
Pada malam harinya kami bertiga duduk dimeja makan, Ayahku berada diantara aku dan Ibuku.
Kami makan makanan yang ada dihadapan kami, tapi Kata-kata kak Benny lewat dalam pikiranku
Belum mengetahui sepenuhnya, ya.
Kalau dipikir lagi apa yang diucapkan Kakak ada benarnya. Aku belum mengetahui banyak tentang dunia ini, walaupun sudah membaca buku sejara dari dunia ini. Tetap saja aku masih belum sepenuhnyan mengetahui dunia.
Itu karena Semenjak aku terlahir, aku belum merasakan dunia ini secara langsung, aku hanya berdiam diri dalam mansion selama delapan tahun.
Tidak ada jaminan kalau dunia ini sama dengan dunia asalku.
Aku mengambil sepotong daging yang aku potong dan memasukannya kedalam mulutku.
Kembali berpikir
Tapi apakah aku harus mempelajari ilmu beladiri dan sihir saja, bukankah didunia ini juga ilmu lainya yang bisa dipelajari.
Tapi apa yang ada ditempatku hanyalah buku-buku yang berkaitan dengan pengetahuan umum militer ataupun sihir, yang membuat literasi membacaku hanya sebatas terhadap hal-hal tersebut.
Kalaupun aku harus meminta pada ayah untuk membelika beberapa buku
Maka, ahh... tidak aku tidak boleh menyimpulkan seuatu dulu.
Aku meletakan sendokku kepiring dan bertanya kepada Ayahku.
"Ayah, bolehkah Ayah membelikan aku satu atau dua buku yang berkaitan dengan birokrasi atau sejenisnya?"
Dengan cepat Ayahku menjawab. "Tidak."
Langsung dijawab tampa ada pertimbangan, kah.
Kemudian aku bertanya lagi ke Ayahku.
"Kenapa Ayah?."
"Ayah ingin kamu mengikuti jejak Kakakmu menjadi seorang prajurit kesatria, menjadi seseorang birokrat bukanlah pekerjaan yang menjanjikan," jelas Ayahku
"Memang ada apa dengan birokrat."
Ibuku lantas yang menjawab pertanyaanku."Rigel, di Kerajaan ini menjadi birokrat dianggap sebagai pekerjaan yang paling dicari setelah militer."
"Lalu apa masalahnya."
"Jika kamu ingin menjadi birokrat maka kamu harus melepaskan gelar statusmu sebagai bangsawan dan siap mengabdi untuk kerajaan."
"Itu tidak masalah Ibu, aku bisa melepaskan stat-"
Bruk!!!.....
__ADS_1
Ayahku tiba tiba memukul meja dengan tangannya sambil memegang sebuah sendok, Ibu dan aku terkejut.
Kemudian dengan emosinya Ayahku membentakku. "kamu mau melepaskan statusmu dengan mudahnya!!... Rigel!, apa kamu mau merendahkan Ayah?!"
"T-tidak Ayah, aku tidak b-berma-"
"Rigel!!..., kamu harus tau gelar bangsawan tidak didapat dengan mudah. Perlu pengorbaman dan pengabdian tinggi pada Raja. Jangan anggap gelar ini sebagai omong kosong!"
Kemarahan Ayahku membuat aku menundukan kepala dalam diam
Ibuku berusaha menenangkan Ayaku." Sayang tenanglah jangan membuat Rigel tertekan."
"Annie!, sudah kamu jangan ikut campur. Sudah aku bilang inilah Akibat terlalu memanjakan dia!"
"....."
Emosi yang tergambar jelas diwajah Ayahku dan sikapnya membuatku tidak berani menatap wajahnya dengan kepala menunduk kebawah sambil mengatakan. "M-maaf ayah."
Untuk pertama kalinya Ayahku semarah ini padaku, apakah stastus bangsawan ini sepenting ini baginnya bahkan membuatnya mengatakan hal seperti itu padaku.
Tapi Aku memang tidak mengerti hal seperti ini, mungkin karena kehidupan sebelumnya berbeda dari pada kehidupan saai ini.
***
Setelah makan malam selesai aku kembali kekamarku, memeriksaan rak-rak buku yang tidak terlalu banyak.
