The Strory Of Mr. Rigel

The Strory Of Mr. Rigel
Chapter 10 : Melihat


__ADS_3

Kota Liberty


Kota penghasil besi terbesar di Kerajaan yang berada di timur laut.


Dengan sebagian besar wilayah kota ini adalah pegunungan bebatuan, membuat kebanyakan  penduduknya bermata pencarian sebagai penambang.


Bukan hanya besi saja yang ditambang disini, namun batu dan pasir juga ditambang disini. Bahkan kebutuhan bahan bangunan biasanya dipasok dari Kota ini. Hal ini membuat kota ini sangat penting bagi kerajaan Haitofia.


Matahari sudah lama terbenam, kegelapan menjadi pemandangan dibalik kaca jendela kereta api yang aku naiki. Dua jam lebih aku berada dalam kereta, sambil ditemani Rigel aku melihat kearah jendela. Walaupun jauh dan juga gelap aku melihat hamparan pepohonan yang ada.


"Tuan muda."


Pandanganku beralih kearah Sebastian yang memanggilku.


"Ini Tuan muda," Sebastian memberikan aku segelas teh hangat kepadaku.


"Terima kasih." Aku menyeruputnya teh itu seraya melihat keluar.


"Tuan muda." Sebastian memanggilku lagi, Aku menoleh.


"Ada apa Sebastian."


"Apa anda Gugup? Jika ada hal lain anda bisa memintanya kepada saya."


"Terima kasih, tapi-"


Tiba tiba kereta yang aku naiki berhenti, aku yang duduk memberikan gelas ke Sebastia lalu aku langsung membuka jendela untuk melihat keluar.


Ketika jendela kereta aku geser, udara dingin terasa melewati tubuhku. Ini sudah memasuki musim semi namun hawa dingin masih terasa disini.


Aku dari dalam gerbong melihat kedepan kereta, seseorang dari jauh mengibarkan bendera merah. Terlihat juga beberapa prajurit bersenjata disamping lokomotif yang sedang berhenti.


Tak lama kemudian Ayahku datang.


"Kalian berdua ikut denganku, kita turun disini."


Aku bertanya. "Tapi kotanya masih-"


"Tidak usah bicara, cepat turun."


Aku dan Sebastian mengangguk diam dan mengikuti Ayahku turun dari kereta.


***


Kami turun dari kereta lalu berjalan disebelah gerbong kereta api yang berhenti. Dengan Sebastian di belakangku dan Ayahku didepanku, aku berjalan menuju kearah lokomotif kereta. Dan saat kita sudah didepan lokomotif, aku terkejut melihat apa yang tejadi.


"Woah... Kawahnya besar sekali"


"iya Tuan Muda, pasti ini ulah dari pasukan wyvern dari Republik," ucap sebastian.


Kawah besar itu menutupin jalur kereta api, beberapa prajurit dan pekerja kontruksi berusaha memperbaiki jalur kereta tersebut.


Aku berjalan memutari kawah tersebut, namun ada yang membuatku tidak nyaman saat berjalan ditempat itu.


"Tuan Muda, apa anda merasakannya," bisik Sebastian sambil menggandeng senapan Riffle.


"Hahh... "


Beberapa prajurit menatap kami, dan aku dapat mendengar perkataan mereka.


"Hai apa yang dilakukan anak anak ditempat ini."


"Aku yakin masyarakat sipil sudah diungsikan."


"Lihat anak itu menggandeng senjata."


Aku diam terhadap reaksi mereka yang melihat kami berdua dan berusaha untuk tetap diam, kami terus melanjutkan perjalaan ke kota.


"Sebastian, tidak usah dihiraukan."

__ADS_1


"Baik Tuan Muda"


Ditempat ini penerangan sangat minim, hanya lentera dan senter yang menjadi sumber cahaya. Cahaya yang paling menonjol dari semua cahaya dalam kegelapan disini adalah cahaya kemerahan disertai asap yang terlihat cukup jauh didepanku.


***


Setelah cukup lama berjalan didalam kegelapan akhirnya aku tiba didepan benteng.


Banyak prajurit ditempatkan disini, beberapa dari mereka mendirikan tenda tenda dan juga menaruh barang perlengkapan lainya disini.


Saat aku hendak masuk gerbang Kota seorang prajurit menghampiriku dan Sebastian.


"Hai kalian berdua, ini bukan tempat yang amam, dimana orang tua kalian?"


"Kami bersama dengan-"


Belum selesai berbicara prajurit itu langsung menarik tanganku dan mencoba membawaku menjauh dari gerbang, Sebastian yang dibelakangku hendak menghentikannya.


"Tunggu!"


Suara Ayahku membuat prajurit itu menoleh kebelakang.


Melihat sosok Ayahku didepanya, dia langsung memberikan sikap hormat militer kepada Ayahku.


"Kolonel Bernard."


Kolonel?, pikirku saat mendengarnya.


Apa ayah memiliki pangkat setinggi itu di militer.


Ayahku memberi hormat juga. "lepaskan mereka, mereka ikut bersama saya."


"Tapi kolonel."


"Ini perintah prajurit."


