THE PAST

THE PAST
ONE DAY WITH TIARA


__ADS_3

Dua hari belum cukup rasanya untuk menghabiskan waktu bersama tentangga baru. Setelah pengiriman salad buah dua hari kemarin, pendapatan Titi lumayan meningkat dan tidak ku sangka ternyata ada teman kuliah ku pindah juga ke kota ini. Saat mengantar pesanan di hari kedua salah satu pembeli Titi adalah temanku. Ya seperti biasa bertegur sapa tidak menyangka dan menjadi jangkauan baru untuk aku bisa mengenal kota ini beserta masyarakatnya.


Setelah dua hari pembukaan order salad buah aku dan Titi jarang bertemu setiap ku ingin menyapanya di pagi hari sudah tidak keburu kamar Titi sudah kosong dan saat jam pulang kerja Titi aku sibuk dengan percobaan menu baruku. Titi sempat berkata jika semua sudah pas aku harus memberikan tester kepadanya. Besok aku akan bertemu dengan Tiara Putri yang sekarang masih belum pulang kerja. Besok akhir pekan dan aku harap aku bisa


mendapatkan waktu yang lebih banyak dengan Titi. Aku juga sedang membuat sebuah tanda pengenal untuk menu baru ini dan membuatkan akun social media untuk salad ini, seharian aku memikirkan nama yang cocok untuk salad.


Entah kenapa untuk membuat nama dari salad ini begitu susah di bandingkan aku harus membuat nama saat membuka usaha tas dan sepatu kanvas itu. Aku terlalu tegang untuk memulai usaha ini bersama Titi padahal kemarin ia sudah mempunyai ide yang begitu bagus. Sampai sekarang aku belum memberi kabar lagi kepada orang tua ku, biarkan setelah ini berhasil aku akan menghubungi mereka termasuk Zafran yang sudah sangat aku rindukan.


Suara ketukan itu, sebentar aku yakin itu pasti Tiara...


Firasat yang mulai tidak pernah salah mungkin kebetulan saja, Titi datang dengan wajah yang super menggemaskan ia membawa dua bungkus makanan yang firasatku makin yakin itu untuk aku dan untuk dia.


"Ini tadi di bawain sama Mbak Suci, suaminya sedang bertambah usia lalu di bawakan banyak" Titi meletakan


bungkusan makanan itu di dapur kecilku aku hanya terdiam diam melihat Titi berbicara.


"Trus kenapa dibawa kesini?" meyakinkan aja kalau memang Titi mau makan disini berdua denganku.


Malam itu aku habiskan bersama Titi, yes makin double waktuku bersama tetangga baru sekaligus orang baru di kota ku ini. Makan malam ku dapat paket hemat nasi kotak dari rekan kerja Titi, perempuan cantik kalo makan ya tetep cantik ya dan tidak lupa dengan gayanya yang menyilakan rambutnya itu.


Kali kedua pada yang sama, Titi duduk di ruang tamu ku yang terlihat nyata barang dari Mella. Tas dan sepatu itu tidak pernah aku gunakan barang itu hanya ku letakan disana dan saat itu Titi merasa teralihkan pandangannya. Ia berdiri lalu menyentuh tas dan mencoba sepatu itu.


“Ini pasti handmade” Titi yang sedang bergaya di depan cermin yang tidak jauh dari TV ku.


“Iyaa dulu aku jualan itu waktu masih kuliah dan itu barang satu-satunya yang tersisa”


“Loh kenapa nggak di lanjutin aja ini bagus banget lo Tan, kalau kayak gini kan nanti kita bisa buat hadiah di salad


buahnya” ide Titi memang berlian sekali tapi ia tidak pernah tahu sejarah dari tas dan sepatu itu.


Sambil melahap nasi kota dari rekan Titi aku menceritakannya, tas dan sepatu yang dilukis langsung dari tangan sang mantan begitu bagus hasil yang  Mella lukis sampai barang terakhir ini pun tidak aku jual dan jika Titi memintanya tidak akan aku beri. Biarkan satu atau dua benda yang ada di tempat ini untuk mengisi kotak kenangan ku dan biar bisa membuat aku lupa dengan orangnya. Ya aku harap sekarang Mella bisa meneruskan usahanya itu tanpa adanya aku supaya ia bisa membuat lukisan yang baru dengan lelaki yang bisa menerima apa adanya dia yang sekarang.


