The Strory Of Mr. Rigel

The Strory Of Mr. Rigel
Prolog I


__ADS_3

Kehidupanku selalu dipenuhi dengan perubah, satu demi satu perubahan sudah aku lewatkan.


Dimulai dengan saat menjadi seorang anak kecil yang ceria, sampai menjadi seorang pria yang memiliki sebuah karir.


Rasanya sangat membanggakan jika aku bisa meningkatkan karirku sedikit demi sedikit untuk bisa membantu orang tuaku.


Memberikan mereka hidup yang lanyak setelah masa masa yang mereka lalui untuk membesarkanku menjadi hal yang penting bagiku.


Hal ini agar aku tidak lagi bergantung kepada mereka, membuat mereka bisa hidup tenang dimasa tua mereka.


Dalam hal ini, kemandirian merupakan hal yang mutlak yang harus aku jalani sebagai seorang pria yamg memiliki jalan hidupnya sendiri. Jadi aku terus memperhatikan dan juga belajar bagaiman menyelesaikan berbagai masalah di sekitar lingkunganku.


Karena selama ini aku melihat dan mempelajari berbagai macam situasi atau kondisi yang mengharuskan aku selalu beradaptasi.


Kemudian setelah aku lulus dari bangku kuliah. Semua pengalaman itu aku terapkan dalam kehidupanku sendiri. Disini, ditempat aku bekerja.


Mencari pekerjaan sendiri tidaklah mudah menurutku, namun dengan kemampuan yang kumiliki, aku dapat bekerja pada sebuah perusahaan yang ada di kotaku.


Dengan upah yang lebih dari cukup untuk menopang hidupku sendiri. Jadi bisa dibilang sekarang aku sudah jadi orang yang mampu dalam sisi ekonomi.


Dalam kehidupanku ini juga, aku melakukan semuanya dengan caraku sendiri, seperti setiap orang yang hidup dunia ini, melakuakan sesuatu dengan caranya sendiri.


Namun dibenakku ada hal yang terkadang aku pikirkan tentang kehidupanku kedepannya..


***


Bim!.... bim!....


Klakson mobil berbuyi,mobil mobil tak dapat maju kedepan dengan lanjar, antrian panjang kendaraan menutupi jalan.


Beberapa motor meliuk-liuk diantara mobil, tapi setelah itu para pemotor itu tak dapat terhindar dari kendaraan didepannya dan berhenti.


Dengan keadaan jalan yang padat oleh kendaraan membuat kendaraan harus terjebak dalam sebuah kemacetan.


Saat ini aku sedang berada dalam sebuah mobil van yang hendak menuju kesebuah bank.


aku duduk disamping rekanku yang sedang menyetir, terlihat dari wajahnya yang mulai kesal dengan keadaan didepannya.


rekanku terus menerus memencet mencet klakson mobil tanpa henti.hal ini membuatku yang melihat dan mendengarkannya menjadi sediki risih.


"Sudahlah, kamu jangang terlalu sering mengunakan klaskson mobil."


Lalu dia menanggapi komentarku dengan nada kesal sambil kedua tangannya memegang stir kemudi


"Kamu gak ngertinya jalan didepan macet, dan kita saat sedang terburu buru."


"Aku tau, tapi jangan diklakson terus aku risih mendengarnya."


"Kamu tau,bahkan jika aku tidak mengklaskson mobil ini, pengemudi lain akan melakukannya."


"Ukh...."


Aku tidak bisa membantahnya, klakson mobil kami bukan satu satunya yang berbuyi disini. Kendaraan lain juga melakukan hal yang sama, tak heran kalau rekanku juga mungkin merasa risih juga, meski begitu kemacetan hari ini benar benar meresahkan.


Sambil menyenderkan tangan di kaca mobil yang terbuka aku berkata. "Aku pikir kita akan telat sampai kantor nanti."


"Mungkin, tapi jika kita menjelaskannya kepada manager pasti masih akan di tolerir."


"Meskipun ini bukan ibukota, tapi hari ini kemacetannyan benar benar parah."


"Benar, eh... tapi setiap kota pasti pernah merasaka macet, kan" kata rekanku yang memegang kemudi


"Iya benar sih, oh iya bukannya sekarang musim liburan."

__ADS_1


"Ahh... aku ngerti sekarang, mungkin karena banyak wisatawan makanya jalan jalan didaerah sini pada macet semua?"


Aku cuma bisa mengangkat bahuku dan diam mendengar pertanyaan rekanku.


"Ya... kita memang tinggal didaerah pariwisata tapi ya, kemaceta hari ini apa mungkin karena itu."


Mobil kami bergerak maju sedikit demi sediki, tak lupa sapaan klakson terus terdengar dari telinga kami, mobil kami melaju dengan lambatnya hingga sampai persimpangan jalan.


***


Aku terkejut, didepan kami sebuah truk terparkir ditengah perempatan dengan keadaan as roda belakanya yang patah. Terlihat juga polisi yang sedang mengatur jalannya lalu lintas, orang orang yang terlihat seperti montir bergerak kesana kemari hendak melakuakan perbaikan dan melakukan penderekan terhadap truk tersebut.


Dengan arahan polantas kami berjalan lurus melewati truk itu, dengan kecepatan yang tidak terlalu lambat karena setelah melewati truk tersebut kepadatan pengendara di jalan yang memiliki arah yang sama dengan kami mulai berkurang.


"Yaelah... aku pikir macetnya kenapa, eh ternyata truck," keluhnya.


"Yaaa itu termasuk parah loh, kamu lihat tadi kemacetannya seberapa parahkan."


"A-Aku tau."


