Tragedi Hati

Tragedi Hati
06. Kehilangan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit terdekat, Laska dengan segera membawa istrinya, mengabaikan sakit jarinya yang patah.


Laska menggendong istrinya sambil berteriak meminta pertolongan, membuat suasana pagi rumah sakit yang tenang, berubah menjadi gaduh.


Beberapa perawat langsung menghampiri dengan membawa brankar dan mendorong menuju ruang IGD, perawat yang melihat langsung meringis menatap keadaan pasien yang menggendong janin berlumuran darah.


" Pak tunggu di luar" Larang salah satu suster saat Laska hendak ikut masuk.


" Saya ingin menemani istri saya!" Bentak Laska.


" Biar Dokter yang menanganinya pak" Laska masih memaksa masuk, untuk Danu tiba tepat waktu dengan celana traning dan kaos berbalut jaket, Danu mencegah Laska masuk dengan memberi pengertian.


" Tuan, biarkan Dokter bekerja menangani istri tuan dengan cepat"


" Tapi Dira butuh aku Dan!" ucap Laska frustasi sambil meremas rambutnya. Danu melihat memar pada pergelangan tangan Laska dan beberapa jari yang bengkak.


" Tuan, anda juga butuh pengobatan, untuk tangan anda"


Laska memperhatikan kedua tangannya yang sudah tak berbentuk, sakit tak di rasakannya.


" Ini tidak seberapa di bandingkan dengan apa yang dira alami Dan, karena perbuatan ku Dira harus mengalami kejadian yang sangat mengerikan Dan!" Laska menangis mengingat kejadian yang menimpa istrinya.


Danu tidak bisa banyak bicara, dengan melihat kondisi tuannya dapat di pastikan semua yang terjadi sangat buruk.


" Anda tetap harus mendapat perawatan, nyonya Dira butuh anda dalam keadaan sehat tuan" Danu meyakinkan Laska.


" Baiklah, ini demi Dira, tapi aku mau di sini, aku mau selalu di sini dan menjadi orang pertama yang mendapatkan kabar tentang Dira"


" Baiklah tuan" Danu memanggil tenaga kesehatan untuk mengobati Laska.


Sementara di dalam ruangan IGD Dokter dan tenaga medis lainnya sedang berusaha menyelamatkan nyawa Dira, untuk anak mereka jelas sudah tidak bisa di selamatkan.


" Kondisinya sangat kritis, kehilangan banyak darah dan mengalami kekerasan seksual" Ucap sang Dokter.


" Nafasnya sudah tidak ada dok, dan detak jantungnya pun sudah sangat lemah" Ucap suster.


Mereka begitu sibuk berusaha menyelamatkan Dira, Tapi ternyata Allah lebih sayang dengan Dira.

__ADS_1


" Pasien tidak bisa di selamatkan, walaupun bisa tidak akan bertahan lama. Peralatan di rumah sakit ini tidak lengkap, membawanya dari sini pun percuma, jarak rumah sakit terdekat terlalu jauh" Ucap Dokter muda yang terlihat frustasi beberapa kali memukul udara. Dokter muda itu memindai setiap inci tubuh pasien, tubuh yang penuh dengan lebam dan penganiayaan serta kekerasan seksual ditambah dengan pendarahan keguguran yang dialami pasien, Dokter merasa kecewa tidak bisa menyelamatkan pasiennya.


Lama terdiam beberapa tenaga medis mulai merapikan peralatan yang tadi sempat di keluarkan untuk mengusahakan penyelamatan pasien. Para suster yang melihat keadaan tubuh ibu muda itupun meringis saling pandang, membayangkan apa yang telah di alami oleh ibu muda yang terbujur kaku di pembaringan.


Menyiapkan diri dan beberapa kali membuang nafas kasar, Dokter berusaha menguatkan diri, mencoba merangkai kata saat nanti berhadapan dengan keluarga pasien.


" Keluarga pasien?" Panggil suster.


Laska yang mendengar langsung berlari mengikuti langkah kaki suster, meninggalkan suster yang tadi masih berusaha memberikan pengobatan pada setiap luka yang Laska alami, menyusul Danu berlari mengikuti tuannya.


" Dokter....." Kata Laska menggantung saat tubuhnya masuk ruangan melihat Dokter dan beralih menatap tubuh tertutup kain putih, mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilihatnya bukan istri tercinta.


Dokter mengangguk saat mata Laska beralih menatap sang Dokter.


