Tower Of Destiny

Tower Of Destiny
LANTAI DASAR - PERBURUAN


__ADS_3

Suara desingan terdengar di atas kepala. Sebuah benda berbentuk kubus sempurna berwarna biru mengapung. Setiap pendaki mendapatkan satu buah. Ada yang dapat senjata pedang, tombak, panah, tameng, bahkan sebuah jarum.


Kei menerima satu. Layar monitor menyala otomatis. Benda kubus itu tersedot ke dalamnya. Kei mengotak-atik layar monitor miliknya. Walaupun ia belum pernah bermain game, tak butuh waktu lama untuk memahaminya.


Ia membuka menu 'bagpack' yang di dalamnya terisi benda kubus biru. Kei membuka menu itu, muncul notifikasi di depannya. Sebuah arloji? Apa maksudnya? Tidak seperti pemain lain yang mendapat berbagai macam senjata, ia justru mendapat arloji yang sama sekali tidak berguna dalam pertarungan.


"Kei, kamu dapat apa?" Suara serak terdengar menyapa dari arah belakang. Rupanya Zoan. Ia telah kembali dari persembunyian.


"Arloji."


"Arloji? Itu tidak ada di peraturan. Lihat, aku dapat panah!"


Zoan mendekat, mencoba memamerkan senjata yang didapatkan. Sementara arloji Kei hanya berpendar sesaat, kemudian meredup lagi.


"Sebaiknya kita berpisah, Kei. Sekali lagi kukatakan, semoga beruntung."


Zoan melambai. Kei menghela napas kasar. Ia menatap ke arah gedung tinggi, sebentar lagi permainan akan benar-benar dimulai.


"Tes...tes.. Aa, baiklah sekarang kalian semua sudah dapat berbagai senjata. Ada yang mematikan, ada pula hanya sebuah sampah tak berguna. Tentu, senjata itu kami acak. Jadi apapun yang kamu terima, itulah keberuntungan atau kesialan kalian. Karena di sinilah, di merana inilah takdir kalian dipermainkan. Perburuan akan dimulai satu menit setelah bunyi ledakan terdengar. Tujuan kalian adalah selamat dari buruan para pemburu kami dan masuk ke gedung ini. Ah, ngomong-ngomong, gedung ini bernama Proxius. Silahkan kalian masukan dalam data layar monitor. Selamat menunggu, dan semoga beruntung!"


Kei masih tidak mengerti. Kenapa setiap orang harus berkata semoga beruntung? Sebegitu menegangkannya kah permainan ini? Menilik dari yang diucapkan Zoan, game ini bergenre adventure, alias petualang. Apakah pemburu itu seperti monster, atau badai meteor, mereka akan tau setelah 50 detik berlalu.


Sepuluh detik terakhir. Peluh Kei menetes. Entah kenapa, ia merasa tegang. Kei tak punya senjata untuk membela diri. Tak punya tameng ketika ia diserang diam-diam. Arloji yang dikenakannya bagai kasat mata, tak terlihat.


BUM!


Kepulan asap memenuhi langit. Suasana lengang berubah menjadi riuh. Ratusan pendaki berlari menuju bangunan putih bernama Proxius itu. Beberapa tumbang. Ratusan busur panah melayang, menembus tubuh mereka.


Kei bersembunyi di balik rerumputan, mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia mengaktifkan layar monitor miliknya. Jumlah pendaki berkurang drastis hanya dalam hitungan menit, sementara jumlah yang lolos, nol.


Kei masih sibuk mengamati. Seorang gadis bertubuh mungil berlari sangqt cepat. Gerakannya zig-zag menghindari busur panah dengan sempurna. Ia bergerak seperti assassin. Kini gadis itu tepat berada di depan Proxius. Satu orang dinyatakan lulus ujian.


Gadis assassin itu menjadi orang pertama yang dinyatakan lulus di lantai ujian. Ia tak menggunakan senjata, hanya mengandalkan kecepatan dan ketepatan.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu. Serang busur panah mereda. Beberapa player berlari kencang, berharap bisa masuk ke dalam Proxius sebelum serangan kedua datang.


"Aku juga harus bergegas!"


Para pendaki tiba di pertengahan jalan. Kini, bukan busur panah yang menghalangi mereka. Puluhan 'pemburu' dikerahkan. Ada yang membawa pedang, tombak, bahkan tangan kosong?


Pertarungan tak bisa dihindari lagi. Mereka harus berhadapan dengan para pemburu. Levelnya tentu jauh di atas para pendaki.


"Mengerikan!"


Lelaki berambut perak itu bergerak dalam senyap. Memang, tak sehebat gadis assassin barusan. Tapi setidaknya ia bisa menilai kondisi, kapan harus berhenti dan kapan mulai bergerak. Ia telah menempuh seperempat jalan.


"Mau ke mana kamu?" Seorang lelaki berambut merah mengacungkan busur panahnya.


