
Satu minggu telah berlalu, Hylen kembali pada kesibukannya bekerja di sebuah restoran hotel mewah di ibukota negara itu. Hylen sudah bertekad mengubur utuh harapan hatinya pada Kenjiro untuk kesekian kalinya dan menyiapkan hatinya untuk dijodohkan oleh kakeknya.
Namun hati seorang wanita yang telah jatuh cinta sejak remaja nyatanya tidak mudah untuk dibuang dan dikubur begitu saja. Cinta pertama itu sangat melekat di hati Hylen.
"Hylen! Cumi mu hangus!" Seru Jojo saat Hylen kembali memasak sambil melamun.
"Astaga! Sial!!" Rutuk Hylen pada dirinya sendiri lalu membuang cumi itu dan segera menggantinya dengan yang baru, dia kembali memasaknya dengan konsentrasi penuh.
"Apa yang terjadi padamu? Seminggu ini kau semakin tidak fokus pada masakanmu!" Tegur Jojo saat jam istirahat.
"Entahlah, aku rasanya butuh berlibur ke tempat yang jauh dari negara ini." Sahut Hylen sambil menyesap minuman di hadapannya.
"Gila! Berkhayal saja terus! Berlibur ke luar negeri memangnya berapa tabunganmu?!" Seru Jojo seraya menoyor kepala Hylen.
Di seluruh hotel itu memang tidak ada yang mengenali siapa Hylen sebenarnya, karena anak perempuan Gongzie tidak ada yang pernah sekalipun muncul di acara apapun dan tidak pernah dipublikasikan.
"Mimpi boleh saja Jo, tidak melanggar hukum apapun." Sahut Hylen menghela napas panjang, mengatur dirinya untuk lebih bersabar dan pasrah.
"Hylen.. Hylen.... mimpi di siang hari itu sama dengan menunggu monyet bertelur! Tidak mungkin jadi kenyataan sampai kapanpun!" Seloroh Jojo sambil tertawa terkekeh.
Hylen hanya tersenyum, Jojo benar, memimpikan hidup bersama Kenjiro hanyalah mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata. Hylen menghela napas panjang lalu berjalan masuk kembali ke dapur, Jojo pun hanya mengekor di belakangnya, karena waktu istirahat mereka sudah selesai.
######
"Kenjiro!" Seru Lady Lou mulai kesal dengan pria itu yang selalu acuh dan lebih memilih memperhatikan smartphone nya sejak tadi.
"Ah! maafkan aku." Sahut Kenjiro.
"Aku sudah memanggilmu beberapa kali! Bagaimana menurutmu dengan bunga ini?" Ucap Lady Lou dengan merengut namun tetap menahan rasa kesalnya dan bertanya pendapat Kenjiro tentang bunga yang akan dipakai sebagai dekorasi saat pertunangan mereka.
"Olivia, aku memang sangat menyukai bunga lily, tapi untuk kali ini aku tidak ingin memakai lily, pilihlah bunga lainnya." Sahut Kenjiro dan mendapat tatapan bingung dari Lady Lou.
"Emmm... baiklah, ganti saja! Berikan saya contoh Bunga yang lainnya." Ucap Lady Lou pada pemilik florist.
Kenjiro menatap pada Lady Lou yang sedang sibuk memilih bunga.
"Huuufftt... Olivia..., Olivia Lou, Putri Tunggal keluarga Lou pemimpin negara kerajaan ini, dia wanita yang akan menjadi istriku, tapi dia bahkan tidak peduli dengan hari ulang tahunku, padahal seluruh media sosialku penuh dengan ucapan selamat dari para netizen."
Batin Kenjiro dengan menghela napas besar.
Kenjiro pun semakin merindukan seseorang yang selalu bisa membuat dirinya bersemangat dan tertawa selama ini.
######
Malam ini Hylen kembali memutuskan untuk menyendiri ke apartment nya lagi, dia sungguh ingin menyendiri sejak sidang kakek hari itu.
"Iya ma, Hylen baik-baik saja... Besok Hylen usahakan pulang ke rumah ma." ucap Hylen di telepon.
