Tower Of Destiny

Tower Of Destiny
Skin Baru dan Pencarian Anggota Squad


__ADS_3

Pagi-pagi, ketika para newbie baru bangun, mereka disambut dengan kedatangan sebuah kotak terbang. Kotak itu berdesing di atas kepala tiap newbie.


"Apa lagi sekarang?" Yuki mengucek matanya yang belum terbuka sempurna.


Layar monitor miliknya langsung terbuka otomatis. Kotak itu masuk ke dalam bagpack. Tanpa menunggu perintah dari pengurus lantai, Kei langsung membuka kotak itu. Sepotong baju baru.


"Wah, kita dapat baju baru! Lihatlah, ini bagus sekali!" Lagi-lagi si pembuat onar berulah. Siapa lagi kalau bukan Yuki. Selama ini, dialah orang paling berisik di squad itu.


Kei mengetuk tulisan 'skin' itu. Seketika, bajunya berubah total. Dengan setelan seperti layaknya kaum bangsawan. Dengan corak warna merah menyala


Di sisi lain, Rin mendapat skin setelan anak SMA, dan Yuki terlihat seperti orang mau olah raga.


"Hei! Kenapa setelah kalian memakainya juga, pakaian milikku terlihat paling jelek?"


"Mungkin pakaian ini menyesuaikan wajah kali," Serena menimpali.


"Apa kamu bilang? Jadi menurutku aku paling jelek, dan Kei paling tampan, sedangkan Rin awet muda, begitu?"


Serena mengangguk tanda setuju.


"Kei, Rin, kenapa kalian tidak membelaku? Apa menurut kalian juga begitu?"


Kei dan Rin mengangguk setuju.


"Sial! Kalian tidak berperasaan!"


Kei tertawa. Entahlah, dengan keberadaan Yuki, ia merasa tim ini lebih hidup. Kei melirik Serena. Tinggal dia yang belum memakai pakaian terbarunya. Sebenarnya, Kei agak penasaran.


"Serena, kenapa kamu belum menggunakan skin milikmu?" Yuki bertanya mendahului.


"A-ah, aku tidak terlalu yakin. Haha--" Tawa Serena terdengar garing.


"Ayolah, aku juga penasaran dengan milikmu."


Rin ikut-ikutan. Mereka menatap Kei, berharap ia mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


Kei menghela napas. "Baiklah, aku juga penasaran. Jika benar, skin ini mewakili karakter kita, berarti menurut game ini aku adalah seorang pangeran, Rin adalah seorang anak SMA, dan Yuki adalah seorang---penjual keliling?"


Yuki melotot. Ia ingin protes tidak setuju dengan kesimpulan Kei. "Hei! Apa maksudmu penjual keliling? Aku ini master kungfu!"


Baiklah, jika diteruskan, perdebatan ini tidak akan selesai. Mereka memutuskan untuk berhenti bertengkar. Kini, fokus pandangan mereka adalah Serena. Tentu saja, entah itu skin, power, atau apapun, mereka akan saling penasaran jika dalam satu tim.


"Lagi-lagi, aku penasaran apa maksudmu dengan game, Kei. Tapi itu urusan belakangan. Sekarang--"


Merasa dipelototi oleh tiga orang pria, tentu saja itu membuat Serena tidak nyaman.


"Baiklah, aku akan menggunakannya. Tapi, kalian harus berjanji tidak akan tertawa!"


Mereka mengangguk kompak. Tangan Serena terlihat sedang memilah-milih menu di layar monitor. Tentu saja, mereka hanya bisa melihat pergerakan tangan Serena saja. Layar monitor hanya bisa dilihat dan dibaca oleh pemiliknya.


Pergerakan Serena terhenti. Sedikit demi sedikit, pakaian Serena berubah menjadi pakaian bercorak merah.


Kei menelan ludah. Cantik. Untuk ukuran tubuh proporsional, dengan kulit putihnya, Serena terlihat tambah cantik.


"Pakaian apa itu? Kok terlihat seperti pasangan dengan milik Kei? Apa itu karena dari awal kamu suka---"


Serena menendang wajah Yuki. Pergerakannya memang seperti assassin sejati, menghajar Yuki tanpa ampun.


"Tapi kamu baru saja menghajarnya," Rin membalas.


"Hahaha--" Sementara Kei hanya tertawa canggung.


***


Satu minggu berlalu tanpa terasa. Sinar matahari membumbung naik. Hari ini adalah hari terakhir para newbie harus melengkapi anggota squad. Kei telah memiliki empat anggota, kurang satu orang.


