Tragedi Hati

Tragedi Hati
09. Cerita di balik kejadian


__ADS_3

" Un bagaimana pekerjaan mu? lancar?" Tanya papa


" Alhamdulillah lancar pa.... satu bulan pertama berasa capek banget pa karena belum bisa handle kerjaan UN sendiri, masih sibuk tanya-tanya ke karyawan lain"


" Namanya kerja ada penyesuaiannya, lagi memasarkan apa perusahaan tempat kamu kerja?"


" Laptop pa, kami lagi mau launching laptop terbaru dengan spesifikasi yang sangat modern. Emm, tapi kami belum lihat pimpinan perusahaannya pa, cuma tangan kanannya pak Danu"


" Mungkin pimpinannya ngurusin perusahaan lainnya, kan pimpinannya itu terkenal dengan banyak perusahaan. Keren! yang papa tau masih muda"


" Owhh"


" Sana kerja, kamu janji sama mama gaji kedua kamu buat bantuin butik mama"


" Iya ma..."


" Gaji pertama kan habis buat traktir anak-anak Tanu's club' sekarang giliran mama"


" Iya ma...Una pergi dulu assalamualaikum"


" Waalaikumsalam" Jawab mama dan papa.


" Una sudah sedikit berubah ya ma"


" Sama aja!"


" Jarang kumpul bareng papa" Ucap papa sedih


" Papa itu harus terbiasa tanpa Una, baru juga di tinggal kerja, gimana kalau di tinggal nikah sama Una pa"


" Una belum boleh nikah, Una masih kecil"


" Bagi papa Una itu selalu masih kecil, banyak yang seumuran Una sudah menikah pa"


" Pokoknya Una belum boleh menikah, titik!"


" Papa...papa.... Seandainya mama masih bisa hamil, mungkin kita akan punya banyak anak. Papa sangat senang dengan anak-anak" Ucap mama sendu memandang kepergian suaminya yang menuju tempat latihan.


Pasca melahirkan Una, mama Una mengalami pendarahan dan harus melakukan pengangkatan rahim guna mencegah pendarahan yang lebih banyak.


Banyak senior dan junior di Tanu's club' yang menaruh perasaan pada Una, apalagi dulu ada satu senior yang sempat mengungkapkan perasaannya pada Una, pada saat Una masih duduk di bangku perkuliahan, dan mereka diam-diam berpacaran, tapi tidak lama si senior pindah kerja sehingga hubungan mereka berakhir sebelum di ketahui orang-orang.


" Un..." Panggil Jimmy pada saat masuk jam makan siang.


" Iya mas?"


" Makan yuk?" Ajak Jimmy


" Gue tadi bawa bekal mas, jadi gue makan di sini aja"


" Ya un, kamu nggak bilang bawa bekal, kalau kamu bilang kami semua pasti juga bawa bekal jadi kita bisa makan sama-sama dan bisa tukeran lauk" Kata teman un yang perempuan.


" Nggak sengaja, mama masak ayam bakar kecap kesukaan gue, jadi gue minta bawa ke kantor" Ucap un sambil tersenyum, dan teman-teman ul pamit menuju kantin.


" Aku boleh minta un?"


" Hah!"


" Makan bareng"


" Maaf mas...gue satu aja kurang apa lagi ngajak mas Jimmy"


" Panggi gue Jimmy aja kayak yang lain un, dua bulanan di panggil mas gue aneh, cuma kamu yang panggil gue mas. gue bukan orang Jawa un..."


" Jadi?"


" Panggil Jimmy aja"


" Oke"


" Yaudah gue kekantin"


" Maaf Jim" ucap Una merasa bersalah karena tidak mau membagi bekalnya. Jimmy hanya mengangguk dengan senyum lembutnya.


Saat Danu lagi asyik kerja, tiba-tiba hpnya berdering dan tertera nama tuan Laska.


" Hah, tuan Laska" Ucap Danu sambil menggeser tombol hijau.


" Iya tuan...."


" Syukurlah, akan saya siapkan"


" Alhamdulillah tuan Laska sudah mulai mau bangkit, sabar.....kalian akan segera menyingkir dari meja ku" Ucap Danu setelah sambungan telepon di tutup pihak seberang.

__ADS_1


Beberapa hari ini pekerjaan Danu bertambah karena Vira sering izin. Hampir dua bulan sikap Vira sangat dingin apalagi dua Minggu ini Vira bahkan menatap benci kearah Danu.


**


Sudah empat bulan Una bekerja, dia semakin menikmati pekerjaannya. Una sering keluar makan atau hanya sekedar nonton dengan teman-teman kerjanya.


" Un, apa Lo nggak punya pacar?" Tanya cowo salah satu tempat kerjanya.