"Apa kau yakin? Mama bisa meminta ijin pada papa dan menginap disana menemanimu." tanya mama.
"Tidak apa ma, Hylen baik-baik saja, Hylen akan kembali besok sore ke rumah. Mama tenang saja ya."sahut Hylen lagi menenangkan hati mamanya.
"Baiklah kalau kamu masih ingin sendiri. Hati-hati ya nak, ingat! Mama selalu menyayangimu." ucap mama.
"Iya ma, Hylen sudah sampai di apartment, bye ma, Hylen sayang mama."sahut Hylen.
Pembicaraan di telepon pun berakhir dan Hylen segera menekan password di pintunya.
Ceklek.
Hylen segera masuk lalu menutup dan segera mengunci kembali pintu apartment nya.
Klik.
Lampu menyala dan Hylen pun langsung terkejut.
"Astaga! Apa yang kau lakukan disini?! Tidak! Tidak! Bagaimana caramu masuk kemari?!" Seru Hylen pada seorang pria yang duduk dengan angkuh di dekat jendela itu.
"Kau sungguh bertanya bagaimana aku bisa masuk kemari?! Hei! Aku bahkan bisa mengambil semua dana di rekeningmu pada bank manapun Hylen! Sungguh tidak kupercaya, kau mengatakan bahwa semua cintamu padaku hanya masa lalu, tapi buktinya kau masih menggunakan tanggal lahirku untuk semua passwordmu." Sahut pria itu dengan senyum kemenangan.
"Pergilah kak! Jangan buat hidupku sulit lagi! Kuharap kakak tidak lupa dengan ancaman kakek!" Ucap Hylen pada kakak tertuanya itu. Kenjiro.
"Aku tidak lupa. Kau tenang saja, tidak ada yang tahu bahwa aku kemari, aku bahkan menggunakan taxi untuk datang kemari dan menutup wajahku dengan hoodie dan topi." Sahut Kenjiro sambil melangkah menuju ke lemari pendingin dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Aku hanya ingin merayakan ulang tahunku bersamamu, kemarilah temani kakak tertuamu yang kesepian ini." Ucap Kenjiro membawa sebuah mini tart di tangannya.
"Bagaimana jika aku tidak pulang kemari?" Tanya Hylen sambil meletakkan tas nya dan melangkah mendekat ke Kenjiro.
"Aku pasti akan menghantui tidurmu." Sahut Kenjiro sambil tersenyum lebar.
Hylen pun akhirnya ikut tersenyum mendengarnya. Mereka pun bersama menuju ke meja pantry lalu Kenjiro meletakkan mini tart itu di atas meja, dan menyalakan lilinnya.
"Kau harus menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Ayolah.... kumohon..." Pinta Kenjiro dan Hylen pun tersenyum menggelengkan kepalanya, tapi Kenjiro justru memasang raut wajah memohon seolah anak kecil yang sedang merajuk.
"Baiklah..., astaga..., dimana kekasihmu kak? Seharusnya kau meminta ini padanya." Ucap Hylen tapi Kenjiro justru semakin memohon dengan kedua tangan bertautan di depan dadanya.
Hylen pun akhirnya menyanyikan lagu happy birthday untuk Kenjiro, dan diakhiri dengan Kenjiro yang meniup lilin, lalu keduanya bertepuk tangan dan tertawa bersama.
Kenjiro mengambil sebuah pisau kecil dan piring kecil dari laci kitchen set, memotong sebagian kecil tart itu dan memberikannya pada Hylen.
"Terima kasih." Ucap Hylen menerima potongan tart itu.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau selalu bisa mengembalikan hidupku." Sahut Kenjiro menatap lembut Hylen, membuat Hylen selalu menunduk tidak mampu menerima tatapan lembut pria itu.
Entah mengapa sikap Hylen itu selalu membuat hangat hati Kenjiro dan membuatnya tersenyum.
"Mengapa kau tidak merayakan bersama Lady Lou?" Tanya Hylen masih dengan menunduk dan memainkan potongan tart di depannya.
