Tragedi Hati

Tragedi Hati
07. Keadaan


__ADS_3

Terkadang kita hanya bisa berencana, selebihnya Allah lah yang memutuskan.


Seperti yang di alami oleh Laska, baru beberapa hari yang lalu dirinya dan Dira menyusun rencana hidup kedepannya, tapi Allah berkehendak lain.


Laska sedang berada di sebuah pemakaman elit, jasad istri dan anaknya telah tertimbun tanah perkuburan.


Pemakaman di langsungkan secara tertutup, hanya di hadiri keluarga inti. Semua itu atas keinginan Laska, istrinya tidak mempunyai keluarga. Rumor meninggalnya istri pengusaha kaya raya telah tersebar dengan cepat, Laska menutup rapat kejadian yang menimpa istri dan dirinya, yang orang tau istrinya meninggal karena pendarahan pasca keguguran.


Papi sempat tidak sadarkan diri saat menerima kabar dari Danu mengenai menantu kesayangannya itu. Papi langsung terbang dari pesta reuniannya menuju rumahnya menggunakan helikopter.


Masih di pemakaman, Laska duduk menatap pusara yang bertuliskan Nadira Pelangi binti M Rizaldi dan Langit Anugerah bin Laska Anugerah.


Satu persatu sanak keluarga meninggalkan pemakaman tanpa berani memberikan kata semangat untuk Laska, karena Laska meminta Danu memberi tahu kan kepada keluarga yang datang untuk tidak mengganggunya.


Tinggallah Danu, papi Lasmana dan Laska. Papi hanya berani menepuk beberapa kali punggung anaknya menyalurkan rasa turut kehilangan dengan tangan sebelah terus menghapus air mata menggunakan sapu tangan.


" Dan, temani Laska. Laska butuh di dampingi dan papi hanya percaya padamu"


" Baik tuan"


Papi telah meninggalkan area pemakaman dengan beberapa pengawal.


" Dan"


" Ya tuan?"


" Tinggalkan aku sendiri"


" Tapi...."


" Tinggalkan aku sendiri!" Tekan Laska.


" Baik tuan" Ucap Danu, karena tau watak tuannya yang tidak ingin di bantah. Danu langsung pergi, tetapi tetap meminta pengawal untuk mengawasi Laska dari jauh.


Kenangan demi kenangan terus berputar di kepala Laska, mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka.


Laska mengenal Nadira sejak Nadira menjadi sekretarisnya atas pilihan Danu, Nadira merupakan perempuan lembut dan keibuan. Awal mula Laska memiliki rasa sejak Dira sering mengikuti kemanapun Laska pergi, baik keluar kota maupun ke luar negeri.


Nadira selalu berkata lembut dan menenangkan. Laska mulai menyadari perasaannya saat melihat keakraban Danu dan Dira, setiap bertemu selalu bercanda namun ketika ada Laska suasana jadi kaku, itu yang membuat Laska kesal, sejak saat itu Laska selalu mencuri pandang dan berusaha mencairkan suasana, tapi yang ada malah terlihat aneh Dimata Dira dan Danu.


Akhirnya karena tidak tahan melihat kedekatan keduanya, Laska memutuskan menyatakan cinta kepada Dira, lebih tepatnya memaksa Dira mau menjadi pacarnya. Sebulan dua bulan hubungan mereka masih terlihat kaku, Dira tidak lagi dekat dengan danu. Namun seiring berjalannya waktu hubungan mereka menjadi terlihat manis bagi mereka yang melihatnya. Laska yang berubah manis saat bersama Dira dan Dira yang selalu sabar menerima sifat protektif Laska, membuat mereka sangat cocok.


Tepat setahun menjalin hubungan, Laska mengajak Dira menikah dan Dira menyetujuinya, apalagi papi yang sangat mendukung keputusan Laska.


Selang satu bulan menikah, Dira langsung dinyatakan hamil dan membuat pernikahan mereka bertambah bahagia. Laska memaksa Dira untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya. Laska pun yang tadinya seorang workaholic menjadi suami yang selalu pulang tepat waktu, memilih bekerja dari rumah menemani istrinya.


Sesekali Laska tersenyum mengingat perjalanan rumah tangganya yang begitu menyenangkan, namun wajahnya berubah sendu mengingat tragedi yang menimpa istrinya, hatinya sakit membayangkannya.


Laska sujud di depan pusara istrinya dan menggenggam tanah merah yang bertabur berbagai warna dan macam bunga itu.

__ADS_1


Laska meninggalkan area pemakaman, pulang menuju rumah masih dengan pengawalan jarak jauh.


Tiba dirumahnya Laska langsung menuju kamarnya, melemparkan tubuhnya ke atas kasur king size yang masih menyisakan aroma istrinya itu. Lama menatap kosong pigura yang berada di atas meja di samping tempat tidur, Laska bangkit memegang pigura itu dan mengambil foto USG terakhir bayi mereka. Laska menangis sejadinya, air mata yang tadi di tahannya sepanjang prosesi pemakaman, kini jatuh mengalir membasahi pipinya.


