Tragedi Hati

Tragedi Hati
08. Berusaha


__ADS_3

Una turun setelah menyelesaikan ritual mandi dengan gaya sesingkat-singkatnya.


" Ma ...pa..." Una menyapa kedua orangtuanya dengan ramah, tanpa ada perasaan bersalah karena sampai di meja makan kedua orangtuanya sudah selesai sarapan.


" Un...lain kali jangan bangun siang lagi, bukan hanya kamu yang kena omel, papa juga kena un" Bisik papa, ketika Una duduk di sampingnya.


" Iya maaf, besok kalau bisa Una akan bangun lebih pagi"


" Nggak ada kalau bisa, harus bisa! Besok kamu sudah harus masuk kerja" Ucap mama


" Apa?" Papa dan Una terkejut


" Iya kerja, mama iseng masukin lamaran kerja kamu di perusahaan terkenal, Alhamdulillah di terima"


" Mama.....kok nggak bilang Una dulu, Una belum mau kerja, Una masih mau nemenin papa"


" Papa kamu bisa sendiri, kamu itu anak perempuan, menjadi pelatih taekwondo bukan bidang kamu"


Papa dan Una saling pandang, ada ketidak relaan dari pandangan mereka.


Papa Una selama ini menjadi pelatih taekwondo, sebuah sanggar yang diwariskan oleh orang tuanya.


Mama Una mempunyai butik kecil dari hasil jahitan tanggannya sendiri.


**


Bangun dengan di siram air segayung membuat Una gelagapan.


" Banjir-banjir...." Teriak Una.


" Iya banjir lokal" Ucap mama sambil melotot.


" Ma ...... Apalagi ini" Una kesal.


" Sudah hampir jam tujuh, tapi kamu belum siap-siap, boro-boro siap bangun aja belum!"


" Ma....."


" Sudah sana mandi jangan ma ma ma aja" Mama berlalu meninggalkan Una yang sudah ingin menangis.


" Ma...kamu jangan terlalu keras sama Una"


" Belain aja terus, anak perempuan sudah kayak anak laki-laki, di kasih nama bagus sukanya di panggil Una" Omel mama.


Mama masih saja mengomel, papa hanya bisa tertunduk dan menyantap nasi goreng buatan istrinya.


Una turun dengan celana pensil hitam dan baju kemeja biru.


" Ya ampun Una........" Teriak mama.


" Apa sic ma, pagi-pagi sudah Teriak-teriak" Ucap papa kaget dengan sendok masih di dalam mulutnya.


" Itu lihat anak kamu!"


Papa menatap Una dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, hampir saja sendok yang di dalam mulutnya tertelan.


Ternyata celana yang di kenakan Una, celana dengan gaya robekan di paha dan lututnya dengan kemeja kebesaran ala style Korea dengan rambut di Cepol tinggi.


" Ganti! Mama sudah belikan kamu 3 pasang baju kantor yang sudah mama siapkan di atas meja rias"


" Baju apa yang mama siapkan, Una nggak bisa pake"


" Kamu itu mau kekantor, bukannya mau nongkrong"


" Una ganti, kali ini papa setuju dengan mama. Perusahaan tempat kamu bekerja itu perusahaan besar nggak mungkin mau menerima karyawan dengan gaya ala-ala kamu ini"


" Papa....papa koq sekarang di pihak mama sic. Dikasih apa sic papa sama mama?"


" Di kasih sesuatu yang kamu belum boleh tau!" Ucap mama sambil mendorong Una masuk ke dalam kamarnya.


" Ampun Una ini mirip siapa, cantik tapi gaya urakan" Papa bermonolog.


Setelah beberapa menit Una keluar dengan setelan kerja berwarna abu, pilihan mama. Gaya rambut di ikat tinggi seperti ekor kuda.


" Nah ini baru anak papa"

__ADS_1


" Terus tadi anak siapa?" Tanya mama.


" Anak papa juga" Ucap papa cengir.


Una pergi dengan motor matic besarnya.


Tiba di kantor Una di antar oleh satpam ke ruangan kerjanya.


Semua orang menatap Una yang berdiri clingak clinguk mencari meja kerjanya, tak berapa lama bagian HRD datang.


" Siapa yang bernama Airin aluna?" Panggil seorang wanita paruh baya dengan kaca mata tebal.


" Saya Bu" Una bersuara maju dari tempatnya berdiri.


" Kamu ikut saya" Una mengekor ibu tadi.


" Ini berkas baca dan tandatangani" Ibu tadi menyodorkan beberapa lembar kertas.


Tanpa membaca Una langsung tanda tangan.


" Kamu bisa kembali ke ruangan kamu, sudah tertera nama kamu di atas meja. Selamat bekerja semoga betah" Ibu tadi menyalami Una.


" Terimakasih Bu"


Una sampai ke meja dengan namanya di dalam kaca meja.


" Lumayan, AC dan...... kursinya nyaman"


" Karyawan baru?" Tanya seorang laki-laki di sebelahnya.


" Iya mas" Ucap Una mengangguk.


" Jimmy" Ucap laki-laki tadi mengulurkan tangannya.


" Una" ucap Una menyambut uluran tangan Jimmy.


orang satu ruangan itu berkumpul berkenalan dengan Una, usia mereka hanya terpaut Beberapa tahun saja.


Una mulai bekerja, menghadap laptop masih dengan bertanya kepada karyawan yang lain jika ada pekerjaan yang tidak di mengertinya.


