
Trrruukk......
Suara pedang kayu saling beradu
Antara aku dan Sebastian.
Aku mengayunkan pedangku terus-menerus kepada Sebastian, tapi Sebastian mampu untuk menahanya.
aku melombat, mengangkat pedangku keatas kepalaku dan mengayunkannya kebawah. Akan tetapi, Sebastian berhasil menangkisnya.
"Boleh juga Tuan Muda."
"Masih belum."
Aku mengayunkannya lagi lalu Sebastian melangkah mundur untuk menghindar. Aku segera melangkah kedepan dan kembali mengangkat pedang kayuku keatas, namun Sebastian dapat menahannya lagi sehinga Pedang kami saling tolak menolak.
Kali ini giliran Sebastian yang menyerang. Dengan cepat, ayunan silang mengarah kepadaku, aku menangkis serta menahan serangnya, dia mengangkat pedangnya dan mengayunkan ke kebawah, aku menghindar kesampingnya.
Tidak berhenti, badan semastian menunduk lalu mengayunkan pedangnya mendatar ke arahku. Dengan lincah aku melompat kebelakang, namum dengan cepat pula dia bergerak mengejarku, pedangnya segera menerjang kearahku.
Aku yang sedang ada di udara tidak bisa menghindar, lalu...
"Limbo."
Bayangan keluar dari tubuhku, kemudian Bayangan tersebut melempar Tubuh Sebastian sehingga dia terlempar kedepan.
Bayanganku setelah itu menghilang.
Aku yang berhasil mendarat dan bayanganku setelah itu menghilang lalu aku segera pergi berlari kerahnya sebastian terpental.
Melihat aku, Sebastian segera menancapkan pedangnya ketanah agar dia tidak terlau jauh terlempar.
Sebastian mencabut pedangnya dari tanah, melihatku pergerakanku yang akan mengayunkan pedang kayuku secara diagonal, kemudian memasang kuda kuda dan berhasil menahan serangan itu.
Pedang kami saling tertahan,
Aku mundur selangkah menyiapkan tanganku, mengayunkan pedangku terus menerus. Akan tetapi, masih bisa ditangkis oleh Sebastian
Aku kembali mengeluarkan Bayanganku. Bayanganku bergerak menuju kearah Sebastian, bayanganku lalu menyeleding kaki dari Sebastian hingga dia terjatuh.
Aku berdiri diatasnya sambil menodongkan pedangku kearahnya. Melihat itu, Dia mengangkat kedua tangannya sambil berkata. "Saya meyerah Tuan Muda."
Aku tersenyum dan menjulurkan tanganku kearahnya.
"Terima kasih Tuan Muda." Dia berdiri dan mengibas ngibas pakaiannya.
"Kamu kalah," ucapku.
"Anda Menggunakan Limbo, jelas hasilnya Akan terlihat."
"Limbo ya... " Aku berpikir sesat.
Setelah aku menggunakan sihir ini beberapa kali, aku menyadari bahwa sihir ini banyak menghabiskan energi sihi.
Saat energi sihirku full aku hanya bisa mengeluarkanya selama kurang lebih dua menit, dan kalau aku memaksanya lebih lama maka aku akan jatuh pingsan.
"Hehehe... kamu tau juga kan kalau sihir ini juga memerlukan banyak energi sihir."
"Iya Tuan Muda," ucap Sebastian.
aku memeriksa genggamanku. "Lagi pula kenapa kita harus berlatih pedang?, Pedang bukan lagi senjata yang digunakan saat perang, kan?"
"Benar Tuan muda, karena perkembangan senjata api, penggunaan Senjata jarak dekat seperti pedang dan lainya jadi berkurang. Namun, bukan berarti senjata jarak dekat tidak digunaka lagi. Unit kalveleri masih menggunakan pedang sebagai senjatanya."
"Ehhh... mereka memakai pedang, bukan tombak?"
Sebastian menggelengkan kepalanya.
"Saya kurang tau soal itu, selain itu pedang juga masih digunakan oleh para komandan dan juga ahli ilmu pedang."
"Begitu ya," gumamku.
