
Dengan dandanku yang begitu sederhana aku dan Wella hadir di acara grand opening semacam kafe milik teman Wella, Rina namanya. Bisa dibilang Rina adalah teman seperjuangan Wella saat mereka sedang berusaha daftar di perguruan tinggi mereka baru kenal saat di area kampus dan akhirnya mereka menjadi sahabat hingga Rina sukses seperti ini.
Rina membuka kafe atas jarih payahnya saat kuliah yang sudah mulai bekerja paruh waktu di butik punya tantenya atas permintaan Rina ia ingin digaji selayaknya bekerja paruh waktu dan setelah lulus kuliah Rina melanjutkan bekerja di butik tantenya dengan waktu yang penuh dan ini hasilnya.
“Mell... Kamu beneran inget Rina kan?” Wella mengahampiriku di dapur saat meneguk jus jeruk ku.
“Iya inget Well kalian dulu kan sering kemana-mana bareng yang dulu kamu kenal waktu masuk kuliah kan?” aku menjawab sambil melototkan mataku karena Wella begitu ragu denganku.
“Yaudah yuk keburu malam”
“Pamit Ayah Ibu dulu lah, kebiasaan” aku berjalan ke kamar mereka untuk bepamitan.
Kemarin aku sudah melakukan ritual ku untuk hibernasi seharian dan hari ini aku membayar janji ku kepada Wella untuk menemani dia datang ke acara Rina. Aku begitu dekat dengan Rina karena dulu Rina sering bermain kerumah mengerjakan tugas kuliah bersama Wella. Rina mengikuti jejak Wella yang tidak ingin ku panggil dengan sebutan “Kak, Mbak” atau apapun itu. Rina anak tunggal, Papa Rina menjabat sebagai direktur utama property yang sudah Papa Rina dirikan sejak Rina baru lahir. Aku dan Wella sangat bersyukur telah di dekatkan oleh seseorang yang mau berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saat beranjak kuliah bahkan saat itu kata Rina ketika ia mulai bekerja di butik tantenya, tante Rina sempat berfikir jika Papa Rina sedang dalam krisis ekonomi.
Hal yang selalu menjadi contoh untuk kehidupanku dan pada satu tahun yang lalu aku makin bersyukur bertemu dengan Titan yang mau membuat sebuah usaha bersama, walaupun saat itu hasilnya masih kita tabung tapi aku dan Titan pernah merasakan susah bersama.
Masih tentang Titan ya, masih selalu tentang dia.
Tidak ada yang berbeda dari malam tersebut, malam yang dipenuhi dengan suara klakson kendaraan dan ramainya kota. Aku sempat berfikir dari banyaknya orang-orang yang melintasi jalan di kota ini pasti salah satu dari mereka berjenis kelamin laki-laki dan aku masih memikirkan satu laki-laki yang nggak tau dimana sekarang keberadaannya.
Laki-laki yang jelas menolak ku mentah-mentah saat aku ingin berubah menjadi yang lebih baik. Kata rekan kerja ku itu bukan laki-laki yang pantas untuk aku, ia hanya laki-laki egois yang ingin mendapat kesenangan pada dirinya sendiri.
Aku berkaca di ponselku dan melihat kembali riasan wajahku. Berkata dalam hati apakah Titan tidak normal, Titan takut dengan wanita cantik?
“Sudah Mell... Kamu tidak salah Titan aja yang aneh” Wella mendapatiku yang serius memandangi wajah. Aku hanya menjawab dengan helaan nafas panjang dan menaruh kembali ponselku kedalam tas. Menatap kearah
jendela dan melihat bintang yang bersinar terang di malam yang ramai ini.
Jika aku dipertemukan oleh Titan lagi aku ingin memeluknya merasakan aroma tubuhnya walaupun hanya beberapa menit, aku ingin meninggalkan air mataku di baju Titan sebagai tanda bukti aku tidak ingin Titan pergi. Menerima kenyataan tidak semudah orang berucap, menerima kenyataan itu tidak secepat kita menyeduh teh hangat aku butuh proses yang panjang untuk melepas Titan dengan seikhas-ikhlasnya.