__ADS_1
"Dia bahkan tidak peduli ini hari ulang tahunku, memberi ucapan saja tidak, padahal seharian ini aku bersamanya memeriksa berbagai persiapan acara pertunangan kami." Keluh Kenjiro.
"Ouw iya, bagaimana dengan persiapan pertunangannya? Maaf aku tidak bisa membantu apapun, kita semua tahu bagaimana kakek terhadapku." Ucap Hylen.
"Entahlah, aku hanya mengikuti segala kemauan wanita itu saja, apapun kecuali satu hal, aku tidak memperbolehkannya untuk memasang satu tangkai pun bunga lily." Sahut Kenjiro.
"Mengapa tidak? Bukankah kakak sangat suka bunga lily?" Tanya Hylen.
"Karena aku tidak berhasil menikahi gadis yang membuatku suka dengan bunga lily." Sahut Kenjiro dan Hylen pun terkejut mendengarnya, hingga mengangkat wajahnya dan menatap Kenjiro di hadapannya.
Keduanya saling bertatapan dengan ingatan yang sama pada masa lalu.
Flashback ON.
Seorang anak laki-laki remaja sedang duduk menangis di bawah sebuah pohon besar di taman belakang. Ayah dan ibunya barusaja meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan bisnis.
Seorang gadis yang belum remaja melihatnya lalu segera berlari ke taman belakang mansion kakeknya itu sambil membawa serangkaian bunga lily putih di tangannya, menghampiri anak laki-laki itu dan menepuk pundaknya.
"Kenapa kakak menangis?" Tanya gadis kecil itu.
"Tentu saja aku menangis! Apa kau tidak tahu?! orang tuaku barusaja dikubur! Mereka pergi meninggalkan aku sendirian!" Sahut anak laki itu dengan kesal dan kembali menangis sambil menyembunyikan wajahnya pada kedua lututnya yang ditekuk.
Gadis itu tersentuh hatinya, menatapnya lalu menepuk pundak anak laki itu sambil memberikan rangkaian bunga Lily yang ditangannya.
"Ini untukmu, kata mama bunga Lily putih itu melambangkan kesetiaan, mulai sekarang aku yang akan menemani kakak setiap hari. Jangan menangis lagi ya, aku akan menghibur kakak dan mengajakmu bermain setiap hari." Hibur gadis itu.
"Memangnya kau bisa bermain apa untuk menghiburku?!" Tanya anak laki itu masih dengan sinis.
"Ehm... aku suka memasak, aku sering membantu nenek memasak, aku akan buatkan kakak masakan apapun yang kakak suka." Sahut anak perempuan.
Laki-laki remaja itupun menghapus airmatanya dan berterima kasih. Gadis itu duduk di sampingnya dan tersenyum lebar menatap padanya.
"Kakak juga bisa jadi anak dari papa dan mamaku." Hibur gadis itu lagi.
Anak laki-laki itupun mengangguk dan tersenyum lebar.
"Aku suka dengan senyuman kakak, jangan pernah menangis lagi ya, bunga Lily ini bunga yang selalu mau menemani siapapun! seperti aku." Ucap gadis itu lagi dengan polos dan tersenyum lebar.
Flashback OFF.
Ingatan masa lalu itu berhasil membuat air mata mengalir di pipi Hylen dengan seenaknya. Kenjiro pun tersenyum dan mengusap lembut pipi Hylen.
"Jangan menangis, ini hari ulang tahunku bukan hari kematianku." Ucap Kenjiro memberikan senyumannya.
Hylen segera meraih tisue di dekatnya dan menghapus airmatanya, lalu tersenyum lebar namun sesuatu terlintas dan mengejutkannya.
"Astaga! Kenapa kakak tadi tidak mengucapkan doa permohonan dulu sebelum meniup lilin?! Ach! Kacau! Ayo nyalakan lagi lilinnya dan ucapkan doa permohonan kakak lalu tiup lagi lilinnya!" Seru Hylen sambil meraih korek api di dekatnya dan menyalakan lilin Tart itu lagi.
"Ah sudahlah! Untuk apa? Permohonan ku sudah tidak akan berlaku lagi." tolak Kenjiro hendak mematikan nyala lilin itu.
