
" Brengse*! kita tidak ada urusan dengan Anugerah Corps, kenapa mereka menghancurkan Jaya's sampai ke akar-akarnya" Emosi Bima, pemilik Perusahaan Jaya's Shine.
" Sepertinya pemilik Perusahaan Anugerah ingin kita hancur karena mereka tau banyak tentang usaha ilegal kita bos"
" Tapi kenapa? kita tidak mengganggu mereka, walaupun usaha kita ilegal! Siapa pemilik perusahaan itu?"
" Hasil penelusuran saya, pemilik sebelumnya adalah Lasmana Anugerah dan sekarang sudah diberikan kepada anak tunggalnya Laska Anugerah"
" Laska Anugerah........"
" Ya bos, semenjak perusahaan Anugerah di bawah kepemimpinannya, perusahaan itu melaju pesat dengan banyak anak perusahaan tersebar di beberapa kota di Indonesia dan sekarang sedang melebarkan sayapnya di Negara tetangga. Dan itu membuatnya sombong, yang saya dengar Laska merupakan pemimpin yang arogan dan mempunyai banyak musuh"
" Cari tau tentangnya dan musuhnya, bukankah mencari rekan untuk menghancurkan musuh itu akan mempermudah jalan kita untuk mencapai tujuan. Saya akan membalaskan dendam mu papa, agar kau tenang di sana. Aku akan menghancurkannya melalui jalan lain, yang membuatnya tidak bisa melupakan semua yang pernah di lakukannya pada perusahaan papa" Bima tersenyum licik, menyamarkan wajah sedihnya.
" Baik bos!"
**
" Sayang, mas berangkat dulu, jangan pergi kemana-mana, kalaupun ingin keluar kamu harus kabari mas dulu"
" Iya mas......" Dira membantu Laska menggunakan Jaz nya.
Mereka turun bergandengan tangan menuju ke meja makan.
" Kamu harus makan yang banyak sayang"
" Iya, tapi nggak sebanyak ini juga mas!" Dira merajuk melihat piringnya yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauk yang Laska siapkan.
" Kamu mau memberikan makan istri mu atau istri-istri mu?" Tanya papi yang baru saja tiba dan melihat piring yang tadi Laska sajikan untuk istrinya.
" Maksud papi" Laska menatap tajam papinya.
" Dira memang butuh makan lebih, tapi tidak sebanyak itu juga, papi juga pernah melayani istri papi yang sedang hamil kamu, tapi papi tau tidak perlu banyak, yang penting itu gizi yang terkandung di dalam makanan yang Dira makan" Dira tersenyum ke arah papi mertuanya. " Kamu tidak perlu menghabiskan Semuanya Dira"
" Terimakasih papi...."
" Papi, ini anak aku, jadi semua harus dengan keputusan ku bukan papi!" Dira langsung menggenggam tangan Laska, untuk mengingatkan Laska atas ucapannya yang menyakiti hati papi.
" Iya, papi tau" papi tersenyum getir, tapi papi tau sifat Laska yang selalu menunjukkan dirinya.
" Maaf papi, bukan maksud mas Laska bicara seperti itu"
" Iya, papi tau Dira, kamu tidak perlu merasa tidak enak. Anak ini memang selalu saja begitu" Ucap papi melirik Laska yang terlihat biasa menyendokkan makanannya ke dalam mulut.
" Papi mau pergi keluar kota untuk beberapa hari"
" Ada urusan apa pi?" Tanya Laska.
" Reuni teman-teman Kuliah dulu"
" Hati-hati, tapi papi tidak sendiri!"
" Iya, papi tau, tapi jangan terlalu kelihatan! papi tidak ingin terlihat norak di depan teman-teman papi"
" Tenang saja, mereka sudah ahli papi, mereka bukan bodyguard sembarangan"
" Ya, papi tau! Menolak pun percuma" Laska hanya tersenyum sombong.
__ADS_1
Laska bersiap untuk berangkat kerja dengan Dira yang mengiringi langkahnya sampai ke mobil berwarna hitam mengkilat, yang pastinya bukan mobil biasa.
" Daddy pergi bekerja dulu sayang" Elis Laska perut istrinya.
" Coba Dira boleh bekerja seperti dulu"
" Buat apa? uang yang mas berikan kurang?"
" Bukan masalah itu mas, Dira ingin selalu bisa mengikuti mas kerja seperti dulu"
" Kamu nggak percaya sama mas?" Sekarang tangan Laska sudah membingkai wajah istrinya.
" Bukan itu juga mas.....Dira bosen di rumah"
" Mau belanja?"
" Bukan itu juga..."
