
Aku membuka mataku perlahan, mengangkat badanku lalu melihat tempat sekitarku yang tampak familiar.
Aku mengecek keadaan tubuhku memegang bagian yang terlukan dan rasa perih yang aku dapat, walaupun begitu Rasa sakit yang amat menyakitkan yang aku rasakan sebelumnya sudah berkurang.
Mungkin ini berkat dari sihir penyembuh sehingga aku bisa sembuh hanya dalam waktu hitungan jam.
Pintu disebelah kiri ruangan terbuka. Seseorang datang sambil membawa troli makanan, saat aku melihatnya.
"Ibu!!"
Ibuku mendorong troli yang berisi beberapa makanan dan minuman hangat kearahku, Pipi kanannya nampak memar.
"Bagaimana keadaanmu Rigel," ucap Ibuku.
"Aku baik baik saja Ibu," jawaku.
Ibuku berhenti disampingku lalu mengambil teko keramik, menuangkan teh kedalam secangkir gelas.
"Ini, minumlah." Ibuku memberikan segelas itu padaku.
Aku menerimanya. "baik Ibu." Aku menyeruput teh hangat itu.
Aku melihat Ibuku, Matanya terlihat sedih nemun dia memberikan sebuah senyum kecil dimulutnya.
disisi lain aku melihat memar di pipinya dan Aku bertanya. "Ibu apa yang terjadi pada pipimu?"
Ibuku meraba pipinya sesaat dan tersenyum kepadaku. "ini, ...ini tidak apa-apa, Ibu hanya sedikit berselisih paham dengan Ayahmu."
Alis mataku mengkerut, mataku manetap tajam kearah ibuku.
"Ayah memukkul Ibu?"
Ibuku segera membantahnya. "tidak, Ibu yang salah, Ibu membuat Ayahmu tersinggung."
Ibuku langsung menyiapkan makanan berupa sup daging ditroli dan menyuapkanya kepadaku.
"Aaa.... "
Aku meyodorkan telapak tanganku. "tidak Ibu, aku bisa sendiri."
"B-Baiklah." Ibuku kembali menaruh sup itu kembali ketroli.
"Tidak usah khawatir Bu, aku baik-baik saja," kataku sambil sedikit tersenyum.
"Begitu, ya." Angguk Ibuku sambil membalas Senyumanku.
***
Setelah beberapan lama aku berbaring di kamar, sore harinya aku pergi menemui Ayahku.
pelayan berkata jika Ayahku saat ini sedang menemui tamunya jadi aku ingin pergi ketempatnya untuk menyapanya.
Saat aku berjalan meyelesuri koridor Mansionku, seseorang dengan perawakan pria usia lima puluhan tahun dengan kumis dan jenggot berwarna putih yang nampak menyatu mendekat kearahku.
Saat aku berpapasan dengannya, orang itu memberika senyuman kepadaku.
melihat itu, aku menundukan sedikit kepalaku saat berjalan melewatinya.
Setelah aku melewatinya aku berhenti sesaat lalu berbalik kebelakang melihat orang itu berjalan.
"Apa itu tamu Ayah," Gumamku yang lantas kembali berjalan menuju ke ruangan Ayahku.
Setelah sampai didepan pintu ruangan kerja ayahku, aku mengetuk pintu lalu membukanya berlahan dan melihat Ayahku tengah bekerja.
Aku mendekati meja ayahku. "Ayah, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
"Apa itu?" jawab ayahku sambil mengerjakan dokumen.
"Kenapa Ayah membuangku kehutan dan ... dan kenapa Ayah memukul Ibu?"
Ayahku menjawab." Ayah hanya mengetesmu, ... dan untuk Ibumu, ini urusan Suami istri, kamu lebih baik jangan ikut campur."
Aku menggertakan gigiku dan melototi Ayahku sambil berkata. "Aku bisa mentolerin sikap Ayah padaku, tapi kenapa Ayah harus memukul Ibu."
"Tidak ada yang perlu Ayah katakan soal ibumu. Yang pasti ini merupakan masalah Ayah dan ibu."
"Tapi ap-"
Brak!!....
Ayahku memukul meja dengan tangan kanannya. "Ayah sudah bilang ini Masalah Ayah dan Ibumu, kamu tak perlu ikut campur!!,"
Aku menggepalkan tanganku melihat reaksi Ayah.
