
Feng sungguh mempertaruhkan nyawanya juga bukan hanya pekerjaannya saja. Demi membantu Tuan muda Kenjiro yang telah sangat disayanginya sejak tuan mudanya itu masih kecil.
Feng melakukan penyamaran seorang diri, dia sungguh tidak bisa percaya pada siapapun untuk misi nya yang satu ini. Feng menyamar sebagai seorang kurir paket, lalu mulai masuk ke gedung apartment dimana Hylen tinggal.
Feng meletakkan paket yang berisi sebuah surat dan juga perlengkapan penyamaran untuk dipakai oleh Hylen saat datang ke tempat Kenjiro, demi menghindari pengawasan dari para pengawal kerajaan dan juga keluarga Gongzie.
Feng segera pergi dari sana dengan tetap tenang dalam penyamarannya. Feng sengaja mengawasi paket itu dari kejauhan melalui sebuah kamera mikro CCTV yang dia pasang pada paket itu.
"Bagus, paketnya sudah tiba di apartment nona Hylen dan langsung diterima olehnya sendiri." batin Feng tersenyum lega.
Hylen terlihat bingung dengan paket yang datang atas namanya. Hylen segera membawanya masuk dan membukanya di dalam kamarnya. Hylen sangat terkejut, saat melihat isi paket itu dan isi surat dalam paket itu.
Ada sebuah keraguan dalam diri Hylen tentang rencana penyamaran ini. Tapi dia juga butuh untuk bertemu Kenjiro terakhir kali sebelum besok pagi dia harus pergi meninggalkan negara kelahirannya ini, bahkan berganti identitas menjadi pribadi yang sangat baru dengan asal usul yang juga baru.
Hylen terus berjalan kesana kemari, berhenti sejenak melihat ke arah isi paket itu lalu kembali berjalan lagi. Hylen sungguh sangat gelisah dan bingung akan apa yang harus dia lakukan saat ini.
Setelah hampir satu jam Hylen berpikir keras, akhirnya dia memutuskan untuk memakai alat penyamaran itu. Hylen segera masuk ke kamar mandi dan mengganti penampilannya sungguh sangat berbeda dari penampilan dirinya yang biasanya.
Sepintas keraguan hadir lagi di hati Hylen saat menatap penampilannya saat ini. Pakaian mini dress sexy dan rambut panjang dengan warna coklat kemerahan yang mengikal di ujung bawahnya, sepatu high heels yang tak pernah dia pakai sebelumnya. Dia benar-benar terlihat seperti seorang wanita malam yang siap untuk berangkat bekerja. Hylen menarik napas panjang dan membulatkan tekadnya untuk menemui Kenjiro dalam penyamaran itu.
"Pelayan Feng sungguh berpikir bahwa aku bisa memakai semua ini huh?!" keluh Hylen lalu mencoba berlatih berjalan secara normal dengan high heels di kakinya itu.
Selesai mencoba berjalan dengan lancar, akhirnya hari sudah menjelang tengah malam, Hylen sungguh terlihat wanita bayaran yang sudah waktunya berangkat bekerja.
Hylen segera bergegas, namun dia tidak pergi ke apartment Kenjiro. Pelayan Feng sengaja meminta Kenjiro untuk menunggu Hylen di sebuah villa yang agak jauh dari kota. Feng terus mengikuti taxi yang dinaiki oleh Hylen, hingga akhirnya saat mulai masuk ke jalan yang sepi, Feng segera mencegat taxi itu, dan meminta Hylen untuk berpindah mobil. Feng tidak mau beresiko dengan pakaian sexy Hylen saat ini berada di dalam taxi di daerah yang sepi.
Hylen pun segera berpindah mobil, lalu bersama pelayan Feng menuju ke sebuah villa dimana Kenjiro sudah menunggunya.
Hylen menatap ragu pada villa itu sebelum turun keluar dari mobil Feng.
"Paman Feng...." ucap Hylen penuh keraguan.
"Nona, Tuan muda sudah menunggumu." sahut Feng menunjuk dengan dagunya ke arah Kenjiro yang sudah berdiri di depan pintu villa, dan mulai melangkah ke arah mobil Feng.
