
Satu tahun kemudian
Ini pertama kali aku menginjakan kakiku di
kota ini dengan penuh harapan aku bisa mendapatkan segala kejutan dan lembaran
baru dikota ini. Aku membawa gelarku sebagai sarjana ekonomi di kota orang
dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup untuk hidupku di kota ini.
Masih lumayan enak si aku di beri fasilitas
apartement milik Papa dan satu unit sepeda motor yang masih bersarang di
parkiran motor apartement. Semenjak aku turun dari pesawat aku sudah mulai
bekenalan dengan keadaan kota ini, tidak jauh beda si dengan kota ku tapi
setidaknya aku bisa lebih tenang.
Memanggil taxi untuk segera mengantarku ke
apartement Papa dan tidak sabar juga untuk berkenalan dengan sepeda motor Papa
yang katanya dulu menjadi barang favorit Papa dan Mama, karena cuma itu mereka
bisa merasakan pelukan yang sesungguhnya.
Jangan di tanya tentang teman, keputusan aku
untuk mau merantau itu sudah bulat dan memang harus menjelajah dunia lebih jauh
supaya aku bisa menghilangkan sifatku yang aneh. Langit biru kota ini begitu
menenangkan walaupun sedikit masih teringat.
Ini aku Titan dengan versi yang baru yang
begitu siap untuk dihantam segala masalah dan praha kehidupan.
“Baru ya Mas disini?” supir taxi itu mencoba
kenal dengan aku lebih jauh
“Iya, mau belajar jadi anak rantau Pak”
jawabku dengan santai sambil merasa kepedean di lihat oleh langit biru yang
terus berjalan mengikutiku
“Selamat datang Mas di kota kami, semoga
menjadi lembaran baru untuk Mas” supir taxi ini baik sekali dengan ku pakai
repot mengucapkan selamat datang
“Terima kasih Bapak.. semoga Bapak juga diberi
kelancaran rezekinya” doa yang baik kuucapakan juga untuk supir taxi ramah ini.
Dengan dua koper besar yang berusaha ku
turunkan dari bagasi taxi, sudah tidak sabar untuk menyambut hari-hari di kota ini.
Kuucapkan terima kasih banyak dan ku segerakan masuk ke dalam apartement.
Lama tidak berpenghuni debu dimana-mana sarang
laba-laba juga sudah bersarang di atas plafon kamarku. Hari itu ku khususkan
untuk berbenah kamar dan menjenguk sepeda motor kebanggan Papa dan Mamaku.
...
“Mell, hari ini ada pemotretan sama
photographer baru loh jangan lupa” Wella sekarang sudah menjadi asisten
pribadiku, satu tahun berlalu aku lebih dekat dengan dunia Wella dan bekerja
sama dengannya.
Setelah berlangsungnya wisuda aku langsung
mengeyampingkan cita-cita aku menjadi pelukis terkenal dan aku berani
menunjukan Mella Adisti yang baru. Aku begitu nyaman saat ikut bekerja bersama
Wella, merias wajahku sama saja aku merias kanvasku dan menyulapnya menjadi
sebuah karya yang indah. Aku juga sudah menjadi model ternama di beberapa
majalah dan menjadi model untuk photograper yang baru terjun di dunia media.
Siang sampai malam nanti aku full pemotretan
lalu besoknya aku ada GR untuk berlenggak lenggok di atas panggung, sebuah
acara yang membersembahkan hasil karya gaun salah satu desainer yang sudah
kenal lama dengan Wella.
“Enak Mell aku bisa lebih nyantai kerjanya
cuma atur jadwal kamu merias kamu sedikit dan menyempurnakan pakaian yang akan
__ADS_1
kamu kenakan” ujar Wella sambil sibuk bermain ponselnya.
Jangan di tanya bagaimana dengan Titan. Aku
sudah berusaha menyakinkan dia dengan berbagai cara dan mengatakan aku ingin
mencoba hal yang baru dengan mengikuti jejak Wella yang ku lihat sepertinya
enak.
Pertengkaran tidak bisa kami hindari setiap
hari Titan memasang wajah cemberutnya dan aku juga tidak bisa menahan emosiku.
Entah kenapa emosiku selalu meluap semenjak di pameran galeri pertama ku itu.
Aku berusaha mempertahankan tapi Titan selalu
menentang keinginanku, aku juga janji dengannya semakin rajin melukis tas dan
sepatu dan uangnya segera kita kumpulkan untuk niat baik Titan. Tapi, aku tidak
bisa berada di satu titik begini terus menerus aku butuh hal baru dan aku juga
berusaha menjelaskan kepada mantan pacarku itu jika aku tidak akan berdandan
lebih atau bepernampilan heboh saat bertemu dengannya.
“Kamu sebentar lagi akan berubah Mell semua
orang akan kenal kamu” Titan mengatakan itu yang membuat fikiran ku langsung
tertuju jika ia sedang tidak percaya diri
“Tidak akan berubah sayang, selama ini aku
sudah percaya sama kamu dengan bagaimana kita dulu bertemu tapi kenapa sekarang
kamu nggak percaya diri gini?” rumit bagi ku untuk menyakinkan Titan dan pada
akhirnya kita sudah tidak bisa satu jalan.
