
Para newbie masuk ke dalam kamar yang telah disediakan. Satu kamar bisa menampung maksimal lima orang. Di ruangan berbentuk kubus itu, kini terdapat tiga orang pemuda berbaring meregangkan badan mereka.
Salah seorang pemuda mengotak-atik layar monitor. Memilih menu squad, menu terbaru yang didapat di lantai pertama.
"Kamu sedang apa, Kei?"
"Tidak. Aku hanya penasaran dengan arlojiku. Kamu ingat, kan? Senjata pertama yang kita dapat di lantai dasar. Ditambah kekuatan roh. Aku hanya ingin menguji skill saja."
"Apa? Kamu berpikir terlalu jauh, Kei. Saat ini kita harus memikirkan cara membentuk tim. Siapa yang akan kita pilih, dan bagaimana caranya. Itu yang harus kita perlukan saat ini."
"Rin, apa kamu lupa? Kita ingin gadis itu. Dia seorang newbie yang kuat. Bahkan kekuatannya diakui Iliel. Apa kau juga lupa, apa yang didapatkan Yuki waktu itu?"
Kei dan Rin menoleh ke arah Yuki. Sementara lelaki bernama Yuki hanya angkat bahu tidak peduli.
"Yah, bahuku masih sakit gara-gara tenaga Serena itu."
"Serena? Apa kamu tau namanya? Bagaimana bisa?"
Yuki berkacak pinggang. Baiklah, kelakuannya memang menyebalkan. Ia terlihat sombong hanya dengan satu informasi yang terkesan tidak penting.
"Tentu saja aku bertanya. Sebenarnya dia anak yang baik dan ramah. Saat aku bertanya namanya, dia dengan enteng menjawab. Walau dia kuat, tapi tia tidak sombong. Tapi, saat aku menepuk bahunya, berusaha akrab, lalu menawarkan menjadi satu tim, dengan enteng dia menyakiti perasaanku."
"Bagaimana tidak, orang terlemah meminta satu tim dengan orang terkuat. Itu sama saja dengan seekor kelinci bertamu ke sarang singa. Kamu akan mati tercabik."
"Rin, ucapanmu sungguh kejam. Kei, bilang pada Rin bahwa itu tidak benar! Aku kan sudah berusaha!" Yuki memelas. Sementara Kei hanya tertawa canggung.
Memang, apa yang diucapkan Rin tidak sepenuhnya salah. Gadis itu pasti sangat merasa terhina. Yuki bangkit, tangannya mengepal.
"Aku tidak akan menyerah! Aku akan bertamu ke kamarnya lagi dan membujuknya lebih dari seribu kali!"
Yuki berbalik, melangkah pergi. Dengan cepat, Kei menghentikannya.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri. Ayo kita atur strategi dulu."
"Kei, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan strategi. Ada salah satu di antaranya yang bisa selesai hanya dengan mengakrabkan diri. Tau posisi, dan tau situasi."
"Kamu memang bijak! Tapi kelakuanmu tidak sesuai dengan ucapanmu. Kamu bilang tau posisi, tapi apa kamu tau orang yang kamu ajak bicara adalah orang terkuat? Kamu bilang harus tau situasi, tapi apa kamu tau situasi saat ini? Jika kamu gagal negosiasi, imbasnya ada pada kami."
Yuki melambai tak peduli. Ia terus melangkah pergi, hingga ia terhenti di ambang pintu.
"Kei, Rin, katanya kalian membutuhkan si Newbie Pertama, kan? Maka aku akan membuatnya mau ikut dengan tim kita. Apa kalian tidak ingat saat newbie yang lain tau kekuatannya? Tidak ada satu pun yang mau berurusan dengannya. Dan aku lihat, dia seperti tidak punya teman. Dia pasti kesepian. Aku hanya ingin menemaninya. Aku juga berterima kasih pada kalian mau mengajakku, si orang terlemah."
__ADS_1
Dua lelaki lainnya menatap punggung Si Rambut Kuning, hingga perlahan menjauh. Yuki menutup pintu. Kini tubuhnya sempurna tidak terlihat.
Sisa sore berjalan seperti biasa, hingga waktu makan malam tiba. Sekitar pukul tujuh, Kei dan Rin masih berada di kamar, menunggu Yuki kembali. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Rin sibuk mondar-mandir khawatir, sementara Kei sibuk mengotak-atik layar monitor. Untuk ukuran seseorang dengan jurusan Teknik Komputer, sistem layar monitor sama sekali tidak sulit dimengerti. Bahkan kini ia tau cara menggunakan arloji.
Pintu kamar terbuka. Seseorang muncul dari balik ambang pintu dengan wajah babak belur, rambut berantakan, dan setelan baju terdapat noda darah mengucur.
"Apa yang terjadi?" Mereka berlari mendekati Yuki.
"Aku tidak apa-apa, hanya mencoba membujuk Serena lagi."
"Apa kamu gila? Kurang ajar! Beraninya dia membullymu seperti ini! Akan kukasih perempuan itu pelajaran!" Rin bangkit, berniat memberi balas dendam yang setimpal.
