Tradisi Takdir

Tradisi Takdir
03


__ADS_3

"malam itu aku juga terluka Hylen, karena aku juga mencintaimu." Ucap Kenjiro lembut dan membuat Hylen membuka matanya lagi.


Hylen membalikkan badannya menghadap ke Kenjiro dan menatap matanya. Kenjiro menatap ke bawah membalas tatapan Hylen itu.


"Apa kak? Coba katakan lagi! Apa yang kakak katakan barusan?!" Tanya Hylen masih ragu dengan pendengarannya sendiri.


"Aku mencintaimu Hylen, aku sangat mencintaimu, sejak dulu semua yang kulakukan hanyalah untuk melindungi dirimu dari hukuman kakek, supaya kau tidak menikah dengan pria manapun, sambil aku membangun kekuasaanku sendiri terlepas dari harta Gongzie." Sahut Kenjiro.


"Melindungiku dengan melukai hatiku?! Melindungiku dengan meninggalkan aku yang hancur sendiri karena penolakanmu?! Melindungiku supaya tidak menikah dengan pria lain, tapi kau justru akan menikah dengan wanita lain?! Apa maksudmu kak?! Apa?!" Tanya Hylen dengan mendadak emosional.


"Maafkan aku, maafkan aku Hylen. Aku juga tidak menginginkan perjodohan ini Hylen, maka itu pergilah bersamaku, kita bisa membangun keluarga kita sendiri tanpa segala kuasa kakek, pergi jauh dari semua tradisi gila ini!" Ucap Kenjiro.


"Tidak! Kau sudah gila kak! Kau akan menjadi miskin bahkan lebih miskin dari para tunawisma di jalanan, jika kau lakukan itu! Kau tidak akan sanggup kak! Kau tidak akan bisa menjalani hidup seperti itu setelah selama berpuluh tahun ini kau hidup dalam keluarga Gongzie yang berlimpah segalanya!" Sanggah Hylen.


"Apa kau tidak mau menerima dan mencintaiku yang miskin?" Tanya Kenjiro.


Hylen keluar dari tangan Kenjiro melangkah menuju pintu apartment.


"Bukan itu yang kumaksud kak, lebih baik sekarang kakak pulang dan membersihkan otak kakak sehingga bisa berpikir dengan baik." Ucap Hylen sambil membuka pintu apartmentnya memberi kode pada Kenjiro untuk pulang.


Kenjiro menghampiri Hylen, menatapnya sejenak, lalu melangkah keluar dari pintu itu.


Hylen menyembunyikan tangisnya seperti biasa dengan menunduk sambil menutup pintu apartmentnya.


Dugh!


Pintu itu tertahan oleh sebuah kaki hingga tidak menutup sempurna.


Kenjiro mendorong pintu itu dan masuk kembali ke dalam, langsung meraih tengkuk Hylen dan ******* bibirnya, kakinya menendang pintu apartment itu hingga kembali tertutup rapat.


Kenjiro mengurung Hylen diantara tubuhnya dan pintu apartment. Ciuman itu terus berlanjut karena Hylen juga membalas bibir itu, saliva bercampur dengan airmata Hylen terus mereka nikmati bersama.


Hhhh...hhhhhh....hhhhh...


Napas keduanya tersengal memburu bersamaan saat bibir mereka terlepas, namun nyatanya ciuman itu belum memuaskan keduanya, bibir mereka kembali terus mencari dan mendapatkan nya lagi.


Keduanya bagai mendapat sengatan gairah yang meluap akibat dari ciuman itu. Perasaan cinta yang terungkap dari hati keduanya terus meningkatkan hormon gairah dalam diri keduanya.


Kenjiro kini turun menikmati rahang lalu leher Hylen, dan sangat diberi akses bebas oleh Hylen.


Eeuughhh....


Hylen mendesah, Kenjiro pun semakin ingin lebih lagi.


Kenjiro naik menjilat telinga Hylen.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu Hylen." Bisiknya lembut membuat Hylen memejamkan matanya merasakan gelenyar yang menggetarkan tubuhnya.


"Kaaaak...." Desah Hylen menikmati bibir dan lidah Kenjiro yang kembali menjelajah di lehernya dengan tangan Kenjiro yang terus mengusap punggung dan tengkuknya.


