
Pagi ini aku akan mengawali hariku yang kesekain hari untuk menaruh beberapa baju kotorku di laundry sekalian mau panasin motor lalu mencari makan. Keluar kamar rasanya melihat kamar Titi kayak sudah tidak ada orangnya, aku melihat kearah arlojiku menunjukan jam yang sudah saatnya dia berangkat kerja ya sudah lah mungkin bisa bertemu nanti sore.
Liftnya sedikit mengerikan masih lebih baik lift di mall-mall dari pada apartement gini, ehehe kayaknya aku terlalu terbawa suasana sama film horor yang ku tonton semalam. Bawaanku sudah kayak ibu-ibu anak dua banyak sekali baju kotorku tidak hanya baju kotor ada beberapa sprei sama selimut yang kemarin baru ku ganti.
Di apartement ini lumayan lengkap ada beberapa gerai laundry dan ada depot makanan yang tertera di ruko bawah apartement, aku rasa kemarin tidak segini banyak gerai tokonya.
Langsung saja aku menaruh pakaian kotorku dan di catat lalu di timbang oleh pegawai laundry
"Atas nama siapa?" tanya pegawai laundry itu
"Titan" jawabku sambil mengambil uang di dompet ku
"Mas penghuni baru ya?" pegawai itu masih terus bertanya
"Iya mbak, kenapa asing ya muka saya"
"Iyaa hehe, gini disini ada nomer laundry kami nanti Mas Titan bisa telfon aja kami ada layanan antar dan jemput
cucian" jelas pagawai laundry sambil memberikan nota kepadaku
"Ohh iya Mbak, enak ya hehe tidak ada biaya tambahan kan?" hehe aku memastikan kalau ada biaya tambahan mending ku ambil dan ku antar sendiri
"Tidak ada Mas malah kalau mas Titan sudah langganan disini nanti dpt gratis cuci setiap satu bulan sekali nanti
terserah Mas Titan mau ambil kapan freenya" bersyukur sekali aku memilih gerai laundry yang ini.
Aku mendapat penjelasan lebih banyak dari pegawai laundrynya dan aku mendapat kartu member seperti biasa supaya makin banyak freenya.
Sebelum ku melangkah ke parkiran motor sepertinya enak kalau minum susu chocolate yang dingin sekalian aja beli yang besar untuk dikamar. Aku benar-benar beruntung tinggal disini dan memang selera Papaku sama dengan ku, hidup dijaman sekarang kalau kita nggak pintar-pintar mengatur uang ya cepat pergi uangnya.
Salut aku sama Papa disini supermarketnya super lengkap tapi harganya gak jauh beda si sama supermarket besar lainnya. Aku mengambil susu chocolate di chiler pojokan.
Bentar bau ini kayaknya aku nggak asing
"Suka susu chocolate?" Titi ada di sampingku sambil membawa beberapa belanjaan
"Ehh... Enggak ya lagi kepingin aja minum susu chocolate hehe, aku kira kamu udah berangkat kerja" jawabku sambil melihat sekitar
"Mau berangkat trus keinget harus beli beberapa kebutuhan untuk salad buah soalnya besok sama lusa sudah banyak orderan" jelas Titi dengan wajah yang menggemaskan. Tidak seperti pegawai kantor lainnya yang kalau dandan harus memberi warna di kelopak mata dan warna merah muda dipipinya, begitu apa adanya dan tetap dengan rambut yang terurai.
"Kok jadi ngelamun Tan, kayaknya aku duluan ya hari ini aku mau kerja cepat kerja pintar" Titi berjalan menuju
kasir
"Lagi banyak kerjaan maksudnya?" Tanya aku yang menyusul ke kasir
"Yaa, karena nanti malam aku juga harus beli buah dan keperluan lainnya. Berapa tadi Mas?"
"Aku boleh ikut?" Aku udah mulai berani nih sama Titi, semoga di bolehin.
"Selama kamu nggk merasa terganggu aja nggk masalah Tan"
"Nggak lah aku juga nggak tahu mau ngapain. Oh kalau gitu barang yang itu aku bawa ke kamar aja nanti sore aku
__ADS_1
jemput kamu gimana?"
"Nggk usah nanti malem kita belanja buah bareng aja, kamu nggak usah jemput" Titi menolak secara halus, ya aku
sedikit sadar kayaknya Titi takut ketahuan pacarnya
Kami berpisah di supermatket itu dan aku mengulang dua kali perjalanan harusnya habis manasin motor aku beli susu, eh kalau gak gitu aku nggak ketemu sama Titi.
