
Aku rasa usaha tas dan sepatu ini memang harus aku lanjutkan melihat permintaan dari banyak orang dan pelanggan lama ku untuk memproduksi tas dan sepatu lagi aku sedang memikirkan hal ini dengan serius. Kapan hari ada salah satu dari teman Rina yang ingin membantu aku dalam menjalankan kembali usahaku ini mari kita
lihat perbandingan saat dibawa management Titan dan yang akan aku bikin baru ini.
Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar dari pelanggan lama ku untuk meminta produksi ulang karena pasaran sekarang sudah kembali meledak dengan permintaan tas dan sepatu kanvas. Baik... semua permintaan pelanggan lama ku sementara aku tampung dan aku pikir-pikir lebih matang lagi.
Tidak paham dengan fikiranku sendiri yang tiba-tiba memikirkan usaha lebih penting dari keberadaan Titan dimana.
Sepulangku dari meeting bersama salah satu brand baju yang baru saja launching ini aku akan bertemu dengan rekan Rina di kafe Rina. Sedikit takut untuk melakukan hal itu lagi tapi dipikir kembali ini semua demi kesejahteraan kehidupan keluarga aku.
“Aku capek Mell kasih tahu kamu” kata Wella yang sedang sibuk dengan ponselnya
“Iyaa aku tahu aku salah aku sendiri juga bingung bagaimana aku bisa lepas dari bayang-bayang Titan”
“Apa nggak usah dilanjutin aja usaha tas dan sepatu kanvas kamu?” Wella meyakinkan aku untuk kesekian kalinya sebelum meeting bersama salah satu brand ini dimulai
“Tidak... Ini juga demi keluarga Well aku masih butuh penghasilan lebih untuk Ayah dan Ibu”
“Minta tolong banget ya Adik ku yang paling cantik jangan terbawa perasaan melulu dan jangan menjadi wanita yang paling bodoh sedunia” Wella beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri manager dari salah satu brand baju itu. Mengehela nafas berulang kali dan meneguk air mineral yang kesekian kali juga.
Manager brand baju itu melihat aku tampak tidak asing seperti sedang meyakinkan jika itu benar Mella Adisti yang...
“Yang dulu pelukis itu kan?” beliau mengenal aku sebegai pelukis yang dulu pernah hadir di pemeran terbesar dizaman saat Titan masih setia di sampingku. Cukup ku jawab dengan anggukan dan senyuman palsu untuk mempercepat kegiatan meeting ini dan mengusir bayangan aku tentang masalalu. Diruangan yang sangat tertutup rapat aku melaksakan meeting dengan tenang dan perlahan aku memahami materi meeting tersebut.
Disana akan dilangsungkan tanda tangan kontrak untuk diriku yang akan membantu pihak brand tersebut salama launching. Ini perkerjaan yang paling berat menurut aku karena Wella sedang berbicara serius kepada managernya untuk menjadikan aku sebagai BA, aku rasa tidak sampai segitunya karena minggu depan juga masih ada pekerjaan diluar kota.
“Mell kalau saya minta dilukiskan buat hiasan di toko nanti kena berapa?” aku tersontak dengan omongan manager itu yang tiba-tiba membahas lukisan aku
“Dirumah sudah banyak stock lukisan kok Pak nanti juga di lihat tingkat kesulitannya”
“Masalah lukisan itu nanti kita bicarakan lagi ya karena saya juga belum bicara sama owner si”
“Hubungi Wella kapan saja Pak kalau tidak Bapak bisa kerumah saya” ternyata relasi dalam dunia pekerjaan itu lebih luas ya dan dimana-mana akan saling membutuhkan. Sudah aku dan Wella setuji kontrak kerja tersebut dan manager juga akan sedang mengajukan persoalan aku menjadi BA di brand tersebut. Brand Ambasador akan lebih mempunyai tanggung jawab yang lebih walaupun aku belum pernah merasakannya tapi dalam bayanganku sudah tidak karuan.
Kami berpisah, maksudnya aku dan Wella berpisah. Wella akan datang ke kantor modelku untuk meeting tentang pekerjaanku di luar kota minggu depan. Ya, minggu depan aku akan pergi ke salah satu kota yang tidak jauh dari kota tempat aku tinggal untuk mengadakan visit store dan melakukan beberapa photoshoot disana dengan photographer handalnya sedangkan aku, aku harus datang ke kafe Rina untuk membicarakan tentang usahaku itu.
Waktu sudah banyak ku luangkan dengan bekerja dan melukis tapi hati masih tidak bisa ikhlas untuk merelakan Titan. Masih ditengah kemaraian pun aku hanya fokus dengan satu orang dan hanya kepada satu bayangan. Supir taxi sedang membawa ku ke kafe Rina dan aku sibuk dengan foto Titan yang masih ada di ponselku dengan cepat aku menggerakan jariku yang ingin menghubungi Titan
__ADS_1
“Mbak saya isi bensin dulu nggak papa ya?”
“Ohya sihlakan Pak”
Jariku berhenti di nomer Titan yang ada di ponselku. Hatiku bimbang dan aku sedang perang dengan diriku sendiri aku sangat kacau aku bingung. Supir taxi telah berhenti untuk isi bensin lalu aku menyimpan ponselku untuk menaati peraturan saat melakukan pengisian bahan bakar.
Aku melihat kearah jendela banyak pasangan yang sedang bersenda gurau banyak pasangan yang sedang tertawa di atas motor mereka, andai aku punya mesin pengatur waktu aku ingin mengulang masalalu ku dan tidak memilih jalan seperti ini.