Prajuri itu melepaskan kami, memberi hormat dan melanjutkan tugasnya.


"Sebastian Ayo masuk."


"Baik tuan muda." Kami masuk kedalam kota itu.


Saat Melihat bagaimana kondisi kota Liberty saat aku melewati setiap bagunan yang ada, beberapa bangunan hancur dan hangus terbakar, dikejauhan api masih terlihat menyala.


"Kota ini sudah Hancur," gumamku.


***


Aku mengikuti Ayahku sampai pada sebuah bangunan, bagunan ini memiliki aula yang cukup luas.


Terdapat banyak prajurit terluka disini, aku melihat kondisi memprihatinkan dari para prajurit ini, para dokter dan healer mondar-mandir untuk mengobati prajurit yang terluka.


"Ayah apa yang kita lakukan disini?, bukannya harusnya Ayah melapor pada atasan Ayah."


"Ada yang ingin Ayah pastikan dulu sisini," jawab Ayahku.


Memastikan sesuatu, apa yang harus dipastikan, aku berjalan dibelakang Ayahku bersama Sebastian.


Seketika Ayahku berhenti lalu berbicara dengan salah satu perawat yang ada disitu.


"Baik Tuan lewat sini," ucap perawat itu.


Perawat itu memandu kami Berjalan melewati beberapa prajurit yang terlukan lalu keluar menuju ke ruangan lainnya.


Kami sampai pada sebuah ruangan yang cukup luas sampai melihat, aku berjalan melewati pintu dan melihat banyak sekali tubuh yang ditutupi kain dengan darah diatasnya tergeletak dilantai.


"Ayah kenapa kita kesini?" ucapku yang merasa sedikit terganggu dengan suasana diruangan ini.


"Kamu ikut saja Rigel."

__ADS_1


Sebastian mendekatiku. "Tuan Muda, saya rasa ini ruang dimana para korban yang tewas ditaruh."


Aku membalas perkataanya. "Jadi semua ini mayat."


"Iya Tuan muda," jawab Sebastian.


Kami berdua mengikuti Ayahku berjalan diantara barisan mayat mayat ini. Jumlah merena cukup banyak jika dilihat, aku merasa sedikit merinding melihatnya


Ayahku kembali berhenti dan berbincang kepada seseoramg, kali ini dengan seorang perwira yang terluka dibagian kepala dan tanganya.


Sementara berbicara Aku dan Sebastian saling menatap kearah sekitar kami.


"Sebastian apa mereka semua korban dari pertempuran sebelumnya."


"Mungkin Tuan Muda, dari yang saya lihat nampaknya sebagian besar jasad yang ada disini berasal dari pihak militer."


"Mungkin kamu benar, Tapi apakah ini baik-baik saja, perasaanku jadi tidak enak."


"Jangan khawatir Tuan Muda, asal Tuan Muda terus melihat kaki anda, maka semuanya aman-aman saja."


"Hah... apa maksudmu."


"Rigel kemari."


Ayahku memanggilku, dan aku datang kearahnya. Saat aku melihat wajahnya, dia terlihat sedikit murung.


Aku dan Sebastian mengikutinya, dan kami berhenti pada sesosok tubuh yang berbungkus kain didepan kami.


"Ada apa Ayah, kenapa kita berhenti?"


"Rigel, coba kamu buka kain ini," kata Ayahku sambil menunjuk kearah kain yang menutupi mayat yang tergeletak di lantai.


Siapa ini Ayah?"


"Buka saja."


"Ehh... i-iya Ayah."


Aku berlutut dengan satu kakiku dan dengan gemetar membuka kain itu.


"Hah!! ... itu" kejut Sebastian.


Mataku melebar, mulutku ikut melebar saat aku melihat sosok dibalik kain tersebut.


"Kak ... kak Benny."


Kakakku tergeletak kaku. Wajahnya sudah memucat, bekas darah ada didahi dan mulutnya.


Aku dan Sebastian terkejut.


"Dia tewas saat pasukan wyvern Republik menyerang kemarin."


Aku terdiam melihat kakakku, Ayahku melanjutkannya. "Dia Anak yang baik, sayang sekali kalau dia harus mati secepat ini."


"Apa ini yang ingin Ayah tunjukan padaku." aku menatap Ayahku penuh kemarahan.


Aku berdiri, lalu melompat meninju pipi kanan Ayahku dan berhasil. Ayahku terdiam menerima tinjuku, hal itu membuat aku ingin mengulanginya lagi.


"Tuan Muda!! Hentikan."


Saat Aku hendak melakukannya lagi, Sebastian dengan sigap menahan tubuhku.


"Lepaskan aku Sebastian, aku harus memberinya orang ini pelajaran."


"Tenang Tuan Muda!!, dia Ayah Tuan, jang-"


"Aku tidak peduli!!!, aku tidak peduli."


"Rigel," ucap Ayahku dengan ekpresi suram.

__ADS_1


Ayahku langsung memberikan satu tinjuan disekitar perutku. Membuat aku jatuh, namun Sebastian segera menopangku dan aku mulai tak sadarkan diri akibat tinju itu, akhirnya aku jatuh dan tidak sadarkan diri.


***


__ADS_2