Titi mandiri anaknya, tadi aku lihat dia diparkiran basment berangkat kerja dengan motor cantiknya. Ya seperti Titi yang ku mau dari Mella, tidak usahlah memberi warna pada kelopak mata mata Mella udah indah apalagi pipinya. Sudahlah, kami sudah memilih jalan ini.
Titi tadi belanja pelengkap untuk salad buah seperti mayonaise keju dan sendok plastik juga. Sambil menyantap makan pagiku aku membuka laptop dan memeriksa beberapa email, aku kira ini akan terjadi dengan cepat ternyata cari kerja itu susah tapi aku rasa pasion yang aku miliki ini makin menjuru ke bisnis dan usaha. Ku cepat menyelesaikan makan ku dan mencari ide baru untuk salad buah Titi. Untuk salad Titi bukan untuk Titi hehe.
Papa Mamaku selalu menyukai apapun jenis bisnisku ia juga selalu mendukung dan mencoba membanggakannya di depan teman-temannya. Selesai makan ideku mulai bermunculan kenapa ia tidak mencoba menambah menu dari salad itu yang satunya salad vegetariant.
Mataku sudah terlalu fokus dengan laptop yang layarnya penuh dengan desain, resep salad vegetariant yang enak dan wadah yang pas untuk bisa memikat pembeli. Dulu sepertinya ada matakuliah seperti ini deh.
Hariku yang kesekian kalinya ku habiskan dengan begini saja di dalam kamar sambil bekerja ala-ala.
...
Izinkan aku berbicara juga ya, ini Tiara Putri yang sedang sibuk di hadapan komputer dengan tumpukan beberapa kertas yang harus segera di input. Sudah hampir jam istirahat aku masih betah di hadapan komputer ini sudah menjadi hal biasa si karena aku juga sudah sering melakukan kerja cepat kerja pintar, yang dimana aku harus cekatan dan teliti supaya nanti bisa pulang tepat waktu.
Setelah aku keluar dari restaurant yang aku bertemu dengan Anwar itu aku merasa enak aja disini pagawainya baik-baik walaupun wajahnya jutek tapi kalau aku nawarin salad buah mereka langsung order yang membuat aku kewalahan.
"Tir... kapan salad buah kamu ready, ibu mertua ku sudah ngidam dari kemarin-kemarin" Mbak Suci ini pelanggan setiaku.
"Besok Mbak sama lusa" jawabku sambil serius mengetik data yang ku input
"Siap bossss" aku hanya menjawab begitu supaya aku bisa menyelesaikan dataku ini. Sempat aku berfikir untuk
berhenti bekerja dan meneruskan salad buah ini lalu ku buka garai di daerah apartement tapi kata Ibu jangan terlalu cepat puas dulu dengan pendapatan salad buah yang sekarang jadi aku buka salad buah minimal seminggu dua kali.
Ibu ku suka dengan salad buah ini kakak-kakak dan keponakan ku selalu suka jika aku kirim kerumah mereka. Bentar-bentar, di ponsel ku juga ada beberapa yang order lagi ini kira-kira Titan mau nggak ya bantu aku terus, bagaimana aku bisa bicara dengannya.
Aku merekap orderan yang sudah masuk melalui pesan singkat dan tadi juga driver kantor order untuk istrinya yang sedang ngidam salad buah. Akhirnya selesai juga ini data-data, tidak pakai lama aku segera berkemas dan mematikan komputer. Aku sungguh tidak sabar untuk bertempur dalam salad buah ini.
"Mbak, sekarang sama besok aku pulang lebih awal ya" kataku sambil membenahkan pakaian dan mencari kunci motor
"Pokoknya jangan lupa pesanan ku" jawab Mbak Suci yang sibuk dengan pembukaannya.
"Beres kalau itu"
Aku meninggalkan kantor dan menyambut sore dengan suka cita, matahari sudah berada di ujung dan sebentar lagi akan tenggelam lalu kupulang ditemani oleh senja dan keramaian kota.
Diatas motor aku sempat berfikir bagaimana jika aku mengajak Titan untuk ikut dalam bisnis salad buah ini biar dia juga bisa bantu jika ada orderan saat aku bekerja. Apa itu tidak termasuk dalam pemanfaatan tenaga orang?
Malam ini aku akan mendapatakan waktu yang banyak bersama Titan dan bisa mengenal dia lebih dalam lagi. Pesona Titan sepertinya selalu membuat aku memujanya tapi tidak tahu bagaimana cara untuk
memujinya. Sudah lah dengan rasa percaya diriku yang meningkat sepertinya Titan sudah menungguku di apartement.
...
Papa, sekarang motor ini sudah membawa perempuan yang beda dia sekarang menjadi teman baru ku disini ia sekarang menjadi alasan aku untuk terus semangat mencari hal yang baru.