Sejak ledakan itu, buku yang Ayahku miliki banyak yang hancur, sehingga aku harus mencari buku yang bisa aku gunakan lagi. Lalu buku yang tersisa hanyalah buku yang berkaitan dengan sihir.
Aku mengambil satu-dua buku, berjalan menuju meja belajarku yang terletak disamping tempat tidurku. Kemudian membukanya lalu membaca buku tersebut.
Buku tersebut merupakan buku dasar tentang ilmu sihir.
Tidak lama setelah aku membaca beberapa halaman dari buku itu, pintu kamarku terbuka. Ketika aku menoleh kebelakang.
"Ibu."
Ibuku melihat dengan senyuman yang lembut, dia mendekatiku. "Apa yang sedang kamu baca?"
"Ah... ini." Aku memeriksa sampul depan dari buku itu. "Bukan apa apa Ibu, hanya buku tentang sihir."
Ibuku berdiri tepat disampingku sambil memegang kedua bahuku.
"Kamu tau, Kak Jennie bilang ke Ibu kalau kamu sangat serius membaca."
Dengan rasa canggung aku menjawab. "Kak Jennie hanya berlebihan."
Ibuku tersenyum sambil mengelus kepalaku kemudia dia duduk dikasurku tepat disampingku.
"Begitu, tapi yang Ibu lihat tampaknya itu benar," goda ibuku.
__ADS_1
Ibuku melihat sekeliling ruangan dan akupun ikut juga melakukan hal yang sama
Ibuku melihat lemari rak buku dimana lemari buku tersebut berukuran cukup besar, namun buku yang tersimpan tidaklah banyak.
Sambil melihat ibuku berkata. "Ibu lihat disini hanya ada buku,"
"Ibu disini juga ada pakaianku dan perabotan lainya."
Ibuku mengeluarkan sedikit tawaan mendengar responku.
"Hehehe... Iya, nampaknya begitu."
"Ibu!" seruku
"Iya iya Ibu mengerti. "Ibuku lemudian kembali memegang kepalaku dan senyumannya berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
"Nak, apa yang dikatakan Ayahmu ... jangan dimasukan kedalam hati. Maksud ibu, Ayah pasti ingin yang terbaik untukmu. " Ibuku mengelus-ngelus rambutku.
Aku hanya bisa diam mendengarkannya, kemudian ibuku kembali melanjutkan ucapannya.
"Kamu tahu, kakek dan Ayahmu berusaha keras untuk diakui sebagai bangsawan, bahkan dia rela maju dimedan perang untuk membuktikan kesetiaannya pada Raja... " Ibuku terdiam sesaat.
lalu dengan senyuman dibibirnya. "...Jadi kamu harus tau kalau mendapatkan kepercayaan dari Kerajaan bukanlah hal yang mudah. Jika seseorang sudah mendapatkan kepercayaan itu maka dia akan mendapatkan kehormatan yang sangat mulia dimata Kerajaan."
"Ibu ... apa menjadi bangsawan itu hal yang wajib bagai penerusnya," tanyaku dengan ekspresi gelisah
"Itu penting anakku, untuk menjaga nama dari keluarga tersebut."
"Begitu ya."
Ibuku kemudian berhenti mengelus rambutku dan kemudian mendekati wajahku lalu menciun dahi di kepalaku.
"Ibu?!"
"Tak apa apa, kamu masih kecil tidak perlu buru-buru."
"Iya Ibu," jawabku sambil aku mengangkat sedikit senyuman kepadanya.
Ibuku mebalas senyuman kecilku dan berdiri.
"Ingak jangan membaca terlalu larut, kamu juga harus menjaga kesehatanmu juga."
"Baik Ibu."
Ibuku kemudian pergi dari ruangku dan menutup pintunya dengan perlahan.
Ketika pintu tertutup, aku kembali membaca buku, tetapi niatku untuk membaca sudah menurun. Aku lantas
menutup buku dan menaruhnya kesisi pojok meja.
__ADS_1
Selanjutnya aku berdiri menuju tempat tidur, menjatuhkan diriku di kasur dan berbaring diatasnya, mengambil sebuah bantal. Aku menutupi wajahku dengan lenganku sambil sedikit berbicara
"Bodoh."