THE PAST

THE PAST
THE PAST BAB 1


__ADS_3

Setiap yang Mella lakukan dalam mengerjar


cita-citanya aku selalu dukung dan tidak pernah sedikitpun aku mematahkan


semangat Mella dan pada sampai Mella harus hadir di perdana pameran lukisannya


di gedung pemerintahan kota. Acara itu juga ada unsur kerja sama dengan UKM


kampus kita jadi bakal banyak mahasiswa yang akan hadir disana.


Aku mengerti dengan hal seperti ini, dimana


keadaan memang mengharuskan pacarku untuk merubah penampilannya tapi tidak


selamanya. Sore itu aku sedang membantu Ayah mertua untuk memindahkan lemari


yang lama ke gudang, maklum Wella dan Mella tidak mau harus keluar tenanga


banyak.


Setahun lagi aku dan Mella akan pergi


meninggalkan dunia perkuliahan dan dunia yang sudah kita buat di bawa pohon


beringin itu. Setelah membantu Ayah mertua aku duduk di halaman rumah Mella


sambil menemani Mella melanjutkan lukisannya, ia melukis yang sedang


menggambarkan dirinya sedang merubah penampilan dan bisa membayar semua omongan


pedas dari orang-orang selama ini.


Aku juga bingung sampai kapan akan membiarkan


pacarku dalam hal yang seperti ini. Bukan karena cemburu bukan karena takut ia


akan jatuh di pelukan lelaki lain. Jika itu benar terjadi mungkin aku sama


Mella tidak akan sedekat ini, aku akan selalu diberi pertanyaan tentang pakaian


dandanan yang akan melekat di tubuhnya.


“Kok ngeliatin aku kayak gitu si” Mella


terheran karena tatapan ku memang berbeda


“Aku terlalu egois ya buat kamu?”


“Masalah diriku?” Mella menjawabnya sambil


meletekan alat lukisnya. “Semua itu ada masanya Titan, aku juga mau seperti


yang lain mencoba belajar setidak sedikitlah” tambah Mella sambil memegang


tanganku. Tiga tahun aku membiarkan pacarku menuruti segala apa yang aku mau


tidak sedikitpun dia menolak ataupun membantah dan sampai di titik sekarang pun


ia juga masih tidak berani melanggarnya.


Mengalihkan pembicaraan, Mella menunjukan foto


yang ada di galeri ponselnya tentang lukisan yang akan dipajang di pamerannya.


Nyaris sempurna, wajahku di lukis dengan sempurna dan lekukan bibirku pun ia


bisa membuatnya seakan memang aku selalu melakukan itu padanya.


Selepas itu aku makan malam bersama keluarga


Mella. Mella sempat berbicara kepadaku jika ia sangat bersyukur memiliki kedua


orang tua yang sayang padanya, sama sayang sekarang aku juga merasakan itu.


Maafkan aku kalau aku masih egois sama kamu.


“Tan, minggu depan kamu dateng kan?” Ibu


mertua yang ramah kepadaku


“Dateng dong Ibu nanti Papa sama Mama juga


bakal dateng” jawab ku sambil menyantap ayam goreng buatan pacar. Sejauh ini


kami semua masih berada di posisi yang baik-baik saja Mella juga masih fokus


dengan cita-citanya dan aku fokus dengan usaha yang sedang kami jalankan.


Usaha yang sudah ku jalankan bersama Mella


sejak dua minggu menjalani hubungan dan sekarang masih berjalan dengan


sempurna. Mella sebagai produksi aku yang bagian pemasaran. Ini kenapa aku


tidak mau kehilangan Mella, jika aku harus melakukan usaha tidak bersamanya


mungkin sekarang perempuan yang bersama ku akan menikmati hasilnya saja.


Sudah lah, sudah malam juga aku sedang


berpamitan kepada kedua mertua aku dan Kakak ipar yang sedang sibuk dengan


kerjaannya. Minggu depan aku akan bertemu lagi dengan Mella tanpa aku mengikut


campuri urusan Mella tentang penampilannya, semoga aku bisa menerimanya.


“Ehhmm, Muaachhh” ku beri kecupan di kening


Mella agar ia makin bisa percaya dengan aku jika tidak sedang mempermainkannya.


Tiga tahun memang lama tapi bagi Mella untuk mendapat keyakinan dari aku begitu


susah.