Mobil kami bergerak mengikuti jalan yang ada. ketika bertemu dengan persimpanga lainya, mobil kami berbelok kearah kanan.


ketika berbelok mengikuti jalan, terlihat disisi kanan dan kiri banyak bangunan berupa hotel dan restoran tersusun di sepanjang jalan tersebut.


Aku yang melihat kearah sisi kanan jalan disapa temanku kembali.


"Woi,aku mau nanya sesuatu."


"Nanya apa?."


"Bagaimana bekerja di bagian HRD."


Aku bingung dengan pertanyaannya kemudia bertanya balik kepadanya.


"Maksudmu apa?"


"Kamu tau, akhir akhir ini pekerjaan di HRD semakin banyak."


"Emm... ya, perusahaan kita membuka lowongan dan juga pelatihan bukan?."


Dia menganggukkan kepalanya.


"Ya... itu juga, tapi akhir akhir ini juga kita disibukkan dengan urusan PHK."


Aku membenarkan perkataanya. "Karena banyak karyawan yang dinilai kurang memuaskan jadi beberapa dari mereka di berhentikan."


"Tapi bukannya itu terlalu banyak, lalu siapa yang mengajukannya, ...apa manager."


Aku menjawabnya.


"Manager hanya memberi persetujuan saja, akulah yang mengajukannya."


Mobil kami tiba tiba berhenti saat aku mengatakan hal itu kepadanya, namun kami tidak mendadak berhenti ditengah jalan melainkan berhenti pada persimpangan jalan.


lampu lalu lintas berwarna merah, kendaraan mulai berhenti mempersilahkan kendaraan dari sisi kirinya untuk melaju.


Memanfaatkan kesempatan berhenti ini, rekanku meminta penjelasan dariku.


"Aku tidak mengajukannya secara asal asalan, hanya saja aku gak suka dengan mereka, apalagi para seniorku itu,"kataku


"Senior, maksudmu apa?"


"Ya ... mereka membully para karyawan baru, memberikan tugas yang tidak sesuai pekerjaan mereka, memalak mereka dan... , masih banyak lagi."

__ADS_1


"Walah walah."


"Dari dulu orang orang itu ingin aku singkirkan, tapi ya kamu tahukan sebelunya aku bekerja dibagian keuangan. Jadi dengan kesempatan yang aku miliki aku mengajukan diri untuk ditempatkan dibagian HRD," jelasku


"Woi... woi... itu serem sih, karna kamu banyak karyawan yang dipecat, kan."


"Gak apa apa, lagi pula mereka malakukan kerugian pada perusahaan. Jadi dari pada jadi benalu, lebih baik disingkirkan saja, benar kan."


Aku menjelaskannya dan melihatnya


Yang tampak melirikku dengan curiga, namun aku tak mempedulikanya.


Lampu berwarna hijau, kendaraan kembali melanjutkan perjalanan. Rekanku menginjak pedal gas melanjutkan perjalanan yang tak jauh lagi.


Nampaknya dia masih curiga padaku.


"Kamu tenang saja, aku melakukannya karna aku merasa perlu melakukanya, walaupun itu cara yang salah,tetapi jika itu untuk perusahan, kenapa tidak," kataku dengan memberi senyuman.


"B-Bagitu.... "


"Benar lagi pula aku sudah dapat izin dari direktur."


"Hah!!!"


Dia terkejut ketika aku mengatakan keterlibatanku dengan direktur


"Woi!!... lihat jalannya, kita bisa nabrak!!"


"Ehh... maaf... , tapi kenapa direktur memintamu."


"Sudah aku bilangkan aku melakukannya karna aku merasa perlu melakukanya, dan ... aku selalu berpikir untuk keuntunganku sendiri."


"Apa itu termasuk meminta ijin kepada direktur."


"Iya seperti itu."


Sambil mengemudi dia kembali bertanya kepadaku.


"Bagaimana kamu bisa ... kamu taukan maksudku?"


"Maksudmu aku dekat dengan direktur," jawabku


"Iya."


"Yaa... aku dan direktur sudah berkenalan sejak aku masuk semester empat bangku kuliah. Kami bertemu pada satu kesempatan, pada saat itu dia masih belum jadi direktur perusahaan ini. Beberapa kali kami mengobrol,dan beberapa alasan aku membantunya dalam beberapa masalah, akhirnya aku dapat bekerja disini karena bantuannya juga."


"Ngomong ngomong bantuan seperti apa yang kamu berikan."


"Tidak banyak, aku hanya mengerjakan beberapa proposal darinya".


Dia kembali bertanya kepadaku. "Proposal seperti apa yang dibuat."


"Iyah... proposal biasa, tidak usah dipikirkan lagi aku sudah lupa, lihat Banknya sudah dekat."


Bank yang kami sudah terlihat, mobil kami segera menurunkan kecepatannya. Kemudian segera menepi dari jalan, masuk ke tempat parkir di bank tersebut.


Mobil terparkir, mematikan mesin, kami keluar dari mobil van.


"Ayo kita masuk."


"Baiklah," balasku.


Aku masuk berjalana bersamaan kedalam bank sambil membawa membawa tas jingjing selempangan berwarna hitam, kami disambut security yang mengantupkan tangannya dengan ramah dipintu masuk bank, kami masuk dan segera menuju kearah resepsionis bank.

__ADS_1


Jika dilihat gedung bank ini hanya memiliki empat lantai. untuk urusan kami hari ini adalah dilantai dua, tujuanya adalah mengambil uang untuk gaji para karyawan dan menyetorkan beberapa laporan yang diberikan kepada kami hari ini.


***


__ADS_2