THE PAST

THE PAST
THE PAST BAB 2


__ADS_3

Satu tahun kemudian


Ini pertama kali aku menginjakan kakiku di


kota ini dengan penuh harapan aku bisa mendapatkan segala kejutan dan lembaran


baru dikota ini. Aku membawa gelarku sebagai sarjana ekonomi di kota orang


dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup untuk hidupku di kota ini.


Masih lumayan enak si aku di beri fasilitas


apartement milik Papa dan satu unit sepeda motor yang masih bersarang di


parkiran motor apartement. Semenjak aku turun dari pesawat aku sudah mulai


bekenalan dengan keadaan kota ini, tidak jauh beda si dengan kota ku tapi


setidaknya aku bisa lebih tenang.


Memanggil taxi untuk segera mengantarku ke


apartement Papa dan tidak sabar juga untuk berkenalan dengan sepeda motor Papa


yang katanya dulu menjadi barang favorit Papa dan Mama, karena cuma itu mereka


bisa merasakan pelukan yang sesungguhnya.


Jangan di tanya tentang teman, keputusan aku


untuk mau merantau itu sudah bulat dan memang harus menjelajah dunia lebih jauh


supaya aku bisa menghilangkan sifatku yang aneh. Langit biru kota ini begitu


menenangkan walaupun sedikit masih teringat.


Ini aku Titan dengan versi yang baru yang


begitu siap untuk dihantam segala masalah dan praha kehidupan.


“Baru ya Mas disini?” supir taxi itu mencoba


kenal dengan aku lebih jauh


“Iya, mau belajar jadi anak rantau Pak”


jawabku dengan santai sambil merasa kepedean di lihat oleh langit biru yang


terus berjalan mengikutiku


“Selamat datang Mas di kota kami, semoga


menjadi lembaran baru untuk Mas” supir taxi ini baik sekali dengan ku pakai


repot mengucapkan selamat datang


“Terima kasih Bapak.. semoga Bapak juga diberi


kelancaran rezekinya” doa yang baik kuucapakan juga untuk supir taxi ramah ini.


Dengan dua koper besar yang berusaha ku


turunkan dari bagasi taxi, sudah tidak sabar untuk menyambut hari-hari di kota ini.


Kuucapkan terima kasih banyak dan ku segerakan masuk ke dalam apartement.


Lama tidak berpenghuni debu dimana-mana sarang


laba-laba juga sudah bersarang di atas plafon kamarku. Hari itu ku khususkan


untuk berbenah kamar dan menjenguk sepeda motor kebanggan Papa dan Mamaku.


...


“Mell, hari ini ada pemotretan sama


photographer baru loh jangan lupa” Wella sekarang sudah menjadi asisten


pribadiku, satu tahun berlalu aku lebih dekat dengan dunia Wella dan bekerja


sama dengannya.


Setelah berlangsungnya wisuda aku langsung


mengeyampingkan cita-cita aku menjadi pelukis terkenal dan aku berani


menunjukan Mella Adisti yang baru. Aku begitu nyaman saat ikut bekerja bersama


Wella, merias wajahku sama saja aku merias kanvasku dan menyulapnya menjadi


sebuah karya yang indah. Aku juga sudah menjadi model ternama di beberapa


majalah dan menjadi model untuk photograper yang baru terjun di dunia media.


Siang sampai malam nanti aku full pemotretan


lalu besoknya aku ada GR untuk berlenggak lenggok di atas panggung, sebuah


acara yang membersembahkan hasil karya gaun salah satu desainer yang sudah


kenal lama dengan Wella.


“Enak Mell aku bisa lebih nyantai kerjanya


cuma atur jadwal kamu merias kamu sedikit dan menyempurnakan pakaian yang akan

__ADS_1


kamu kenakan” ujar Wella sambil sibuk bermain ponselnya.


Jangan di tanya bagaimana dengan Titan. Aku


sudah berusaha menyakinkan dia dengan berbagai cara dan mengatakan aku ingin


mencoba hal yang baru dengan mengikuti jejak Wella yang ku lihat sepertinya


enak.


Pertengkaran tidak bisa kami hindari setiap


hari Titan memasang wajah cemberutnya dan aku juga tidak bisa menahan emosiku.


Entah kenapa emosiku selalu meluap semenjak di pameran galeri pertama ku itu.


Aku berusaha mempertahankan tapi Titan selalu


menentang keinginanku, aku juga janji dengannya semakin rajin melukis tas dan


sepatu dan uangnya segera kita kumpulkan untuk niat baik Titan. Tapi, aku tidak


bisa berada di satu titik begini terus menerus aku butuh hal baru dan aku juga


berusaha menjelaskan kepada mantan pacarku itu jika aku tidak akan berdandan


lebih atau bepernampilan heboh saat bertemu dengannya.


“Kamu sebentar lagi akan berubah Mell semua


orang akan kenal kamu” Titan mengatakan itu yang membuat fikiran ku langsung


tertuju jika ia sedang tidak percaya diri


“Tidak akan berubah sayang, selama ini aku


sudah percaya sama kamu dengan bagaimana kita dulu bertemu tapi kenapa sekarang


kamu nggak percaya diri gini?” rumit bagi ku untuk menyakinkan Titan dan pada


akhirnya kita sudah tidak bisa satu jalan.


