
" Mas masih marah?" Laska sudah mandi dan sedang membuka laptopnya.
" Aku sibuk" Dira dengan perlahan duduk di samping Laska.
" Jangan terlalu sibuk, nanti mas sakit"
" Jangan pedulikan aku, khawatirkan saja si Danu"
" Masih marah, cemburu ceritanya?"
" Mas.... yasudahlah, Dira turun dulu mas"
Laska menahan Dira, " Jangan terlalu sering turun naik tangga, gunakan lift sayang"
" Ini nggak terlalu tinggi mas"
" Tapi tetap saja, besok kita akan pindah ke lantai dasar"
Laska memeluk Dira dengan kepalanya berada di perut Dira.
" Sudah Daddy kok jadi Melo gini dek!"
" Aku kangen Dir" Ucap Laska manja.
Dira membelai rambut Laska dengan lembut
" Aku cemburu, kamu mengkhawatirkan Danu. Kalian pernah dekat, Siapa tau Danu pernah punya rasa sama kamu. Dia kan nggak pernah dekat dengan perempuan manapun selain kamu!"
" Kami dulu hanya berteman mas, sebatas dekat karena pekerjaan"
" Dulu kalau mas nggak duluan ngungkapin perasaan pasti Danu duluan"
" Mas dulu bukan ngungkapin perasaan, tapi pemaksaan! Mana ada orang ngungkapin perasaan nodong Aku suka kamu, aku harap kamu mau jadi kekasih ku. Aku tidak menerima penolakan, mulai detik ini kita sepasang kekasih. Kaku"
" Mas nggak bisa romantis sayang...."
" Tapi Dira bersyukur, itu berarti hanya Dira yang mas dekatin"
" Oh ya besok pagi kita kontrol dedek kan?"
" Iya...."
**
Keesokan harinya mereka sudah berada di ruang dokter obgyn yang paling terkenal dan sudah punya banyak jam terbang, dokter perempuan berusia 47 tahun yang di pilih Laska.
Mereka memeriksakan kandungan dengan memilih hari tanpa antri, karena Laska pemilik sebagian besar saham dan semua sudah di urus oleh Danu, sebagai orang yang paling Laska percaya.
" Apa kabar Bu Dira" Tanya Dokter setelah mereka berjabat tangan dan duduk.
" Alhamdulillah baik Dok" Sementara Laska hanya tersenyum samar.
" Baiklah langsung naik saja ketempat tidur Bu, sus" Panggil dokter suster yang terpaku melihat ketampanan Laska.
" Eh iya Dok" Suster langsung mengoleskan jel pada perut Dira yang putih dan sedikit membuncit itu.
" Nah, ini semua normal. Usianya sudah 25 Minggu, mau tau jenis kelaminnya? kalau kemarin tidak kelihatan, sekarang bayinya tidak malu lagi, bayinya tidak menutupinya lagi pak, Bu" Ucap Dokter tersenyum melihat antusiasme sepasang calon orang tua itu menatap layar monitor, Dokter beralih menatap suster yang juga terpaku menatap Laska. " Ehem" Dokter menyadarkan susternya yang terlihat salah tingkah mendengar suaranya.
" Kami mau tau" jawab Laska
" Jangan Dok" jawab Dira serentak.
" Jadi bagaimana ini mau atau jangan?" Tanya dokter tersenyum melihat mereka yang saling menatap.
" Saya mau tau Dok jenis kelaminnya" Jawab Laska memelas, menatap istrinya. Dan itu membuat mata suster berbinar bisa melihat kemanjaan dari pria yang dari tadi terlihat angkuh itu.
" Bagaimana?" Tanya Dokter menatap Dira, dan Dira mengangguk. " Ini bayinya punya tugu Monas dan buah jakar"
" Maksudnya Dok?" Tanya Laska.
__ADS_1
" Bayi kalian laki-laki"
" Yes! " Teriak Laska bahagia, Dira pun ikut senang melihat suaminya senang. " Terimakasih sayang" Laska menggenggam tangan Dira dengan mata berkaca-kaca.
" Sus! " Lagi-lagi dokter harus menyadarkan susternya yang melamun menatap Laska, untuk menghapus sisa jel yang menempel di perut pasiennya. Dengan segera suster menghapusnya.
" Pelan-pelan suster!" Tegur Laska, melihat suster itu menghapus dengan terburu-buru. Suster hanya mengangguk takut dan memperlambat gerakannya, Dokter hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah susternya.