“Mbak baik-baik saja?” supir taxi yang baru saja masuk kedalam mobil
“Semoga saya selalu baik-baik saja Pak” aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk diriku sendiri
“Sedih itu boleh bahagia itu boleh semuanya boleh cuma satu yang nggak boleh kita lakukan yaitu berlebihan. Semua yang berlebihan itu tidak baik Mbak, maaf jika saya lancang tapi saya merasa iba melihat Mbak murung seperti itu”
“Emang muka saya kelihatan murung sekali Pak?” aku mencari kebenaran
“Kalau nggak murung saya nggak akan berbicara seperti itu Mbak. Hidup hanya sekali jangan sia-siakan hidup Mbak” itu yang membuat aku mulai tersadar tentang yang selama ini aku lakukan ini juga salah satu masalah yang tak berujung dan ini adalah membuang waktu yang sia-sia.
Mungkin begitu jalan tuhan untuk menyadarkan aku dari keterpurakanku selama ini dengan menghadirkan supir taxi yang penuh wejangan dan itu akan menjadi sorotan di otakku. Aku harus berterima kasih dengan siapa ini?
Aku datang lagi ke tempat ini tapi dengan situasi yang berbeda. Jauh hari setelah acara pembukaan kafe Rina ini aku dan Kak Ghea sudah pertukar nomer ponsel untuk menentukan hari yang tepat untuk membicarakan usahaku ini.
“Menu baru yang aku ciptakan khusus untuk kamu” secepat itu dia ada di hadapanku
“Pasti aroma tubuhku sudah tercium ya” gurauku kepada Okta dan Okta hanya tersenyum
“Pasti mau ketemu sama Ghea”
“Kok kamu tahu?” sedikit aku teguk minuman yang disuguhkan oleh Okta lumayan haus untuk menyoroti wejangan dari supir taxi tadi
“Biar Ghea aja lah yang jelasin. Tumben sendirian?”
“Iya Wella masih meeting di kantor buat trip ku ke luar kota” lumayan adem diriku saat beberapa kali meneguk minuman dari Okta
“Kapan berangkat?”
“Minggu depan”
__ADS_1
Kafe Rina masih terlihat sepi di siang yang menjelang sore gini memang enak menikmati suasana kafe Rina di halaman belakang. Sambil nunggu Kak Ghea, aku dan Okta berjalan lagi ke bagian belakang kafe yang terlihat begitu nyaman sekali. Siang menjelang sore itu sedang di sinari matahari yang lumayan terik dan aku bisa melepas sedikit beban aku atas hadirnya Titan di setiap sela tubuhku.
“Ohya Rina nggak pernah kesini?” tanyaku untuk menghidupkan suasana
“Kemarin kesini nggak tahu nanti dia mau ikut meeting sama kita apa enggak” jawab Okta sambil sibuk bermain ponsel
“Aku ada beberapa sisa tas sama sepatu dirumah barangkali bisa di taruh disini”
“Ya coba nanti kita bahas”
Kak Ghea datang bersama Rina dan kamipun melangsungkan meeting kecil-kecilan itu. Kak Ghea adalah pemilik usaha online shop di salah satu marketplace ternama. Di zaman sekarang tempat jual beli sudah mulai berkembang dan Kak Ghea membuka sebuah lapak disana.
Dari awal bertemu Kak Ghea juga sudah niat untuk membantu aku untuk berkembang saat mengingat waktu aku bertemu dengan teman-teman Wella mereka Kak Ghea salah satunya menyayangkan bisnisku yang mangkrak ini. Terlihat sekali Kak Ghea begitu lihai dan mahir dalam menyusun rencana sampai jadwal lama aku pembuatan sistem untuk berjualan juga sudah dibuat oleh Kak Ghea.
“Okta mau ikut join juga dalam usaha ini?” Kak Ghea melemparkan pertanyaan kepada Okta yang dari tadi sibuk memandangi aku, bukan aku terlalu percaya diri tapi keliatan dari sisi kiri aku.
“Kenapa tidak selama Bu Bos mengizinkan” jawaban itu ditujukan kepada Rina
Semua setuju dan dihari liburnya Okta ia akan membantu aku untuk produksi sekalian pengepakan barang yang akan dikirim. Jujur selama sama Titan aku hanya fokus dengan produksi sisanya Titan yang mengurusnya.
Titan... lihatlah usaha kita sudah mulai berkembang lagi aku ingin mau tahu jika aku bisa mengembangkan ini walaupun tidak sendiri.
Semua selesai aku kembali ke halaman belakang untuk menunggu kedatangan Wella. Hari ini memang sedikit senggang dan aku bisa lebih menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman, teman-teman Wella sudah
pasti teman-temanku.
Lentera itu mulai nyala dan aku sedang memandanginya sambil membayangkan wajah Titan yang sedang bersinar terang tampan seperti lentera yang bergantungan di halaman belakang kafe ini. Kafepun mulai ramai musik juga sudah berdendang dan aku lebih asik untuk sendiri di halaman belakang.
“Mella itu cantik tapi kenapa dia selalu terlihat tidak semangat ya?” Rina bertanya kepada Wella
“Gadis gagal move on itu mah”
“Sejak kapan ia putus?”
“Kalau nggak salah satu tahun yang lalu”
Okta mendengar berbincangan Rina dan Wella dan semenjak itu Okta mulai berubah terhadapku. Usaha ku akan dilaksanakan setelah aku pulang dari luar kota dan begitu terus hidupku.
__ADS_1
Berkata kepada malam yang belum pernah mengecewakan aku, aku ingin diberikan petunjuk dimana Titan berada temukan kami walau hanya satu detik.
***