Tower Of Destiny

Tower Of Destiny
Visrinky


__ADS_3

Kei sedang berpikir.


"Berdasarkan kekuatan roh, kita sudah punya semuanya. Berdasarkan senjata, emm.. Serena, apa senjatamu? Dan kamu juga Yuki?"


"Senjataku adalah pedang dan cambuk."


"Lah, kok kamu punya dua? Aku hanya punya panah," timpal Yuki.


"Itu karena kamu bodoh. Makanya hanya punya satu."


"Apa?"


"Berhenti bertengkar. Rin, kalau tidak salah, kamu juga pengguna pedang, kan?"


Rin mengangguk.


"Sedangkan aku bisa membuat tameng transparan. Lihat!" Kei menciptakan tameng. "Tapi entah kenapa di bagian peralatan senjata, aku juga punya pedang dan panah. Senjata ini ada di dalam arloji. Sepertinya arloji ini bisa menyalin senjata. Tapi kekuatannya hanya setengah."


"Apa? Itu hebat sekali. Bahkan kamu bisa menaiki menara sendirian."


"Apa kamu tidak mau satu tim denganku, Yuki?"


"Siapa bilang? Kamu adalah ahli strategi kami. Anggap saja itu kegunaanmu."


"Dengarkan. Fokus. Sekuat apapun masing-masing individu dalam tim, akan percuma jika kita kekurangan satu posisi. Dan sekarang, anggap saja Rin dan Serena sebagai assassin. Mungkin mereka akan mendapatkan role itu. Dan Yuki, kamu pengguna panah. Mungkin role kamu juga itu. Hanya aku yang masih belum bisa dipastikan. Aku punya arloji, bisa mengendalikan nairy, punya senjata salinan. Entahlah--"


"Kei, aku sama sekali tidak paham. Langsung intinya saja," Yuki mengibas-kibaskan tangannya. Rin juga ikut mengangguk-angguk tanda setuju.


"Baiklah. Intinya, kita hanya butuh pengguna tombak."


"Hanya itu?" Rin dan Yuki bertanya serempak.


"Hei! Bukankah kalian ingin intinya saja? Hah, benar juga. Entah kenapa disini hanya aku yang membawa otak. Apa otak kalian tertinggal di dunia asal?"


"Sialan kamu Kei!"


Mereka tertawa. Suasana kembali ceria setelah badai pertarungan reda.


"Bukannya pengguna tombak adalah orang itu? Tapi dia sudah direkrut tim yang lain." Yuki menunjuk si pengguna tombak yang baru saja bertarung."


"Kamu benar. Kita terlambat."


"Aku yang akan mencarinya," kini giliran Serena yang bangkit. Tidak seperti Yuki, tidak ada yang mencegahnya. Kecuali---


"Kamu mau kemana? Apa kamu akan pergi mencari sembarang orang begitu saja?"


"Bukankah tidak masalah. Lagian dalam kelompok kita juga tidak ada yang beres. Terlebih kamu, pemilik dua roh. Rin yang kuat, tapi tidak bisa berpikir, Kei yang pintar dan tampan, tapi tidak tau dunia ini seperti apa. Terlebih, dia tidak bisa berada di garis depan. Dan aku--hanya aku yang normal di tim ini."


"Apa? Tapi tetap saja-"


Buk! Tubuh Yuki terpelanting jauh, sekitar lima meter.

__ADS_1


"Aku boleh menghajarnya?"


"Kamu sudah menghajarnya." Rin dan Kei menjawab bersamaan.


"Oke. Tidak ada yang keberatan kalau aku mencari anggota terakhir, kan? Kalian cukup tunggu saja hasilnya."


Mereka mengangguk. Bukan karena percaya lalu setuju, melainkan lebih karena tidak ingin berurusan dengannya. Apa-apaan, dia bisa mementalkan Yuki hanya dengan satu kali pukulan. Mengerikan.


Wajah Yuki yang lebam terangkat. Ia menidurkan kepalanya di atas meja makan. Ia tak lagi berselera. Sudah ke sekian kalinya Yuki mendapat hantaman keras di wajah dan tubuhnya. Terlebih, hal itu dilakukan oleh satu orang perempuan.


"Sialan Serena! Ini entah pukulan ke berapanya. Semakin kuat saja! Sial, wajah tampanku," Yuki mengelus wajah lebamnya.


Lima jam berlalu. Hari semakin siang. Kei, Rin, dan Yuki duduk dengan wajah tertekuk. Belum ada kabar dari Serena, sedangkan waktu terus berjalan.


"Kalau tau begini, harusnya kita tidak mempercayainya," Rin mendengus sebal.


Yuki mengangguk setuju.


"Rin, apa kamu mempercayainya? Aku setuju hanya karena tidak ingin berurusan dengannya, bukan percaya."


"Kamu benar, Kei. Aku juga sebenarnya begitu."


"Apa hanya aku yang tidak setuju dan tidak percaya? Tapi karena kejujuranku, justru membuatku babak belur."


Yuki semakin membenamkan wajahnya ke bagian kaki yang tertekuk. Mereka masih menunggu Serena.