Titan... Titan...


Kapan kamu mau mencoba melihat pacarmu menuju


dunianya yang lebih baru. Itu hanya soal penampilan dan riasan di wajahnya


harusnya aku juga bisa mendapatkan keuntungan dari itu bisa melihat Mella

__ADS_1


dengan pandangan “good looking”


Laki-laki kok bimbangan kayak gini, tegas dong


Titan. Hehe maaf lagi meyakinkan diri sendiri diatas motor kesayanganku.


...


Alasan aku kenapa mau melukis wajah Titan


adalah aku ingin semua orang tahu semua pengunjung yang ada di pameran bisa


melihat wajah tampan Titan dan makna yang sebenarnya aku tumpahkan di dalam


lukisan itu. Nanti malam aku akan hadir di acara itu bertemu dengan banyak


orang bertemu dengan banyak teman-teman dan sekarang aku sedang mempersiapkan


diri di depan cermin sambil membayangkan bagaimana nanti aku tersenyum ikhlas


di hadapan mereka.


Wella sudah memanggilku untuk segera datang ke


kamarnya. Malam ini keluarga ku akan menggunakan pakaian yang dibuat serasi


oleh Mama Titan dan  pakaian ku akan


serasi dengan Titan. Ada untungnya Wella bekerja di bagian kecantikan dan


fasion malam itu semua yang akan melekat di wajahku akan di kerjakan oleh


Wella, jangan kaget memang ku suka memanggilnya dengan sebutan nama biar beda


aja hehe.


Titan tidak mengabari ku sejak pagi, ia sedang


sibuk dengan usaha kita. Aku kasih tahu deh. Aku dan pacarku membuka semacam


home made berbagai macam jenis dan yang sering laku itu tas kanvas yang aku


lukis sendiri dan hari ini Titan sedang sibuk untuk pengiriman, sebenernya hari


ini aku juga ada beberapa tas dan sepatu yang harus aku gambar berhubung ini


hari spesial ku jadi Titan yang sedang menjadwalkan untuk penundaan beberapa


pengiriman itu.


“Titan gak marah kalau kamu dandan?” Wella


sedang menggunakan alas bedak di wajah aku


“Ya nggak mungkin juga Well di acara kayak


gini aku mau polosan, Titan pasti ngerti lah” jawab ku sambil melihat gerak


gerik Wella di cermin. Wella sudah lama bekerja di kecantikan dan fasion jadi


bagi dia begini itu sudah hal yang biasa, bahkan sebentar lagi dia akan di


the year di New York.


 Aku


mencoba bertanya kepada Wella tentang beberapa produk dan keguanaan yang akan


melekat di wajahku ini. Tidak begitu rumit untuk pemakaian dan harganya juga


tidak begitu mahal. Sepertinya aku akan mencoba hal ini setelah masuk kuliah


dua minggu lagi. Umurku yang sudah berkepala dua harusnya sudah pantas untuk


menggunakan yang seperti ini, bagaimana aku bisa meyakinkan Titan.


...


Crew galeri masih mempersiapkan lukisan yang


akan di panjang di setiap sudut ruangan pemerintah kota. Disana juga sudah


banyak mahasiswa/i yang hadir untuk membantu pelaksanaan. Tidak hanya dari


Universitas Titan saja, kabarnya Universitas satu kota yang ada disana.


Deg-degan bukan main.


Titan sedang dalam perjalanan menuju galeri,


ia sudah menuntaskan semua pengiriman tas dan beberapa sepatu. Ia sudah sangat


siap menyambut lukisannya yang akan di panjang di setiap sudut ruangan


pemerintah kota. Disana juga sudah banyak mahasiswa/i yang hadir untuk membantu


pelaksanaan. Ia juga sudah sangat siap melihat Mella berada di samping


lukisannya sambil menyapa pengunjung lainnya.


“Malam ini teman Papa datang juga?” Titan yang


sedang memastikan untuk hal itu


 “Sepertinya jadi karena anak beliau juga ada


ikatan UKM jadi pasti datang” Jawab Rizal, Papa Titan


“Nanti Papa kenalin juga lah biar usaha kamu


sama Mella makin berkembang pesat”


“Iyaa kan enak nanti sudah ada usaha buat


modal nikah” tambah Nina, Mama Titan yang sibuk memposting foto terbarunya


malam ini.