Kenangan demi kenangan terus berputar dan foto USG anak mereka yang membuat Laska bersorak Sorai bahagia saat mengetahui jenis kelaminnya. Mata Laska beralih pada sofa panjang yang mengingatkannya atas adegan panas yang beru beberapa hari yang lalu mereka lakukan, kini yang tertinggal hanya kenangan.


Laska meremas rambutnya dan terduduk lemas di lantai bersandar pada ranjang.


Laska hanya merasa dirinya tidak akan mampu untuk melanjutkan hidupnya.


Beruntung ada Danu yang bisa Laska andalkan, semua pekerjaan perusahaan di tanganinya dengan baik, selama Laska masih terpuruk mendalami hatinya yang kehilangan sosok penyemangat hidup.


**


" Pak?" Panggil Vira


" Ya?" Jawab Danu tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang sedang Danu plototi.


" Kasihan Tuan Laska" Ucap Vira sendu, Vira sedang membantu Danu mendalami setiap berkas yang sudah satu Minggu terabaikan.


" Iya, semua terjadi begitu cepat"


" Begitu tragis kepergian Nyonya Dira, dia perempuan lembut dan baik, bisa-bisanya mengalami hal yang sangat mengerikan itu" Vira menerawang, mengingat setiap pertemuannya dengan Dira, walaupun hanya sesekali dan baru kenal menggantikan Dira menjadi sekretaris Laska.


" Semua akan ada balasan!"


" Hah! Tuan Laska tau siapa yang......" Perkataan Vira terputus dengan balasan Danu yang langsung mengangguk.


" Sudah! kamu memperlambat pekerjaan kita. Berkas masih banyak yang harus di teliti dengan baik, jangan sampai salah"


" Ya, pak" Jawab Vira cepat, melihat wajah serius Danu.


" Bulan depan ada pertemuan di Negara tetangga, kamu harus ikut"


" Saya pak?"


" Siapa lagi?kamu kan sekretaris tuan Laska, yang banyak tau selain saya"


" Ya pak, tapi..."


" Jangan bilang kamu keberatan meninggalkan pacar kamu yang doyannya ninggalin pacar malem-malem seperti namanya"


" Hah! namanya Dion pak, dan dia bukan pacar yang suka ninggalin pacarnya, dia punya alasan"


" Kamu itu mudah di kibulin"


" Terserah bapak, saya yang menjalani"


" Memang terserah kamu, Ingat cinta harus pakai logika" Vira hanya melirik kesal dengan bibir yang di majukan.

__ADS_1


**


" Laska....." Papi masuk tanpa mengetuk pintu.


" Laska.....sudah satu Minggu lebih kamu begini, apa kamu tidak mau pergi kerja" Ucap Papi yang sedih melihat kondisi anaknya, Laska di infus untuk memasukkan nutrisi ke tubuhnya karena Laska menolak makan dan minum dengan tubuh terlihat kurus.


Laska hanya menatap kosong ke langit-langit kamarnya, Laska pernah mencoba bunuh diri dengan meminum semua obat yang diresepkan untuknya secara bersamaan, tapi gagal karena suster mengetahuinya dan langsung membawa Laska ke rumah sakit.


Tuan Lasmana keluar kamar Laska dengan kecewa, Lasmana bingung bagaimana membangkitkan semangat hidup anaknya


**


" Vir?"


" Ya pak"


" Segera ikut saya ke kota S, keadaan perusahaan di sana sedang tidak baik, beberapa proyek mengalami pemberhentian kerja. Jangan lupa bawa pasport kita akan langsing ke negara sebelah setelah nya.


" Baik pak"


" Tuan Laska.....cepatlah kembali saya tidak bisa menjalankan semuanya sekaligus, saya butuh anda..." Danu merasa lelah dan frustasi, hampir satu bulan menjalankan semua bisnis Laska, membuat Danu sangat lelah pikiran dan tubuhnya.


**


" Una....." Panggil seorang ibu kepada anaknya.


" Apa sic ma..... pagi-pagi sudah berisik" Una menutup kedua telinganya dengan bantal.


" Kamu ini anak perempuan tapi bangun selalu siang. Apa kamu tidak mau mencari kerja!" Omel mamanya.


" Una mau jadi sabeum ma...."


" Kamu itu anak perempuan, mama tidak akan mengizinkan kamu menjadi seperti papa" Mama menari bantal dan selimut Una.


Mau tidak mau Una berjalan menuju kamar mandi dengan langkah malas.


" Pa sih ma...setiap pagi harus ngomel-ngomel" Ucap papa sambil memakan sarapannya.


" Gimana nggak ngomel! Itu anak kamu, bener-bener bikin emosi mama" Ucap mama kesal.


" Kenapa lagi?"


" Gara-gara papa selalu memanjakan Una, Una jadi begini"


" Wajar dong, papa manjakan. Anak papa cuma Una ma..."


" Jadi papa mau punya anak lagi, supaya nggak manjain Una gitu! mau nikah lagi!"


" Bukan ma.....Papa sudah cukup dengan Una. Papa nggak mau punya anak lagi, apa lagi menikah lagi. Satu aja udah bikin puyeng apa lagi nambah" Ucap papa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Like yah readers, setiap like itu bikin aku seneng. Buat seneng bisa kasih pahala lho buat kamu.


jadi like ya.....


__ADS_2