The Strory Of Mr. Rigel

The Strory Of Mr. Rigel
Chapter 8 : Rekan baru


__ADS_3

Ayahku terbaring tidak sadarkan diri ditempat tidurnya. Disebelahnya kananya seorang dokter memeriksa Ayahku menggunakan stetoskop, mengecek urat nadi tangannya lalu memeriksa sebuah kertas diaknosa.


"Apa yang terjadi dengan suami saya Dok," tanya Ibuku.


Diruangang tersebut selain dokter, Ibu dan aku berdiri disebelah ayahku tepat dibelakang dokter tersebut.


Kemudian dokter yang menulis sesuatu di kertas yang terjepit pada sebuah papan tangan, lalu berbalik kearah kami.


"Suami anda mengalami keracunan."


terkejut, Ibuku mengacukan tangannya dibibirnya dan berkata. "Apa Dok, bagaimana bisa?"


"Dari gejala keracunannya dan hasil pemeriksaan, ada senyawa solanin yang masuk tubuh suami anda."


"Solanin, apa itu Dok?" tanyaku.


"Itu merupakan senyawa yang berasal dari tanaman terong terongan seperti kentang, jika Senyawa ini masuk ketubuh manusia maka akan mengalami keracunan yang mengarah kekematian."


Ibuku melangkah kedepan dan mengambil keras baju dari Dokter itu


"Kematian!, Dok a-apa ini bisa disebuhkan?"


"Tenang Nyonya, saya juga sudah memberikan pertolongan pertama, jadi suami anda baik-baik saja, namun harus menunggu beberapa hari untuk pemulihanya."


Ibuku melepaskan Dokter tersebut dan berkata. "Begitu, ya."


Aku bertanya pada Dokter. "Dok, kapan Ayah saya bisa pulih sepenuhnya?"


Dokter itu menjawab. "Paling cepat tiga hari."


"Begitu." Jawabku.


Setelah itu dokter memberikan resep obat kepada Ibuku dan lalu pergi meninggalkan Mansion.


***


Pada sore harinya aku mendapat kabar bahwa Ayah sudah siuman, dia memanggilku ke kamarnya.


Aku pergi kekamarnya dengan banyak pikiran, Tapi aku segera menyembunyikannya.


"Permisi." aku membuka pintu.


Disana nampak ada dua orang, satunya adalah Ayahku yang sedang duduk bersender pada bantal dan yang satu berdiri disamping tempat tidur Ayahku, aku nampak mengenalnya orang itu.


"A-ayah memanggilku?"


"Iya." jawab Ayahku.


"Ayah, ada keperluan apa memanggilku?"


"Ayah tidak bisa melatihmu untuk sementara karena Ayah sedang sakit," Kata ayahku. "Untuk itu, mulai besok kamu akan berlatih bersamanya."


Pria remaja itu maju selangkah dan memberi hormat kepadaku. "Tuan Muda, perkenalkan nama saya Sebastian Grayhall."


Dia pria muda yang nampak lebih tua dariku dengan rambut kelabu pendek dan mata biru, mengunakan seragam berwarna kelabu dengan pedang yang melekat pada pinggulnya.


Kalau tidak salah dia orang yang menolongkong pada saat aku terguling dijalan hutan.


"Ahh...!! bukakah kamu yang waktu itu."


Dia menundukan kepalanya lagi. "Senang bisa menolong Tuan Muda pada waktu itu."


"Hahah... T-terima kasih sudah menolongku."


"Tidak apa apa, itu pekerjaan saya."


Ayah mengaguk dan berkata


"Baiklah itu saja yang ingin ayah sampaikan, Rigel berlatihlah dengan serius dengan Sebastian."


"Baik Ayah."


Ayahku kemudian menoleh kearah Sebastian. "Sebastian tolong latih anakku, tak perlu menahan diri."


"Ehh...!!" kejutku .


Sebastian mengangkat tangannya kedada. "Baik Tuan, saya tidak akan mengecewakan anda."


Ayahku menganguk puas. "bagus."


Aku yang melihat mereka hanya bisa diam dan tercengang.


***


Keesokan harinya latihan kami dimulai, aku dan Sebastian saling berhadapan. Tempat kami latihan sekarang berada dipinggir sungai dekat desa.



Note : ilustrasi desa tempat tinggal Rigel


"Didunia ini, terdapat enam jenis sihir, yaitu; api, air, tanah, angin, cahaya, kegelalapan," ujarnya


Aku menyimaknya lalu Sebastian melanjutkan. "Dimana keenam sihir itu dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe ofensif seperti api ,air, tanah, dan angin lalu tipe spicial yaitu cahaya dan kegelapan."


"Lalu orang yang mampu menggunakan sihir disebut penyihir, dan khusus di militer disebut mage, kan?"


"Benar Tuan Muda, namun seiring perkembangan teknologi, superioritas

__ADS_1


Sihir mulai disaingi, apalagi semenjak berkembangnya senapan bolt-action Single shot dan sejenisnya."


