
" Mas, seharian kita di kamar terus, Dira bosan mau keluar mas...." Rengek Dira, seharian menghabiskan waktu hanya di kamar, makan pun di antar pelayan ke kamar, sementara dirinya hanya bisa berada di bawah selimut bersama Laska.
" Kamu harus banyak istirahat sayang..." Ucap Laska mengelus perut istrinya.
" Tapi nggak gini juga mas.... nggak bergerak juga nggak baik buat kami" Dira masih berusaha membujuk suaminya.
" Kamu kan tetap bergerak walaupun banyakan mas" Ucap Laska tersenyum. " Sudah ayo kita mandi terus tidur, sudah jam 9"
" Tidur lagi mas?" Ucap Dira terkejut, dipikirannya Laska mengajak mandi karena mereka akan keluar dan ternyata...!
" Iya, begadang nggak baik buat ibu hami" Laska menggendong istrinya menuju kamar mandi sementara Dira hanya pasrah, membantah Laska tidak akan berujung membahagiakan.
Akhirnya setelah mandi dan makan sepasang suami istri itu kembali tidur.
**
" Gila! sudah jam 10" Ucap Danu setelah sadar dari menyelesaikan semua dokumen, makan malam pun di abaikannya.
" Kalau begini, harus minta kenaikan gaji. Ini sudah diluar jam kerja, tuan Laska kelewatan, bener-bener nggak ngasih kabar!" Danu mengomel
" Aku ambil sekalian Nic perusahaan, baru tau! Vira juga pulang nggak kasih kabar, pasti di jemput si Doyan"
Danu terus saja mengomel sambil membereskan berkas, sampai di parkiran dia di kejutkan dengan Vira yang masih berada di parkiran.
" Vira?" Panggil Danu.
" Pak Danu"
" Kamu belum pulang? aku kira kamu sudah pulang dari tadi"
" Aku nunggu Dion pak"
" Sudah jam segini! dari jam berapa kamu nungguin dia?"
" Baru nunggu 2 jam pak"
" Eh...dua jam, gila itu pacar kamu! anak perempuan orang di suruh nunggu malem-malem sampai dua jam? Pulang aku anterin"
" Makasih pak, mungkin sebentar lagi Dion sampai, dia pasti nyariin aku"
" Ngapain juga kamu mikirin dia, dia aja nggak mikirin kamu yang sudah nunggu dua jam. Telpon bilang kamu sudah balik"
" Nomornya nggak aktif pak"
" Aku kira, sekretaris itu pasti pintar, ternyata ada bodoh-bodohnya juga"
" Maksudnya pak?"
" Sudah, tinggalkan pesan. Kamu balik sekarang, sudah malem nggak baik perempuan pulang malem dan belum tentu si Doyan itu jemput"
" Doyan? maksudnya pak?"
__ADS_1
" Kamu butuh aqu* sepertinya, pulang! kalau terjadi sesuatu sama kamu basmant ini akan angker" Vira bingung dengan perkataan Danu tapi tetap naik ke mobil Danu.
" Kalian sudah berapa lama pacaran?" Tanya Danu untuk mengusir kecanggungan saat hanya berdua di dalam mobil.
" Sudah dua tahun pak" Vira pun merasa canggung, walaupun sering berdua tapi itu dalam keadaan kerja, tidak seperti sekarang yang hanya diam, berpura-pura memperhatikan jalan.
" Sudah dua tahun, sudah ngasih apa aja sampai seperti ini?"
ucap Danu yang terlihat sangat cool saat fokus menyetir mobil, rahangnya yang terlihat tegas dengan hidung mancung dan bulu mata lentik, membuat Vira terpana dan sadar saat mendengar pertanyaan pria tampan di sampingnya.
" Maksud pak Danu? ngasih apa?" Vira tau maksud dari pertanyaan pria di sampingnya, membuat Vira emosi.
" Saya perempuan baik-baik pak, saya masih virgin!" Sambung Vira dengan nafas naik turun.
" Upzz, jangan marah vir..."
" Perempuan mana yang nggak marah di tuduh seperti itu! Saya turun di sini saja pak"
" Huft ...Maaf kalau saya sudah menyinggung kamu. Pacaran juga harus pakai logika Vir, pintarnya kamu jangan hanya dalam masalah pekerjaan, untuk urusan cinta kamu juga harus pintar" Ucap Danu lembut.
" To the poin deh pak jangan muter, seperti gasing!" Vira sudah kesal"
Saat Danu akan menyahut, ponsel Vira berbunyi dan dengan cepat Vira menerimanya.
" Ya..........Lagi di jalan pulang............. Sama bos.........ya nggak apa-apa............good night"
"Pacar kamu?" Tanya Danu.
" Hp mati!"