" Sudah nggak usah mikir pacar-pacaan kita nikmati hari kebersamaan kita" Ucap Una sambil mengangkat tinggi gelas jusnya yang tinggal setengah. Padahal Una nggak bisa bayangin punya pacar karena beberapa hari yang lalu papanya mewanti Una untuk tidak mempunyai pacar dulu, entah apa maksud sang papa, tapi Una yang sangat dekat dengan papanya mengiyakan nasihat papanya.


"Gue ke toilet dulu" Pamit Una.


Saat hendak masuk ke dalam toilet perempuan, Una menabrak laki-laki.


" Brengse* lo!" Teriak Una.


Cowo itu berhenti tanpa menatap kebelakang.


" Lo sudah nabrak gue main nyelonong aja! minta maaf kek!"


Laki-laki itu berbalik.


" Kamu nggak salah, kamu yang nabrak saya kamu yang marah!" Ucap laki-laki itu tajam menatap una.


" Nggak ada ceritanya cewe salah, dan lagian mana ada cewe yang sengaja nabrak cowo nggak ada untungnya!"


" Apa untungnya saya sengaja nabrak kamu?"


" Ya ada..."


" Apa untungnya?" Tanya laki-laki itu mendekati Una, Una pun menantang dengan mengangkat dagunya. Tinggi Una sebatas dagu laki-laki di depannya.


" Supaya Lo bisa......" Una menatap bagian dadanya.


Laki-laki itu tertawa, mengerti maksud dari perkataan Una.


" Sengaja nabrak supaya kena itu?" Laki-laki itu menatap bagian dada Una.


" Iya, apalagi!"


" Haha...jadi orang jangan kepedean, rata gitu. Nggak ada rasanya, sama seperti saya nabrak papan tau!" Ucap laki-laki itu masih dengan tertawa berlalu pergi.


" Kurang ajar!..." Teriak Una. Una hendak menendang laki-laki itu tapi pada saat ingin mengangkat kakinya Una sadar kalau sekarang dia sedang menggunakan rok kerja sebatas lutut.


" Lo kenapa un? kesambet hantu penunggu toilet?" Tanya teman perempuan Una, saat melihat muka Una yang cemberut.


" Gue kesel, tadi ada cowo nabrak gue dan bilang gue rata kayak papan" Ucap Una kesal.


" Apanya yang kayak papan?" Tanya Jimmy.


" Emm...ah sudahlah nggak usah dibahas Jim, bikin gue emosi" Una tidak mungkin mengatakan apanya yang seperti papan, bisa malu.


" Eh....besok katanya pimpinan perusahaan akan datang" Ucap satu teman Una.


" Wah...sudah empat tahun nggak kelihatan akhirnya dia nongol juga"


" gue baru lihat sekali, ganteng bo'....."


" Iya ganteng tapi duda setahu gue"


" Duda?"


" Iya, istrinya meninggal pendarahan pasca keguguran"


" Kasihan,"


" Kenapa harus di kasihani? Kaya, ganteng, pasti mudah cari pengganti istrinya"


" Yang gue denger dia terpuruk sejak kematian istrinya"


" Mana ada laki-laki kayak gitu, terpuruk. Lebay!" Kata Una.


" Dia datang untuk lounching laptop baru itu" Kata Jimmy.


" Iya, sudah lama kita nunggu. Kita harus susun rencana supaya pemasaran kita bagus, selama empat bulan gue kerja cuma melanjutkan pemasaran produk yang lama"


" Ayo semangat" Ucap salah satu teman mereka meminta untuk menyatukan tangan dan hoh " SEMANGAT " ucap mereka bersamaan sambil menaikan dan menurunkan tangan yang mereka satukan.


*


" Tuan, apa tuan besok jadi ke perusahaan?"


" Ya, dan aku akan memulai membuat perhitungan dengan Bima....Akan ku buat dia menderita sama seperti yang Dira rasakan" Ucap Laska menggenggam hpnya Hingga hancur.

__ADS_1


Danu hanya mendelik melihat hp buatan dari perusahaan mereka yang hanya di ciptakan satu untuk Laska dengan segala kecanggihannya hancur remuk di tangan Laska.


" Orang kaya mah bebas....." Danu bermonolog sepanjang jalan keluar menuju mobilnya yang telah di siapkan oleh pekerja di rumah istana tuan Lasmana.


Baru masuk mobil hp Danu berdering.


" Iya, siapa?"


" Ya..."


" Siapa sic? kenal nggak ngajak ketemuan" Ucap Danu setelah sambungan telepon mati.


Danu menuju tempat yang tadi di katakan oleh pria yang menghubunginya.


Danu mendekati pria yang membelakangi dirinya.


