The Strory Of Mr. Rigel

The Strory Of Mr. Rigel
Chapter 6 : Limbo, sihir kegelapan


__ADS_3

Disebuah rongga batu yang cukup besar aku beristirahat dan berlindung dari gelapnya malam.


Bersandar pada sebuah batu sambil memakan buah buahan hutan yang aku temukan.


Ditemani oleh api unggun, aku memikirkan tentang sihir yang aku gunakan tadi.


Lalu aku berdiri dan memejamkan mata mengucapkan mantra.


"Limbo."


Seketika Bayangan putih mirip diriku kembali muncul dihadapanku, dia berdiri tampa ekspresi.


Aku berjalan memeriksanya, aku coba meraba tangannya.


"Apa!!" Aku terkejut karena aku bisa meyentuh bayanganku sendiri.


"Begitu," ucapku sambil menganggukan kepalaku.


Karena Bayangan ini diam seperti patung maka aku kebingungan untuk mempelajari bayangan ini.


"Bagaimana cara dia bergerak, ya?"


Aku mengankat jariku lalu sambil berkata. "jalan kedepan"


Namun, bayanganku tidak berjalan,


Aku mencobanya lagi.


"Aku, tidak bayangan jalan kedepan".


Bayangan tetap tidak bergerak.


Bagaimana cara mengherakan benda ini ya?, hah!... aku tau.


Aku mengankat jari telunjuk keatas.


"Wahai Roh kegelapan aku perintahkan maju kedepan." Dengan cepat aku menunjuk bayangan yang ada didepanku.


Dia masih tidak bergerak. "Bagaimana caranya benda ini bergerak, ya?"


Aku kembali mengingat saat aku mengelurkannya pada saat itu, dia bisa bergerak dan melindungiku.


Aku terus berpikir hingga akhirnyan tampa sadar mulai merasa lemas dan jatuh dialas bebatuan.


Seketika bayanganku ikut menghilang bersamaan dengan tumbangnya aku, aku menutup mataku dan pingsan.


***


Aku merasa silau dan panas, aku membuka mataku, bangun dari tempatku berbaring, lalu merenggangkat kedua tanganku


Mengecek keadaan sekitar termasuk Melihat api unggunku yang sudah menjadi arang tanpa ada lagi api yang mucul.


Oeahh....


"Teryata menggunakannya sihir membutuhkan energi yang banyak," ucapku.


Karena terlalu lama menggunakan sihir Limbo tubuhku terasa lemas lalu aku pingsan.


Aku bangun dan berdiri.


Grruuuu...


lapar, aku berdiri, mematikan api yang masih memiliki bara dan berjalan keluar untuk mencari air dan makanan.


Ketika aku keluar, tetesan embun pagi terlihat pada rumput dan dedaunan.


Aku lantas membuka bajuku menggosoknya pada rumput dan dedaunan yang ada disekitarku.


Aku kemudian memerasnya dan meminum air dari perasan baju tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai minum, aku mengenakan bajuku kembali dan melanjutkan perjalanan.


Aku bergerak melewati barisan pepohonan dan semak belukar. Sambil sesekali aku mencari bahan makanan yang bisa aku temukan.


***


Di mansion, Annie tidur disebuh kasur dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Bekas tamparan masih membekas dipipinya. Tidak ada cahaya yang masuk dari ruangan tersebut.


"Nyonya?" Ketuk seorang pelayan yang berdiri depan kamar Annie dan suaminya.


Pelayan tersebut berulang kali mengetuk pintu kamar, namun tidak ada respon dari balik pintu.


"Nyonya saya ijin masuk."


Pelayan itu memasuki ruangan yang gelap lalu pelayan itu membuka seluruh gorden dari seluruh Jendela yang ada diruangan tersebut agar cahaya dapat masuk.


Cahaya yang masuk membuat Annie menutup seluruh badannya dengan selimut.


Melihat itu pelayan itu menyapa Annie. "Selamat pagi Nyonya, waktunya sarapan, tolong segera bersiap, anda sudah ditunggu Tuan Bernard."


Annie tidak merespon. Pelayan itu bertanya kepada Annie.


"Apa Nyonya tidak enak badan? Saya bisa memberitahu Tuan Bernard."


Annie melantur. "Rigel kamu dimana, jangan tinggalkan Ibu sendiri."


Wajah pelayan itu menjadi cemas.


Annie kembali melantur. "Rigel kamu sekarang dimana?"


Annie menggenggam kedua tanganya didadanya sambil mengatakan. "Apa kamu baik-baik saja?"


***


Nyam, nyam....


Setengah jam yang lalu, saat sedang berjalan menuju sungai, aku melihat ular seukuran kobra melintas dihadapanku.


tampa berlama lama aku langsung mengambil batu dan melemparnya tepat dikepala ular tersebut.