Kreet! Suara pintu terbuka.


"Mana anggota tim kita yang terakhir?"


"Yuki, kamu mau babak belur lagi? Lebih baik kali ini kamu diam saja dan serahkan pada Kei!"


"Baiklah," Yuki memonyongkan mulutnya. Ucapan Rin ada benarnya. Setidaknya, dia harus menjaga wajah tampannya.


"Bagaimana, Serena?" Kei membuka pertanyaan.


"Aku mendapatkannya."


"Mana?"


"Tapi, sebelumnya, bukankah kalian bilang kita membutuhkan pengguna tombak, tidak peduli kekuatan roh, kan? Jadi, siapapun itu, kalian tidak masalah, kan?"


Mereka mengangguk kompak.


"Baiklah, Vi, silahkan masuk. Ini tim kita."


Kei memperhatikan, begitu juga Yuki dan Rin. Mata Kei membelalak. Anggota squad terakhir adalah si gadis bertudung yang memiliki roh tanaman, kekuatan roh gabungan.


Sementara Rin menghela napas kecewa. Dan Yuki? Dia masih saja berlagak tidak peduli. Tapi gadis itu sangat mirip dengan Viole, dan namanya---


"Vi?"

__ADS_1


"Ya, namanya Vista. Jadi kita bisa memanggilnya Vi. Dia mendapat senjata tombak. Hanya dia yang belum punya tim. Jadi aku merekrutnya."


"Ha-halo, namaku Vista. Salam kenal!" Vista membungkukkan badan.


Kei terus memperhatikan. Proporsi tubuhnya sangat mirip dengan Viole. Jika dari belakang, mungkin Kei akan menganggapnya Viole, sama seperti di Proxius waktu itu. Suaranya juga terdengar mirip, bahkan namanya pun hampir sama.


"Kei, apa yang kamu lakukan? Bukankah sekarang saatnya membuat squad dan menentukan pemimpin?"


"A-ah kamu benar, Serena. Baiklah. Hanya pemimpin yang bisa membuat squad. Jadi, siapa pemimpinnya?"


Ruangan itu lengang. Mereka menatap Kei.


"Ada apa? Ayolah, siapa yang akan memimpin? Aku rasa Serena lebih cocok. Dia yang paling kuat disini."


"Kei, apa kamu lupa? Pemimpin yang hanya mengandalkan kekuatan akan membawa tim pada kehancuran. Pemimpin yang baik adalah mereka yang pintar dan jenius. Bisa melindungi tidak hanya dengan kekuatan semata." Serena menolak dengan alasan yang tepat.


"Jadi?"


"Kau pemimpinnya." Mereka mengatakan dengan serempak.


"Apa?"


"Jadi, ayo kita buat squad. Kalian juga setuju kan jika Kei pemimpin kita? Lagi pula dia pintar membuat keputusan. Yah, walaupun ada juga yang tidak paham sama sekali." Serena melirik Yuki.


"Apa-apaan tatapanmu itu? Kamu mau menantangku?"


"Hoho, mau adu tinju?"


Yuki menelan ludah. Sepertinya dia mengatakan hal yang salah. Bisa-bisa, wajahnya bonyok lagi. Dengan cepat, Yuki menggeleng dan nyengir lebar. Mungkin dia ingin mengatakan, hanya bercanda.


Kei menepuk dahi. Apa mereka berdua hanya bisa berkelahi? Rin yang masih diam, dan gadis misterius satunya juga diam. Dua anak pendiam, dan dua anak berisik.


Kei membuka layar monitor, memilih bagian squad. Dia mengundang keempat anggotanya. Sekarang, dia harus memikirkan nama. Kei berniat menanyakan pada mereka, tapi sepertinya percuma. Mereka tidak akan peduli dan masa bodo.


"Keren Yuvirin"


"*****! Nama apaan itu? Jelek sekali!" Yuki protes dengan nama squadnya.


Kei nyengir. Setidaknya, dia berhasil membuat mereka mau tidak mau harus berpikir. "Nama squad itu adalah singkatan dari nama mereka. Kei, Serena, Yuki, Vista, dan Rin."


"Jelek!" Mereka kompak menolak. Tumben. Biasanya sikap mereka masa bodo semua.


"Jadi, mau apa? Usul saja kalau kalian tidak mau nama ini."


Ruangan itu lengang kembali. Mereka terlihat mulai berpikir. Lima menit berlalu, belum ada yang memberi sebuah nama.


Vista mengangkat tangan. Ia tampak ragu, namun harus memberi usul. Setidaknya, itu yang bisa dilakukan. "Ji-jika tadi kata Kei, itu adalah singkatan, bagaimana jika namanya hanya Visrinky? Vista, Serena, Rin, Kei, dan Yuki?"


Mereka saling tatap. "Ada yang lain?"


Satu jam mereka berpikir, mencari nama yang terdengar lebih keren. Namun percuma. Tidak ada lagi. Akhirnya, mereka memutuskan nama squad mereka.

__ADS_1


"Visrinky."


__ADS_2