
Aku sangat asing sekali di kota ini dan aku sedang berdiri di dalam lift bersama perempuan yang sepertinya sepantaran dengan aku.
Rambutnya terurai tidak terlalu tinggi dan terlihat sangat sederhana, ia berdiri di sampingku sambil memutar-mutar kunci di jarinya.
"Penghuni lantai berapa?" kaget dia menceletuk sebuah omongan yang membuatku tersontak menatap matanya
"Lantai 10" jawabku datar
"Kita tetanggaan" perempuan itu makin memperjelas letak tempat tinggalnya. Aku agak canggung beretemu tetangga baru yang super bening, mungkin dia sedang memberi kode kepadaku supaya aku
memulai omongan lagi
Keluar dari lift kami belok ke kanan bersamaan berjalan selangkah seirama dan sejalan lah pokoknya
"Kalau ada apa-apa ketuk aja aku kalau sore sampek malem ada kamar, paginya kerja" celetuk perempuan itu lagi
saat kami sedang berdiri di depan kamar kami.
Aku melirik sedikit ke nomer kamarnya sudah ku catat dalam otakku dan ku langsung melihat ke arah nomer kamar ku. Kami benar-benar bersebelahan dan masih dengan keadaan dingin perempuan itu masuk
kamar sambil membanting pintunya. Wanita yang sedang cari perhatian sekali, ehh siapa ya namanya.
Selesai membersihkan kamar aku merebahkan tubuhku, memeriksa ponsel dan berkabar dengan Papa dan Mama. Mereka senang saat ku kirim foto sepeda motor itu mereka menitipkan benda itu kepadaku.
"Bang, nanti kalo aku lagi gak banyak kegiatan aku kesana ya" celetuk Zafran yang muncul di tengah suara Papa
dan Mama.
"Iyaa ini mah masih cukup kok kan masih ada kamar satu lagi" jawabku untuk mempercayai Zafran akan kamar
apartement yang lumayan luas ini.
Mengakhiri panggilan ku dengan mereka. Mungkin aku tidak akan sering menghubungi mereka dan berusaha untuk usaha sendiri. Rencananya besok aku masih bersarang di kamar untuk mengirim beberapa lamaran
ke perusahaan dan mencoba memulai bisnis kecil-kecilan dengan berjualan apapun itu.
Entah kenapa aku suka sekali dengan bisnis berjualan dan maka dari itu aku mengajak bisnis dengan menggunakan peluang yang ada di Mella.
Hehe masih teringat sedikit tentang Mella, ini aku lagi memandangi tas kanvas yang sempat ia lukis untuk aku. Bukan bermaksud tidak bisa lupa tapi hanya untuk kenang-kenangan dan supaya aku makin tidak bisa mengulang masa itu bersamanya.
Masih ada waktu sebelum aku bergegas untuk tidur, membuka laptop dan memperbaiki cv yang besok akan aku kirim. Menjadi anak pertama memang tidak mudah saat sudah seperti ini beban mulai terasa,
kelakuan, perbuatan semua akan menjadi contoh adikku. Pelan-pelan semua bisa terlaksana satu-satu.
TOKTOK...
Suara ketukan pintu yang membuat aku penasaran dan sedikit merinding. Aku melirik ke arah arloji yang ada di tangan ku memastikan waktu yang wajar untuk orang yang bertamu.
"Nih.. Tanda kenal dari aku" perempuan itu berdiri di depan pintu kamarku sambil menyodorkan salad buah,
nampaknya segar dan salad buah ini masih baru dibuat.
"Ehmm, masuk dulu mungkin kita bisa ngobrol di dalam" ini dia memang benar-benar ingin ku anggap ada, apa
salahnya?
__ADS_1
Perempuan itu masuk dan duduk di ruang tamu sambil menghadap ke arah televisi yang ia nyalakan. Aku meletakan salad buah itu di dapur kecilku lalu berjalan menghampirinya.
Aku bingung mau di suguhkan minuman apa aku masih belum belanja keperluan.
"Senang punya tetangga baik seperti kamu" ucapku sambil menepuk pelan pahaku yang terkesan sangat gugup
"Aku Tiara, bisa panggil Tiara Ara atau apapun itu" ia menyodorkan tangannya untuk berjabat denganku, langsung ku terima tangannya dan memperkenalkan diriku.
Anak rantau lulusan sarjana ekonomi yang besok akan mengirim beberapa lamaran ke berbagai perusahaan.
Sedikit misterius si Tiara ini, emm mulai itu aku panggil dia Titi. Hehe dulu aku manggil Mella jadi Mellow, eh kan Mella lagi ingetnya.