" Hah"
" Alesan handphonenya mati" Vira lagi-lagi mengangguk. " Logika kamu harus bekerja di sini, hp mati, nggak ada usaha untuk nelpon pake hp siapa kek! Apa dia tidak takut kalau terjadi apa-apa sama kamu?" Vira menunduk diam.
Sampai tiba di rumah orang tua Vira mereka hanya diam, Vira hanya mengucapkan terimakasih dan Danu hanya mengangguk.
" Cinta memang membuat bodoh, gitu aja nggak bisa mikir." Ucap Danu bermonolog, membicarakan kebodohan manusia saat jatuh cinta sampai tak terasa sudah berada di parkiran apartemennya.
" Untung aku nggak pernah jatuh cinta sampai segitunya, hanya.....dengan dia" Danu menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil, mata terpejam mengingat sesuatu.
" Aku rindu dekat dengan mu.......tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku cukup bahagia melihat mu bahagia" Danu tersenyum melanjutkan langkahnya memencet lift.
**
" Mas......" Dira mengguncang pelan tubuh Laska yang sedang tertidur nyenyak. " Mas...."
" Hemmm...Apa sayang?" Laska masih belum membuka mata, tapi tangganya memeluk erat istrinya.
" Mas, lepas dulu..Dira pengen makan sate" Ucap Dira sambil menyentuh wajah suaminya.
" Sate?" Dira mengangguk.
__ADS_1
" Mas telpon art dulu" Laska hendak mengangkat telpon di sampingnya tapi Dira mencegahnya.
" Dira mau kita beli di luar mas..." rengek Dira.
" Sudah larut malam sayang, nggak baik untuk ibu hamil berada di luar" Laska memaksakan matanya terbuka mendengar permintaan istrinya.
" Sekali ini saja mas, Dira janji nggak akan pernah minta makanan apapun lagi ke mas....Dira janji hanya nunggu di mobil"
" Huft... baiklah. Pakai pakaian tebal dan pakai jaket"
" Kita lagi nggak di kutub mas... ngapain pake pakaian tebal?"
" Pakai atau batal?" Dengan wajah tegas Laska memerintah.
" Iya.... pakai"
Mereka berkeliling mencari penjual sate gerobak sesuai permintaan Dira, padahal berulang kali Laska memohon untuk membeli di restoran yang sudah terjamin kualitas dan ke higienisnya tapi Dira menolak dan terus membujuk. Akhirnya Laska menyetujui dengan syarat harus sesuai dengan penjual pilihan Laska, sudah beberapa kali penjual sate gerobak mereka temui tapi Laska selalu mengatakan gerobaknya kurang bersih.
" Mas......Dira sudah lapar, itu sudah gerobak yang kesekian kalinya mas tolak" Dira cemberut.
" Gerobaknya kotor"
" Kita mau beli satenya bukan gerobaknya mas...."
" Iya, tapi harus lihat gerobaknya dulu"
" Semua gerobak ya seperti itu mas, namanya sudah lama berjualan, mana ada yang kinclong sesuai yang mas mau."
" Sabar ya dek" Elus Laska perut istrinya.
Laska tidak memberi tahu bodyguardnya kalau mereka pergi keluar. Di belakang sudah ada mobil yang sejak mobil Laska keluar gerbang mereka sudah mengawasi pergerakan mobilnya.
" Bisa sepertinya target keluar tanpa pengawal" Lapor anak buah yang di perintahkan mengawasi Laska.
" Bagus, ringkus sesuai rencana. Jangan sampai gagal! Ini merupakan kesempatan yang sangat baik, pria itu jarang keluar tanpa pengawal"
" Baik bos"
Di persimpangan yang sebuah mobil box menghentikan lajunya tepat di depan mobil Laska, jika mobil Laska tidak segera berhenti akan terjadi tabrakan, bersyukur mobil Laska berhenti tepat di samping mobil box tanpa menyenggol.
" Kamu tidak apa-apa sayang?" Laska khawatir, matanya memperhatikan perut dan wajah istrinya yang tampak terkejut atas kejadian barusan.
" Nggak mas" Dira memegang perutnya, bersyukur tidak merasakan apapun yang membahayakan janinnya.
" Brengse*!" umpat Laska keluar mobil.
" Maaf pak" Ujar supir mobil box, tetap berada di belakang kemudinya.
" Keluar!" Teriak Laska, tapi tidak di perduli kan supir itu
Tiba-tiba seorang pria bertubuh besar dengan setelan hitam kepala tertutup topi, membekap wajah Laska dengan kain yang membuat Laska limbung dan jatuh seketika dengan pandangan menatap ke arah mobil di mana istrinya berada, kemudian tidak sadarkan diri.
__ADS_1