Tower Of Destiny

Tower Of Destiny
Lantai Dasar - Arloji


__ADS_3

"Sungguh sial nasibmu, Newbie."


Kei terdiam. Suasana di antara mereka lengang. Tapi tidak dengan pertempuran di sekeliling mereka. Pertarungan demi pertarungan masih terjadi. Para pendaki sibuk menyingkirkan lawan di depannya.


"Apakah kamu mendapat senjata lain?"


Kei menggeleng.


"Bukalah layar monitormu. Aku akan berbaik hati meminjamkanmu senjataku."


Tanpa diperintah dua kali, Kei kembali membuka layar monitornya. Lelaki berambut biru itu menekan layar bagian kiri bertuliskan 'teman'.


"Kita harus berteman dulu sebelum saling berbagi."


Kei kembali mengangguk.


Kling! Suara pemberitahuan dari layar monitor terdengar. Kini Kei memiliki satu daftar teman.


"Rin?"


"Ya, itu namaku. Sekarang aku akan meminjamkanmu senjata. Ingat untuk mengembalikannya nanti."


Tiga puluh detik berlalu. Ternyata waktu mentransfer senjata lebih lama dari dugaan mereka. Walaupun yang dipinjamkan Rin hanya sebuah belati khusus pemula, tapi bagi Kei ini lebih dari cukup.


80% menuju complete. Seseorang secara tiba-tiba telah berdiri di depan mereka dengan perawakan tinggi besar membawa pedang panjang. Kei refleks memasang kuda-kuda. Ia mulai terbiasa dengan serangan dadakan.


"Namamu, Kei, kan? Tetap di belakangku!"


Kei mengangguk. Tanpa senjata, ikut bertarung hanya akan menjadi beban.


"Berusaha membantu? Jangan naif! Kita disini harus saling membunuh!"


Lelaki berbadan besar itu mengayunkan serangan. Adu pedang antara dua orang itu tak bisa dihindari lagi. Mereka sama-sama kuat.


"Gakh!!" Rin terkena serangan telak.


"Rin!" Kei maju, ingin membantu.


"Tetap disana! Kamu hanya akan menghalangiku!"

__ADS_1


Kei menggeram kesal. Sebenarnya, permainan macam apa ini? Terasa seperti nyata. Tidak seperti dunia virtual di film-film yang selama ini dia tonton. Ini seperti, dunia lain?


100%. Sempurna! Kei menekan menu bagpack. Ia mengambil senjata yang dipinjamkan Rin. Sebuah belati kecil. Ia memerhatikan jalannya pertarungan kedua ahli pedang, berharap ada celah untuk mengakhiri pertarungan.


Benar. Kei hanya perlu menganggap ini sebuah permainan. Jadi, membunuh satu orang tak akan jadi masalah. Toh, mereka tidak benar-benar mati.


"Rin! Aku punya ide. Terus serang lelaki bongsor itu." Mereka bisa bicara melalui telepati. Sebuah fitur yang bisa digunakan oleh mereka yang ada didaftar teman.


Rin mengangguk, tanda mengerti.


"Mengapa kamu percaya begitu saja?"


"Bukankah saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan? Aku tetap pada rencanaku, terus menyerang. Sisanya terserah padamu."


Kei mengangguk. Ia menyelinap di antara rerumputan kuning, menuju belakang lelaki bongsor. Bersiap menerkam dari belakang.


Terlambat! "Kau mau kemana, Bocah?" ia ketahuan.


Lelaki berbadan besar itu mengayunkan pedangnya ke arah Kei dengan telak. Belati di tangannya bukan tandingan pedang itu. Sementara Rin masih tersungkur di tanah, tidak bisa berbuat apa-apa.


Refleks, tangan Kei diangkat, mencoba menahan serangan.


"Ah, apa yang aku lakukan? Aku pasti mati!" Kei memejamkan mata. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.