“Baiklah... memang tidak semua ya barang mantan dibuang bahkan dibakar” ucap Titi sambil meletakan tas dan sepatunya kembali


“Lagi pula itu juga hasil dari kerja kerasku aku benar-benar belajar dari nol tentang pemasaran banyak ceritalah Ti” jelasku dihadapan Titi yang perlahan meletakan tas dan sepatunya kembali.


Sudah berlalu...


Titi memang tidak terlalu memikirkan hal itu karena yang penting bagi dia sekarang adalah menu baru dari salad buahnya. Aku menyodorkan menu salad yang baru dari dalam kulkasku. Ini menu sangat cocok untuk orang yang sedang menjalankan program diet atau memang ia tidak bisa makan dengan makanan yang berat. Titi menyukainya ia melahapnya dengan senyuman yang gembira sambil memandangiku yang artinya ia menyetujui menu ini.


Rencana sedang kami susun dengan sangat mulus dan baik, semua tertulis dan bahan-bahan untuk menu baru sudah Titi list dengan sangat terperinci. Aku mulai menyukai dengan ide-ide yang Tiara punya dan ini


berbanding jauh dengan Mella.


Masih dalam perbandingan yang tidak akan ada habisnya jika aku selalu menjajarkan Tiara dan Mella. Tiba-tiba perasaan ingin menyampingkan hati yang mau memiliki Titi, judul ini aku tulis One Day With Tiara karena besok aku akan berpergian dengan Tiara.


Sudah malam, Titi nampak begitu lelah ia harus kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih dan merebahkan tubuh mungilnya. Makin semangat untuk membuat logo dan kami putuskan salad ini kami beri nama


SALAD DARI KITA


Titi tadi juga memberikan arti dari nama itu, “dari kita” yang berniat baik untuk memberi makanan yang sehat dan bersih dan dari kita yang sedang merabah di dunia yang jahat ini. Mungkin pengalaman dan jam terbang Titi di dunia yang jahat ini sudah tinggi, berdamai dengan keadaan juga sudah ia lakukan menyaksikan kesakitan hati yang luar biasa juga sudah ia rasakan.


Selamat istirahat Titi, besok kita bikin paragraf baru ya.


...

__ADS_1


“Titan, kamu harus kirim tas dan sepatu ini teman-teman modelku sudah banyak yang nungguin” suara Mella begitu lembut dan suara itu beda dari biasanya ia berbicara. Aku yang berdiam diri di depan pintu rumahnya masih merasakan suara yang beda itu. Mella sedang sibuk dengan ponselnya karena tas dan sepatu itu akan dibuat property dalam photoshot.


Wella juga, kenapa ia malah sibuk berbicara dengan ku tentang alas bedak Mella yang mulau habis lalu ia meminta sejumlah uang kepadaku untuk membelikannya. Aku hanya mengiyakan sambil mengeluarkan dompet dari saku celana ku dan memberikan uang kepada Wella.


Dari arah belakang Mella memelukku dan berkata ia begitu sayang denganku. Meminta maaf dan tidak akan mengulangi hal yang tidak aku suka ataupun kesalahan lainnya. Aku hanya terdiam entah aku tidak bisa berkata apa-apa hanya membalikkan badan dan membalas pelukan Mella seperti halnya pasangan pada umumnya malah aku mencium Mella.


“Aku yakin Titan kita tidak akan pernah bisa untuk saling lepas, sampai kapanpun aku akan menjadi milikmu begitupun kamu”


“Tapi aku tidak bisa menjanjikan hal itu Mella, aku tidak tahu semesta akan berencana seperti apa”


Lagi, menangis di hadapanku sambil sesenggukan dan Mella tidak menggiharukan ponsel yang terus berdering. Aku sangat yakin dengan jawabanku aku tidak akan pernah tahu semesta akan berencana seperti apa.


Lalu...


Semua itu gelap dan berakhir...


...