Suara musik sudah terdengar kencang sudah ramai pengunjung juga yang mengantri untuk mendapatkan minuman serta makanan diskon. Aku turun dari mobil dengan anggun karena sudah terbiasa juga saat di tempat modeling seperti ini, aku meresa aneh juga banyak yang melihat aku seperti tatapan yang setengah percaya atau tidak.
Aku harus memahami dengan keadaan yang seperti ini, hasil fotoku bersama photograper memang untuk di konsumsi publik dan sebagian dari mereka adalah penikmat wajah dan tubuhku yang ada di media dan majalah cetak.
Wella begitu antusias saat datang ke acara ini, teman seperjuangannya sudah berhasil dan Wella tampak begitu senang saat menikmati seisi kafe yang menurut Wella ini memang karakter Rina sekali, kata Wella begitu saat ia membisikan kepadaku. Yang punya kafe datang nih
“Bentar bentar ini yang Wella mana yang Mella mana ya” gurau Rina saat menghampiri kami
“Yang bener aja masa nggak keliatan yang paling keliatan seumuran sama kamu siapa?” balas Wella sambil cipika cipiki kepada sahabatnya itu.
Tawa gembira bahagia terpancar di wajah mereka masing-masing lama tidak jumpa dan mereka juga hitung-hitung melakukan reuni.
“Mell... sekarang kamu mau saingan sama Wella?”
“Kamu nggak tahu aja Rin, kami sekarang sedang bersaing hebat” aku makin bergurau dengan Rina. Rina terlihat cantik ya efek dari lama tidak bertemu juga banyak yang berubah darinya. Rina tahu tentang perubahan dari aku Rina sangat senang melihat aku dan Wella bisa bekerja sama.
Wella juga bertemu dengan teman dekat kuliah lainnya yang dulu hanya dicerita Wella saat dikami dikamar. Biarkan saja Wella ini hari Wella besok ia harus bekerja lagi denganku.
Masih merasa tidak enak dengan tatapan orang-orang kepada ku mereka seperti ingin menghampiriku tapi entahlah mereka aneh.
__ADS_1
"Mbak Mella?" pramusaji yang tiba-tiba menghampiri aku di meja ini sambil menurunkan segelas minuman
"Makasih Mas, bilang Rina yaa" ucapku sambil mengaduk segelas minuman ini
"Ohh bukan dari Bu Rina ini Mbak"
"Lalu ini dari siapa?" aku sedikit kebingungan tapi masih sambil mengaduk minuman.
"Dari pengunjung juga kok Mbak, ini dia sertakan dalam surat juga" dalam fikiranku fix pasti ini adalah penggemar
ku yang dari td sudah menatap ku kebingungan dan ini adalah cara mereka untuk menyapaku.
Aku hanya mengangguk kepada pramusaji menandakan ucapan terima kasih aku lalu meneguk minuman itu. Seperti yang ku lihat di dalam buku menu yang ada di meja itu, minuman ini akan menjadi minuman favorit di kafe Rina ini.
"Kalau kamu berkenan untuk ku ajak bicara kamu cukup angkat tangan kamu dan aku segera menghampirimu" isi suratnya yang mengatakan seperti itu. jujur malas sebenarnya ini pasti cowok yang akan berkenalan denganku, ahh masih rapat sekali hatiku untuk orang lain.
Tidak menghiraukan ku hanya letakan surat itu sambil terus ku teguk minuman dari orang itu. Minumannya saja yany kuterima orangnya tidak.
Harusnya aku datang bersama Titan juga supaya tidak ada yang mengangguku seperti ini. Titan pasti marah jika ada orang misterius yang mencoba mendekatiku, tidak marah yang serem seperti itu paling-paling wajahnya cemberut seperti di galeri.
Titan...