Aku mengangguk. "Iya, senjata Bolt-action lebih praktis digunakan dari pada sihir yang harus menyiapkan Mantra. lagi pula pengguna sihir dikerajaan tidak terlalu banyak dari total populasi, jadi mage yang dihasilkan sedikit dari jumlah tentara reguler."


"Itu benar, lalu Tuan Muda. Hal yang akan kita mulai sekarang adalah mengetes sihir apa yang anda miliki."


Aku mengangkat tanganku dihadapannya.


"Itu tidak perlu, Tapi sebagai gantinya aku ingin kamu membantuku mengembangkan teknik sihir."


Dia kebingungan. "Teknik Sihir, apa itu sejenis sihir serangan?"


"Hampir mirip, tapi sebelum itu, ada yang ingin aku sampaikan."


"Apa itu Tuan Muda," tanya Sebastian.


Tiba-tiba sebastian merasakan tekanan dan gerakan tubuhnya seperti sedang dipeluk dari belakang dengan erat, dia panik dan kebingungan.


"Tuan Muda kenapa ini,tubuh saya-"


Menyodorkan tanganku didepanya dan melangkah kedepan sambil berkata. "Ini kemampuan Khususku"


Dia terkejut. "Hah jangan-jangan... tapi kenapa?, anda-"


Aku kembali menghentikanya.


"Sebastian, kita baru berkenalan kemarin, maka sebelum latihan ini ... aku ingin memberimu peringatan."


Dia bingung dan bertanya. "Peringatan, apa maksudnya?"


"Sebastian dengar, ...jika kamu menghalangi semua pekerjaanku, maka aku tidak segan-segan menyingkirkanmu," ucapkaku dengan wajah yang mengancam. "Aku harap kamu mengerti"


Wajahnya terasa tenang tapi keringat muncul didahinya. "S-saya mengerti."


Aku tersenyum. "Terima kasih."


Setelah itu Aku melepaskannya dan kami mulai berlatih.


"Sebastian bisahkah kamu berlari sampai ujung sana," kataku sambil menunjuk.


"Untuk apa Tuan Muda?"


"Aku sudah bilang tadi, aku ingin mengembangkan teknik sihir."


"Baik Tuan Muda."


Dia berjalan cukup jauh dari tempatku


Berdiri. Kemudian ketika dia sampai ketempat yang aku tunjuk dia berhenti, membalikkan badanya kearahku dan melambaikan tanganya.


"Apa yang akan aku tunjukan padamu adalah contoh awal dari teknik yang akan aku ciptakan," kataku.


Aku sudah mempelajari teknik ini secara teori, jadi kalau berhasil aku bisa mengembangkannya lebih lanjut.


Aku memasang kuda-kuda depan, menggepalkan kedua tanganku seperti seorang petarung.


Kemudian mengangkat kakiku Bergerang maju kedepan dengan berlari kerarah sebastian.


saat aku melihatnya, tampak pergerakannya melambat dan begitu dengan sekelilingku.


Whuusss......


Seketika aku sudah berada didepan Sebastian, dia terkejut melihatku.


"A-Apa!?"


Ekspresinya membuat aku puas. Akan tetapi, darah keluar tiba-tiba dari mulutku dalam jumlah banyak sehingga aku menjadi lemas dan membuat tubuhku tidak mampu berdiri.


"Tuan Muda!!..., Tuan Muda tidak apa-apa!?" Tanya Sebastian sambil menopangku dan mengarahkan aku kesebuah pohon.


Aku duduk dipohon dengan darah yang masih menempel dimulutku. Sebastian mengambil sapu tangan disakunya melapnya dan memberikan aku air.


Dia bertanya. "Tuan Muda, apa anda baik-baik saja."


Aku menjawab dengan lemas. "Ahh... jangan khawatir."


"Tuan Muda sebaikanya kita beristirahat sebentar."


Aku mengaggukan kepalaku dan segera aku menutup mataku.


***


Aku membuka mataku, melihat kearah kanan dan kiri lalu melihat ke atas, nampaknya hari mulai menjelang sore.


Saat aku melihat kedepan, aku melihat Sebastian yang sedang memancing dipinggir sungai.


Langsung, aku mencoba berdiri dan menghampirinya.


"Sebastian."


Dia berbalik dan menengok kearahku. "Tuan Muda, anda baik-baik saja."


"Hah... begitulah apa kamu sudah mendapatkan ikan," ucapku sambil berjalan


Dia melihat kearah sebuah tali yang berisi tiga ikan yang diikat dan mengambilnya


"Iya tuan muda."

__ADS_1


Aku duduk disampingnya. "Sebastian berapa lama aku pingsan."


Kepalanya mendongak kebawah "Umm... kira kira lima jam."


"Lima jam! Selama itu," kejutku.


"Iya, sebenarnya saya ingin membawa anda pulang, tapi saya merasa itu tidak perlu karena anda terlihat seperti orang tidur."


"Bagaimana kamu tau?"