"Eeeh.... ya sudah biar Hylen saja yang tiup lilinnya." Ucap Hylen lalu memejamkan matanya seolah berdoa dan dilanjutkan dengan meniup lilin itu.
"Tidak boleh diberitahukan pada siapapun jika ingin terkabul." Sahut Hylen menolak menjawab pertanyaan Kenjiro.
"Ya semoga itu bisa terkabul dan kau bisa bahagia." Ucap Kenjiro, keduanya pun tersenyum lebar bersama.
"Aku merindukan masakanmu, kau
masaklah untuk perayaan ulang tahunku malam ini." Pinta Kenjiro lagi.
"Kau ini memang suka memberi perintah, dasar menyebalkan!" Rutuk Hylen.
"Ayolaaah.... ini mungkin akan menjadi ulang tahunku yang terakhir bisa bersamamu Hylen." Bujuk Kenjiro.
"Baiklah, kau ingin kubuatkan masakan apa?" Sahut Hylen pada akhirnya.
"Aku ingin makan Tahu Mapo, dumpling, dan ramen tentunya." Ucap Kenjiro.
"Aku tidak memiliki bahan-bahan yang lengkap untuk semua itu." Sahut Hylen.
"Aku sudah membelinya lengkap, ada di dalam lemari pendingin mu." Ucap Kenjiro tersenyum menang.
"Ck! Dasar kau ini!" Rutuk Hylen kesal namun dia langsung menuju ke lemari pendingin dan segera menyiapkan bahan-bahan memasaknya juga memakai celemek.
"Kau terlihat cantik memakai celemek itu. Andai aku tidak ceroboh waktu itu pasti kita masih sering memasak bersama nenek saat ini." Ucap Kenjiro.
Hylen berhenti sesaat dari kesibukannya memasak, ingatan masa lalu kembali dihadirkan oleh Kenjiro, dan ingatan yang kali ini sungguh membuat jantung Hylen berdetak memburu membuat gelenyar aneh dalam dirinya.
Flashback on
Sejak kejadian bunga Lily itu, Hylen sering mengajak Kenjiro bermain memasak bersama nenek di dapur. Semua senang dengan masakan Hylen. Semua berjalan baik hingga bertahun-tahun berlalu, kedekatan Kenjiro dan Hylen tidak ada yang mempermasalahkan.
Namun suatu ketika saat Hylen mulai berusia 15 tahun, dan Kenjiro berusia 20 tahun, semua mendadak berubah karena sebuah kejadian fatal.
Saat memasak bersama, keduanya justru bermain tepung dan membuat dapur berantakan, membuat nenek marah dan meninggalkan mereka berdua di dapur, menghukum mereka untuk membersihkan dapur tanpa bantuan pelayan.
Entah apa yang Hylen rasakan, mendadak dia mengecup pipi Kenjiro saat posisi mereka sangat dekat. Entah apa juga yang membuat Kenjiro lantas justru menarik pinggang Hylen dan mencium bibirnya, menghisap bahkan ********** lembut. Hylen terkejut dan membelalakan matanya namun hanya diam tidak melawan, bahkan saat tangan Kenjiro yang lainnya mulai menahan tengkuknya, Hylen justru membalas ciuman itu.
"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?!!"
teriakan kakek langsung membuat keduanya melompat terkejut.
"Jadi seperti ini yang kalian lakukan saat hanya berdua?!!!" Seru kakek lagi dan Hylen hanya diam menunduk.
"Tidak kakek, itu tidak seperti yang kakek pikirkan. Ini salahku kakek, bukan Hylen. Dia tidak bersalah apapun! Ini juga pertama kalinya bagi kami!" Sanggah Kenjiro mencoba memberi penjelasan.
"Kalian berdua ikut kakek ke ruang tengah!" Perintah kakek dan keduanya mengekor di belakang orang tua itu.
__ADS_1
"Lucy! Panggil kedua orang tua Hylen kemari!" Perintah kakek pada kepala pelayan.
