
"Kalian telah mendapatkan kekuatan roh, silahkan naik ke menara lantai 1."
"Lantai 1? Bukannya ini lantai 1, ya?"
"Saat ini kita berada di lantai dasar. Lantai dasar tidak terhitung sebagai lantai menara. Di sini adalah tempat ujian yang menyeleksi apakah kalian layak naik atau tidak."
Baiklah, sepertinya perjalanan ini akan menegangkan. Pengalaman mempertaruhkan nyawa demi mengejar sesuatu yang entah dimana, bagi Kei adalah hal konyol. Tapi entah butuh berapa hari, tahun, abad, ia akan tetap mencari Viole, karena itulah janjinya pada mama Viole.
"Jangan lupa, setelah mendapatkan kekuatan roh, di lantai selanjutnya kalian akan memilih role yang sesuai dengan kekuatan kalian. Silahkan semuanya berdiri di lingkaran ini."
Entah sejak kapan Iliel sudah membuat lingkaran sihir di tengah area Proxius. Lingkaran itu memiliki pola yang rumit. Ia mulai mengetukkan tongkat dengan corak yang sama, kemudian lingkaran itu bercahaya.
"Baiklah, kuberi waktu lima detik untuk segera masuk ke area lingkaran. Jika kalian tidak bisa masuk, artinya kalian tidak layak."
Iliel mulai menghitung mundur. Ke lima ratus newbie berlarian tunggang langgang ke area lingkaran sihir. Sampai saat Iliel kehabisan angka, ia sempat mengatakan hal aneh.
"Aku harap, di antara kalian ada yang bisa mencapai level dunia dan memperbaiki menara dari kekacauan yang ditimbulkan oleh seorang beta di atas sana."
***
Para newbie sampai di lantai pertama. Seperti kata Iliel, siapapun yang tidak masuk ke area lingkaran adalah mereka yang tidak layak. Dari perhitungan, sepertinya hanya sekitar dua ratusan yang berhasil terbawa lingkaran sihir. Lingkaran milik Iliel seperti alat transportasi.
"Aku yakin, semua pengurus lantai pasti punya sistem yang sama atau bahkan lebih keren lagi!" tukas seorang lelaki menepuk bahu Kei.
Kei menoleh, mencari sumber suara. Suara itu terdengar bukan milik Rin. Ia penasaran kenapa si pemilik suara terdengar sok akrab dengannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu ada di sampingku?" Kei menyingkirkan tangan laki-laki itu.
"Karena dia adalah temanku," jawab Rin enteng.
"Apa? Jadi kamu berhasil menjadikan dia teman?"
Rin mengangguk.
"Hmm..dia terlihat lebih hati-hati. Yah, bukan masalah."
Laki-laki berambut kuning itu membuka layar monitor, memilih daftar teman. Sedetik kemudian, di depan Kei muncul sebuah notifikasi. "Newbie Yuki meminta pertemanan. Apakah Anda setuju?" Dan di bawahnya ada dua pilihan, Yes dan No. Persis seperti media sosial di dunia nyata.
Baiklah, tanpa berbasa-basi, Kei menerimanya. Kini di layar monitor miliknya sudah ada dua nama teman. Kei dan Rin. Kei memiliki keinginan untuk menambahkan lebih.
"Wahai para newbie, perkenalkan. Namaku Toka. Aku yang akan membantu kalian menentukan role petarung. Tapi, tugas pertama yang harus kalian lakukan adalah membuat sebuah grup yang terdiri dari lima orang. Tidak boleh lebih ataupun kurang. Silahkan buka layar monitor."
Tanpa menunggu diperintah dua kali, para newbie membuka layar monitor. Ada sistem yang baru ditambahkan.
"Di bawah menu 'teman', ada satu menu baru, yaitu 'squad'. Squad adalah sebuah tim. Silahkan kalian klik menu squad. Disitu ada lima slot. Tugas kalian adalah menambahkan lima orang ke dalam squad kalian. Baiklah, kuberi waktu seminggu untuk mencari member dan menentukan siapa ketua squad. Semoga beruntung."
Plop! Terdengar seperti air meletus. Perempuan bernama Toka itu menghilang dari pandangan. Para newbie mulai berisik, seperti anak sekolah saat ditinggalkan gurunya.
Beberapa ribut soal mustahil mencari tim, beberapa lagi mendebatkan kejadian di lantai dasar. Sebagian bisa berteman dengan mudah seperti Kei dan Rin, sebagian lagi sangat sulit melakukannya.
"Sekarang kita sudah punya tiga anggota. Kurang dua lagi. Andaikan kita bisa merekrut newbie pertama itu." Kei mulai angkat bicara, berdiskusi ini itu dengan Rin dan Yuki.
__ADS_1
"Apakah harus dia?" Yuki menimpali.
Kei dan Rin mengangguk bersamaan.
"Sebenarnya tidak harus dia. Tapi menimbang kekuatan, dan merujuk pada pernyataan Iliel di detik terakhir, serta ---" Kei mengingat pesan di buku usang tentang mempertaruhkan nyawa di menara. "Ah, intinya, sepertinya menara ini adalah tempat yang misterius dan berbahaya. Semakin kuat member kita, semakin bagus."
Mendengar penuturan Kei, wajah Yuki tertekuk. Kei sadar apa yang diucapkannya mungkin menyakiti Yuki, mengingat ia adalah satu-satunya newbie yang terpilih dua roh. Ia pasti merasa sangat lemah, bahkan paling lemah.
"Yuki, orang yang dipilih Rin pasti hebat. Aku yakin, kamu sangat berbakat. Lihatlah, kamu satu-satunya yang dipilih dua roh, loh."
"Tapi menurut Iliel, dipilih lebih dari satu roh adalah sebuah kelemahan."
"Tidak! Coba kamu pikirkan. Kamu bisa menggunakan dua elemen. Itu adalah hal yang hebat."
Yuki tersenyum. "Kamu tidak perlu menguatkanku, Kei. Aku terima kok dengan kelemahanku. Justru karena ini, aku harus melangkah maju, menyusul kalian dan menjadi kuat! Apakah aku benar-benar diterima di squad ini?"
Lagi, Kei dan Rin mengangguk serempak.
"Baiklah, kalau begitu--" wajah Yuki mulai sumringah. "serahkan masalah gadis itu padaku. Aku akan membujuknya."
Rin terperanjat. Menimbang dari sikap Yuki yang agak konyol, ditambah ia adalah pemilik dua roh, sangat mustahil mendekati Newbie Pertama, sekaligus Newbie Terkuat.
Kei dan Rin menghela napas bersamaan. Sepertinya hari ini mereka terlihat sangat kompak.
"Negosiasi terancam gagal."
__ADS_1