" Ini resep, hanya vitamin karena tidak ada masalah pada kandungan ibu Dira"
" Dokter, lain kali saya tidak mau suster ini yang melayani kami" Tegas Laska yang tidak suka dengan pandangan suster padanya dan perlakuan suster tadi saat menghapus jel di perut istrinya.
" Baik pak, maaf atas ketidak nyamanan bapak atas pelayanan kami" Sementara suster tadi sudah tertunduk takut.
" Mas" Dira mengingatkan Laska.
" Mas tidak suka, caranya tadi bisa membahayakan kamu dan calon anak kita"
" Mas jangan berlebihan, Dira nggak apa-apa"
" Mas lebih tau sayang"
" Maaf" Ucap Dira memandang dokter dan suster tadi saat berdiri hendak meninggalkan ruangan Dokter, dan di jawab anggukan oleh mereka.
" Kamu juga! semua orang tau kalau Pak Laska itu tampan tapi jangan terlalu mencolok, semua orang tau dia juga arogan. Untung masih peringatan kalau langsung di pecat, habis kamu" Omel Dokter pada susternya setelah kepergian sepasang suami istri itu.
" Maaf Dok" Ucap suster tadi menyesal.
" Saya harus pindahkan kamu kebagian lain, dia pemilik sebagian besar saham rumah sakit ini, saya takut ini akan di bawa saat rapat. Pak Laska itu terkenal berwatak keras, sekali tidak menyukai pasti akan di singkirkannya"
" Iya Dok, maaf dan tolong saya supaya tidak di pecat" Suster itu memelas.
" Baik, kembali bekerja sebelum surat pindah kamu keluar"
" Mas akan pecat dia"
" Mas, apa harus seperti ini"
" Kenapa Dira harus marah mas, Kalau di mata mas cuma ada Dira" Ucap Dira lembut tersenyum menatap wajah suaminya.
" Mulai pinter kamu ya!" Laska tersenyum dan langsung melingkarkan tangannya pada bahu Dira membawanya menuju mobil, sementara resep Dokter Danu yang akan mengurusnya.
Mereka pulang menuju Rumah utama, Laska sudah membeli rumah untuk mereka tempati setelah menikah, tetapi papi tidak mengizinkan mereka untuk pindah meninggalkannya sendiri.
**
" Maaf bos, belum ada kesempatan. Penjagaan mereka terlalu ketat" Ucap suara anak buahnya dari seberang.
" Awasi terus, pasti ada saatnya mereka lengah. Sekalipun mereka bodyguard pilihan" Ucap penerima telpon
" Baik bos"
" Hari itu pasti akan tiba, kau akan merasakan kehilangan dan terpuruk Laska!" Ucap bos tadi setelah sambungan telepon terputus, menggenggam handphonenya erat.
**
" Mas, papi Minggu depan pulangnya"
" Papi pergi saja tidak izin sama mas, malah sama kamu dan sekarang memberi kabar pulang juga sama kamu. Sebenarnya anak papi itu mas atau kamu sih sayang...." Ucap Laska manja memeluk Dira.
" Jadi mas cemburu sama Dira...?"
" Mas nggak cemburu, malah senang. Itu artinya papi sangat menyayangi kamu melebihi rasa sayangnya sama mas"
" Mas tetap anak kesayangan papi, tapi papi menjadikan Dira seperti anaknya sendiri. Dira sangat senang mas, walaupun Dira anak yatim-piatu, tapi papi memberikan sayangnya tulus ke Dira" ucap Dira terharu.
" Sudah jangan nangis, ibu hamil di larang menangis. Kamu itu malaikat yang di kirim Allah untuk melengkapi kebahagiaan kami, setelah kami di tinggal mami. Kehidupan kami hampa sejak mas berumur 7 tahun, papi sibuk dengan pekerjaannya dan mas tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, tumbuh bersama ART di sini, tapi setelah kamu hadir dengan kelembutan dan keceriaan, hidup kami kembali berwarna sayang, apalagi papi akan segera punya cucu, beliau sangat bahagia" Ucap Laska yang semakin erat memeluk sang Istri, mengingat masa lalunya yang kaku.
" Terimakasih"
__ADS_1
" Untuk? bukannya mas yang harusnya berterimakasih, karena kamu telah memberi warna dalam hidup mas, dulu mas tidak percaya cinta, tapi setelah mas mengenal kamu, mas percaya, bahkan sekarang mas bucin sama kamu" Laska tertawa menyadari perkataannya, Laska memandang wajah istrinya yang sedang menatap hamparan mawar kesukaannya dari atas balkon kamar mereka.
" Untuk bucin yang mas lakukan untuk Dira. Dari mana kata bucin itu mas?" Dira ikut tertawa mendengar kata aneh yang belum pernah suaminya itu katakan.
