
"Permainan ini disebut---Pemanggilan Roh!"
Iliel melangkah maju. Ia membuka layar monitor miliknya. Gerakannya lincah menggeser-geser tangannya. Walaupun layar monitor miliknya tidak bisa dilihat orang lain, tapi para Newbie tau bahwa orang di depannya pasti orang hebat.
Iliel mengetuk menu bertuliskan 'view'. Layar monitor membesar seukuran papan tulis. Kini terlihat beberapa gambar.
"Roh alami, terbagi menjadi empat. Ada roh paling kuat, roh Api. Di bawahnya ada roh Bumi, roh Air, lalu yang terlemah adalah roh angin. Ada kondisi dimana kamu tidak mendapatkan roh alami sama sekali. Tapi kamu pasti mendapatkan roh gabungan. Seperti roh tanaman, roh asap, dan masih banyak lagi. Tentu kekuatan roh gabungan tidak sekuat roh alami. Tapi, jangan pernah menganggap remeh kekuatan roh."
Iliel berhenti sejenak. Ia mengetuk layar monitor. Sesuatu muncul lagi. Kini, bukan layar proyeksi seukuran papan tulis yang muncul. Bentuknya mirip proyeksi 3D, membentang seukuran ruangan dasar Proxius.
"Sekarang, di depan kalian adalah ruang pemanggilan roh. Siapapun yang masuk ke dalam, roh yang tertarik padanya akan mendekat. Jika kalian terpilih roh api, berarti kalian hebat. Jika kalian terpilih lebih dari satu roh, berarti kalian---"
"Pasti hebat terpilih oleh lebih dari satu roh!" Lagi-lagi, lelaki kuning angkat bicara mendahului pengurus Proxius. Bisa dibilang, dia itu sok pintar.
Iliel tertawa, "Maaf saja. Seseorang yang terpilih lebih dari satu roh bukanlah orang hebat. Melainkan--lemah."
Iliel melirik Kei. Ia penasaran, roh apa yang akan memilih lelaki berambut perak itu.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai dari Gadis Pertama. Urutkan sesuai nomor kalian lolos di ujian dasar."
Semua Newbie mengangguk tanda mengerti. Gadis pertama itu maju, berdiri di tengah ruangan. Tangannya diletakkan di atas benda berbentuk bola. Perlahan, sesuatu keluar dari bola itu. Berwarna merah. Roh api berhasil dipanggil.
Tidak heran. Bahkan angka nairy miliknya juga tinggi. Sepertinya para Newbie menerima kondisi itu.
"Gadis itu, bisakah kita berteman dengannya, Rin?"
"Bisa. Asal dia mau berteman dengan pengganggu sepertimu."
"Terima kasih pujiannya, Rin."
Kini giliran si Rambut Kuning. Saat ini maju, langkahnya terlihat konyol. Bahkan sempat-sempatnya ia terjatuh di tengah area pemanggil. Kejadian itu membuat semua Newbie tertawa. Yang Kei heran, bahkan lelaki itu tidak terlihat malu. Ia justru ikut tertawa, menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak terlalu gatal.
"Ya-yah, aku grogi sekali. Makanya aku jatuh. Yoosshh!! Keluarlah, roh api!"
Tangan Si Rambut Kuning itu diletakkan. Perlahan, keluar warna cokelat, yang artinya roh bumi. Tidak terlalu buruk. Saat ia bersiap meninggalkan area, sesuatu muncul lagi. Kini berwarna biru. Artinya, itu roh air.
__ADS_1
"Apa itu? Dua roh? Lemah! Dari awal ia memang terlihat lemah!"
Si Lelaki Kuning beringsut meninggalkan area. Wajahnya tertekuk. Walaupun tidak diperlihatkan, Kei melihatnya dengan jelas.
"Haha, sepertinya aku memang lemah. Jadi, kuputuskan. Mulai hari ini, aku akan berusaha menjadi lebih kuat!"
Kepribadiannya tidak terlalu buruk. Walaupun konyol dan lemah, setidaknya ia tidak pantang menyerah. Kei mengepalkan tangan. Ia belajar dari lelaki itu. Demi menemukan Viole, pantang menyerah tidak ada di kamus kehidupannya.
Empat jam berlalu, setidaknya menurut wakty dunia nyata. Pemanggilan roh lebih lama dari dugaan. Kini giliran Rin. Ia maju, mengikuti langkah demi langkah seperti newbie sebelumnya. Ia meletakkan tangan, roh mulai terlihat. Warna biru. Roh air.
"Sial!"
Rin mundur dengan langkah lebar. Ia menggeram kesal.
"Bagiku itu hebat, Rin. Bukankah air bisa mengalahkan api?" Kei tersenyum memberi motivasi, menguatkan.
"Hah? Kamu tidak perlu membesarkan hatiku, Kei. Aku cukup paham dengan potensinya. Awas saja, kalau kamu dapat roh angin, akan kubatalkan pertemanan kita."
__ADS_1
Kei mengangguk. Kini gilirannya memanggil roh. Ia meletakkan tangannya. Arloji miliknya berpendar. Terasa sangat hangat, bahkan sampai seperti membakar. Kei sempat memegang pergelangan tangannya yang terasa terbakar. Akhirnya, ia merasa baikan.