Ayahku melanjutkan perkataannya. "Besok kamu akan berlatih bertarung jarak dekat, jadi kamu harus bangun pagi."
Aku membalasnya. "Jangan seenaknya meyuruhku, aku ..." aku memperlihatkan kekesalan diwajahku.
__ADS_1
"Ayah tidak peduli, Rigel." Aku melihat Ayahku dengan terkejut. Ayahku melanjutkannya. "jika kamu tidak ikut maka Ayah akan membunuhmu."
Ayahku melototiku, Ekspresinya sangat menyeramkan saat aku melihatnya, membuat diriku mundur kebelakang beberapa langkah.
Namun, dengan cepat pula Aku menahan diriku dan melangkahkan kakiku kedepan sambil berkata "Kenapa ayah, kenapa kamu melakukan ini kepadaku?"
"Demi sebuah keyakinan."
"Keyakinan, maksud Ayah apa?" tanyaku.
"Kamu terlalu muda untuk mengetahuinya," kata Ayahku.
Tanda tanya muncul dari kepalaku dan aku bingung maksud ayahku, apa yang dia yakini, apa yang dia rencanakan sebenarnnya. Itu semua membuat aku bingung.
"Rigel, intinya mulai besok kamu akan berlatih, jika menolak maka bersiaplah."
Aku menelan ludah ketika mendengar Ayahku berkata demikian.
***
Mulai hari berikutnya aku mulai berlatih bersama Ayahku. Awalnya ayahku mempraktekkan gerakan bertarung kepadaku selama dua minggu dan aku dituntut belajar dari buku buku milik ayahku yang isinya tentang militer, pertempuran dan sihir.
Aku lebih suka membaca buku ini dari pada mempraktekkannya, pikirku.
Dua minggu kemudian
"Terima ini!" Aku mengarahkan tinjuku kewajah Ayahku.
"Belum cukup".
Ayahku menghindar kebelakang sehingga Tinjuku tidak bisa menjangkau wajahnya, dengan cepat ayahku maju kedepanku dan memberiku tendangan yang menyasar diperutku.
Darah keluar dari mulutku dan seketika aku terhempas kebelakang hingga aku tidak bisa bangun lagi.
"Healer tolong sembuhkan dia."
"Baik Tuan."
Healer itu datang, meyodorkan tanganya kearahku lalu mengucapan mantra penyembuh. Dengan ajaib luka dan rasa sakiku perlah menghilang.
Healer itu kembali ketempatnya.
"Ayo Rigel, kita lanjutkan."
Aku berdiri menunjukan tekad pantang menyerah kepada ayahku.
Aku kembali menyerang Ayahku, namun pada akhirnya aku tetap kalah.
Aku masih merahasiakan kemampuanku kepada Ayahku dan berkata bahwa aku belum bisa menggunakan sihir, namun apa yang terjadi adalah aku dibombardir dengan serangan api yang sangat masif.
"Tombak api," ucap ayahku sambil mengangkat tangan kanannya.
Tiga tombak api muncul diatas telapak tanganya, selanjutnha dia mengayunkan tangannya kebawah membuat tombak api itu melesat dengan cepat kearahku.
Aku mencoba menghindar dari tombak api tersebut, namun dengan kecepatanku aku tidak bisa menghindar. Tombak-tombak itu tiba-tiba meledak didekatku, membuat aku terhempas dan mengalami luka bakar diwajah dan kedua tanganku.
Seperti biasa seoranng Healer menyembuhkan lukaku.
Ini buruk, jika ini berlanjut aku bisa kehilangan akalku.
"Rigel, terima ini."
Sesudah aku disembuhkan, aku kembali diserang oleh tombak api milik Ayahku.
Hal ini terus berlanjut hingga memasuki awal musim dingin.
***
Pada malam harinya aku dipanggil menuju ruangan Ayahku.
"Permisi." Aku membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Ayahku.
"Ada apa Ayah?"
Ayahku membuka membuka lacinya dan sebuah kotak diambilnya dan diletakan diatas meja.
"Apa itu Ayah," tanyaku
Ayahku menjawab." Ini senjata baru, yang akan mengubah jalanya pertempuran dimasa depan."
Dia membuka kotak itu, lalu menunjukannya kepadaku
Aku terkejut sekaligus takut dengan senjata yang dipegangnya.
"Revolver!!"