"Bagaimana jika ini memang sebuah kesalahan?" tanya Hylen tetap menatap ke arah Kenjiro yang semakin mendekati mobil.
"Kesalahan atau bukan, yang jelas Tuan mudapasti akan gila jika tidak bertemu denganmu malam ini, karena mulai besok Tuan muda tak akan pernah bisa melacak keberadaan anda." sahut Feng.
__ADS_1
Hylen segera membuka pintu di sisinya, tepat satu detik sebelum langkah Kenjiro terakhir mencapai mobil itu. Hylen segera turun keluar dari mobil.
Kenjiro segera memeluk Hylen dengan sangat kuat, membuat pelayan Feng segera membawa mobilnya pergi dari villa itu, memberikan waktu bebas bagi keduanya sepanjang malam ini.
Malam terakhir bagi keduanya untuk bisa bersama, karena sebuah tradisi keluarga sudah menuliskan takdir mereka untuk berpisah selamanya.
"Kau sangat cantik malam ini. Aku hampir tidak mengenalimu, jika bukan karena kau datang bersama Feng, maka aku tak akan bisa mengenalimu." puji Kenjiro menatap Hylen dari atas ke bawah.
Kenjiro segera mengajak Hylen masuk ke dalam villa, hari sudah lewat tengah malam, dan waktu kebersamaan mereka sangatlah singkat.
"Hylen, kemarilah." panggil Kenjiro dari arah mini bar di dekat dapur.
"Kau ingin minum apa?" tanya Kenjiro.
"Apa kau punya Cocktail?" Hylen balik bertanya.
"Aku akan membuatkannya untukmu. Duduklah disini dan lihat atraksiku membuat minuman untukmu." sahut Kenjiro tersenyum dan mulai menyiapkan segalanya untuk membuat cocktail bagi Hylen yang juga tersenyum menatapnya
"Masih saja suka pamer dan sombong." sindir Hylen dengan tersenyum lebar.
Kenjiro segera menyodorkan segelas cocktail ramuannya sendiri pada Hylen.
bunyi suara gelas mereka beradu.
Mereka saling menatap dan tersenyum sambil menyesap minuman mereka masing-masing.
"Kak, besok....." panggil Hylen ragu.
"Aku tak ingin membicarakan tentang hari besok." sahut Kenjiro sambil meraih satu tangan Hylen yang tidak memegang gelas.
"Kak, kita tidak seharusnya..."
"Kita tidak seharusnya terpisah, aku akan memenuhi semua kebutuhan kita, kita tidak akan menjadi miskin, kumohon pergilah bersamaku Hylen." sela Kenjiro lagi.
Hylen hanya tersenyum lebar, lalu menguap lebar pura-pura mengantuk.
"Sebaiknya kita segera tidur kak, aku sangat lelah hari ini." ucap Hylen.
__ADS_1
"Ayo, kita tidur." sahut Kenjiro lalu menggenggam tangan Hylen dan mereka melangkah ke kamar bersama.
"Kak..." panggil Hylen sambil menggelengkan kepalanya, menolak untuk tidur dalam kamar yang sama dengan Kenjiro.
"Kita hanya akan tidur Hylen, aku butuh memeluk dirimu sepanjang malam ini, karena aku pasti akan menjadi gila jika tidak melihatmu besok pagi di sampingku." ucap Kenjiro.
Hylen akhirnya menuruti keinginan Kenjiro. Mereka naik ke atas tempat tidur bersama, bahkan tanpa mengganti pakaian mereka. Kenjiro segera membawa tubuh Hylen masuk dalam pelukannya, dengan kepala bersandar pada dada Kenjiro. keduanya langsung memejamkan mata mereka.
Tertidur? tidak. Kenjiro memang telah lelap tertidur setelah yakin bahwa Hylen telah terlelap, namun pada nyatanya Hylen belum terlelap. Perlahan Hylen berusaha keluar dari pelukan Kenjiro. Hylen memuaskan dirinya menatap wajah Kenjiro.