Sidang pun berlangsung, seperti biasa anak perempuan tidaklah ada artinya. Kakek menyalahkan Hylen atas kejadian itu, menuduhnya telah menggoda Kenjiro, bahkan mengatai Hylen sebagai gadis genit penggoda pria. Hari itu juga Hylen dan keluarganya diperintahkan pindah ke mansion yang lainnya dan melarang Hylen datang ataupun berkunjung ke mansion kakek meski pada acara keluarga apapun.
Tak ada satupun yang mampu melawan keputusan kakek.
"Hylen, maafkan aku." Ucap Kenjiro saat Hylen sedang menarik kopernya untuk keluar dari mansion itu.
Namun Hylen hanya tersenyum pada Kenjiro.
"Aku tidak apa-apa kak, mungkin kakak sebaiknya minta maaf pada mama dan papaku." Sahut Hylen tersenyum.
Kenjiro pun segera mendekati kedua orang tua Hylen.
"Paman, bibi, maafkan aku." Ucap Kenjiro dengan menunduk penuh penyesalan.
"Sudahlah, tidak akan ada masalah apapun dengan kami dan Hylen. Justru dirimulah yang sekarang harus bisa menjaga diri baik-baik. Paman dan bibi tidak bisa lagi bersamamu. Baik-baiklah bersikap pada kakek dan nenek, mereka sangat menyayangimu Kenjiro." Ucap ayah Hylen sambil menepuk lengan Kenjiro.
Ayah dan ibu Hylen pun memeluk Kenjiro dengan erat lalu mereka melangkah keluar dari mansion kakek bersama dengan Hiro dan Hylen. dibelakangnya.
"Aku berjanji akan datang menjemputmu saat kau berhasil menjadi chef hebat." Janji Kenjiro sambil memberikan setangkai bunga Lily warna putih pada Hylen dan mereka pun berpisah untuk pertama kalinya.
Itulah first kiss Hylen yang telah diambil oleh Kenjiro, begitupun sebaliknya.
Flashback OFF
"Pasti menyenangkan masih bisa satu atap denganmu dan memasak bersamamu." Ucap Kenjiro lagi.
"Sudahlah kak, semua itu hanya masa lalu, tidak bisa diulang untuk diperbaiki. Lagipula sudah kukatakan aku tidak menyesal first kiss ku diambil olehmu, daripada orang yang tidak kukenal." Ucap Hylen sadar dari lamunan masa lalunya.
Hylen kembali melanjutkan memasak sedang Kenjiro masih menikmati pemandangan di hadapannya, sambil tersenyum.
"Mengapa aku merasa takut jika dia sampai dicium oleh pria lain? Rasanya aku tidak rela jika harus melihatnya dengan pria lain apalagi sampai mengacuhkan dan melupakan aku."
Batin Kenjiro.
Beberapa menit setelah menunggu dengan asik nya menatap Hylen, akhirnya makanan pun tersaji di hadapannya sesuai permintaannya.
"Selamat makan.." ucap Hylen sambil duduk di hadapan Kenjiro.
"Terima kasih, aku sudah sangat lapar." Sahut Kenjiro.
Keduanya makan malam bersama sambil bercanda hingga semua makanan itu bersih dari semua piring.
"Kau tetap saja sama, selalu menjadi monster yang suka makan!" Ejek Hylen tersenyum.
"Siapa suruh masakanmu selalu enak seperti masakan nenek!" Sahut Kenjiro dan Hylen tersenyum merona merah wajahnya.
"Aku sudah lelah memasak, aku butuh membersihkan diri, jadi kau bertugas membersihkan meja dan semua piring kotor ini!" Ucap Hylen sambil berjalan ke kamar tanpa menunggu respon Kenjiro.
"Hei! Aku ini pewaris besar keluarga Gongzie! Apa kau tidak salah menyuruhku membersihkan semua ini?!" Seru Kenjiro namun tidak digubris oleh Hylen yang segera menutup pintu kamarnya.
Kenjiro hanya menghela napas menatap segala piring kotor itu lalu melakukan segala ucapan Hylen yang memberinya tugas.
