
Laska Anugerah
Nadira Pelangi
Airin Alluna
Sepasang suami-istri sedang berjalan bergandengan tangan, mencari makanan yang ingin mereka cicipi di street food.
" Sayang, kita sudah terlalu jauh berjalan dan ini?" Kata Laska menunjukkan bungkus makanan yang dipegangnya. " Sudah banyak sekali yang kita beli apa kamu sanggup menghabiskannya?"
" Kalau Dira nggak bisa menghabiskannya, kan ada mas Laska"
" Tapi kalau sebanyak ini mas juga nggak akan sanggup menghabiskannya, nanti mubazir sayang"
" Ya sudah kita cari tempat untuk memakannya"
" Itu ada tempat di bawah pohon" Ajak Laska, tidak lupa dia menggandeng istrinya untuk menyebrang jalan.
" Emmm sepertinya enak semua mas"
" Kamu itu lapar mata sayang, semua yang terlihat menarik kamu beli"
" Namanya juga dedek bayi yang minta" Kata Dira sambil mulai memakan makanannya.
" Ini bener dedek bayi atau mommy sayang?" Ucap Laska sambil ikut memakan makanan yang telah di buka istrinya.
" Dedek bayi Daddy..."
" Terserahlah yang penting kalian senang, Daddy juga senang"
Sepasang suami-istri itu asyik makan dan bercanda gurau, tidak menyadari kalau dari tadi ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
" Sudah kenyang? ayo kita pulang, hari sudah semakin sore, tidak baik untuk kalian, Daddy bisa di marahi Tuan Lasmana Anugerah"
__ADS_1
Nadira pun mengikuti perintah suaminya, karena dia tau suaminya tidak suka di bantah.
Sampai di rumah, ayah dari Laska sudah menunggu di depan rumah.
" Kalian dari mana saja? Hari sudah sore baru pulang, kamu Laska tidak baik mengajak istri mu yang sedang hamil pulang menjelang Maghrib" Papi merupakan mertua yang sangat menyayangi menantunya.
" Maaf Pi....Tadi Dira yang mengajak mas Laska untuk membeli makanan sebelum pulang" Kata Dira yang tidak ingin suaminya di salahkan.
" Kamu jangan sering membela suami mu dira! Ayo masuk" papi menggandeng menantunya untuk masuk.
" Ya..... Laska yang salah" Kata Laska dengan muka malas namun akhirnya dia tersenyum. Papinya sangat menyayangi istrinya, karena Nadira merupakan perempuan yang baik dan lembut.
Laska langsung mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka, meninggalkan sang papi yang sedang duduk menikmati kopi ekspresi kesukaannya.
" Mas kok ajak Dira masuk? kan papi masih di luar" protes Dira karena Laska mengajaknya masuk saat si papi masih asyik mengajak Dira mengobrol.
" Kamu harus banyak istirahat sayang... seharian kamu sudah capek jalan" Laska mengajak Dira mandi dengan air hangat, hanya mandi.
Laska membaringkan Dira, Laska menyangga kepalanya dengan tangannya menghadap perut Nadira, mengelus sambil membisikkan kata yang hanya dia dan jabang bayi yang bisa mendengarnya.
" Mas mau ke ruang kerja dulu, ada berkas yang harus mas selesaikan, muuach" Ciuman mendarat lembut di perut Dira. Dira hanya mengangguk, dia memang sudah sangat mengantuk. Laska menarik selimut sampai ke dada Dira, tak lupa kecupan hangat mendarat di bibir Dira.
" Tidurlah yang nyenyak sayang" lagi-lagi Dira hanya mengangguk lemah, kesadarannya mulai hilang menuju ke alam mimpi.
Menutup pelan pintu kamar, Laska melangkah menuju ke ruang kerjanya yang melewati ruang santai, dimana si papi masih menikmati minumannya.
" Laska duduk!" Perintah Laksmana Anugrah papi Laska.
Dengan malas Laska duduk di kursi single menghadap sang papi.
" Laska, papi dengar kamu membuat bangkrut Jaya's Shine?". Laska hanya diam, dia malas membahasnya.
" Laska, kamu itu sudah berkeluarga dan akan menjadi seorang ayah. Papi harap kamu tau apa yang kamu perbuat, kamu sudah tau bagaimana mereka, mereka kejam dan tidak suka di jatuhkan"
__ADS_1
" Aku tau yang aku perbuat, kesombongan mereka harus di runtuhkan, Pi"
" Papi tadinya berharap kamu tidak mengganggu perusahaan itu"
" Aku bukan mengganggu, aku hanya sedikit bermain-main Pi"
" Itu yang papi takutkan bermain-mainnya kamu akan berakibat fatal"
" Apa yang papi takutkan? mereka sudah tidak punya kuasa"
" Kamu tau? Pak Jaya meninggal akibat perusahaannya bangkrut?"
" Itu bukan urusan ku"
" Kamu tau, Bima anaknya ingin membalas dendam atas kematian papanya?"
" Bisa apa dia! Papi harusnya senang aku bisa membuat perusahaannya bangkrut, perusahaan yang banyak bermain di bidang ilegal"
" Jangan meremehkan perasaan seorang anak yang di tinggalkan oleh ayah yang dicintai dan di banggakannya Laska. Mereka bisa berbuat nekat!"
" Aku tidak takut, aku punya segalanya. Dia bisa apa?"
" Jaga diri dan jaga istrimu, Papi takut mereka akan berbuat macam-macam. Membalas dendam"
" Papi jangan takut, aku sudah menyewa banyak bodyguard, untuk menjaga kita semua"
" Jangan lengah! Jangan meremehkan lawan"
" Sudahlah Pi, Laska mau menyelesaikan banyak pekerjaan, tidak ingin membuang waktu membicarakan hal yang tidak berguna" Laska pergi meninggalkan papinya, Tuan Lasmana hanya bisa menggelengkan kepala melihat kesombongan anaknya.
Tuan Lasmana tidak ingin kejadian yang menimpa istrinya juga menimpa anaknya, istrinya seorang model asal Singapura yang terkenal arogan tapi memiliki kemampuan dan tubuh yang sangat ideal, sehingga membuat iri beberapa saingannya di tambah istrinya menikah dengannya yang seorang pengusaha sukses. Setelah menikah dan memiliki anak, Chaika Saira namanya mami Laska terus melanjutkan pekerjaannya sebagai model papan atas yang sering menindas rekan lainnya sehingga membuat rekannya yang di pecat karenanya berbuat nekat dengan menyewa pembunuh bayaran, yang membuat mobilnya masuk jurang dan meledak tidak menyisakan apapun termasuk jasadnya yang habis terbakar.
Laska yang sifatnya mewarisi sifat maminya, membuatnya banyak memiliki musuh. Laska hanya lebih beruntung memiliki harta berlimpah dan orang-orang kepercayaannya yang selalu menjaganya.
__ADS_1