Warnanya hitam dan memiliki pegangan kayu berwarna coklat dangan ukiran daun diatasnya, Ayahku melihat kearah senjata itu
__ADS_1
"Ohh... kamu tau senjata ini."
"Ahh... tidak Ayah, maksudku itu senjata terkenal, kan." Aku mencoba tersenyum, menyembuyikan rasa takutku.
"Baguslah kalau kamu tahu, besok kita akan berlatih menggunakan senjata api ini."
"Hah ... ya... B-baik ayah."
Ayahku meyipitkan matanya. "Apa kamu takut dengan senjata api, Rigel."
"Heh... t-tentu tidak ayah hehe...."
"Begitu ya." Dengan cepat dia mengarahkan moncong senjata itu kearahku.
Refleks aku langsung menghindar dan segera tiarap, aku berteriak. "Jauhkan benda itu dariku!!"
"Jadi begitu. "Ayahku kembali meletakan senjata itu di dalam kotak, dia menegurku. "Rigel, perbaiki sikapmu!!"
Aku melihat Ayahku seperti itu,aku lantas berdiri, kekecewaan terlihat diwajah ayahku. Aku menunduk malu.
"Harusnya kamu memberitau kelemahanmu, jika ini misi tempur kamu pasti langsung mati."
"Maafkan aku Ayah."
"Apa kamu takut dengan senjata api ini."
Aku mengangguk. "iya Ayah."
Ayah berpikir beberapa saat lalu sesudah itu dia dia berkata kepadaku.
"Kamu buruk terhadap sihir namun untuk beladiri kamu masih bisa berkembang. Setidaknya kamu harus bisa menggunakan senjata api untuk menunjang kemampuan tempurmu."
"Hah!!?".
"Ini sudah malam, besok kita akan berlatih. Jadi bersiaplah."
"....." Seluruh badanku gemetar.
"Sekarang kamu boleh istirahat."
Aku memberi salam diam kepada Ayahku dan keluar dari ruangannya,
berjalan meyusuri lorong dengan kepala tertunduk.
Pikiranku sedang kacau, aku tidak mengira kalau aku bisa takut pada sebuah senjata.
"Tuan Muda, kamu baik baik saja," tegur salah satu pelayan.
Tampak tak semangat aku menjawabnya. "Hah... aku baik baik saja."
Aku melihat apa yang dibawa oleh pelayan itu, sebuah keranjang kecil dengan kain merah menutupi atasannya.
Aku bertanya. "Apa yang sedang kamu bawa?"
"Oh... ini, ini kentang, Nyonya meminta saya untuk membuangnya karena warnanya yang sudah menghijau dan sudah memiliki tunas."
Seketika semangat datang dalam diriku, aku melihat keranjang itu sambil berkata pada pelayan itu. "Apa aku boleh meminta satu."
Pelayan itu kebingungan. "Tuan kentang ini sudah tidak layak makan jadi ini sudah tidak berguna".
"Ya... maksudku aku ingin menanamya, dibuku tanaman yang bertunas bisanya akan tumbuh sebagai tumbuhan baru."
"Itu memang benar, tapi-."
".... aku ingin mencobanya, tolong berikan aku satu kentang, kumohon?"
"Tapi.... " pelayan itu tampak ragu.
"Aku mohon padamu," ucapku sambil mengambil sikap memohon." Akhir-akhir ini aku belajar tentang pertanian jadi aku ingin bereksperimen,
walaupun nanti tidak berhasil aku ingin melakukanya karena itu menyenangkan."
Dia mengambil salah satu kentang dikeranjang. "Baiklah, tapi hanya satu saja."
"Tidak masalah, terimakasih," kataku sambil tersenyum.
Sambil mengacungkan jari telunjuknya didepanmu, pelayan itu berkata
"Ingat, kentang itu tidak boleh dimakan, jika anda memakannya anda akan keracunan."
Aku menganguk sambil memberikan seyuman.
Pelayan itu lantas melanjutkan tugasnya dan meninggalkan aku dikoridor.
Sambil membawa kentang ditanganku, Akupun berjalan pergi menuju kamarku, senyum bahagia terpancar diwajahku
Ayah, aku harap ayah menjaga kesehatan Ayah.
__ADS_1
Pada keesoka harinya ketika saat aku hendak akan berlatih bersama Ayahku, tiba-tiba ada pemberitahuan dari pelayan kalau Ayahku jatuh sakit.
***