Hylen selesai mandi dengan segarnya dan keluar kamar dengan pakaian santainya, kaos dengan ukuran kebesaran dan celana setengah paha. Dia kembali menemani Kenjiro di ruang TV.
"Kau tidak pulang kak?" Tanya Hylen karena hari semakin larut malam.
"Apa kau sedang mengusirku?" Kenjiro balik bertanya, Hylen menatap jengah lalu memilih diam menoleh ke acara TV di hadapan mereka.
"Hylen, larilah bersamaku, temani aku kabur dari perjodohan ini." Ucap Kenjiro mendadak Hylen sangat kaget.
"Jangan gila kak! Hilangkan pikiran gila dari otakmu itu!" Seru Hylen mendelik pada Kenjiro.
"Apa kau sudah tak ingin berada di dekatku lagi?" Tanya Kenjiro dengan menatap serius pada Hylen.
"Aku sudah terbiasa jauh darimu selama tujuh tahun ini." Sahut Hylen.
"Hylen, apa kau memang sudah tidak mencintaiku?" Tanya Kenjiro.
"Bagaimana denganmu kak? Bukankah kakak yang menolak cintaku lima tahun yang lalu dan membuat kakek semakin membenciku? Lalu sekarang apa kak? Untuk apa kakak bertanya hal itu?" Hylen balas bertanya.
FLASHBACK ON
Lima tahun yang lalu Hylen memaksa untuk bertemu dengan Kenjiro sebelum berangkat pergi melanjutkan ke perkuliahan di luar kota. Hylen menyatakan cintanya pada Kenjiro, namun belum sempat Kenjiro menjawabnya, sang kakek telah menemukan mereka dengan sangat marah. Tentunya marah pada Hylen, dan di saat itulah Kenjiro langsung berkata pada kakeknya untuk melepaskan Hylen dan tidak memperdulikan ucapan Hylen dengan alasan karena Kenjiro pun tidak peduli dengan perasaan Hylen.
Hylen memang bebas terlepas dari amarah dan hukuman kakek, tapi dirinya justru terluka sangat dalam dengan ucapan Kenjiro.
Kakek dan para pengawalnya pergi diikuti oleh Kenjiro, meninggalkan Hylen, gadis remaja 17tahun yang patah hati itu sendirian menangis bahkan hingga malam hari sampai mama nya datang menemukan dia disana dan mengajaknya pulang.
FLASHBACK OFF
Kenjiro juga tidak pernah melupakan kejadian itu, hatinya juga terluka tapi dia harus bisa melindungi Hylen dari hukuman kakek, apapun itu akan dia lakukan supaya Hylen tidak menerima hukuman dari kakek mereka dan dinikahkan dengan pria pilihan kakeknya.
"Aku telah melukaimu begitu dalam, tapi mengapa kau tidak membenciku?" Tanya Kenjiro.
"Membencimu sama dengan membenci hidupku sendiri." Sahut Hylen berdiri dari sofa dan berjalan ke arah pintu balkon menatap keluar.
"Kau tahu kak? Sejak pertama aku melihat kau tersenyum di bawah pohon itu, tiap hari dalam hidupku seolah hanya untuk melihat senyumanmu. Aku hanya hidup untuk menepati janjiku padamu saat itu, janji untuk setia seperti bunga Lily, janji tidak pernah meninggalkanmu. Entah itu cinta atau bukan, tapi yang jelas aku tidak bisa membencimu." Ucap Hylen dengan helaan napas panjangnya.
Dua lengan kekar melingkar di perut Hylen dari belakang. Hylen terkejut tapi dengan nyaman menerima pelukan itu, dia merasa sangat membutuhkan hal itu saat ini. Hylen memejamkan matanya bersandar pada dada kokoh itu, tidak peduli segala hal lainnya.
"Hari itu aku juga terluka Hylen, karena sesungguhnya aku juga mencintaimu." Ucap Kenjiro lembut dan membuat Hylen membuka matanya lagi.
Haruka membalikkan badannya menghadap ke Kenjiro dan menatap matanya. Kenjiro menatap ke bawah membalas tatapan Haruka itu.
__ADS_1
######