Perkatan terakhir Titan saat hubungan ini di
ujung tanduk masih teringat di otak ku. Tapi aku sungguh tidak bisa untuk
bertahan di satu titik seperti ini dan makin kesini aku makin berfikir kalau
ini hanya masalah sepele Tan...
“Mell jangan bengong udah di tunggu koko tuh”
Wella menyadarkan aku dalam lamunan panjangku. Aku masih suka rindu dengan
memberi tahu.
“Nanti dulu kalo mikirin Titan, kita
selesaikan pekerjaan hari ini trus kita pulang Ayah Ibu sudah menunggu”
Sebentar Titan, aku masih rindu kamu jangan
pergi dulu dari benakku.
...
Tidak begitu besar kamar apartement yang akan
ku ditinggali, bertempat di lantai tengah-tengah yang mampu membuat aku bisa
melihat seisi kota dari kejauhan. Gedung yang tinggi menjulang, suara hiruk
pikuk kota dan melepas semua bayang-bayang Mella yang masih menghantui
benaknya.
Bukan pekara mudah memang, tiga tahun hampir
empat tahun malah aku tahu bagaimana setiap sifat mantanku ini. Sudahlah kami
sudah berakhir memang semua yang dipaksakan itu tidak baik. Mella sudah berubah
ia melakukan hal yang tidak ku sukai.
Usahaku dengan dia...
Selesai, dan mungkin aku juga akan membuka
usaha kecil-kecilan di kota baru ini. Ya beda si pengguhuni rumah dan
apartement disini terasa lebih sunyi dan tidak ada kehidupan.
Menuruni setiap lantai menggunakan lift aku
tidak sabar bertemu dengan benda yang selalu di favoritkan oleh Papa dan
Mamaku.
Masih terlihat keren tidak seperti motor kuno
tapi memang sarang laba-laba dimana-mana dan ban yang sudah mulai kempes.
Ku dorong dari parkiran motor apartement
sampai kepinggir jalan depan pintu masuk apartement dan segera membenahi sepeda motor itu. Hari pertama ku tidak
__ADS_1
begitu menyusahkan, aku juga mulai ramah dengan orang-orang disini ramah dengan
suasananya.
Mella kalau ada disini mungkin senang
Ehh sadar Titan kok jadi kepikiran Mella sih.
Sambil menunggu ban selesai di perbaiki aku
sengaja membuka lembaran ku dulu bersama Mella. Ini caraku, semakin aku
mengingat masa lalu ku semakain aku enggan untuk kembali. Aku memang aneh
anaknya.
"Tempat makan yang enak disini dimana ya
Pak?" sekalian cari makan deh udah demo juga perutku.
"Tidak jauh dar sini ada kok Mas, di
ujung jalan sebelah kiri ada depot makan prasmanan khas sini. Masnya baru kan
di kota ini?" Bapak tukang tambal ban sangat memahami wajah asingku.
"Iya Pak hehe, hmm habis ini saya coba
deh Pak"
"Disana juga ramai kok dan terkenal
enak"
Ku tutup hari ku ini dengan makan di depot
enak dan membersihkan aprtement. Cukup Mell, aku gak mau kamu tiba-tiba menjadi
alasanku untuk membuka lembaran yang dulu di ponsel ku.
...
Berakhir hubungannya mereka juga sudah di
ketahui oleh orang tua mereka masing-masing dan Mella masih sering
berkomunikasi dengan Mama Titan, tidak, Nina tidak memberi tahu tentang dimana
Titan mereka hanya berkomnikasi biasa dan kadang Nina masih mengirimkan
beberapa kue untuk keluarga Mella.
Bagaimana semua ini terhenti karena sudah
terjalin keterbiasaan semasa anak-anak mereka menjalin hubungan. Dan ya memang
seharusnya silaturahmi tidak boleh berhenti apapun itu alasannya.
Semua berubah dan benar kata Titan, sekalipun
Mella merubah semuanya berubah termasuk teman-teman Mella sewaktu kuliah
sekarang lebih suka bermain dengannya karena paras Mella yang keren dan
ketajiran Mella.
Tidak bisa dipungkiri setelah bekerja keras
bersama Wella, keluarga Mella sekarang lebih menjadi berada sedikit demi
sedikit merenovasi rumah Mella.
Kalau Titan berkunjung kerumah Mella pasti
terkejut karena setiap sudut ruangannya
juga beda. Mella membuat satu ruangan untuk hasil lukisannya jaman kuliah dulu
dan ada beberapa barang dagangannya tersusun rapi di sana. Semua memang tidak
akan selamanya yang bersama-sama pun akan ditinggal untuk menghadap sang
pengcipta apalagi Mella dan Titan yang berusaha mempertahankan tapi takdir
berkata lain.
Ini Mella lagi sibuk nih sama kerjaannya dan
tidak ada waktu untuk mengenang mantannya sekalipun ia rindu.
Selamat menjalani hari yang baru tahun yang
baru untuk kalian. Jangan ada rasa penyesalan dan tahan rindu kalian ini semua
hanya sebuah masa lalu yang akan hadir di setiap harinya kalian.
Ini hanya cara kalian bagaimana menghadapinya.
Aku rasa Titan bisa entan bagaimana dengan Mella.
Masalalu yang akan siap menghantui kehidupan
mereka
***
__ADS_1