The Strory Of Mr. Rigel

The Strory Of Mr. Rigel
Chapter 5 : Keegoisan


__ADS_3

Ingatanku lamaku datang kedalam pikiranku.


Dorrr...


Suara tembakan menggema saat itu membuat goyah diriku, darah mengalir keluar dalam diriku. Ketika aku sadar dan menyentuh  bagian yang tertembak seketika tanganku berlumuran darah.


Aku melihat kedua tanganku berlumuran darah. Namun, aku tak merasakan kesakitan hanya saja rasa dinginlah yang aku rasakan.


Kegelapan, Tempat Sekitarku menjadi gelap secara mendadak, darah yang berada ditanganku menghilang seketika.


Aku kembali memeriksa badanku, hasilnya aku tidak dapat melihat bercak darah setetespun.


Nampaknya tubuhku kembali seperti sedia kala. Kemudian suara langkah kaki datang dari arah belakangku.


Terkejut, aku langsung berbalik dan melihat sesosok laki laki yang mendekati aku.


Semakin dekat sosok itu menunjukan wujudnya dihadapanku dari banyang banyang kegelapan.


"Kamu?" kejutku.


Sosok Perampok yang menembakku berdiri berjalan menghampiriku. Aku ketakutan dan mencoba untuk lari meninggalkannya. Namun, setelah aku berbalik badan dan berusaha untuk lari dari perampok itu. Tiba-tiba dia ada didepanku sambil memgeluarkan sebuah revolver dan...


Doarrr....


***


Aku membuka mataku dan bangun secepat yang aku bisa, aku memegang kepalaku yang sedikit terguncang akibat mimpi yang baru saja aku alami.


Sambil duduk, aku Memerika bagian tubuhku, aku tidak menemukan hal yang aneh. Akan tetapi, hal yang aneh justru tempak disekitarku.


Aku melihat sekelililing. Pepohonan besar tumbuh dengan lebatnya, rumput yang menjadi tempatku berbaring nampak hijau dan berair. kicauan burung terdengar dari telingaku, tidak salah lagi....


"Hutan!!"


Kenapa aku bisa ada disini? seingatku  tadi malam setelah ibu meninggalkan kamarku, aku menghentikan kegiatanku lalu berbaring di kasur, tapi...


"Hah... apa aku tidur sambil berjalan?" Aku menggelengka kepalaku. "Tidak, tidak mana mungkin aku melakukannya."


Aku kemudian mencoba berdiri untuk berjalan ke arah rumah. Aku tahu ini pasti adalah hutan yang berada disekitar desa, jadi untuk pulang aku hanya berjalan kearah yang benar.


Tapi siapa yang membawaku kesini?, apa mungkin Kakakku, tidak dia sekarang dalam perjalanan menuju akademi militer. Apa mungkin A-ayah...


Tiba-tiba terdengar sebuah suara siulan misterius mendekatiku.


"Hah?"


Doaarr....


Sebuah cahaya berwarna biru menabrak tanah disekitarku, menimbulkan ledakan kejut yang menyebabkan Tanah dan batu terbang berhamburan.


Aku dengan sigap memegangi kepalaku sambil menunduk ketika hal itu terjadi dan segera menjauh dari tempat itu.


Ledakan itu itu tidak menimbulkan api, namun cukup kuat untuk menggetarkan area sekitarnya.


Kalau tidak salah ini mungkin sihir air 'meriam air'.


Bruarr.....   drearrr....


"Tidak ada henti hentinya."


Aku mencoba menghindari serangan ditengah hutan yang cukup lebat.


berlari, melompat, menunduk aku coba menghindar dari artileri sihir itu.


"Aaaahh.... "


Aku terjatuh dan terlempar ketika salah satu meria air menghantam sisi belakangku, jaraknya yang dekat denganku, membuat aku terlempar dan terjatuh menabrak salah satu pohon.


"Aaarrggh.... "eranganku yang  mencoba untuk berdiri.