Dengan sigap Kei menahan pergelangan tangan Rin. Wajah Kei terlihat marah dan khawatir.
"Apa-apaan kamu? Jangan menghalangiku lagi. Aku tidak peduli dia sekuat apa, paling tidak aku harus membuat wajahnya tergores!"
"Aku tidak akan menghalangimu. Tapi kita harus mengobati Yuki dulu. Aku sudah tau cara mengalahkannya."
Rin menghela napas kasar. Ia menghempaskan tangan Kei. "Baiklah! Sebaiknya rencanamu ini berhasil. Kalau tidak, aku benar-benar akan menghabisinya, tidak peduli dia mau satu tim atau tidak!"
Kei mengangguk. Kini mereka fokus mengobati luka Yuki.
"Yuki, bisa kamu gunakan kekuatan rohmu?"
Yuki mengangguk.
Mereka mengangguk. Kei hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus senang atau sedih memiliki tim yang tidak mau berpikir. Hanya tau setuju saja. Bagaimana jika suatu saat prediksinya gagal? Tidak ada yang mengoreksinya.
"Baiklah," Kei mengulurkan tangan kirinya, "berikan kekuatan roh kalian pada arloji milikku." Lagi-lagi mereka mengangguk, lalu memberi kekuatan roh pada arloji milik Kei.
Arloji itu akhirnya berpendar. Kei membuka tangan bagian kanannya. Sesuatu muncul. Sebuah tanaman herbal. Akhirnya skill kombo mereka berhasil.
"Yosh ini dia. Rin, buatlah cobek dengan kekuatan rohmu. Lalu tumbuk hingga halus. Kemudian oleskan ke luka Yuki."
Rin mengangguk. Tanpa menunggu lama, ia melakukan perintah Kei. Sementara Kei sibuk mengotak-atik layar monitor. Memberi nama skill kombo pertama mereka. 'Healing Wood'.
"Hei, bukankah senjata milikmu itu hebat?"
Kei menggeleng.
"Kamu salah, Rin. Arloji ini hanya sebuah alat support. Berbeda dengan milikmu, alat pertarungan. Saat bertarung, aku tidak bisa melakukan apapun."
__ADS_1
Kini giliran Yuki menggeleng.
"Apakah arloji milikmu memiliki skill coppy? Lihat saja, kamu dengan mudah membuat skill, menciptakan barang hanya dengan kekuatan roh."
Sekarang Kei yang menggeleng tanda tidak setuju.
"Sudahlah, nanti kita bahas lagi. Bukankah kita mau memberi 'ucapan selamat malam' pada Serena? Sebaiknya kamu cepat pulihkan tubuhmu! Roh air, harusnya kamu cepat sembuh!"
Satu jam berlalu. Waktu jam makan malam telah selesai. Mereka tidak mendapatkan jatah. Tapi itu bukan sebuah masalah. Kini mereka tepat berada di depan kamar seorang gadis, malam-malam begini. Jika di dunia nyata, mereka pasti seperti penjahat kelamin mencari mangsa.
"A-aku ketuk pintunya."
"Hati-hati, Yuki."
Yuki mengangguk. Bunyi pintu diketuk tiga kali. Suasana masih lengang, menegangkan. Yuki mengetuk pintu lagi. Pintu terbuka sebagian.
"Kamu lagi? Apa kamu tidak puas menantangku? Perlu kubuat remuk juga selangkanganmu?"
Gila! Ucapan Newbie Pertama sangat vulgar!
"Ha-halo, Serena."
"Cih! Kamu tidak bisa menang duel denganku, sekarang kamu membawa dua temanmu?"
"Tidak, aku--"
Serena memalingkan wajahnya. Ia tidak sengaja menatap Kei dengan rambut peraknya. Yah, memang Kei adalah yang tertampan di sana. Sekaligus paling jenius.
"Siapa laki-laki tampan ini?" Serena memegang dagu Kei.
"Halo, Nona Serena. Namaku Kei. Aku juga seorang newbie, sekaligus teman satu tim Yuki. Saat ini anggota kami baru tiga orang. Apakah kamu mau bergabung dengan kami?"
Kei mengaktifkan arloji miliknya, bersiap membuka kekuatan roh angin kalau-kalau Serena menolak ajakannya dan menyerangnya.
"Satu tim? Denganmu? Baiklah."
"Apa?" Mereka serempak bertanya. Takut salah dengar.
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu setuju? Lalu kenapa dari awal tidak?"
"Kamu bertanya kenapa dari awal aku tidak setuju? Itu karena kamu yang mengajakku! Laki-laki konyol, lemah, ****, ditambah wajah jelek! Kalau aku tau yang mengajakku setampan ini, dan sekuat dia, tentu aku akan menyetujuinya." Serena menunjuk Kei dan Rin secara bergantian.
__ADS_1
"Entah kenapa mereka mau sekelompok dengan orang sepertimu." Kini giliran Yuki yang ditunjuk Serena.
"Dan entah kenapa aku merasa pengorbananku, luka-lukaku, semuanya sia-sia. Inikah kekuatan wajah tampan? Dasar Kei sialan!"