Aku tidak langsung memakannya, karena jarak dari sungai hanya beberapa meter saja. Aku kembali berjalan dan memutuskan untuk beristirahat ditepi sungai dan menyantap ular disana.


Nyam, nyamm....


Aku menggigit bulat-bulat daging tersebut, karena tidak ada alat potong jadi aku tidak dapat membelah maupun memotong perut dan kepala ular ini.


aku hanya bisa mengupas sisiknya yang sudah terbakar menggunakan batu yang aku temukan di sekitar sungai.


"Ah.... ini lebih baik," kataku sambil duduk di pinggir sungai.


Aku Melahap daging ular itu, menyisahkan kepala dan bagian perutnya, aku harus berhati hati memakan bagian ini.


Setelah selesai menyantap daging ular. Aku pergi kearah sungai,


mengambil airnya menggunakan kedua tanganku lalu meminumnya setelah itu memadamkan api yang aku gunakan untuk membakar ular.


Perut sudah terisi, aku duduk santai dan beristirahat dibawa pepohonan. Aku menutup mataku serta menghela nafas. "Hah..., umm."


Aku teringat sesuatu.


"Limbo."


Bayangan putih berwujud diriku kembali nampak, dia masih tidak bergerak.


"Bagaimana caramu bergerak, ya?"


Aku memikirkan beberapa hal yang dapat menjawab pertanyaanku.


"Jika kamu tidak bisa diperintah dengan kata-kata atau mantra ... aku juga tidak tau mantranya, jadi apa yang membuat kamu bisa bergerak, hah?"

__ADS_1


Aku menyenderkan tubuhku kebatang pohon dibelakangku sambil memikirkannya.


walaupun begitu bayangan ini sama sekali tidak memberitahuku informasi apapun, hanya diam.


Umm....


Aku berpikir lagi, aku mengingat kejadian yang hampir membunuhku saat itu. Dia muncul dari bayanganku kemudian bergerak untuk melindungiku, saat itu aku tidak mengatakan apapun, yang ada aku menguucapkan kata 'limbo'.


Aku harus cepat berpikir kalau tidak aku akan pingsan lagi. Karena kehabisa energi sihir.


Aku melihat wajah datar dari bayangan itu dan melihat matanya.


"Umm.... ah!!" Aku melebarkan mataku.


***


Whuss.....


"Yahooo!!!" sorakku dengan riangnya.


Aku berada dibelakang pundak bayanganku yang saat ini menggendong dan berlari diantara pohon-pohon dihutan.


"Tidak kusangkan sihir ini bisa bermanfaat seperti ini."


Bayanganku berlari menggendongku dengan kecepatan yang sangat cepat.


"Aku akhirnya mengerti cara kerjanya."


Untuk mengendalikan bayanganku sendiri, yang harus aku lakukan adalah memasukan sebagian pikiranku pada bayangan ini.


Itulah yang menyebabkan Bayanganku keluar saat meriam air itu hendak menyerangku, tampa sadar aku membagi kesadaranku pada bayangan diriku untuk melindungiku.


Dengan semangat, aku yang digendong oleh bayanganku sendiri mengangkat tinju. "Ayo bayanganku lebih cepat."


Bayanganku berlari dengan cepat dan melewati satu demi satu pohon, kecepatan berlarinya ini membuatku sangat terbantu untuk menuju kerumah.


Aku melihat disebelah kiriku berlari, terdapat aliran sungai yang memiliki batu batu yang cukup besar.


Sampai tiba-tiba kepalaku mulai terasa berat dan bayanganku berlahan menghilang dari hadapanku.


Sehingga membuat aku kehilangan pangkuanku dan jatuh dengan kerasya.


Aku terguling cukup jauh kearah sungai dan sampai sebuah batu sungai menabrak dan menahan lajuku.


"Uhuk.... huk... s-sial aarrkk," erangku yang tergelatak lemas disana.


Darah mengalir lagi dikeningku,


badanku terasa sangat sakit dan aku tidak bisa bangun.


Aku berbaring cukup lama ditempat itu tampa bisa berbuat banyak, aku memejamkan mataku.


Aku rasa ini akhir dari riwayatku, aku ceroboh.


Padahal aku baru menggunaka sihir tapi aku malah terlalu percaya diri dan menggunakannya terlalu berlebihan.


Karena seperti ini, jika aku selamat setidaknya aku ingin belajar sedikit tentang sihir kegelapan.


"Apa Anda baik-baik saja?"


Aku membuka mata, tiba-tiba seorang pria muda yang berdiri diatasku.


Dia mengambil tanganku dan lalu mengangkatku, menurunkan lehernya membiarkan tanganku berada diatas lehernya lalu tangannya memegang badanku.


Sambil berjalan bersamaan, pria itu berkata. "Bertahanlah saya akan mengantar anda."


Aku merasa sangat kelelahan dan mulai kembali menutup mataku.


***

__ADS_1


__ADS_2