Bum! Suara ledakan terdengar di kantin lantai. Terdengar begitu nyaring memekakan telinga, mengganggu waktu makan.


Disana berdiri dua orang laki-laki, siap berduel. Mereka berada di tempat yang sudah dilapisi pelindung sehingga pertarungan mereka tidak mengganggu yang lain, tapi masih tetap saja suaranya terdengar.


"Kenapa mereka bertarung?"

__ADS_1


"Apa kamu lupa? Yuki, hari ini adalah kesempatan terakhir kita mengisi anggota squad. Aku yakin mereka juga sedang merekrut anggota baru. Kita juga harus bergerak," dengan baik hati Kei menjelaskan.


Tring! Mereka mulai menggunakan senjata. Pedang milik laki-laki berambut sasuke itu bercahaya. Mungkin dia mendapat kekuatan roh air. Sedangkan lawannya bersenjatakan tombak. Ujungnya runcing memercikan api. Siapapun yang melihatnya, pasti tau bahwa dia pengguna roh api.


"Aku tidak akan menjadi anggotamu! Apa kamu lupa apa yang kamu lakukan di lantai dasar? Kamu bahkan menebas dadaku! Lihat bekas ini baik-baik!"


Lelaki yang mrmbawa tombak itu membuka baju dan memamerkan bekas lukanya. Terlihat sangat dalam dan mengerikan. Walaupun sepertinya luka itu sudah hampir sembuh. Tapi tetap saja, luka yang ditimbulkan dalam hati tidak akan bisa disembuhkan.


"Aku bahkan sangat ini membunuhmu! Jangan terlalu naif, lalu kamu ingin merekrutku? Hah? Dalam mimpi!"


Laki-laki bertombak itu mengambil ancang-ancang, mengaktifkan tombak apinya. Dia menggeram marah. Rupanya dia sangat ingin balas dendam.


Splash! Splash! Percuma. Damage dari lelaki berpedang jauh lebih kuat. Dia sangat handal mengendalikan nairy. Walaupun pengguna tombak dipilih roh api, tapi sepertinya dia tidak terlalu bisa mengontrol nairy.


Pertarungan ini sudah terlihat hasil akhirnya. Si pengguna tombak mengepal. Giginya bergemerutuk.


Tring! Walaupun dia kalah pada akhirnya, tapi dia sangat ingin melukai lelaki berpedang itu. Si pengguna tombak kembali mengambil ancang-ancang. Ia melesat maju ke depan, bersiap melukai perut si pengguna pedang.


Buk! Apa yang terjadi? Entah sejak kapan, lelaki berpedang itu ada di belakang si pengguna tombak. Pedang tajam miliknya trpat mengacung di leher si pengguna tombak.


"Aku menang! Bagaimana dengan perjanjian kita?" Lekaki berpedang mengacungkan tangannya.


Lelaki bertombak itu menghela napas kasar. Dengan terpaksa, ia meraih tangan si pengguna pedang. "Baiklah. Aku akan menjadi anggota squadmu. Tapi ingat, suatu saat aku akan membunuhmu dengan tombakku sendiri!"


Si lelaki berpedang tersenyum. Tangannya bergerak-gerak, memainkan monitor. Begitu juga dengan si pengguna tombak. Walaupun Kei tidak melihat apa yang mereka tekan, tapi ia tau, mereka pasti sedang mengisi list teman dan squad.


"Yosh! Kita juga harus mencari anggota! Aku akan melakukannya untuk kalian!"


Yuki berdiri, bergegas pergi mencari anggota. Namun pergerakannya terhenti saat seseorang memegangi ujung baju olah raga miliknya.


"Lalu siapa yang akan kamu pilih, hah? Apa kamu hanya akan bertindak konyol seperti saat merekrutku? Apa kamu akan melawan mereka yang kuat dengan kekuatan lemahmu? Atau kamu akan mencari perempuan cantik dengan wajah jelekmu?"


"Serena, ucapanmu pedas sekali, loh. Aku bisa sakit hati."


"Aku tidak peduli! Yuki, kamu itu bodoh atau tidak tau apapun?"

__ADS_1


"Bukankah itu sama saja? Itu bukan pilihan!"


Serena menatap Kei. Nampaknya dia sadar, bahwa Kei adalah sang penasihat. "Hei, pria tampan. Tolong jelaskan apa yang harus kita lakukan. Waktu kita terbatas. Lihat layar monitor kita. Waktu yang tersisa hanya 11.43 jam."


__ADS_2