
"Viole!"
Kei menatap gadis itu lamat-lamat, sampai ia yakin dialah Viole yang dicarinya di dalam menara.
"Viole!" Kei memanggilnya lagi, tapi gadis itu tetap diam dan tidak meliriknya sama sekali.
Di dalam ruangan dasar Proxius, terlihat lima ratus pendaki berdiri, menunggu pengurus selanjutnya muncul. Waktu jeda itu Kei gunakan untuk mendekati gadis yang diduga Viole.
Kei menepuk pundak gadis bertudung itu. "Viole! Akhirnya aku menemukanmu. Jadi aku tidak perlu lagi ikut permainan kony-"
"Maaf, kamu siapa?"
"A-ah, maaf. Kukira kamu temanku. Maaf." Kei menundukkan badan.
Gadis bertudung itu tidak menghiraukan dan pergi begitu saja. Wajah dan proporsi tubuhnya mirip sekali dengan Vioel, bahkan sampai caranya berjalan. Astaga! Kei mengira perjalanannya akhirnya bisa berakhir. Tapi ternyata dia salah besar.
"Selamat datang di Proxius, Para Bocah. Perkenalkan, saya Iliel, pengurus utama di sini. Hmm...sebelum kita masuk ke ujian selanjutnya, kuberi kesempatan untuk bertanya. Satu orang penanya."
"Saya!"
"Saya juga!"
"Pilih saya!"
Para pemain antusias mengacungkan tangan. Nampaknya, mereka memikirkan beberapa masalah, atau justru keinginan.
"Sepertinya tidak adil jika kupilih salah satu dari kalian. Bagaimana kalau keberuntungan dipermainkan lagi? Ah, kalian hanya perlu saling adu kekuatan. Itu saja. Kalian tau nairy, bukan? Nairy adalah udara. Selemah apapun, seseorang di dalam menara bisa mengendalikannya. Silahkan yang ingin bertanya, baris yang rapi di depan alat deteksi itu. " Iliel menunjuk benda berbentuk mirip jam dinding di bagian kanan.
Tidak perlu diperintah dua kali, lebih dari 70 pemain ikut mengantre. Iliel menjelaskan prosedurnya, dan mereka mulai mencoba mengendalikan nairy.
"20.345. Yess!!" Lelaki berambut kuning yang pertama kali mencoba. Dia terlihat kegirangan dengan angka 20 ribu ke atas.
"Hei, jangan senang dulu. Lihat milikku!" Angka demi angka terus melaju. Seribu, lima ribu, sepulu ribu, berhenti.
"Apaan! Lemah!" lelaki yang memiliki angka 20.345 mengacungkan jempol terbalik. Sedangkan perempuan yang memiliki angka lebih rendah hanya bisa menggeram kesal. Nampaknya ia malu dengan ucapannya.
Kei tertawa receh. Ia tidak ikut berbaris, karena Rin ikut andil di dalamnya. Percuma saja dia ikut-ikutan. Tau akan kalah, lebih baik menyerah.
Satu jam berlalu begitu saja. Angka demi angka bermunculan. Ada yang kegirangan, beberapa menit langsung lesu mendapati ada yang lebih kuat. Ada pula yang sekali coba mukanya langsung tertekuk. Ada yang menyesal ikut permainan deteksi nairy. Ia jadi tau betapa lemah dirinya.
"Oh, giliran Rin!" Kei berteriak antusias.
Sementara di sisi depan, tepatnya tempat Rin berdiri bergidik malu. "Haruskah dia berteriak seperti itu? Bukankah kita terlihat seperti pasangan yang saling mendukung?" Rin kembali bergidik.
Rin mengacungkan tangannya ke arah 'jam dinding', konsentrasi penuh. Angka mulai merangkak naik. "75.356" Angka yang fantastis. Sampai saat ini, angka itulah yang terbaik.
__ADS_1
Dua jam berakhir dengan kemenangan Rin. Belum ada yang bisa mengalahkan rekornya. Tinggal satu pemain yang tersisa. Dialah si gadis assassin.
Gadis assassin, tepatnya gadis yang lolos pertama kali di ujian dasar berdiri menghadap pendeteksi nairy. Tangannya mengacung. Angka mulai merangkak naik.
Suasana di ruangan Proxius lengang. Tidak ada suara satu pun. Mata mereka terbelalak.
"136.627! Anjirr angka apaan itu!"
"Yah, sepertinya dia kuat!"
"Jangan cari gara-gara sama dia!"
Plop! Pengurus Proxius muncul di depan para pemain.
"Wah, angka yang fantastis! Aku tidak menyangka ada Newbie yang bisa melakukannya."
"Newbie?" kembali, lelaki berambut kuning itu bertanya. Sepertinya ia memiliki sifat cerewet.
"Oh, kalian pasti masih terikat dengan peraturan menara yang lama. Beberapa tahun belakangan, mereka para pendaki tidak lagi disebut sebagai pendaki. Karena pada dasarnya tidak semua dari mereka ingin mendaki sampai puncak. Mereka hanya mau bersenang-senang di dalam menara. Makanya, peraturan diubah. Mereka bukan lagi pendaki, melainkan Newbie."