"Aku menginginkanmu Hylen, sial! Aku sungguh tidak bisa menahannya lagi." Bisik Kenjiro dan langsung mengangkat bokong Hylen, menggendongnya bagai koala sambil berjalan dan ******* rakus bibir manis gadis itu.


Hylen melingkarkan kedua lengannya di leher Kenjiro, membalas pergerakan bibir pria itu.


"Sadarlah Hylen! Dia akan bertunangan dengan wanita lain!"


Otak Hylen mencoba berpikir logis. Otaknya segera menjadi pengingat keras dari nurani nya.


"Kaaak..., Tidak kak, tidak! Kita tidak boleh seperti ini kak!" Ucap Hylen sambil mendorong tubuh Kenjiro dan berusaha turun dari gendongan pria itu.


Kenjiro pun melepaskan tubuh Hylen, perlahan menurunkannya tepat di depan pintu kamar Hylen.


Keduanya hanya diam saling menatap dalam napas yang memburu bersama dengan wajah yang hanya berjarak 5cm.


"Jangan merusak hidupmu kak, berbahagialah dengan Lady Lou. Kebahagiaan kakak juga adalah kebahagiaanku." Ucap Hylen memecah keheningan.


"Aku hanya bahagia saat bersamamu Hylen, aku merasa hidupku kuat saat dekat denganmu Hylen. Bagaimana aku bisa bahagia dengan wanita itu? Hari ini buktinya, dia bahkan tidak peduli dengan hari ulang tahunku, dia menikah denganku hanya untuk sebuah prestige saja. Kau pikir, bagaimana aku bisa bahagia dengannya?" Sahut Kenjiro bertanya.


"Setidaknya kakak masih bisa mendapat hidup yang layak. Bagaimana aku bisa bahagia? Jika orang yang aku cintai hidup menderita dalam kesusahan dan kekurangan hanya demi bersama denganku. Aku tidak mau egois kak, kita  telah terbiasa mencintai dari jauh kak, jadi biarlah semua tetap seperti ini." Ucap Hylen menangkup kedua sisi wajah Kenjiro.


Airmata mengalir di wajah keduanya, pasangan yang tidak pernah bisa berjodoh karena sebuah tradisi keluarga.


Kenjiro juga menangkup wajah Hylen dengan kedua tangannya.


"Aku tetap memegang janjiku, aku pasti datang menjemputmu saat kau berhasil menjadi chef hebat dan terkenal." Sahut Kenjiro lalu mengecup kening Hylen dengan lembut.


"Rahasia kita?" Ucap Hylen sambil mengacungkan kelingkingnya ke hadapan Kenjiro dengan tersenyum lebar.


"Rahasia kita." Sahut Kenjiro sambil terkekeh dan mengaitkan kelingkingnya pada jari Hylen.


Kenjiro menatap Hylen dengan mendalam, yang selalu membuat Hylen kalah dan memilih menundukkan kepalanya.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini, aku sungguh gemas melihatmu." Ucap Kenjiro lalu mengusap puncak kepala Hylen, berjalan ke arah pintu apartment dan keluar dari sana dengan Hoodie, topi dan kacamata yang menutupi wajahnya.


Hylen bernapas besar, entah lega, entah kecewa, entah tidak rela, apapun itu rasanya Hylen sungguh hanya bisa menghela napas besar.


######


Seminggu sudah Hylen dan Kenjiro kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Hari ini adalah harinya dilaksanakan pertunangan antara putri tunggal dari pemimpin kerajaan ini dengan putra pewaris besar keluarga bangsawan no.1 di kerajaan ini.

__ADS_1


Semua liputan berita hanya menayangkan segala persiapan acara itu. Mulai dari persiapan masing-masing mempelai hingga persiapan dari para vendor yang ikut mendukung segalanya.


Hylen sengaja mengambil double shift untuk menyibukkan dirinya dari segala kenyataan pahit hidupnya, namun nyatanya dia sama sekali tidak bisa menghindari kenyataan yang ada, saat junior chef nya justru heboh menyaksikan tayangan di televisi tentang acara pertunangan itu.