Keluarga Titan hadir tidak lengkap, kurang


Zafran adik kandung Titan yang masih sibuk dengan latihan basketnya. Agak susah

__ADS_1


dibilangi sih Zafran itu tapi itu sudah menjadi hal yang biasa dan Mella juga


tidak akan mempermasalahkan hal itu melihat Adik iparnya sudah biasa juga.


SELAMAT DATANG DI GALERI PEMERINTAHAN KOTA


TAHUN 2019


Sudah ramai pengunjung, Rizal mencoba mencari


parkiran mobil yang harus diarahkan sampai di ujung gedung yang jaraknya


lumayan jauh dari pintu masuk gedung.


“Semua orang akan melihat hasil karya kamu


Mell dan orang-orang juga akan melihat aku di galeri ini” ungkap Titan dalam


hatinya lalu ia berjalan menuju pintu masuk gedung bersama kedua orang tuanya.


Mata Titan sudah berkeliaran di penjuru


ruangan untuk mencari kekasihnya yang akan menyambutnya sebagai orang lebih


spesial malam ini.


Rizal dan Nina sudah keburu membawa Titan ke


kerumunan teman-temannya yang hadir juga bersama anak-anaknya dan mereka


mebicarakan hal yang sangat basa basi. Titan tidak tenang jika belum bertemu


dengan istri tercintanya. Ia mencoba menghubungi Mella melalui ponselnya.


“Mellow disini Titan” suara itu khas banget


untuk di telinga Titan.


...


 Aku


mendekatkan diri kepada beberapa pengunjung yang hadir, menceritakan,


menjelaskan ini semua atas tangan Tuhan yang ia ciptakan dan menghasilkan


lukisan yang seperti ini. Saat aku menyapa Titan tadi ia lebih banyak diam dan


sering berbicara bersama Ayah. Aku ingin kamu memuji ku Titan di malam spesial


ku ini, ini sudah yang sangat sederhana Wella bikin untukku.


Aku sedikit tidak nyaman dengan sikap Titan


malam ini, tidak sabar ingin ku ajak ke sudut ruangan dan ku introgasi


habis-habisan. Sepertinya aku sedang berada di keadaan dilema. Titan tidak


ingin melihat aku seperti ini tapi keadaan yang memaksa harus seperti ini.


Di sudut ruangan lainnya mahasiswa lain dari


kampusku datang aku tidak berani untuk menghampirinya sepertinya mereka akan


lebih menyakitkan hatiku dengan penampilan yang seperti ini, huft semua serba


salah.


“Aku belum ngomong banyak sama kamu” terkejut,


Titan muncul di belakangku dengan suaranya yang khas


“Kalau kamu malu atau nggak enak hatimu


mending nggak usah Tan, aku juga harus ngisi acara ini” Aku sudah merasa Titan


memang sedang tidak nyaman denganku


“Kamu jangan buat aku makin marah disini ya


Mel?”


“Marah? Mending kamu nggak usah dateng Tan


kalo ujungnya cuma mau marahin aku dan makin mempermalukan aku disini” Gak bisa


ditahan emosiku. Aku lihat Titan menghelas nafas sambil meninggalkan aku ia


berjalan menuju ke arah Wella dan mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu


atau mungkin Titan akan memarahi Wella yang sudah mendadani aku seperti ini.


...


Selamat datang lagi di galeri Mella dan


teman-teman lainnya. Memang malam ini malam yang spesial untuk Mella dan


seharusnya spesial untuk Titan yang wajahnya sudah di lukis oleh kekasihnya


itu. Titan sedang bingung dengan dirinya sendiri ia berusaha berdamai tapi rasanya


tidak suka melihat Mella yang berpenampilan berlebihan.


Mella juga bingung dan sepertinya Mella


memilih untuk tidak berdekatan dulu dengan Titan mereka berdua sedang di


hadapkan oleh keegoisan yang tinggi. Mella melanjutkan mengisi acaranya dan


Titan lebih mendekat kepada teman-teman Papanya yang kebetulan hadir di tempat


itu juga.


Tidak ada yang bisa menebak sifat Titan yang


sekarang. Mella berkata dalam hatinya ini hanya sebentar Titan untuk malam ini


saja, aku harap kamu bisa makin mengerti.


 ***

__ADS_1


__ADS_2