Bagaimana ini aku sendirian disini aku takut Titan aku masih menutup rapat sekali hatiku ya walaupun tidak harus berujung hubungan yang serius tapi untuk mengenal lelaki baru rasanya aneh Titan.
"Permisi..." suara lantang itu, Titan disini!
"Boleh saya duduk sini?" lelaki asing datang menghampiriku, sepertinya ini yang memberi ku surat beserta
minuman.
"Ehh... Sihlakan" tidak bisa menolak juga ia sudah di hadapanku dan memandangi minuman yang tinggal setengah gelas.
"Enak ya minumannya?"
"Lumayan" jawabku super jutek sekali
"Lagi nunggu orang emangnya?"
"Enggak kok"
"Ohh kok tadi nyebut nama Titan gitu"
"Suara kamu mirip aja sama seseorang"
Masih belum mau tahu siapa orang itu dan tiba-tiba banget dia ngeluarin voucer dari kafe Rina. Rina tidak punya saudara kan dia anak tunggal lalu laki-laki ini siapa.
"Pengalaman aku jadi barista itu panjang banget aku sampai harus sekolah dan bener-bener belajar tentang
kopi-kopinya" aku berjalan di halaman belakang kafe yang ternyata lebih bagus dibandingkan di dalam kafe dan laki-laki ini berhasil menghipnotis aku supaya mau berbicara banyak tentang dia.
__ADS_1
Lentara lampu juga bersinar terang dengan tanaman yang terbentuk rapi supaya pengunjung bisa berfoto disana, Rina memang keren.
"Lalu kenapa kamu mau berbicara dengan aku?"
"Setiba kamu di kafe kayaknya kamu nggk nyaman dengan pandangan pengunjung lainnya ya aku mau berusaha lindungi kamu aja"
"Hahaha, sok pahlawan banget"
"Okta" dia memperkenalkan dirinya
"Mella" jawabku sambil mengambil gambar pada lentera bagus ini.
"Mella Adisti yang sedang menjadi model baru di kalangan media"
"Scorpio bulan apa?" aku yang tiba-tiba membahas horoscop dengannya
"Okta ya Oktober lah hahaha"
"Emang dari awal Scorpio itu misterius"
"Tapi bakal susah kamu lupakan"
Okta meninggalkan aku di halaman belakang sepertinya ia sedang mendapat panggilan tugas dari Rina.
Dari bajunya berbeda dengan pagawai Rina lainnya seperti dia lebih tinggi jabatannya.
Tidak penting dengan hal itu, aku kembali berbaur dengan Wella dan Rina disana mereka juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya semasa kuliah. Mereka juga terheran melihatku lebih banyak memuji ku sempurna.
Saking misteriusnya Okta aku sempat menanyakan kepada Rina siapa Okta di kafe ini.
"Dia kepala barista disini, kamu habis kena modusnya ya hahaha"
"Rin.. Rinn pegawaimu udah pro banget"
"Santai lah kalau di apa-apain kamu bilang sama aku"
Tidak ku jawab lagi hanya diam dan memperhatikan sekeliling sambil menikmati lagi minuman dan makanan di kafe
Rina.
Memang tidak ada yang istimewa hanya bertemu orang-orang baru dan aku masih enggan untuk berkenalan lebih jauh. Jika tadi ku tanggepi kertas dari Okta mungkin sekarang kita sudah bertukaran nomer dan akan berlanjut lebih jauh.
Ahh tidak-tidak aku mau fokus dengan pekerjaan dulu sambil perlahan mengikhlaskan Titan. Tadi ada beberapa teman Wella yang suka bisnis berjualan rencananya usaha tas kanvas dan sepatu akan ku lanjutkan bersama dia.
Harusnya malam ini aku bisa enjoy dengan suasana baru di kafe Rina tapi ahhh Titan masih ada di hatiku masih ada ditubuhku. Besok aku bekerja dan besok aku akan mencoba menekuni usaha tas dan sepatu itu.
Selamat malam kafe Rina, terima kasih lentera malam mu dan pegawai modusmu.
***
__ADS_1