Perkatan terakhir Titan saat hubungan ini di


ujung tanduk masih teringat di otak ku. Tapi aku sungguh tidak bisa untuk


bertahan di satu titik seperti ini dan makin kesini aku makin berfikir kalau


ini hanya masalah sepele Tan...


“Mell jangan bengong udah di tunggu koko tuh”


Wella menyadarkan aku dalam lamunan panjangku. Aku masih suka rindu dengan


memberi tahu.


“Nanti dulu kalo mikirin Titan, kita


selesaikan pekerjaan hari ini trus kita pulang Ayah Ibu sudah menunggu”


Sebentar Titan, aku masih rindu kamu jangan


pergi dulu dari benakku.


...


Tidak begitu besar kamar apartement yang akan


ku ditinggali, bertempat di lantai tengah-tengah yang mampu membuat aku bisa


melihat seisi kota dari kejauhan. Gedung yang tinggi menjulang, suara hiruk


pikuk kota dan melepas semua bayang-bayang Mella yang masih menghantui


benaknya.


Bukan pekara mudah memang, tiga tahun hampir


empat tahun malah aku tahu bagaimana setiap sifat mantanku ini. Sudahlah kami


sudah berakhir memang semua yang dipaksakan itu tidak baik. Mella sudah berubah


ia melakukan hal yang tidak ku sukai.


Usahaku dengan dia...


Selesai, dan mungkin aku juga akan membuka


usaha kecil-kecilan di kota baru ini. Ya beda si pengguhuni rumah dan


apartement disini terasa lebih sunyi dan tidak ada kehidupan.


Menuruni setiap lantai menggunakan lift aku


tidak sabar bertemu dengan benda yang selalu di favoritkan oleh Papa dan


Mamaku.


Masih terlihat keren tidak seperti motor kuno


tapi memang sarang laba-laba dimana-mana dan ban yang sudah mulai kempes.


Ku dorong dari parkiran motor apartement


sampai kepinggir jalan depan pintu masuk  apartement dan segera membenahi sepeda motor itu. Hari pertama ku tidak

__ADS_1


begitu menyusahkan, aku juga mulai ramah dengan orang-orang disini ramah dengan


suasananya.


Mella kalau ada disini mungkin senang


Ehh sadar Titan kok jadi kepikiran Mella sih.


Sambil menunggu ban selesai di perbaiki aku


sengaja membuka lembaran ku dulu bersama Mella. Ini caraku, semakin aku


mengingat masa lalu ku semakain aku enggan untuk kembali. Aku memang aneh


anaknya.


"Tempat makan yang enak disini dimana ya


Pak?" sekalian cari makan deh udah demo juga perutku.


"Tidak jauh dar sini ada kok Mas, di


ujung jalan sebelah kiri ada depot makan prasmanan khas sini. Masnya baru kan


di kota ini?" Bapak tukang tambal ban sangat memahami wajah asingku.


"Iya Pak hehe, hmm habis ini saya coba


deh Pak"


"Disana juga ramai kok dan terkenal


enak"


Ku tutup hari ku ini dengan makan di depot


enak dan membersihkan aprtement. Cukup Mell, aku gak mau kamu tiba-tiba menjadi


alasanku untuk membuka lembaran yang dulu di ponsel ku.


...


Berakhir hubungannya mereka juga sudah di


ketahui oleh orang tua mereka masing-masing dan Mella masih sering


berkomunikasi dengan Mama Titan, tidak, Nina tidak memberi tahu tentang dimana


Titan mereka hanya berkomnikasi biasa dan kadang Nina masih mengirimkan


beberapa kue untuk keluarga  Mella.


Bagaimana semua ini terhenti karena sudah


terjalin keterbiasaan semasa anak-anak mereka menjalin hubungan. Dan ya memang


seharusnya silaturahmi tidak boleh berhenti apapun itu alasannya.


Semua berubah dan benar kata Titan, sekalipun


Mella merubah semuanya berubah termasuk teman-teman Mella sewaktu kuliah


sekarang lebih suka bermain dengannya karena paras Mella yang keren dan


ketajiran Mella.


Tidak bisa dipungkiri setelah bekerja keras


bersama Wella, keluarga Mella sekarang lebih menjadi berada sedikit demi


sedikit merenovasi rumah Mella.


Kalau Titan berkunjung kerumah Mella pasti


terkejut  karena setiap sudut ruangannya


juga beda. Mella membuat satu ruangan untuk hasil lukisannya jaman kuliah dulu


dan ada beberapa barang dagangannya tersusun rapi di sana. Semua memang tidak


akan selamanya yang bersama-sama pun akan ditinggal untuk menghadap sang


pengcipta apalagi Mella dan Titan yang berusaha mempertahankan tapi takdir


berkata lain.


Ini Mella lagi sibuk nih sama kerjaannya dan


tidak ada waktu untuk mengenang mantannya sekalipun ia rindu.


Selamat menjalani hari yang baru tahun yang


baru untuk kalian. Jangan ada rasa penyesalan dan tahan rindu kalian ini semua


hanya sebuah masa lalu yang akan hadir di setiap harinya kalian.


Ini hanya cara kalian bagaimana menghadapinya.


Aku rasa Titan bisa entan bagaimana dengan Mella.


Masalalu yang akan siap menghantui kehidupan


mereka


***

__ADS_1


__ADS_2