Dia sedikit segan untuk mengatakannya jadi aku mendesaknya.


"Sebastian."


"Bagaimana ya, Tuan Muda tidur sambil mendengkur dan ... mulut anda mengeluarkan air liur."


"Aa!! ...a-apa!" wajahku mererah.


"Tu-tuan Muda, dengkuran anda tidak keras," kata Sebastia. "Jadi itu mungkin tidak mengganggu, dan untuk air liur anda saya sudah mebersihkanya."


Aku masih belum bisa berkata apa-apa.


Wajahku masih memerah, aku berpikir bagaimana dia memperlakukanku saat aku pingsan tadi.


Sebastian lalu bertanya padaku. "Tuan tadi itu apa, anda bergerak sangat cepat."


Mendengar itu, kesadaranku kembali dan merespon pertanyaan Sebastian


"Itu Teknik sihir baruku, sebagai pertahanan dan seranganku."


Dia kebingungan lalu aku menjelaskannya


"Sebastian aku sudah mempelajari sihir sebelumnya terutama bagaimana cara kerjanya."


"Iya Tuan Muda."


"Setelah membaca beberapa buku, aku berpikir untuk menciptakan teknik sihir. "Aku menjelaskannya kepada Sebastian.


Sihir, merupakan suatu kemampun untuk memanipulasi unsur alam secara magis.


Untuk mengaktifkan sihir dibutuhkan energi sihir. Energi sihir dimiliki hampir setiap orang. Namun, tidak semua bisa menggunakan sihir. Butuh latihan juga bakat untuk menggunakanya.


Lalu ketika aku membaca sebuah jurnal penelitian, ketertarikanku terfokus pada suatu teori, teori itu mengungkapkan 'bahwa cara kerja sihir mengikuti prinsip segitiga api'.


Inti dari teori itu adalah:


"Sihir merupakan hasil dari gabungan antara energi sihir, imajinasi, tenaga/power, yang dimana memikiki keterkaitan satu sama lain "


Dimana Energi sihir sebagai bahan dasar kemudia diproses melalui imajinasi/gambaran dari pengguna lalu dilepaskan menggunakan tenaga tubuh untuk mengeluarkannya.


Dengan teori ini aku mencoba menciptakan sebuah teknik bertarung yang setidaknya bisa menandingi sihir ofensif dan spicial terutama jenis sihir kegelapan.


"Begitu." Jawab Sebasitian sambil memegang dagunya.


"Jika kamu lihat tadi aku bergerak dengan cepatkan."


Dia menganguk. "Iya, saya kaget."


"Itu adalah hasil teori tersebut."


"Teori?"


"Energi sihirku aku gunakan sebagai sumber penggerak untuk membuat aliran darah dan oksigen menjadi lebih cepat, sehingga pergerakanku menjadi lebih cepat," kataku. "tapi seperti yang kamu lihat, satu percobaan membuat tubuhku ambruk."


Aku punya energi sihir, aku bisa membentuk imajinasi, namun masalah utamanya adalah kemampuanku untuk mewujudkan imajinasi tersebut.


Tenagaku tidak mencukupi untuk merespon teknik yang aku gunakan, bahkan jika aku menggunakanya sekali lagi kemungkinan aku bisa mati.


Sebastian lalu memberiku sebuah saran. "Menurut saya, anda harus berlatih meningkatkan kekuatan tubuh anda."


"Um... kamu benar, ada beberapa hal yang harus aku tingkatkan, seperti kinerja jantung, pembulu darah dan paru-paru."


"Tapi Tuan Muda, saya rasa itu belum cukup, jika tadi anda bilang ingin menciptakan teknik yang bisa menandingi sihir, maka yang harus anda pikirkan juga adalah kapasitas energi sihir anda."


"Kamu benar, aku sudah memikirkannya dan menemukan jawabanya ... Tapi itu sangat berbahaya."


"Berbahaya?"


"Aku berpikir untuk meregenerasi energi sihir dengan waktu singkat."


"Itu susah Tuan muda, untuk meregenerasi energi sihir diperlu waktu?"


"Itu bisa terjadi, karena aku tau caranya, tapi bisa berdambak pada kesehatanku secara langsung," kataku.


Kemudian mengambil batu berukuran sedang, berdiri dan melemparkanya kesungai didepan alat pancing Sebastian.


"Cara satu satunya adalah melatih fisikku, hoi... Sebastian apa kamu tau cara latihan yang dapat meningkatkan kemampuan fisiku dan kapasitas energi sihirku."


Dia menjawab. "Ada, namun itu juga beresiko." Sambil menggulung tali pancingnya.


"Tidak apa-apa, lagipula teknik sihir yang aku kembangkan juga memiliki resiko."


Sebastian tersenyum kecil. "Tuan Muda... baikalah saya akan membimbing anda."


Aku mengajukan jempolku padanya. "Tolong, ya."


Dan mulai saat itu, aku dan sebastian mulai berlatih bersama.

__ADS_1


__ADS_2