Terulang lagi tapi bedanya ini di pagi hari udara yang masih begitu sejuk dan belum banyak tercampur dengan polusi aku berangkat ke sebuah pasar tradisonal yang tidak jauh dari apartement. Wajah Tiara yang masih baru bangun tidur banget makin terlihat cantik apa memang semua perempuan begitu ya. Saat ku tanya kenapa memilih pasar karena untuk yang berurusan dengan sayur mayur lebih baik di pasar dan bisa meminimalisir harga belinya.


Tidak pernah sebelumnya aku berkunjung ke pasar tradisional dan biasanya ini kerjaannya Mama dan ART. Ku lihat Titi begitu pandai memilih dan sudah terlihat seperti orang yang terbiasa datang kepasar jangan salah juga Titi jago menawar


“Aku ambil banyak kok Bu... bisa dikurangi lah harganya”


Aku terdiam memperhatikan Tiara sambil mengecheck kembali apa saja yang belum dibeli oleh kami. Sambil menunggu Titi selesai memilih dan menawar belanjaan aku mau cerita tentang itu..


Aku mimpi Mella memelukku dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Aku jadi merasa takut dengan adanya Titi menyentuh tas dan sepatu itu aku jadi di datangkan bayangan Mella di dalam mimpi. Ini perdana setelah satu tahun aku pisah dengan Mella pertama kalinya dia datang dimimpiku dengan begitu dramatis.


“Kamu nggk papa kan Tan masuk pasar?” suara Titi membangunkan lamunanku


 “Hah ya nggk papa lah Ti” aku menjawab sambil tersenyum manis kepada Titi


“Kalau gitu kita cari sarapan aja yuk”


Matahari juga sudah mulai terbit dan sudah sangat terasa terik sekali pagi itu. Tiba-tiba Tiara menyarankan untuk jalan pagi di sekitaran pasar sini dan barangnya-barangnya bisa di titipkan di penitipan barang. Aku nggak tahu lagi dengan ide Tiara yang selalu brilian ini ia bisa memanfaatkan waktu yang sempit ini untuk mendapatkan manfaat yang banyak, cukup aku memuji dan memuja Tiara saatnya kita makan bubur ayam dulu memang cocok ini.


“Bang buburnya dua ya sama teh hangat makan sini” aku memesan bubur ayam dan Tiara yang mencari tempat duduk


“Aku rasa suasana di kota kamu yang dulu sama seperti ini” ucap Tiara sambil memperhatikan sekitar


“Aku rasa juga, karena aku tidak pernah merasakan sarapan pagi di luar seperti ini”


“Ihh berati ini perdana dong kamu sarapan diluar”


Aku hanya menjawab dengan menganggukan kepala sambil senyum manja gitu pasti kalau aku liat sendiri jadinya geli. Rencana ku hari ini adalah membuat beberapa kotak untuk diberikan kepada tetangga apartement yang Tiara memang kenal dan kata Titi anggap aja juga tanda perkenalan dari aku lalu ia juga akan kirimkan untuk Kakak dan keponakannya lalu sisanya untuk rekan kerja Titi.


Titi berkata memang semua harus diawali dengan bersusah dahulu dan jika itu sudah dilakukan tinggal tunggu saja senang-senang kemudian. Bubur kami datang...


“Ti, coba deh aku pengen tahu kamu kalau makan bubur diaduk atau enggak” mencoba membuat suasana beda sama Tiara


“Ahaha masih ada aja ya pertanyaan kayak gitu ya... aku jelasnya diaduk lah biar semua rasanya nyampur” jawab kayak gitu aja sama lagi aduk buburnya dan menuangkan kecap asin lagi


“Jadi semua rasanya harus di sama ratakan ya Ti” aku yang sedang menyiapkan kerupuknya


“Kamu bukan team makan bubur di aduk ya”

__ADS_1


“Nggak. Nggak cuma makan bubur aja Ti makan yang lain juga gitu”


“Banyakin kecap asinnya biar makin mantap”


Kecap asin kalau sudah di bubur rasanya pasti bakal beda ia hanya sebentar di bubur dan merasap kedalam buburnya jadi kalau nggak di kasih yang banyak rasanya hanya singgah tidak untuk menetap lah kenapa


jadi kebawa perasaan seperti ini.