"Semua orang mengkhawatirkan dirimu, takut kau akan menjadi gila, tapi pada kenyataannya setelah malam ini justru akulah yang akan menjadi gila. Apakah masih ada yang memikirkan tentang diriku setelah malam ini? Aku ingin egois kak, tapi aku tak punya siapapun untuk membelaku. Aku tahu kau rela melakukan apapun demi aku, tapi maaf aku tak rela jika harus melihatmu justru hidup menderita karena memilih bersamaku. Untuk saat ini biarlah kita bersama menerima bahwa keputusan kakek yang terbaik. Maafkan aku kak." Batin Hylen lalu perlahan turun dari tempat tidur dan segera menghubungi pelayan Feng untuk segera menjemputnya lagi dan mengantarnya ke Bandara.
Hylen berhasil meninggalkan villa itu tanpa diketahui oleh Kenjiro. Pelayan Feng juga sengaja menjemput di luar area CCTV villa itu, supaya tidak diketahui oleh Tuan nya.
"Terima kasih paman Feng, tolong tetap jaga dia dan selalu berada di sisinya." ucap Hylen dengan airmata yang tak mampu lagi dia tahan.
"Berhati-hatilah nona, anda selalu tahu bagaimana menghubungi ku tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Tuan muda sekalipun." sahut Pelayan Feng dan Hylen mengangguk tersenyum.
Hylen segera masuk ke dalam bandara dan kali ini dengan penampilan yang lain lagi, jauh berbeda dari yang tadi dan dirinya yang seperti biasa. Hylen sengaja merubah total penampilannya supaya Kenjiro tak mampu mencarinya.
****
Kenjiro terbangun dari tidurnya saat matahari baru akan muncul, dia segera mencari keberadaan Hylen, namun tak ditemukannya di seluruh villa dan sekitarnya. Kenjiro segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menuju ke apartment Hylen, namun hasilnya nihil, apartment itu telah kosong. Kenjiro segera menyusul ke bandara dan mencari keberadaan Hylen disana.
"HYLEN!!! HYLEEEENNN!!!!! HYLEEENNNN!!!!" Kenjiro terus berteriak ke seluruh Bandara mencari Hylen.
Kenjiro sudah tak peduli lagi dengan citra dirinya sebagai Tuan muda Gongzie. Dia terus berteriak dan berlari kemanapun ke seluruh Bandara hanya untuk mencari keberadaan Hylen. Pihak Bandara sudah mencoba membantu, tapi nama Hylen tidak terdaftar di data penumpang untuk seluruh jadwal keberangkatan hari ini. Kamera CCTV pun tak ada satupun yang menangkap sosok Hylen diantara semua orang yang ada di bandara sejak malam tadi.
"HYLEEEEEEENNNNNN!!!!!!" teriak Kenjiro panjang dan sekuat tenaga akhirnya dari tengah gedung bandara, tubuh Kenjiro merosot ke bawah saat gadis yang dicarinya tetap tidak muncul menghampiri dirinya.
"Hylen, dimana kau? mengapa aku tak bisa menemukanmu? Hylen, mengapa kau justru pergi meninggalkan aku sendiri? mengapa kau tega melakukan semua ini padaku? mengapa kau tak mau pergi menghilang bersamaku? mengapa? mengapa Hylen?" tangis Kenjiro mencurahkan isi hatinya di tengah gedung Bandara.
Kenjiro tak sadar, bahwa ada seorang gadis yang sedari tadi ikut tersayat hatinya dan harus menahan hatinya diantara banyak orang yang menyaksikan kegilaan Kenjiro. Gadis itu bahkan harus mencengkram kuat tasnya untuk menahan dirinya supaya tidak berlari menghampiri Kenjiro. Hylen mampu menahan dirinya tidak berlari ke Kenjiro, tapi airmatanya tak mampu dia tahan. Hylen menyaksikan sendiri bagaimana gilanya Kenjiro saat ini karena kehilangan dirinya.
"Maafkan aku kak, maafkan aku...." Batin Hylen lalu memilih pergi dari sana dan segera masuk ke dalam pesawat yang akan membawanya jauh dari hidup lamanya dan menjalani hidup baru dengan identitas barunya.
"Berbahagialah kak, lupakan aku..." Batin Hylen dan mulai memejamkan matanya saat pesawat mulai lepas landas dan meninggalkan Bandara itu.
__ADS_1
****
Hai....tolong follow dan comments & like & share story' ku ini ya.... terima kasih 🙏😁