Aku memeriksa tanganku yang terluka akibat ledakan dan benturan tadi, aku juga merasakan darah mengalir dari atas mata kananku.


"Dasar, in-ini keterlaluan." Aku menyusap darah dikepalaku dengan tangan.


Aku melihat kebelakang, kearah ledakan tadi. Kawah terbentuk dan membuat daerah sekitar hancur.


Lagi meriam air datang menujuku.


"Hah.... Cih."


Aku tidak bisa mengelak karena jumlahnya lebih dari satu, Aku mengambil sikap jongkok sambil tanganku melindungi kepalaku, aku menutup mataku.

__ADS_1


Seketika sebuah ingatan muncul, dan sebuah kata terlintas dari pikiranku, aku merasa kalau aku harus  mengakatan kata tersebut.


Lalu dengan keras aku meneriakan kata tersebut "Limbo!!!"


Buuaaarrrr.....


Aku membuka mataku, memeriksa apakah ada luka disekitarku, namun saat aku melihat kearah depan aku melihat sosok bayangan berwarna putih mirip denganku, kedua tangan telah menghilang.


Aku bertanya padanya. "Siapa kamu?"


Dia tidak merespon pertanyaanku lalu tiba tiba bayangan itu menghilang tampa ekspresi sekalipun.


Aku kebingungan dan Dengan kaki yang sedikit pincang aku berdiri lalu berjalan menjauhi tempat itu.


***


Ditempat yang terpisah Bernard tengah berdiri diam dihamparan rumput dekat desa.


"Apa Tuan Muda baik baik saja," tanya salah satu bawahan Bernard.


"Tidak apa apa, dia bisa melaluinya," ucap Bernard sambari memandang hutan yang ada didepannya.


"Um... Tuan apa-"


"Lanjutkan, gunakan lebih banyak sihir, gempur wilayah itu."


"B-baik Tuan," jawab bawahan Bernard.


Bernard berbalik dan berjalan menuju kearah desa.


"Tuan?"


"Saya ingin kembali ke mansion, kamu awasi terus dia."


"Baik Tuan." Bawaham itu memberikan hormat kepada Bermard.


Sesampainya dimansion, Bernard didatangi istrinya Annie.


Annie terlihat Khawatir. Matanya mengarah kearah kanan dan kiri ketika dia menghapiri suaminya.


"Sayang apa kamu melihat Rigel?, aku belum melihatnya."


Annie memiringkan kepalanya. "Bersama temanya?"


Bernard melihat wajah istrinya lekas berjalan melewatinya, namun Annie memegan ujung pakaian Bernard.


"Tunggu ... aku tidak tau dia punya teman, maksudku selama ini dia tidak pernah keluar mansion, apa ... apa itu benar, sayang?"


Bernard langsung menjawab pertanyaan Annie. "Dia tidak semeyedihkan itu. aku dengar dia telah berteman dengan salah satu anak pelayan dimansion ini."


"B-begitu, tapi dia harusnya sarapan pagi dulu. jika dia ingin pergi, kan."


"Tak apa-apa, tadi pagi aku melihatnya mengambil sepotong roti didapur."


"Roti?"


Bernard menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju kesebuah ruangan meninggalkan Annie yang nampak masih memproses perkataan suaminya.


Saat Annie berpikir dan suaminya sudah pergi. Seorang pelayan lewat tidak jauh dari tempat Annie berdiri. Melihat ada pelayan Annie memangil pelayan itu dan bertanya padanya.


"Apa masih ada sisa makaman tadi malam?"


"Tidak ada Nyonya," jawab pelayan itu.


Annie terdiam untuk sesaat. Lalu dia kembali bertanya pada pelayan tersebut.


"Apa benar makanan tadi malam sudah habis?"


"Iya Nyonya, makanan tadi malam sudah habis."


"Emm.... baiklah kamu boleh melanjutkan perkerjaanmu."