"Nairy? Jadi kamu pengendali nairy? Bagus! Akan kuhancurkan tameng ini!"


Nairy? Apa itu? Kei sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan si lelaki bongsor. Ia terus bertahan.


"Berapa lama lagi kamu bisa bertahan? Lihat! Tamengmu sudah retak!"


Lima larik tebasan pedang susul menyusul. Tameng itu retak sempurna.


"Kembalilah ke katedral, bocah ingusan!"


Rin berteriak. Ia tepat berada di belakang tubuh si bongsor. CRAKK! Ia menusuk tepat di jantung lelaki bongsor. Tubuhnya tumbang, menutupi rumput kering. Darahnya mengucur. Warnanya .... hijau?


"Aneh! Kenapa tubuhnya tidak menghilang?"


"Rin, waktu kamu membunuh Zoan juga mengatakan hal yang sama. Sebenarnya, apa itu katedral?"

__ADS_1


"Kamu lihat benda seperti gerbang di ujung lapangan ini?" Rin menunjuk gerbang berwarna merah, dengan patung naga di kedua sisinya.


Kei mengangguk.


"Itulah katedral. Seseorang yang mati di lantai dasar, atau biasanya disebut lantai ujian, harusnya dibangkitkan disana."


"Lantai ujian? Apa hanya di lantai ini yang ada katedral?"


Rin mengangguk.


"Selamat datang di menara, dimana nyawamu dipertaruhkan." Ia kembali teringat ucapan selamat datang di buku tua itu.


"Aku masih tidak mengerti tujuan game ini dibuat." Kei memandang gedung putih di tengah lapangan.


"Game?" Rin menatap Kei dengan tatapan bingung. "Kamu ngomong apa sih, Kei. Ah, kita harus bergegas ke gedung itu. Lihat, sudah 467 dinyatakan lolos. Tinggal 13 kursi lagi. Ayo!"


Kei mengangguk. Tidak perlu diperintah, ia melesat maju, berlari di belakang Rin. Kei mengikuti Rin di belakangnya. Rin bagian membuka jalan, Kei harus melindunginya dari belakang.


"Ternyata kamu pengendali nairy? Hebat juga! Pantas saja pengurus lantai tidak memberimu senjata. Tapi apa maksudmu tadi? Game? Aku sama sekali tidak mengerti. Pokoknya, setelah ujian ini berakhir, kamu harus menjelaskannya, mengerti? Sekarang, lindungi aku dengan nairy-mu!"


Kei mengangguk. Ia adalah salah satu murid jenius di kelasnya, juga pernah mengikuti tambahan kelas bela diri. Bukan hal sulit baginya mempelajari teknik permainan dasar, seperti membuat tameng dan lain sebagainya. Ditambah, kini ia punya senjata tambahan, sebuah belati kecil. Sangat cocok untuk tubuh mungilnya.


"Beberapa meter lagi kita sampai! Cepat, Newbie!"


Kei mengangguk. Mereka berlari sekencang mungkin. Sergapan demi sergapan tidak perlu dihiraukan. Mereka hanya perlu mendorong atau menjauhkan lawan. Tidak perlu sampai bertarung. Itu hanya akan membuang-buang waktu.


Tersisa delapan kursi pemenang.


Suara pengurus ujian mulai menghitung sisa peserta yang lolos.


"Lima kursi lagi. Siapa selanjutnya?"


Kei dan Rin terus melesat. Mendengar ucapan pengurus, semua pendaki tidak meneruskan pertarungan. Dari tadi, mereka tidak memerhatikan layar monitor dan hanya fokus pada pertarungan.


"Tiga!"


Kei dan Rin sampai di gerbang Proxius. Lolos.


"Satu!"

__ADS_1


Seorang gadis belia masuk Proxius dan berhasil menjadi peserta terakhir yang lolos ujian di lantai dasar.


"Viole?"


__ADS_2