Tradisi Takdir

Tradisi Takdir
04


__ADS_3

Kakek Gongzie ternyata telah mengamati sikap Kenjiro yang mengundang banyak persepsi publik saat acara pertunangan kemarin, yang pada akhirnya membuat keluarga kerajaan memberi teguran keras pada keluarga Gongzie. Kenjiro segera menghapus pesan dari Hylen dalam ponselnya. Tapi kejeniusan dari para detektif kerajaan tetap mampu membongkar siapa pengirim pesan pada Kenjiro kemarin.


Kakek Gongzie segera mengambil tindakan, dia segera menemui Hylen di apartmentnya malam ini.


"Mulai detik ini kau sudah bukan lagi bagian dari keluarga Gongzie. Namamu bahkan telah dihapuskan dari daftar keluarga ayah dan ibumu. Aku memberimu waktu 2 hari untuk kau segera pergi dari negara ini, tanpa sepengetahuan Kenjiro. Jika kau mencoba melawanku, maka pihak kerajaan yang akan langsung bertindak keras pada nyawamu. Jangan pernah berani menganggu Kenjiro lagi selamanya." tegas Kakek Gongzie.


Hylen hanya di dampingi oleh kedua orang tuanya dan kakaknya saja, Hiro.


"Ayah, ijinkan aku memberikan sebagian hartaku pada Hylen, bagaimanapun juga dia adalah putri kandungku, aku sangat menyayanginya. Aku terima jika dia harus meninggalkan negara ini daripada dia harus kehilangan nyawanya di tangan keluarga kerajaan. Tapi aku mohon, biarkan dia membawa sebagian hartaku, lagipula Hiro juga setuju membagi haknya pada Hylen." pinta Ayah Hylen.


Kakek menatap ke arah Hylen yang sedari tadi hanya menunduk, diam dan sangat pasrah tanpa pembelaan diri apapun.


"Baiklah, tapi setelah hari ini dia bukan lagi putrimu dan kalian semua dilarang untuk berhubungan dengannya, apalagi mengunjunginya." sahut kakek dan ayah Hylen hanya menganggukkan kepalanya.


Kakek dan para pengawalnya segera pergi meninggalkan Hylen dan keluarganya disana.


Tangisan sang ibu sudah tak mampu berhenti lagi saat ini, dia terus memeluk Hylen dan tidak rela kehilangan putri kesayangannya.


"Mengapa kau melakukan hal itu Hylen? Tidak bisakah kau jatuh cinta pada pria lain? mama tidak mau kehilangan dirimu." tangis ibunya dan membuat Hiro sebagai kakak laki-lakinya juga ikut menangis dan menutup wajahnya.


"Maafkan Hylen, ma. Maaf, Hylen sudah terikat sebuah janji masa kecil dengan kakak tertua. Maafkan Hylen." sahut Hylen juga dalam tangisnya di pelukan ibunya.


"Hylen, papa sudah menghubungi teman papa di Kota Baru yang ada di negara Barat. Kau bisa tinggal di salah satu property miliknya yang sudah papa sewa untuk 15 tahun. Kau juga bisa langsung bekerja di restoran pada hotel miliknya. Bukan hotel besar, jadi Kenjiro tak akan pernah bisa menemukanmu disana, karena dia tak akan pernah menginap di hotel kecil, lagipula identitasmu juga sudah diubah semua oleh kakek,dan kau telah resmi menjadi warga negara itu, jadi Kenjiro tak akan mungkin bisa menemukan dirimu." ucap ayah.


"Terima kasih pa." sahut Hylen. Ya, dia hanya bisa menerima takdir hidupnya karena sebuah tradisi. Hati Hylen kecewa, karena dia tak akan mungkin bertemu dengan Kenjiro lagi. Dia kecewa pada tradisi yang semakin gila menurutnya.


"Haruskah segala janji yang telah kubuat dengannya dan rahasia kami berdua juga harus ditinggalkan? Aku sudah bukan Hylen Santoso Agung, sekarang aku adalah Brianna Dorothy, putri dari keluarga Paul Henderson yang kini hanya hidup sebatang kara karena kedua orangtuanya telah meninggal dalam sebuah perjalanan wisata Cruise, mengeliling samudera raya.


"Hylen, sampai kapanpun kamu adalah putri kesayangan kami. Meski secara surat hitam di atas putih kau bukan putri kami, tapi ikatan darah kita sekeluarga tidak akan pernah bisa diingkari. Maafkan papa dan mama yang tidak bisa membelamu." sesal ayah.


Hylen memeluk papa dan mamanya, Hiro pun mendekat dan ikut bergabung dalam pelukan terakhir mereka. Mulai besok tidak ada satupun keluarga Gonzie yang boleh menemui Hylen.

__ADS_1


***


"Apa yang kakek lakukan terhadap Hylen?" tanya Kenjiro saat melihat kakeknya barusaja pulang ke mansion utama Gongzie.


"Aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan, bukankah pada akhirnya dia memang harus keluar dari keluarga ini? aku hanya membantunya lebih cepat saja." sahut kakek dengan tenang dan langsung melangkah menuju ke kamarnya melewati Kenjiro begitu saja.