"Aku kerja di toko kue tapi bagian adminnya nggak jauh si Tan dari sini"
"Kalau ada lowongan bisa kasih tahu ke aku ya Ti"
"Iyaa, nanti aku tanyakan juga sama temen-temen kerja aku"
"Udah berapa lama kamu tinggal disini?" aku mulai bertanya biar dia tidak makin misterius
"Udah satu tahun si Tan ini apart punya tante aku jarang di pakek jadi aku tinggali dan kayaknya cerita kita sama"
Iya aku menceritakan semua kepada Titi tentang bagaimana aku. Kata Titi kita sama cuma bedanya dia anak terakhir dan aku anak pertama.
Aku berjalan ke dapur untuk mengambil salad
buah dan memakan di hadapan dia sambil memberi komentar
"Itu aku yang buat sendiri trus aku jual,
Kaget, ternyata strategi penjualannya bagus banget.
"Kalau menurut aku kurang kental si mayonaise nya" jawabku dengan sejujur-jujurnya. Aku suka dengan salad
buah, waktu zaman libur kuliah aku suka membuatnya bersama Wella dan Mella.
Arghhhh....
"Kenapaaa aneh rasanya?" dia tersontak melihat ekspresiku saat menghilangkan bayangan Mella di benakku.
"Enggak, ini ada nyamuk"
"Nanti pakek semprotan nyamuk punyaku aja"
"Besok setelah kamu pulang kerja kita boleh ngobrol soal salad buah ini?"
"Boleh lahh kan kita tetanggaan jadi gampang aja kalau mau ngobrol"
Tidak terlalu lama si Titi disana, ihh jadi gimana gitu ya panggil Tiara jadi Titi hahaha. Ya setelah ku habiskan salad
buah itu Titi meninggalkan kamar ku dan semoga ia bisa menjadi tetangga baru yang baik dan menyenangkan. Lebih-lebih cowoknya nggk akan marah kalau aku sering bertemu dengannya.
...
Mella merebahkan tubuhnya diatas kasur setelah melewati hari yang panjang atas pekerjaannya itu. Besok Mella libur dan mungkin ia akan melanjutkan melukisnya.
__ADS_1
Ia bergegas untuk berganti pakaian lalu membersihkan wajahnya yang masih penuh dengan polesan makeup. Ia melihat wajah aslinya yang dari dulu di puja-puja oleh mantan kekasihnya.
Mella berbicara dalam hatinya tentang jalan yang ia ambil saat ini. Mungkin Mella salah tidak mengikuti keinginan
kekasihnya tapi disisi lain Mella suka dengan yang ia kerjakan sekarang.
Ia sempat mengingat wajahnya yang dulu, sangat beda jika di poles dengan wajah aslinya. Perubahan begitu terlihat saat teman-teman kuliahnya dulu mengenal Mella.
Hela nafas panjang lalu berpindah ke kamar spesialnya.
Kamar itu penuh sekali dengan lukisan dan beberapa sepatu yang sering ia pakai juga saat bekerja.
Mella duduk di depan kanvas menyiapkan peralatan lainnya dan mulai lanjutkan untuk memenuhi warna kanvas tersebut.
Pilihan warna yang tidak pernah salah membuat pengunjung galeri waktu itu banyak yang tertarik dengan lukisannya.
Mella mulai teringat lagi dengan Titan saat di galeri yang memasang wajah cemberutnya dan sehari setelah itu mereka berdamai dengan pergi kesebuah kedai es krim favorit mereka.
"Mell... Aku cari di kamar tadi nggak ada ternyata kamu disini" Wella menghampiri adiknya di kamar lukis tersebut.
Mella menggunakan earphone dan tidak mendengarkan sapaan Wella.
"Ehh... kaget Well ada apaa" Mella masih melanjutkan melukisnya dan ia menarget malam ini selesai satu kanvas
supaya besok ia bisa tidur pulas seharian.
"Besok kan libur, besok mau nemenin jalan nggak jenuh banget aku"
"Aku mau istirahat Well, gimana besok lusa aja?"
"Besok lusa malem yaaa sekalian dateng ke grand opening kedainya temenku"
"Heemm... pokoknya besok jangan ada yang ganggu aku" begitu perintah Mella. Kakaknya hanya mengangguk dan
mengingatkan untuk jangan terlalu lelah, masih ada pemotretan banyak.
...
Berat memang buat aku ketika memasuki jam seperti ini. Jam rindu dengan Titan. Baru kali ini kan rindu ada jamnya, aku tahu Titan tidak akan pernah mau untuk menulis kembali bersamaku ia akan lebih
memilih membuka lembaran baru.
Sepatu kanvas dan tas masih segini banyak apa aku harus menjualnya sendiri.
Lukisan ku selalu tidak terarah, ia selalu mengikuti hatiku tapi kebanyakan lukisan ini bertema kesedihan.
Titannn....
Aku capek diposisi seperti ini, kembali Titan percaya sama aku
Tangisan ku sepertinya akan menganggu seisi rumah lebih baik aku sudahi semua ini.
Kembali ke kamar memeluk foto Titan dan berharap bertemu di mimpi. Semoga keajaiban selalu datang kepadaku.
***
__ADS_1