Kei mendongak. Tubuhnya bergetar. Ia tak berani melihat wajah si pemburu. Busur panah yang terlihat runcing dengan ujung terbalut baja berwarna perak itu terlihat sangat menakutkan.


Tapi, suara ini....


Mau tidak mau, Kei mendongak lebih tinggi.


Lelaki yang diajak bicara masih diam seribu bahasa. Ia masih mengeratkan busur panahnya. Sebagai jawabannya, ia melepaskan busur panahnya ke lengan kanan Kei. Darah segar mengucur.


"Apa yang kamu lakukan, Zoan!" Refleks Kei memegangi bagian yang terluka.


"Ara? Meleset? Kupikir sudah menembus jantungmu tadi. Apakah kamu ingat ucapanku, Kei? Kita semua di sini musuh! Membunuhmu, sama saja mengurangi rivalku! Kau lihat mereka yang bertarung?" Zoan mengacungkan anak panah ke dua. "Mereka bukan pemburu! Tidak ada pemburu di lantai ujian. Mereka adalah sesama pendaki! Sekarang, terima ajalmu!"


Zoan menembakkan busur panah kedua. Lagi-lagi ia meleset. Bukan! Lebih tepatnya, ada yang menepisnya.


"Siapa!" Zoan menengok kanan kiri, mencari player yang mengganggu perburuannya.


Kei bergegas mundur. Ia belum tau serangan barusan mengincar Zoan atau dirinya, atau bahkan mengincar keduanya. Merujuk pada ucapan Zoan, mereka semua adalah musuh!


Splash!

__ADS_1


Lagi-lagi serangan datang. Kini serangan itu mengiris kulit bagian betis Zoan. Lelaki berambut merah itu berseru marah. Ia menembakkan busur panah ke sembarang arah.


"Kei, urusan kita belum selesai! Aku tidak peduli lagi dengan serangan-serangan itu! Kali ini, aku harus membunuhmu sebelum aku membunuhnya!"


Kei menutup mata. Ya, mungkin dengan kematian, ia bisa kembali ke dunianya dan mempelajari cara lolos dari ujian.


Zoan menarik busur panahnya kuat-kuat. "Selamat tinggal! Teman pertamaku!"


BUM!


Pergerakan Zoan terhenti. Bahkan, suara berisiknya tidak terdengar lagi. Perlahan, Kei membuka mata. Ia terperanjat, tersungkur mundur beberapa langkah. Di depan matanya, tubuh Zoan telah terkapar tak berdaya dipenuhi lumuran darah.


"Aneh! Kok dia tidak menghilang?" Suara dari arah belakang mengagetkannya.


"Si-siapa kamu? Kenapa kamu membunuhnya?"


"Hah? Bukannya tadi dia mau membunuhmu? Bukannya sebaiknya kamu berterima kasih padaku?"


"Y-ya, memang benar. Tapi kenapa dia harus dibunuh?"


Lelaki berambut biru itu mengembuskan napas kasar. "Aku paling benci mereka yang mengacungkan senjata pada orang yang tidak bersenjata. Kau tau maksudku, kan?"


Kei mengangguk pelan. Ia menatap tubuh Zoan yang dipenuhi darah segar. Pengkhianatan yang ia rasakan begitu menyakitkan. Di dunia baru ini, Zoan adalah orang pertama yang membantunya mengenalkan dunia 'Tower of Destiny' padanya. Ia mengira Zoan orang baik yang akan menemaninya menaiki menara hingga puncak.


"Anak baru, dengarkan aku. Kita tidak boleh terlalu percaya pada seseorang. Semakin kamu mempercayainya, semakin dalam lukanya jika mereka mengkhianatimu. Bahkan, bisa jadi kamu tidak akan bisa bangkit lagi." Lelaki itu berbalik, melambaikan tangan bersiap untuk pergi.


"Apakah termasuk aku tidak boleh mempercayaimu walaupun kamu telah membantuku?"


Lelaki yang tidak diketahui identitasnya itu menghentikan langkah kakinya. Suasana lengang sebentar. "Ya. Termasuk aku. Sebaiknya keluarkan senjatamu dan bersiap dengan serangan selanjutnya."


"Ta-tapi, aku tidak mendapatkan senjata."


"Apa?" Mendengar penuturan Kei, lelaki itu berbalik mendekatinya. Kini jarak mereka terpaut satu langkah. Arloji Kei kembali bercahaya, lalu meredup lagi. Kejadian itu hanya terjadi selama tidak lebih dari satu detik. Tidak ada yang menyadarinya.

__ADS_1


"Benar. Aku hanya mendapat arloji, yang entah bagaimana bisa keluar sebentar lalu menghilang. Walaupun sudah kukenakan, itu tidak terlihat sama sekali." Kei menunjuk pergelangan tangan kirinya,


__ADS_2