" Sejak mas kenal kamu, sejak pertama mas menyadari perasaan mas. Mas selalu cemburu kalau kamu bercanda dengan Danu saat kita sedang bekerja" Laska mengingat saat Dira masih jadi sekretarisnya.
" Apa kita akan selalu bersama mas?" pandangan Dira kosong saat mengatakan itu, ada rasa yang tidak bisa di katakannya.
" Tentu sayang, kita akan bersama dan dia akan menjadi pelengkap kebahagiaan kita" Laska mengelus perut istrinya " Iyakan baby boy Daddy? Sayang dia bergerak!" Ucap Laska takjub yang baru pertama merasakan pergerakan bayi dalam perut istrinya.
" Dia setuju dengan Daddy" Ucap Dira tersenyum.
" Dia bergerak sayang! sejak kapan dia bisa bergerak?" Ucap Laska yang kini sudah berlutut di depan istrinya dan meraba perut istrinya mencari pergerakan bayi mereka.
" Sudah dua Minggu yang lalu Dira merasakannya, mas. Pergerakannya sangat cepat dan singkat, mungkin dengan bertambah usianya pergerakannya akan sangat jelas terasa" Laska membawa Dira masuk ke kamar dan mendudukkannya di sofa.
" Mas mau merasakannya lagi sayang" Laska perlahan membaringkan istrinya membuka dress Dira, mengelus perut Dira tanpa terhalang pembungkus.
" Dia tidak terlalu sering bergerak sayang, hanya sesekali"
" Ayo baby boy, Daddy mau merasakannya lagi. Bergerak lah"
Lama Laska menunggu tapi bayi mereka tidak juga mau bergerak, saat Laska terlihat putus asa bayi mereka bergerak beberapa kali.
" Dia bergerak sayang!" Ucap Laska antusias. " Daddy akan menjenguk mu sayang.
" Maksudnya mas?"
" Baby b mau Daddynya jenguk" Ucap Laska dengan senyum yang mencurigakan.
" Mas nggak kerja?"
" Jangan bilang kamu mengkhawatirkan Danu?" Ucap Laska yang terlihat kesal .
" Nggak mas...Inikan baru jam 11, mas nggak mau ke kantor? Katanya pekerjaan mas banyak!"
" Ada Danu"
Laska sudah melancarkan aksinya dengan lembut, dengan alasan baby boy mau di jenguk.
**
" Uhuk uhuk Asem banget! Siapa yang lagi ngomongin aku? Lagi kerja aja ada yang ngomongin, apalagi kalau aku nganggur. Ini Tuan jam segini belum di kantor, pekerjaan lagi numpuk. Kontrol kandungan bisa lama, padahal semua aku yang urus sampai vitamin istrinya aku yang urus, aku bisa lebih tau dari tuan masalah kehamilan. Ck CK CK yang punya istri siapa yang lebih tau siapa.....Hadeh...nasib" Danu bermonolog dengan menatap setumpuk dokumen yang belum di Elus.
" Apa lagi pak? sudah lapar? jam makan siang masih satu jam lagi, sabar...ini aku bawakan makanan"
" Apa itu?" Danu melirik kotak makan tupperbox yang berisikan risol.
" Ibu aku banyak buat risol dan aku di bawain, ini kita makan bersama" Ucap Vira sambil membawa tumpukan kertas ke meja sofa di ruang kerja Danu.
" Tumben? pacar kamu nggak marah kita berduaan?"
" Kita kerja pak....bukan lagi ngapa-ngapain! Suka aneh dech. Ayo lanjut pekerjaan masih banyak, tuan Laska juga belum datang"
" Dia lagi nganter istrinya kontrol kandungan"
" So sweet banget pak Laska itu, sudah ganteng, kaya, suami idaman lagi" Danu mencibir.
" Iya, yang repot aku"
" Koq jadi bapak yang repot?"
" Semua yang handle aku, termasuk jadwal kontrol dan yang ngurusin vitaminnya aku"
" Wah.....pak Danu keren! Pak Danu itu ganteng....kalau lagi diem"
" Maksud kamu?" Baru saja Danu akan mengangkat kera bajunya sudah di jatuhkan Vira.
" Ya .... kalau pak Danu lagi serius kerja, pak Danu ganteng. tapi kalau sudah ngomel, kayak emak-emak antri sembako, berisik. Sudah kerja! nanti nggak selesai-selesai, tuan Laska mah bos... itu tak terbantahkan" Danu Baru mau protes langsung terdiam melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sementara dua insan sedang asyik-asyiknya memadu kasih di kamar yang dingin.