Hylen pun akhirnya berhenti sejenak untuk melihat ke arah televisi saat tiba prosesi pertunangan megah itu. Dia melihat betapa tampan dan gagahnya Kenjiro pada acara itu, namun satu hal yang membuat semua orang yang menyaksikan itu bertanya-tanya, mengapa tidak pernah sekalipun tuan muda itu tersenyum sejak persiapan pagi tadi.


"Ich wajahnya dingin sekali ya, aduuhh... nikah sama tuan putri aja tetap tidak bisa tersenyum ya, apalagi dengan kita-kita ya??" Seloroh candaan salah satu junior chef.


"Iya mungkin dia tertekan karena akan diberikan tanggung jawab sebagai penerus pemimpin kerajaan ini." Sahut yang lainnya.


"Kemungkinan dia merasa berat menjalani perjodohan antar keluarga ini, biasalah semuanya hanya demi prestige dan kelancaran bisnis. Kasihan juga melihat mereka berdua hanya menjadi boneka bagi keluarga mereka." Ucap seorang yang lain lagi.


Banyak komentar tentang acara megah itu, tapi semuanya memang dapat melihat tidak ada kebahagiaan di wajah Kenjiro, terlebih lagi di mata Hylen sangatlah terlihat bahwa pria itu memang tidak ingin melakukan perjodohan itu.


Hylen pun segera meraih ponselnya dan mengetik sebuah pesan lalu mengirimnya pada Kenjiro.


"Tersenyumlah kak, setidaknya biarkan aku melihat senyumanmu melalui kamera para media."


Hylen kembali melihat ke televisi lagi,  Kenjiro terlihat merogoh sakunya dan melihat pada ponselnya. Kenjiro terlihat langsung mencari sebuah kamera terdekat yang sedang meliput prosesi pernikahan mereka, lalu menghampirinya.


Semua orang sangat terkejut karena Kenjiro berani meninggalkan Lady Lou di kursinya sendirian, saat acara sedang berlangsung, Kenjiro berjalan hanya untuk melangkah  ke sebuah kamera media lalu tersenyum lebar pada kamera itu, bahkan Kenjiro mengirim sebuah kecupan yang ditempelkan pada hatinya lalu memberikannya pada kamera itu dengan senyuman yang merekah.


Semua yang ada di ruangan itupun langsung berbisik-bisik mengomentari sikap Kenjiro barusan, bahkan para awak media pun segera memberi komentar bertanya apa yang sebenarnya Kenjiro lakukan barusan? Siapakah yang mendapat kecupan dari hati Kenjiro tadi? Siapakah yang barusaja menghubungi ponsel Kenjiro? Mungkinkah ada wanita lain selain Lady Lou dalam hidup Kenjiro?


Berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh pihak media itu sungguh membuat suasana pertunangan itu menjadi ricuh.


Lady Lou nampak cemberut dan mengomel pada Kenjiro, saat pria itu kembali duduk di kursi sampingnya. Namun Kenjiro tidak menggubris sedikitpun reaksi Lady Lou padanya, Kenjiro kembali duduk dengan diam.


"Astaga kak! Kau memang selalu senang membuat masalah!"


Batin Hylen menghela napasnya besar namun dengan tersenyum.


"Rahasia kita..."


Kalimat terakhir mereka di pertemuan terakhir mereka kembali terlintas di pikiran Hylen.


"Aku pasti akan menjadi chef hebat kak, dan aku akan menunggumu datang menjemputku di hari itu."


Tekad Hylen dalam hati.


...Berdosa? Ya, Hylen sadar betul bahwa dia tidak lagi boleh mengharapkan seorang pria, yang sebentar lagi akan menjadi suami wanita lain. Hylen tak berhak lagi berharap untuk dapat bersama pria itu lagi....


...Tapi cinta dalam hatinya tidak mampu lagi menyadari bahwa hal itu sangatlah berdosa. ...


...Sebuah rahasia telah terikat antara Hylen dan Kenjiro, mungkinkah keduanya sanggup menjaganya bersama, dan menjadikannya sebuah hal nyata dalam kehidupan nyata mereka????...

__ADS_1


...#####...


__ADS_2