" Ya pak, maaf pasien tidak bisa kami selamatkan. Pendarahan dan keadaan pasien sudah kritis saat dalam perjalanan kemari"


" Dokter mungkin salah orang, saya bukan keluarga pasien yang meninggal itu, istri saya masih hidup!" Laska mengguncang tubuh Dokter, dengan wajah sedih, khawatir, takut apa yang di dengarnya benar.


" Tuan, tenangkan diri anda" Danu mencoba menenangkan Laska.


Sekali lagi Dokter menarik nafas " Benar pak, istri anda telah meninggal, saya dan semua tenaga medis yang berada di sini, memohon maaf tidak bisa menyelamatkan istri bapak"


" Dokter jangan bercanda, saya orang yang sangat berpengaruh di negara ini! saya bisa membuat Dokter kehilangan pekerjaan dokter!" Ancam Laska.


" Sekali lagi saya minta maaf, istri bapak pendarahan pasca keguguran dan terlambat di tangani, di tambah dengan kondisi fisik yang lemah dan juga mengalami kekerasan seksual yang sangat brutal. Sehingga tidak bisa di selamatkan. Bapak yang sabar, saya rasa istri bapak sudah tenang di sana" Dokter pergi meninggalkan Laska yang terpaku menatap tubuh yang tertutup kain, yang dokter katakan bahwa itu adalah istrinya.


Laska mendekati tubuh itu, sementara Danu meminta semua orang yang berada di dalam ruangan untuk keluar tanpa terkecuali dengan sangat tegas, membuat yang mendengar segera keluar sambil memegang dada mereka.


" Ya ampun, tuh orang sangat mengerikan"


" Padahal tampan"


" Aku rasa mereka orang yang sangat kaya, sampai berani mengusir kita"


" Biasanya kita keluar dengan keadaan terhormat"


" Sudah bubar, kalau benar mereka orang kaya, kita bisa mendapatkan ancaman jika mereka mendengar kata-kata kita tadi" Mereka segera membubarkan diri.

__ADS_1


Kalimat demi kalimat yang keluar dari beberapa tenaga medis yang tadi di usir oleh Danu.


" Dira......" Laska membuka kain penutup yang menutupi seluruh tubuh istrinya.


" Dira..." Tubuh Laska merosot, menggenggam tangan istrinya dengan derai air mata. Danu hanya bisa melihat dari dekat pintu, tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa membiarkan tuannya menumpahkan seluruh kesedihannya.


" Dira......jangan begini sayang....." Laska meraung.


" Sayang, kamu berjanji akan selalu menemani mas. Kamu berjanji kita akan bahagia selamanya bersama anak-anak kita. Bayi kita sudah pergi, kamu jangan pergi juga sayang..." Laska membingkai wajah lebam istrinya dengan kedua tangannya yang tertutup balutan kain untuk menahan beberapa tulang jarinya yang patah.


" Sayang........" Laska memeluk erat istrinya, untuk beberapa menit menumpahkan semua air matanya.


Laska berdiri, memandangi setiap jengkal tubuh istrinya yang sungguh memprihatinkan. Matanya berhenti pada bagian perut istrinya, tadinya perut ibu besar dan berisikan anak mereka namun kini perut itu rata dan sedikit bergelembir. Laska mengelusnya.


" Sayang.....Mas akan membalas semua yang kamu alami...." Laska mengepalkan kedua tangannya, bayangan semua kejadian yang menimpa mereka terus berputar.


" Permisi......." Ucap salah satu petugas medis.


" Ya" Jawab Danu.


" Emm... apakah pasien akan di bawa atau kami yang akan membersihkan pasien tadi yang meninggal?" Tanya seorang suster takut-takut.


" Beri kami waktu" Ucap Danu tegas, mengintimidasi beberapa suster yang menghadapinya.


" Ba..baik pak" Suster segera meninggalkan ruangan itu cepat.


Lama Laska menemani istrinya, tiada lagi derai air mata. namun tatapan kosong dan gurat kesedihan itu terlihat nyata di wajah Laska.


" Dan..." Panggil Laska.


" Ya tuan" Jawab Danu mendekat.


" Tolong bantu aku memakamkan Dira, aku ingin Dira diperlakukan dengan sangat baik dan urus tempat di sandiego hill. Satukan makamnya dengan anak kami"


" Baik tuan" Danu bergegas mengurus semua yang di perintahkan Laska.


" Sayang.....tenanglah di sana, terimakasih untuk hari-hari yang sangat bahagia yang kamu berikan kepada ku" lama Laska mengecup kening istrinya yang telah dingin dan pucat, air mata masih terus menetes tanpa mau berhenti. Seorang pria dingin dan sombong kini dalam keadaan rapuh tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2