"Kakek! aku sudah mengikuti segala kemauan kakek selama ini, tak bisakah kakek melepaskan Hylen tanpa hukuman apapun?" tanya Kenjiro.


"Bukankah yang kulakukan ini adalah aku sedang melepaskannya tanpa hukuman apapun? mungkin kau salah memahami sikapku." sahut kakek dengan terus berjalan dan hampir masuk ke dalam lift.


"Kalau kakek selalu bertindak semau kakek, maka aku juga akan bertindak sesuai dengan kemauanku sendiri!" tegas Kenjiro.


Kakek pun berhenti melangkah, membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam lift.


"Apa maksud ucapanmu?! apa sekarang kau sudah berani membantah ucapanku?! apa gadis itu sudah menggodamu dengan sangat gila hingga kau berani melawan aku?!" seru kakek langsung penuh amarah.


"Dia bahkan tidak pernah menuntut keluarganya dan aku untuk melakukan apapun demi membela dirinya! Semua ini juga ada hubungan denganku, tapi kenapa kakek hanya mengusirnya saja?! ini sangat tidak adil baginya!" sahut Kenjiro tak kalah keras dengan kakek.


Kenjiro memilih pergi dari mansion, meninggalkan si kakek. Kenjiro sangat ingin bertemu dengan Hylen saat ini, tapi para pengawal Gongzie terlalu dekat mengawal gerak Kenjiro kemanapun atas perintah kakek. Kenjiro akhirnya hanya menuju ke apartment nya sendiri untuk menenangkan dirinya, dia tidak mau semakin membahayakan Hylen.


"Aku juga sudah tak mungkin menghubunginya melalui ponsel, semua sudah diawasi oleh keluarga kerajaan. Apa yang harus kulakukan? Hylen pasti sedang berada di titik terendah hidupnya, tapi aku tidak bisa berbuat apapun." ucap Kenjiro pada sendirinya.


"Maafkan aku Hylen." ucap Kenjiro lagi dengan putus asa pada dirinya.


"mama, papa, seandainya kalian membawaku juga untuk ke Surga, pasti aku tidak akan berada dalam keadaan seperti saat ini." Kenjiro terus berkata sendiri pada dirinya, sambil memejamkan matanya dan bersandar pada sofa. Satu botol minuman bermerk terkenal yang mengandung alkohol telah habis dia minum langsung dari botolnya.


Dua jam kemudian, di hadapan Kenjiro sudah tergeletak hampir 5 botol minuman alkohol. Kenjiro semakin mabuk dan bahkan sudah tak sadarkan diri dengan muntahan yang berserakan menjijikkan di dekatnya.


***


"Selamat malam Tuan muda." sapa seorang pelayan yang berdiri di samping tempat tidur Kenjiro.

__ADS_1


Kenjiro menggeliatkan badannya, kepalanya sangat nyeri dan pusing.


"Jam berapa sekarang?" tanya Kenjiro.


"jam 7 malam, sudah waktunya Tuan muda untuk makan malam." sahut pria itu yang sudah menjadi pelayan pribadi Kenjiro sejak dirinya masih balita, sebelum orang tuanya meninggal.


"Apa maksudmu Feng? bukankah tadi aku juga pergi meninggalkan mansion jam 7?" tanya Kenjiro bingung.


"anda sangat mabuk dan tak sadarkan diri selama 18 jam Tuan muda. sudah seharian anda melewatkan makan malam." sahut pelayan Feng.


"Feng, bisakah kau bantu aku untuk bertemu dengan Hylen, tanpa diketahui oleh kakek dan keluarga kerajaan?" tanya Kenjiro pada pelayan setia nya.


"Maaf Tuan muda, bukankah itu bisa sangat membahayakan Nona Hylen?" nasehat Feng.


"aku tahu Feng, tapi aku harus bertemu dengannya. Dia pasti sedang sangat terpuruk, dikeluarkan dari daftar keluarganya sendiri. Dia sebatang kara Feng." ucap Kenjiro.


"Apa anda tidak tahu? hukumannya bukan hanya sekedar dikeluarkan dari daftar keluarga saja, tapi keluarga kerajaan ingin dia pergi dari negara ini dan tidak lagi menjadi warga negara ini." sahut Feng.


"APA?! Gila! aku harus bertemu dengannya sekarang!" seru Kenjiro terkejut dan segera bangkit dari tempat tidur, tak peduli dengan rasa sakit kepalanya.


"Tuan muda!" seru Feng dengan cekatan memegang tubuh Kenjiro yang limbung hampir jatuh.


"Feng, tolong aku, kumohon padamu Feng... jika aku tak bisa ke tempatnya, bisakah kau membawanya kemari?" pinta Kenjiro.


"Tapi Tuan muda...."


"kumohon Feng." sela Kenjiro pada ucapan Feng.


"Baiklah Tuan muda, saya akan mencoba membawanya kemari." ucap Feng lalu keluar dari kamar Kenjiro.


"kakek sungguh keterlaluan! aku akan membawa Hylen pergi bersamaku! aku tak akan membiarkan dia hidup sendiri di negara orang! tidak akan kubiarkan!" tekad Kenjiro

__ADS_1


****


__ADS_2