"Untuk pemburu?"
Iliel tertawa kencang. "Maaf, aku lupa dengan gelar kami. Gara-gara Beta sialan itu, kita semua dikategorikan sebagai pemburu. Tapi, kami yang telah mencapai puncak, kalian bisa memanggil dengan istilah Pro."
"Beta adalah mereka yang masuk ke dalam menara dengan cara tidak biasa. Biasanya, para Newbie masuk melalui perantara. Baik itu manusia, ataupun benda. Tapi Beta hanya---hei, aku hanya akan menjawab pertanyaan sang pemenang!" Iliel membenarkan rambutnya. "Lalu, apa pertanyaanmu, Newbie Pertama?"
Sepertinya gadis assassin itu mendapat julukan baru. Newbie Pertama. Terdengar keren.
"Aku tidak punya pertanyaan. Aku hanya penasaran dengan kekuatanku."
"Apa?"
"Sialan! Kamu membuang kesempatan kami!"
"Lalu, pertanyaan bisa diajukan oleh pemenang kedua, kan?" Gadis Assassin itu menjawab enteng.
Pandangan para Newbie tertuju ke arah Rin. Sementara lelaki berambut biru itu menyeringai bangga.
Iliel menghela napas.
"Terserah saja. Apa pertanyaanmu?"
"Ah, di ujian dasar barusan, aku menghabisi dua 'pendaki', maksudku---Newbie. Tapi kenapa mereka tidak hidup kembali di Katedral? Menurut petunjuk yang kuterima, harusnya mereka hidup lagi di sana."
"Hmm? Katredral? Apa itu?"
__ADS_1
"Apa maksudmu? Tidak mungkin pengurus lantai tidak tau menahu soal Katedral. Setauku, gerbang merah di ujung lapangan adalah tempatnya."
Iliel menggeleng, tanda tidak setuju.
"Sudah ratusan tahun Katedral tidak berfungsi."
Ratusan tahun? Bukankah Tower of Destiny baru rilis beberapa bulan? Oh, mungkin karena masa di dunia ini dan dunia nyata berbanding 100 kali lipat.
"Jadi artinya---"
"Artinya, jika kamu mati, maka tamatlah riwayatmu. Jika kamu membunuh, maka kamu seorang pembunuh."
"Apa? Jangan bercanda! Aku datang kesini bukan untuk menyerahkan nyawaku!"
"Maka, bertahan hiduplah!"
Kei mendengarkan perdebatan mereka. Benarkah seperti yang dikatakan buku tua itu, menara adalah tempat dimana nyawamu dipertaruhkan.
"Jika seseorang tidak bisa hidup lagi, padahal permainan ini tentang bertahan hidup dengan ujian mempertaruhkan nyawa, apa seseorang yang data beberapa hari--bukan, maksudku beberapa tahun lalu telah mati?"
"Apa maksudmu, Newbie? Dengan, anak perak. Banyak para Newbie yang bertahan dan mencapai lantai lebih tinggi, dengan tujuan berbeda-beda. Ada pula yang mati karena gagal ujian. Di menara ini, semuanya memang diatur demikian."
Tangan Kei mengepal. Ia tidak tahan mendengar jawaban tidak memuaskan dari Iliel. Kei maju ke depan, mencengkeram kerah baju Si Pengurus Lantai.
"Jangan bercanda! Untuk apa menara ini dibuat? Apa untuk membunuh? Mengurangi populasi? Atau hanya demi kesenangan pembuatnya?"
Iliel mencoba melepaskan tangan Kei yang masih mencengkeram dengan kuat. Terasa aliran nairy yang begitu hebat.
"Apa kamu seorang---ah sudah, lupakan saja. Apapun pertanyaanmu, pergilah menuju puncak. Di sana, kamu bisa menghancurkan apapun. Pembuat menara, menara ini sendiri, bahkan dunia."
"Aku tidak butuh kekuatan menghancurkan! Aku hanya datang untuk mencari Viole, lalu keluar dari game busuk ini!"
"Game?" Iliel kembali tertawa kasar. "Sepertinya kamu benar-benar seorang Beta, ya?"
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan candaanmu!"
Rin melangkang, mendekati Kei. "Tenanglah, Kei. Kita semua juga kaget. Tenangkan pikiranmu."
Kei mengangguk, melepaskan cengkeramannya dari kerah Iliel.
"Nah, pertanyaan sudah terjawab. Haruskah kita masuk ke ujian selanjutnya? Lebih tepatnya, ini bukan ujian. Melainkan keberuntungan. Kalian akan dipilih oleh roh alami yang akan menentukan role-mu."
Roh alami, role, Kei masih tidak mengerti sama sekali. Ia menoleh, berharap Rin mau menjelaskan. Tapi percuma, wajah Rin masih terlihat syok. Bagaimana tidak, ia tau kenyataan mengenaskan, bahwa dirinya telah menjadi seorang pembunuh. Tubuhnya masih bergetar.
"Permainan ini disebut---Penarikan Roh!"
__ADS_1