" Jadi apa? kamu lagi hamil tidak boleh capek dan tidak boleh banyak berada di luar" Laska tidak ingin terjadi apapun kepada istrinya, walaupun banyak bodyguard yang mendampingi istrinya tetap saja perasaan Laska tidak tenang jika istrinya berada di luar tanpa dirinya.
Nadira masih merajuk namun sedetik kemudian.
" Iya, Dira bakal stay di rumah menunggu mas pulang, jangan pulang terlalu malam"
" Iya...mas akan cepat pulang, supaya istri mas nggak cemberut seperti ini" Laska mengecup bibir istrinya, membuat Nadira tersenyum bahagia merasa di cintai.
" Jangan mengerjakan apapun!" Peringatkan Laska sebelum mobilnya melaju.
" Iya......sana!"
**
" Tuan, Perusahaan Jaya's Shine benar-benar sudah tak tersisa dan tidak bisa bangkit" Lapor tangan kanan Laska.
" Bagus......heh itu berita bagus pagi ini"
" Apa kami harus terus mengikutinya?"
" Tidak perlu, mereka tidak punya apa-apa lagi. Tidak akan berbahaya"
" Tapi tuan....."
" Sudah kita harus mengerjakan pekerjaan yang lain, jangan membuang waktu. Time is money" Laska tersenyum, sementara tangan kanannya itu masih terlihat berpikir.
" Kamu lagi mikir apa Dan?"
" Apa sebaiknya kita tetap mengawasi anak pemilik Jaya's Shine tuan? takutnya mereka akan melakukan hal yang tidak terduga karena kita menyebabkan kematian pemiliknya"
" Pemiliknya mati bukan karena kita, tapi karena tidak siap menerima kebangkrutan perusahaannya. Mental itu harus terasah, yang tidak kuat akan tersingkir dengan sendirinya"
Laska begitu fokus dengan semua pekerjaannya, dia ingin pulang tepat waktu, tidak ingin membuat istri tercinta menunggu.
" Aku pulang duluan Dan"
" Hah!" terkejut sang bawahan mendengar izin si atasan, bagaimana tidak, jam masih menunjukkan pukul 4 sore dan pekerjaan masih menumpuk, si bos main pulang aja. Tapi apa hendak dikata bawahan bisa apa.
" Kenapa? makanya menikah dan punya istri, kamu akan semangat untuk pulang"
__ADS_1
" Ya tuan"
Setelah kepergian Laska.
" Gimana mau cari calon istri, kalau setiap hari harus nyelesain semua ini" Gumam Danu melihat tumpukan kertas yang perlu dielus dan diplototi itu.
" Maunya ada yang nungguin, ada yang perhatiin. Tapi aaakkkh" Teriak Danu.
" Pak ada apa?" Tanya sekretaris Laska.
" Itu bos kamu, suruh aku buat cari istri tapi kerjaan segini Banyak" ucap Danu mendesah.
" Sabar pak, yang penting tu kantong tebel. Perempuan yang bakal ngejar bapak"
" Mau ngejar juga harus ada interaksinya Vir.. kalau langsung ngejar itu copet Vira......."
" Hahaha.....bisa bisa, itu bisa di praktekan pak"
" Sana balik! kalau cuma mau ngetawain"
" Mau ngasih ini pak....buat di koreksi"
" Lagi dan lagi........"
" Nanti Vira temenin ngopi pak kalau si Dion jemputnya lama, haha"
" Sana! ngeledek aja"
**
Di rumah Laska masuk rumah dengan setengah berlari dari depan rumah dan menyerahkan kunci mobil pada security yang biasa akan memarkirkan mobil ke tempatnya.
" Istri aku dimana?" Tanya Laska pada asisten rumah tangganya.
" Di halaman belakang tuan" Laska langsung menuju tempat yang tadi ARTnya sebutkan.
" Mas! ngagetin aja" Dira kaget, Laska tiba-tiba melingkarkan tangannya pada pinggang Dira.
" Kamu lagi ngapain sayang?"
" Lagi perhatiin bunga mawar ini mas, cantik"
" Kamu lebih cantik sayang, iya kan dek?" Tanya Laska pada janin Dira.
" Gombal...tumben cepet pulang?"
" Kangen" Laska menikmati aroma dari ceruk leher istrinya.
" Kasihan Danu mas, kalau terus mas tinggal dengan bertumpuk-tumpuk pekerjaan"
" Kamu malah khawatir sama Danu, bukannya suamimu yang memimpin begitu banyak perusahaan. Suamimu butuh perhatian!" ucap Laska marah.
" Marah! Becanda sayang...."
" Becanda yang nggak lucu" Laska meninggalkan Dira.
" Daddy cemburu dek" Elus Dira perutnya. Dira menyusul suaminya kekamar.
__ADS_1