"Baik Nyonya," ucap pelayan itu sambil memberi hormat.


Pelayan itu pergi meninggalkan Annie yang merasa gelisah.


Rigel....


***


"Hah... ahh... haa... si-sial!, kenapa ini belum berakhir?!" teriaku sambil berlari dengan pincang menghindari serbuan artileri sihir.

__ADS_1


Matahari sudah berada diatas kepalaku.


meriam air terus memerus datang sehingga menyulitkanku untuk beristirahat. Bahkan saat ini tenagaku mulai melemah


Saat bangun tadi aku belum sempat makan ataupun minum, ditambah aku mengaktifkan sihir membuat tenagaku menjadi lemas.


Gruurr....


Aku memegangi perukku. "Untuk sementara aku harus mencari air terlebih dahulu sambil menghindari  artileri sihir itu."


Aku berjalan dengan kondisi pincang melewati hutan yang cukup lebat, sambil mencoba menghidari serbuan Artileri sihir.


***


Setengah jam sebelum matahari terbenam.


Annie nampak gelisah, dengan cepat dia berjalan di koridor menuju ketempat suaminya untuk melaporkan ini pada Bernard.


Ditempat lain Bernard sedang melakuakan pekerjaannya mencatat beberapa dokumen.


Pintu ruangan Bernard terbuka dengan cepat dan terlihat Annie masuk keruangan itu dengan ekspresi wajah khawatir.


Bernard yang melihatnya bertanya pada Annie. "Ada apa ... apa yang membuatmu se-khawatir ini?"


Annie langsung menjawab.


"Rigel!, sejak pagi tadi dia belum pulang."


"Lalu?" tanya Bernard


Annie mendekati meja Bernard dan dengan keras membantikan telapak tangannya kemeja tersebut.


"Sayang! Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku!"


"....."


"Sayang jawab!, di mansion ini tidak ada pelayan yang memiliki anak laki laki seusia Rigel. Lalu Rigel tidak mengambil satupun makanan baik makan malam atau pagi, s-sebenarnya


kemana perginya Rigel?"


Bernard menutup pekerjaanya dan meletakanya.


Bernard kemudian menjawab pertayaan Annie. "Rigel saat ini sedang berlatih."


Annie Bingung. "Maksudnya?"


"Seperti yang aku bilang Dia sedang berlatih."


Annie membuka matanya lebar lebar. "sayang kamu."


Seketika khekawatiran yang terpancar dari wajah Annie berubah seketika menjadi Amarah.


"Sayang!!, kenapa kamu lakukan itu?"


Bernard berdiri lalu menghampiri istrinya. "Ini demi kebaikannya."


Kemarahan Annie semakin melunjak.


"Kebaikan?! ... Maksudnya?... " Annie terdiam sesaat lalu melanjutkanya. " ...Tidak!!, ini hanya keegoisanmu saja!"


"....."


"Apa kamu ingin menjadikan anak anak sebagai senjata ... jawab aku!!"


Mata dari Bernard sedikit bekedip


Annie meneruskan kembali, kali ini dia dengan keras berteriak.


"Jika kamu ingin senjata!! ... pakai saja aku, jangan anak anakku!!"


Mata Bernard melebar, urat muncul didahinya. Seketika dengan keras, wajah kiri Annie diterjang serbuan tangan kanan Bernard.


Dengan cepat kepala Annie terhempas, sehingga membuat tubuhhnya sedikit goyah.


Bernard membentak Annie. "Kamu diam saja!!" Bernard memanggil pelayan dan meminta pelayan itu untuk merawat Annie.


Annie tertunduk sembari bergelimang air mata dan memegangi pipinya yang berubah warna kemerahan yang diikuti dengan darah mengalir diujung bibirnya.


Pelayan datang dan membawa Annie keluar dari ruangan itu, melihat Annie keluar dari ruangan tersebut sambil tersedu sedu membuat Bernard menggertakan giginya.


***

__ADS_1


__ADS_2