
Selesai berbincang dan membayar tagihan, mereka berdua keluar dari gerai dengan membawa banyak tas jinjing ternama.
"gue laper, makan dulu deh dari siang belum makan"
mba tia melihat jam yang melingkar ditangan kirinya "maaf pak, kayaknya saya gak bisa ikut. rasanya kaki saya udah mau copot"
"hhhmm yaudah kamu diantar pak ridho ya" pak ridho adalah supir keluarga pak ali, sudah hampir 20 tahun bekerja. sebelum menjadi supir pak ali, pak ridho menjadi supir pak rasyid (papa pak ali)
"gak usah pak, saya naik taksi aja. bapak gak apa-apa kan makan dulu berdua sama rara?"
"hhmm" pak ali hanya menjawab singkat dan terkesan malas
"mba tia beneran gak apa-apa pulang sendiri? aku antar ya?" rara sedikit memohon agar bisa lepas dari pak ali. karena rara masih sangat canggung berdekatan dengan pak ali
"emang aku anak TK yang harus dianter pulang gitu? ha ha udah kamu makan aja dulu, nikmatin aja wajah tampan bosmu" dengan melambaikan tangan mba tia pergi menuju pintu keluar mall
"gue pengen makanan jepang, lo gak masalah kan?" tanya rara
"iya pak, saya ngikut bapak aja" jawab rara canggung.
rara dan pak ali berjalan menuju salah satu resto khas jepang. rara yang membawa banyak belanjaan sedikit kesulitan berjalan, sedangkan pak ali melenggang tanpa beban di depan rara.
"**** jadi laki gak peka amat, gak liat apa gue susah bawa ini belanjaan" gerutu rara dalam hati
pak ali yang baru saja tersadar jika rara jauh tertinggal pun hanya menghela nafas dan menyusul rara
"sini gue bantu" sambil merebut paksa beberapa belanjaan dari tangan rara. tangan mereka pun tak sengaja bersentuhan beberapa detik yang membuat mereka berdua membeku saling pandang.
__ADS_1
dengan wajah merah merona dan jantung yang berdetak kencang rara berucap "eh maaf pak, gak usah biar saya aja yang bawa"
dengan nada ketus pak ali menjawab "lama lo jalan bawa segini banyak"
akhirnya mereka berjalan beriringan dengan membawa belajanaan di tangan masing-masing.
samapi diresto jepang, mereka memesan tempat untuk berdua. restoran yang sangat mewah. rara penggemar makanan jepang tapi baru kali ini dia makan di resto semewah ini, biasanya hanya di kaki lima. mereka berdua duduk dan mulai memesan makanan.
"lo mau makan apa?"
rara kebingungan ketika melihat menu dengan tulisan jepang. akhirnya pak ali berinisiatif untuk memesankan makanan sekaligus sedikit mengerjai rara.
"udah, gue pesenin aja ya"
rara hanya mengangguk dan pasrah. pak ali memesan makanan dengan memggunakan bahasa jepang. pak ali orang yang sangat pandai. dia menguasai 7 bahasa salah satunya adalah bahasa jepang.
rara diam mendengar percakapan pak ali dengan pelayan resto sambil menikmati wajah tampan pak ali di depannya.
seketika lamunan rara memudar. rara yang ketahuan sedang menikmati wajah pak ali pun gugup dengan pipi yang berwarna pink sambil berkata "eehh maaf pak"
setelah beberapa menit, makanan pun datang. pak ali segera menyantap makanannya, sedangkan rara diam senejak sambil meliahat makanan yang ada didepannya. melihat rara kebingungan pak ali pun tersenyum sinis, merasa dia telah berhasil mengerjai karyawan baru.
"kenapa diliatin doang? gak suka?" tanya pak ali dengan nada mengejek
"suka kok pak" jawab rara
didepan rara sudah tersaji menu sushi dan sashimi, tentunya kedua menu tersebut berasal dari ikan mentah. pak ali yang merasa berhasil membuat karyawan barunya tidak nyaman dibuat kaget karena rara menyantap makanan yang didepannya dengan lahap.
__ADS_1
"***** kenapa gue yang ngerasa dikerjain sama dia. doyan juga dia makanan mentah, lumayan lah selera dia" gumam pak ali dalam hati sambil melihat rara makan dengan nikmatnya
"lu doyan makanan mentah?" tanya pak ali memecah keheningan
"makanan jepang salah satu makanan favorit saya pak tapi biasanya saya makan di kaki lima, baru kali ini ke resto jepang yang beneran jepang. rasanya juga enak banget" jawab rara panjang
"panjang bener jawabnya, gue cuma nanya lu doyan apa engga" jawab pak ali sinis
"eh maaf pak"
kemudian kembali hening. mereka berdua makan tanpa bersuara. setelah beberapa menit, hanya ada piring kosong dimeja mereka. waktupun menunjukan pukul 9 malam. pak ali memanggil salah satu pelayan dan meminta bill. setelah pelayan datang, pak ali memberikan kartu kredit untuk membayar. setelah selesai transaksi mereka berdua berjalan menuju pintu keluar mall.
"lu bisa pulang sendiri kan?"
"bisa pak, biar saya naik angkot aja"
"oke, nih belanjaan lo" pak ali memberikan belanjaan yang ada ditanganya dan diberikan pada rara. tanpa pamit pak ali pun bergegas menuju mobilnya. sedangkan rara yang kerepotan membawa banyak belanjaan hanya pasrah menunggu angkot di halte samping mall.
kilat petir menyambar tanda akan turun hujan.
"ya Tuhan pending dulu kek ujannya. mana angkot gak ada yang lewat lagi. sepi amat ini halte" gumam rara dalam hati sambil tengok kanan dan kiri mencari angkot atau taksi yang akan membawa rara pulang kerumah.
setelah menunggu hampir 45 menit, angkot yang ditunggu tak kunjung datang, justru hujan deras lah yang menghampiri.
"naaahh kan ujan, ****** aja ini gak ada angkot, gak ada taksi"
pak ali yang sudah berada dalam mobil tadi tidak langsung menancapkan gas nya karena menerima panggilan jarak jauh dari rekan bisnisnya di Swiss. setelah lama berbincang, barulah pak ali melanjukan mobilnya.
__ADS_1
pak ali melihat sesosok yang dia kenal lewat kaca spionnya. dia berhenti dengan jarak kurang lebih 50 meter dari sosok tadi. dilihatnya perempuan dengan kemeja putih yang sedikit basah terkena tetesan air hujan karena atap halte yang sudah bolong-bolong. perempuan dengan banyak belanjaan ditangan sedang kebingungan melihat kanan dan kiri. waktu telah menunjukan pukul setengah 11 malam. tapi tak berapa lama, pak ali kembali melajukan mobil mewahnya ditengah guyuran hujan. dia berpikir masa bodo dengan apa yang dilihatnya dari kaca spion.
setelah beberapa meter dia melanjukan mobilnya, kemudian dia kembali berhenti dan mengumpat "shit! elo siapa sih? kenapa bikin gue kepikiran!" kemudian mobil mewah pak ali mundur dan kembali tepat dihadapan rara. rara yang tidak bisa melihat jelas karena derasnya hujan hanya bisa melihat dengan menyipitkan matanya.