" Anda siapa?" Tanya Danu. Pria tadi berbalik dan langsung menghajar Danu dengan membabi buta, Danu yang sudah terlatih membalikkan keadaan sehingga dia lah kini yang mengajar pria tadi.


" Anda siapa hah?" Tanya Danu berdiri menunjuk pria yang terlihat sudah tidak berdaya dengan darah yang mengalir dari pelipis dan bibir si pria tadi.


" Kamu bajing**" Ucap pria tadi.


" Brengse*, apa alasan kamu mengatakan aku seperti itu!" Ucap Danu marah menendang kaki pria itu.


" Kamu bajinga*, kamu sudah menghamili Vira. Kamu harus bertanggung jawab"


Danu tercengang, tidak tau apa maksud dari ucapan pria ini.


" Maksudnya, anda jangan menuduh tanpa bukti"


" Temui Vira" Pria tadi berdiri dengan susah payah berjalan pergi meninggalkan Danu yang masih diam di tempat. Mendengar mobil pria tadi pergi, Danu sadar dan langsung menuju ke rumah Vira.


Danu parkir jauh dari rumah Vira, rumah yang pernah Danu tau saat menghantarkan Vira pulang.


" Bu......Vira nggak bisa minta dia bertanggung jawab" Ucap Vira menangis sujud di depan ibunya yang terlihat syok, duduk dengan tangan memegang erat pegangan kursi kayu dengan model lama itu.


" Dia dalam keadaan tidak sadar saat memperko** Vira Bu...." Masih dengan tangisnya.


" Jadi kamu mau bagaimana? Kamu tidak mungkin membesarkan bayi ini di sini! kita akan menjadi bahan gunjingan tetangga Vir....." Ucap ibu marah yang tertahan.


" Vira diam" Memegang perutnya yang masih rata.


" Kita harus bagaimana! " Bentak ibu Vira. " Pekerjaan mu sudah bagus, menjaga kesucian saja kamu tidak bisa" Ucap ibu memukuli punggung Vira yang memeluk lutut ibunya.


Vira menangis dengan air mata mengalir deras, rasanya menjawab saja sudah tidak bisa. Membayangkan kejadian saat di hotel negara tetangga, Danu yang mabuk berat mengetuk kamarnya, Vira yang baru saja selesai membersihkan diri dan hendak tidur terganggu dengan suara ketukan Danu.


💥 Flasback


" Pak Danu ngapain sic malam-malam kesini?" Vira sengaja untuk kembali ke kamar hotel meninggalkan acara yang belum selesai, berpamitan dengan pak Danu dan Danu mengizinkan Vira kembali.


Danu yang mengikuti acara sampai selesai dan ikut mabuk bersama rekan kerja dari banyak perusahaan.


Vira membuka pintu, Danu langsung ambruk ke tubuh Vira, Vira yang tidak siap akhirnya ikut tumbang bersama Danu dengan posisi Danu diatas.


" Pak awas, berat!" Vira mencoba memindahkan pak Danu dari atas tubuhnya tapi percuma.


Danu yang menghirup aroma lembut dari sabun yang tadi Vira gunakan tergoda dan menjadi bernafsu, dengan kasar Danu membuka kimono handuk yang Vira gunakan. Vira masih mencoba melawan tapi kekuatannya kalah dengan Danu. Dengan masih memberontak, Danu memegangi kedua tangan Vira ke atas menikmati bukit kembar yang hanya bisa dilihat dengan terbungkus kain.


Vira masih mencoba menendang Danu tapi Danu dengan rakusnya mengapit kaki Vira dan membuka gaspernya. Dengan sempoyongan Danu menarik menghimpitnya ke dinding, membuka lebar kaki jenjang Vira dengan paksa dan menerobos masuk ke terowongan tak berlabirirn itu.


Vira hanya bisa menangis sambil mencoba menyadarkan pak Danu.


" Pak.....hentikan!" Tapi Danu menghiraukan Vira dan terus menikmati rasa yang belum pernah dia tau. Setelah melepaskan kehangatan Danu ambruk di atas lantai kamar hotel Vira. Vira menangis berlari menuju ke kamar mandi, lama membersihkan diri akhirnya Vira keluar dengan pakaian lengkap, takut Danu sadar.


Hampir menjelang subuh Vira memanggil office boy dan memintanya untuk mengangkat Danu menuju kamarnya.


Pagi hari Danu sadar dengan kepala pusing, tidak menyadari apa yang tadi di lakukannya. Tapi Danu melihat ada bercak darah di celananya dan ada bau cairan Kecebong. Tapi Danu masa bodoh merasa tidak melakukannya.


💥 Flasback off


" Ibu...maafkan Vira....."


" Saya akan bertanggung jawab"


like


like


like


awas baca tapi nggak like, aku sumpahin terbayang-bayang adegan ini terus....


😜

__ADS_1


__ADS_2