"Jadi Tuan Muda, kelak nanti anda akan menjadi komandan, maka setidaknya anda menguasai beberapa teknik pedang."
"Eh... Apa itu mungkin."
Aku Berjalan untuk mengambil sebotol air yang tersimpan dibawah pohon.
Tempat yang kami pilih adalah wilayah utara desa diseberang sungai dekat hutan.
Sudah dua tahun sejak aku berlatih dengan Sebastian dan sekarang sudah memasuki musim semi
__ADS_1
Aku duduk dan membuka botol minumanku yang terbuat dari kulit binatang, aku bertanya. "Bagiku menggunakan senapan atau bayonet itu sudah cukup."
Sebastian sedikit menggodaku. "Untuk orang yang takut Revolver, anda masih ingin menggunakanya."
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak tidak, maksudku, aku lebih suka menggunakan senapan Riffle."
"Tapi jika anda mengunakan Revolver anda bisa menembak lebih dari sekali."
Aku menurunkan alisku. "Kamu benar tetapi tetap saja, aku masih tak ingin menggunakanya."
Tiba-tiba seorang pria desa datang menghampiri kami.
"Ada apa," tanya Sebastian.
"Tuan muda, anda dipanggil Tuan Plumsen."
"Umm.... " jariku menyetuh daguku.
"Tuan muda, kita harus bergesas," kata Sebastian
"Hah... ya, ayo kita kembali."
"Aku, Sebastian dan pria desa itu langsung membereskan perlengkapan kami, lalu segera menuju kemansion.
Perasaanku tidak enak.
***
"Ada yang ingin Ayah sampaikan," ucap Ayahku yang duduk disofa.
Aku duduk disofa yang berlawanan dengan Ayahku, disampingku terlihat Ibuku yang tengah dirundung rasa cemas.
Ayahku menyeruput secangkir teh dan berkata. "Tentara Repuplik Aramandia menginvasi wilayah kita."
"Invasi," gumam Ibuku, Wajah Ibuku semakin cemas kepalanya menuduk .
Aku yang duduk disampingnya memasang wajah serius.
"Lalu Ayah, apa Ayah akan ikut berperang."
"Iya, Ayah akan melakukannya. Tetapi Ayah ingin kamu juga ikut dengan Ayah."
Aku berdiri dan menolaknya. "Tidak Ayah!!"
"Omong kosong apa ini Ayah, bagian dari pelatihan apanya, Ayah perang bukan tempat untuk latihan tapi tempat untuk saling membunuh."
"Meski begitu Ayah ingin kamu tetap ikut."
"Tapi Ayah, aku tidak ingin berperang. Lagi pula umurku sempuluh tahun, untuk apa anak sepertiku ada dimedan perang."
Aku kemudia menoleh kearah Ibuku.
"Ibu, kenapa Ibu diam, Ayah akan mengirimku kemedan perang, apa Ibu mengijinkanya."
Ibuku menuduk diam.
"Ibu!!"
"Nak, ikuti saja keinginan Ayahmu ."
Aku melebarkan mataku, mendengar perkataan ibuku, alisku meruncing dan menatap tajam Ayahku.
"Ayah!, apa yang Ayah lakukan pada ibu!?"
Ibuku memegang tanganku. "Nak jangan salahkan Ayahmu."
"Tapi ibu!"
"Ibu tidak apa-apa."
Aku langsung merespon. "Tapi bagaimana denganku ibu?"
Ibuku tersenyum kepadaku, namun aku masih bisa melihat ekspresi kekhawatiran diwajahnya.
"Ibu percaya kamu bisa melakukannya ... lagi pula masih ada Sebastian."
Ibuku melihat kearah Sebastian yang berdiri dibelakang sofa.
"Tolong jaga anakku, Sebastian."
Sebastia menundukkan badanya. "baik Nyonya."
__ADS_1
"Tapi Ibu aku bisa saja ma-."
"Ibu bilang Ibu percaya pada kamu. Nak," Ibuku memberikan Senyuman. "Kamu pasti baik baik saja."
