
wajah rara pun seketika memerah karena malu dengan apa yang terjadi. rara mengajak pak rey muncak. setelah dari ruangan pak rey, rara beranjak ke ruangan modeling. rara membuka pintu ruangan, seketika semua karyawan menatapnya kaget.
"permisi, saya sekretaris pak ali mau menyerahkan daftar yang harus dipersiapkan untuk presentasi di Swiss"
salah seorang karyawan menjawab "aaaaiihh lembur kah kita?"
rara hanya tersenyum sambil menyerahkan memo dari pak ali.
"saya aswin, nama kamu siapa? apa mba tia udah cuti?"
"rania elena, panggil aja ele. mungkin mba tia besok terahir kerja" jawab rara
"oh oke"
"kalo gitu saya permisi dulu"
rara keluar ruangan modeling. riuh ramai ruangan modeling membicarakan rara
"gak terlalu cantik sih tapi kok menarik gitu ya, bikin penasaran" gumam Aldi yang terkenal playboy
"awas jangan macem-macem lo" jawab aswin
"ih gue kan cuma mau kenal lebih deket" jawab aldi sambil tertawa.
kedatangan rara di kantor BSC memang manjadi pusat perhatian. dimana semua karyawan berlomba memakai baju seksi dan riasan wajah yang tebal hanya untuk mencari perhatian atasannya. rara justru datang dengan dandanan yang sangat natural. kemeja kerja lengan panjang dan dialah satu-satunya karyawan perempuan yang memakai celana. wajahnya pun hanya dihiasi bedak dan lip gloss tanpa warna karena bibir rara sudah berwarna pink natural.
sampai di meja kerjanya, rara melihat keluar jendela sambil pikiran nya menerawang apa yang akan dilakukannya nanti di Swiss, negara impiannya. ketukan pintu ruangan membuyarkan lamunan rara, dilihat sesosok pria tampan yang sedikit membuka pintu dah memamerkan wajah tampan beserta senyumnya.
"boleh masuk?" tanya pak rey
"oh boleh dong pak"
"kapan mau ajak aku muncak? kamu udah janji loh"
"aduuuuuhh kapan ya pak, saya mau presentasi ke swiss. saya gak bisa janji pak. emang bapak mau muncak dimana?"
"menurutmu?"
"hhhmmm dari pengalaman saya sih rinjani yang paling the best"
__ADS_1
"deal, rinjani"
"ini apaan sih dal deal dal deal dari tadi" bati rara
"tapi saya ga bisa janji pak"
"gak masalah, saya siap nunggu kok"
sejenak mereka saling menatap untuk beberapa detik. wajah rania memerah karena malu sedangakan rey masih dengan senyum berbinar melihat mata rara.
"eh rey, lo disini. gua cari dari tadi" suara pak ali membuyarkan pandangan mereka.
entah sejak kapan pak ali melihat rara dan rey asik mengobrol dari sudut pintu yang terbuka sedikit.
"oh ini..." belum sempet meoanjutkan kalimatnya, pak ali memotong
"buruan ke ruangan gue"
"iyeeeee" dengan nada kesal rey pergi dari ruangan rara.
rara hanya bengong melihat mereka berdua beradu.
"mba ayo kita naik taksi, jangan jalan kaki gini ih. mba perutnya udah gede nanti kecapean"
"justru aku diauruh banyak jalan ra"
"tapi mbak..."
kalimat rara terhenti karena mobile mewah berhenti di samping trotoar tempat rara dan mba tia jalan. obrolan mereka pun terhenti karena suara klakson yang memekik.
"mau kemana tia?"
"ke mall sebelah pak, belanja keperluan perjalanan dinas"
"ayo saya antar, perutmu udah gede gitu"
"tapi pak..."
"ini perintah atasan!" tegas pak ali
__ADS_1
dengan gugup mba tia dan rara memasuki mobil pak ali lewat pintu belakang.
"jadi kalian anggap saya driver ojol? kalian berdua dibelakang!"
"oh maaf pak, rara yang didepan" jawab mba tia
rara kaget sambil melirik mba tia dan bisik-bisik "kok aku mba?"
namun mba tia dengan suara keras menjawab "kalo udah duduk jadi susah gerak nih" sambil elus-elus perut
"ih jail banget mba tia" batin rara
"jadi gimana?" tanya pak ali
"i..ii..iya pak, saya pindah dulu kedepan"
mba tia hanya menahan ketawa melihat tingah rara. rara yang sudah duduk disamping pak ali hendak memakai seat belt. namun karena terlalu mewah mobil sport milik pak ali, sehingga pemakaian seat belt nya pun berbeda dari mobil kebangakan.
pak ali yang melihat rara kebingungan memakai seat belt dengan sigap mengambil seat belt yang berada disamping kiri rara. badan pak ali condong ke arah kiri rara kemudian melingkarkannya untuk dipakai rara.
sejenak rara mencium aroma tubuh dan parfum pak ali yang maskulin dan segar membuat rara membeku. rara sangat menyukai pria yang wangi.
"kok bengong?" tanya pak ali
rara salah tingkah kemudian menjawab "eehh maaf pak tadi kaget aja"
"mobil ini aneh ya gak kaya mobil yang lain"
dengan nada gugup rara menjawab "gak aneh kok pak, saya aja yang ndeso gak pernah naik mobil bagus" sambil nyengir kuda karena tidak tahu harus menjawab apa.
mba tia yang sedari tadi melihat tingkah laku keduanya hanya memegangi perut sambil menahan tawa.
mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"kenapa gak ke XXX Mall aja sih?" tanya pak ali
"kan tadi niatnya jalan kaki pak, jadi ke mall sebelah aja" jawab mba tia
"yaudah gue anter ke XXX Mall ya. lu tau kan tempat-tempat langganan gue kalo belanja?" tanya pak ali
__ADS_1
"tau pak"