Sinar matahari sudah makin menyinari tempat dimana aku dan Titi makan bubur sambil mempermasalahkan apa arti dari rambut hijau. Bukan masalah bagaimana makan buburnya sekarang sudah berganti tentang apa artinya rambut hijau. Muka serius Tiara sangat menggemaskan dan sampai ia meneguk teh hangatpun ia belum tahu artinya rambut hijau itu apa


“Nih aku kasih tahu, kalau rambut putih kan uban kalau rambut merah itu pirang kalau rambut hijau itu rambutan yang belum matang” ya sudah pecah juga bercandaan aku di hadapan Tiara dan aku berharap itu nggk sok lucu dan emang buat aku itu lucu.


Jangan terlalu lama masih ada kegiatan berikutnya dan masih ada tujuan terakhir sebelum semua belanjaan ini di


esekusi.


Kalau ini mah bukan one day with Tiara tapi one and half days with Tiara, ahh apapun itu lah yang penting aku bisa


pengenalan dengan Tiara Putri...


“Novitasari...” dia yang melengkapkan nama lengkapnya


“Ahahah iyaaa nama kamu terlalu panjang soalnya”


“Kalau kamu Titan siapa?”


“Titan Rizky Pratama” ehee pasti baru tahu ya nama lengkap aku baik aku ulang yaaa nama lengkap aku Titan Rizky Pratama karena aku anak pertama pasti paham kan. Titi hanya mengagguk dan tersenyum manja saat aku melihatnya di kaca spion motor.


Aku tidak ingin banyak bercerita setelah kami sudah tiba diapartement aku dan Titi benar-benar mempersiapkan produk baru kami dan aku berusaha mengoprasikan di akun social media salad yang baru ini. Aku lebih suka begini berusaha dengan kemauan ku sendiri dan susah mudahnya aku bisa rasakan sendiri.


“Aku kira kamu anak orang kaya yang nggak mau susah” ucap Tiara yang membuat aku tersontak


“Ahaha itu kenapa jangan menilai orang dari covernya” jawabku yang sambil melahap sisa menu baru dari salad.


“Aku harap kita bisa bekerja sama terus ya Tan sampai...”


“Sampai?”


“Sampai tuhan memiliki jalan lain buat kita” Dih, Titi berkata seperti itu sambil mendekatkan badannya didepan wajahku aku nggak tahu Titi dengar apa enggak detak jantungku yang berdegup sangat kencang. Ini kenapa Titi jadi mengartikan hal lain dari joinnya aku sama dia dalam bisnis salad ini?


Semua rencana sudah dijalankan dengan mulus tadi aku juga sempat ikut Titi kerumah Kakaknya dan kerumah Ibunya. Ibu Tiara begitu cantik dan saat itu aku ingin berterima kasih kepada beliau karena sudah melahirkan dan membesarkan anak perempuan secantik dan sehebat Tiara ini.


Hujan turun lagi aku dan Tiara menyempatkan waktu untuk bermain hujan dijalan bersama. Bahagia sekali dan tidak ada kata lain selain terima kasih kepada semesta yang sudah berkata lain untuk hari ku di kota baru ini, dijalan Tiara juga sempat mengatakan jangan melamar pekerjaan dimana-mana dulu jalani ini dulu siapa tahu memang rezeki aku ada di salad buah ini.


Memang ini begitu cepat jika kalian bisa merasakan tapi aku tidak ada keraguan sama sekali untuk melakukan hal yang serius bersama Tiara, dalam arti bisnis.


Tiara merasa kedinginan saat sampai di parkiran motor dengan cepat aku memencet tombol lift dan dengan spontan aku merangkul Titi dari samping, tujuan utama supaya Tiara lebih hangat tapi Tiara malah...


“Bentar aja Tan aku bener-bener kedinginan” Titi memeluk aku dan masuk kedalam jaket aku.


Aku khawatir terhadap Tiara aku takut tiba-tiba suhu badannya naik dan aku jauh dari dia. Dia juga tidak keberatan


untuk tidur di kamar ku demi kebaikannya dia juga, saat aku duduk di depan televisi aku sempat berfikir ini adalah salah ku yang terlalu membiarkan dia bermain hujan-hujanan.


Ini benar-benar one day with Tiara.

__ADS_1


Selamat malam...


***


__ADS_2