__ADS_1
Dibawa sinar rembulan yang indah ini, aku membawa anak orang yang sedang berambisi untuk mewujudkan impianya untuk merasakan kerasnya dunia yang harus ia hadapi sendiri. Titi menceritakan banyak hal tantangnya dan aku sedikit merasa iba dengannya, perempuan secantik Titi harus merasakan sakit hati yang kedua kalinya. Kamu hebat Titi kamu terus berdiri dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri di dunia ini.
Suasana di kota ini sedikit berbeda biasanya aku belanja bersama Mellow untuk perlatan melukis sekarang aku harus belanja ke supermarket untuk beli beberapa buah. Titi tidak semisterius itu ya karena mungkin dia ingin dianggap ada aja sama aku jadi cari perhatian banget.
"Ohya gimana sama lamaran pekerjaan kamu?" kata Titi yang sambil memilih buah
"Belum ada kelanjutan ya jadinya gini-gini aja"
"Aku punya rencana buat kamu emm buat kita si hehe" kata Titi sambil menyilakan rambutnya di belakang telinga.
Bidadari surga sedang turun untuk membeli buah hehe.
Diperjalan pulang hujan datang tanpa terencana hampir saja kita basah kuyup dan masih sempat sampai duluan di parkiran apartement. Titi tertawa merasakan air hujan yang menyentuh kulit mulusnya akupun tersenyum merasakan kebahagian ini. Bukan bermaksud untuk cepat berpaling, aku dan Mella sudah selesai dan jangka waktu untuk menyelesaikannya sudah cukup sekarang aku ingin merasakan dunia yang benar-benar baru.
Di lift Titi masih menceritakan betapa senangnya dia terkena air hujan, sambil ku bantu membawa buah-buahan Titi
menatapku dengan tidak sengaja. Sekali lagi, aku berharap Mella juga akan menganggap kita sudah cukup waktu itu menyelesaikan urusan kita, Mella akan merasa lebih bahagia dari pada aku yang hanya bisa menatap dan menerka Titi seperti ini takut tiba-tiba keluar dari lift kekasih Titi menghantam ku.
"Masuk aja Titan" aku masih takut dengan bayanganku sendiri dan malah di dalam aku menemukan barang yang
seharusnya tidak aku lihat.
"Nggk papa nih?" aku masih terus meyakinkan diriku sendiri.
"Nggak papa tapi kamar ku beda type sama kamarmu" Titi meletakan barangnya sambil menyalakan AC. Mungkin yang aku maksud barangnya ada dikamar Titi.
"Ya begini Titan setiap satu minggu dua kali aku buka orderan untuk salad buah ku karena kalau nggk gitu aku bisa
kalang kabut"
"Kalau kamu mau buka orderan tiap hari nggak papa Titi nanti aku bantu untuk produksi dan pemasarannya"
"Aku jadi merasa spesial banget kamu panggil Titi" ucapnya yang selalu menyilakan rambut panjangnya itu.
"Hehe biar beda aja biar kamu bisa inget kalo ada yang manggil Titi itu aku" bisa aja nih aku ngerayu Titi.
"Tapi tadi aku juga ada pikiran gitu si cuma aku nggak enak bilang sama kamu, yakan sama nunggu kamu dapet
kerjaan"
"Malah aku mau bantu kamu biar ada menu baru di salad buah ini" jelasku sambil menyiapkan wadah di depan TV. Kamar Tiara memang tidak seluas kamar ku tapi dengan seperti ini kayaknya ruang gerakku makin sedikit dan makin bisa lama melihat Tiara.
Kami satu fikiran dan kami sepakat atas kerja sama ini mulai lusa setelah mengantar pesanan aku mulai membuat percobaan atas menu penemuan ku. Kalau bisa jangan ada yang ganggu aku sama Titi dulu ya, ini adalah sebuah proses pembetukan atas rasa , kenangan dan berbagai bentuk waktu yang sedang kita luangkan untuk kesepakatan kami.
Jangan ingatkan aku sedikitpun atas Mellow dan aku harap ia tidak akan datang disaat seperti ini. Sebagaima pun jika aku harus disuruh menulis ulang itu akan beda hasilnya dan sekarang adalah bukan Mellow yang aku kenal dulu.
Tadi Titi sempat mengatakan jika dia sedang tidak bersama siapa-siapa dan yang aku katakan saat kita diatas motor itu benar, ia sedang berjuang atas dunia yang keras.
Salad buahnya sudah jadi besok ia membawa beberapa untuk pesanan yang besok dan untuk lusa aku mencoba ngirimnya itung-itung aku belajar memahami kota baru ini.
Aku senang dengan hari ini, salad buah aku dan Tiara.
***
__ADS_1