Menggertakan gigiku dan menggepal tanganku, aku menerima apa yang Ibuku katakan.
Ketika hari menjelang sore, kami berangkat menuju kota Albert untuk bergabung dengan pasukan yang lainya.
***
Kota Albert, kota dengan wilayah cukup luas. Salah satu kota industri di kerajaan.
Saat ini aku berada di stasiun kereta api, bersiap untuk pergi menuju sebuah kota diwilayah timur laut kerajaan, Kota Liberty.
Aku sedang duduk diperon menunggu kereta datang. Disekitarku, prajurit berseliweran kesana kemari dengan senjata dan peralatan yang mereka bawa.
"Rigel."
"Aku menoleh kearah samping dan melihat ayahku berpakain militer bersama dua orang disamping kanannya, salah satunya orang tersebut pernah aku jumpai sebelumnya.
Laki-laki berusia Setengah paruh baya dengan kumis dan jenggot yang menyatu, berwarna putih. Dia bersama seorang prajurit militer.
Mereka menghampiriku, dan Ayah memperkenalkan orang berjengot itu.
"Rigel perkenalkan ini Profesor Nickol Horsen seorang intruktur sihir dimiliter."
"Salam Nak, aku Profesor Nickol Horsen dan ini adalah ajudanku."
Pria militer disebelahnya menundukkan sedikit kepalanya kepadaku.
"Salam juga, nama saya Rigel Plumsen." Aku melihat Ayahku. "kemana perginya Sebastian?"
"Dia ijin untuk menemui seseorang di kota ini."
"Begitu."
Ayahku menjulurkan tanganya dan memegang kedua bahuku. "Profesor ini adalah anakku yang aku ceritakan padamu waktu itu," kata Ayahku.
Dia melihat kearahku dan memberikan senyuman ringan.
"Wah.... jadi kamu anaknya. Tuan Bernard mengatakan padaku kalau salah satu anaknya suka membaca buku."
Aku tersipu. "Ehh!!... tidak juga."
Dia bertanya padaku. "Buku apa saja yang sering kamu baca, Nak Rigel?"
"Tidak banyak Prof, hanya beberapa buku sejarah dan buku dasar sihir."
Dia kembali tersenyum padaku
"Apa kamu tertarik dengan beberapa buku lainya."
Aku menjawabnya dengan semangat. "ya... jika ada buku lainya, akan saya baca."
"Kebetulan sekali, ditempatku banyak sekali jenis buku, kamu bisa datang meminjamnya."
"Benarkah!!," ucapku dengan nada bersemangat.
Dapat membaca buku dengan gratis itu sangat menguntungkan, aku jadi ingin kerumahnya sekarang. Dan kalau dilihat, dia mungkin seorang Profesor yang terkemukan. Jika mungkin aku ingin menjadi muridnya.
"Ahem... tapi sebelum itu kita harus meyelesaikan pertempuran ini," kata Ayahku.
"B-begitu".
Aku lupa soal itu, Mendengar ucapan dari Ayahku membuat pundakku merosot Turun.
"Tenang nak Rigel, kamu harus semangat." Profesor Nickol mencoba memberiku semangat. "Nak Rigel, kamu harus bertahan hidup, jika Kamu ingin membaca ditempatku."
Aku melihat kearah Prof dengan mata berair sambil tersenyum. "Baik Prof."
Bagaimanapun perang ini harus segera berakkhir.
Setelah itu Profesor dan ajudannya pergi meninggalkan kami, dan tak lama aku bertemu Sebastian.
Aku bertanya kepada sebastian soal alasan dia pergi dan jawabannya adalah kalau dia menemui keluarganya untuk berpamitan.
Beberapa menit kemudian sebuah
Kereta api bermesin uap berwarna hitam tiba di stasius.
Kereta berhenti, asap mengepul disekitarnya. Lalu tak lama kemudian Beberapa tentara masuk kedalam setiap gerbong dengan membawa senjata dan perlengkapan lainya.
__ADS_1
Aku, Ayahku dan Sebastian juga masuk kedalam gerbong, tak butuh waktu lama perjalanan kamipun dimulai.
***