanaku masuk ke kelasnya masing-masing.


Keesokan harinya adalah hari Minggu. Hari dimana yang mengharuskan untuk libur ke sekolahan, bagi Murid Hanaku.


Seperti hari Minggu biasanya, Lee Na pergi berjualan bunga dan Sulaman ke Pasar.


" Bu... aku pergi dulu, ya?" pamit Lee Na.


" Iya," jawab Ibunya Lee Na dari dapur, yang bernama Lee Mona Yin. Biasa dipanggil Moyi.


Lee Na sebenarnya Anak angkatnya Moyi. Ia di temukan di pinggir Jalan dekat Pohon Sakura. Tepatnya di Jalan Sakura.


Lee Na langsung mengayuh sepedanya.


Kringg... Krriingg..


Suara sepeda Lee Na sangat nyaring. Ketika sampai di Hutan Sakura, seperti biasa Lee Na bernyanyi ria.


lagu La Luna - Selepas Kau Pergi


Lee Na menyanyikan lagu tersebut, karena ia membayangkan Chan Yi. Namun, Lee Na meragukan bisa bersama Chan Yi. Mengingat dirinya yang hanya Murid Beasiswa semata.


Ketika sampai ditikungan Jalan Sakura, Lee Na berpapasan langsung dengan Mobil. Lee Na terkejut, dan tak bisa menghindarinya.


Lee Na tertabrak Mobil, dan terpental ke Pohon Sakura. Tempat dimana ia ditemukan Moyi, waktu bayi. Keningnya mengeluarkan darah terus - menerus. Pandangannya buram, dan akhirnya tak sadarkan diri.


Sedangkan, Mobil yang tadi menabrak Lee Na berhenti. Dua orang di Mobil tersebut langsung panik.


" Gimana ini? Gue nabrak orang tadi," sahut orang yang menabrak Lee Na.


" Kita langsung pergi, sebelum ada yang tahu," ujar temannya.


Mereka langsung mengendarai Mobil dengan cukup kencang. Meninggalkan tubuh Lee Na yang berlumuran darah.


Keesokan harinya, Sekolah Hanaku menerima berita duka kematian seorang Siswi yang bernama Lee Hana..


" Gue jadi bersalah pernah jahilin Lee Na" ujar Feng Li pada Hyun.


"Gak nyangka ya? Padahal Sabtu kemarin dia bersama kita. Ternyata itu hari terakhirnya di Sekolah ini" timpal Hyun.


" Sudah mending kita do'akan dia agar arwahnya tenang!" pintah Chan Yi.


Tiba-tiba muncul sosok berambut panjang berseragam Sekolah di Jendela kaca.


Rambutnya acak-acakkan, sorotan matanya tajam memandang ke dalam Kelas.


Hyun yang melihat, sontak kaget.


"Itu kayak Lee Na"

__ADS_1


Seketika sosok tersebut menghilang entah kemana.


"Mana? Jangan halu Loe!" ujar Feng Li.


__ADS_2