" Ya Allah, gini amat cari uang" Una menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri hingga menimbulkan bunyi.


" Pulang?" Tanya Jimmy.


" Lho, aku kira sudah pulang"


" Aku tadi ada urusan nggak sengaja liat kamu"


" Ow..." Una mengangguk anggukan kepalanya.


" Bawa motor sendiri?"


" Iya"


" Nggak di jemput?"


" Masa iya sudah besar di jemput papa" Una tertawa kecil.


" Bukan papa tapi pacar...."


" Aku belum boleh pacaran"


" Berapa umur kamu? kok belum boleh pacaran"


" 22 " Una tersenyum.


Una bukannya tidak mau pacaran, kebanyakan laki-laki yang sudah mengenalnya takut akan papa Una yang over protective.


Salah-salah tidak sengaja menyakiti Una mereka bisa kena hajar, belum lagi para pemuda yang di latih papa Una sangat kekeluargaan dalam menjaga keluarga sabeum Nim mereka.


" Ini rumah aku, mau mampir?"


" Tidak usah, terimakasih aku langsung pulang" Jimmy memandang rumah dengan dua lantai dan di sampingnya ada sebuah tempat luas dengan beratapkan ijuk dengan penyanggah beberapa tiang.


" Hari pertama sudah di antar cowo anak mama"

__ADS_1


" Temen kerja, rumahnya searah" Jawab Una langsung masuk kekamarnya.


**


Satu bulan sudah Una bekerja di perusahaan itu, sudah banyak mempunyai teman, apalagi dengan Jimmy Una sangat dekat.


Di ruangan Danu, Danu sedang resah dan gelisah. Sejak pulang dari luar negeri bersama Vira, Danu dan Vira bagai dua orang yang tidak saling mengenal, bertegur sapa hanya Maslah pekerjaan.


Entah kenapa di jauhi Vira membuat Danu merasa ada yang hilang, biasanya Vira akan selalu berbasah basih, tapi kali ini Vira seperti memusuhinya.


" Vir keruangan saya" Danu melongok keluar memandang Vira. Vira hanya mengangguk.


" Vir, kamu kenapa? saya lihat sepulang dari perjalanan kita ke luar negeri membuat kamu menjauhi saya?"


" Tidak ada apa-apa pak, ada urusan pekerjaan kah bapak memanggil saya?"


" Saya...."


" Kalau tidak ada masalah pekerjaan saya keluar"


" Kamu kenapa?" Danu mendekati Vira, Vira perlahan mundur dengan wajah takut.


" Ada apa dengan kamu vir?" Danu memegang kedua bahu Vira. Vira histeris reflek mendorong Danu, hingga Danu jatuh terduduk. Danu memandang Vira, Vira langsung bergegas keluar"


" Ada apa dengan vira?" Danu mengelus bokongnya yang sedikit sakit. Hingga suara hpnya menyadarkan Danu.


" Iya tuan bos?"


" Baiklah"


" Ada apalagi sekarang?" Danu bermonolog, menyambar kunci mobil dan segera keluar ruangannya dengan langkah cepat mencari keberadaan Vira, tapi meja Vira kosong.


Setibanya di rumah tuan Lasmana yang seperti istana itu, Danu langsung masuk mencari keberadaan tuan Lasmana.


" Danu" Panggil tuan Lasmana.


" Iya tuan?" Danu berbalik, ternyata dia sudah melewati keberadaan tuan Lasmana yang sedang duduk di sudut ruangan dengan beberapa berkas di tangannya.


" Saya sudah tidak tahan melihat semua berkas ini, belum lagi yang ada di ruangan kerja saya dan lagi yang ada di dalam kamar saya. Saya minta kamu harus bisa membuat Laska kembali semangat, temui dia sekarang!"


" Tapi tuan bos..." Sebenarnya Danu juga sudah sangat lelah menangani semua, Danu akui Laska benar-benar sangat hebat bisa mengurus semua tanpa mengeluh.


" Sana, temui Laska" Danu menunduk hormat dan segera masuk ke dalam kamar tuan Laska.


Pemandangan pertama yang di lihat Danu adalah seorang laki-laki yang sedang berbaring dengan tubuh terlihat kurus dengan rambut panjang serta beberapa infus yang tertancap di tubuhnya.


Menari nafas dan mengeluarkan kasar Danu mendekati ranjang king size milik tuannya, masih terpajang beberapa foto Dira dan beberapa foto hasil USG di dinding tepat di depan hadapan Laska. Laska memandang kosong foto-foto itu.


" Tuan" Tapi Laska tidak bereaksi.


" Ehem, tuan....apa tuan tidak ingin kembali ke perusahaan?" Laska masih diam.


" Tuan...." Lama Danu berfikir, untuk mengeluarkan kata-kata yang sudah sejak lama ingin di katakannya pada Laska.


" Em..tuan Bima sudah membuat perusahaan baru dengan menggandeng beberapa pengusaha saingan kita.


Barulah Laska mengalihkan pandangannya menatap Danu tajam, yang di tatap hanya bisa menelan ludah.


" Apa tuan tidak ingin membalaskan dendam atas kejadian itu?" Dengan tangan bergetar Danu mengucapkan kalimat itu.


" Brengse* aku akan membunuhnya hingga tak bersisa" Laska mengamuk dan mencoba bangkit melepas semua jarum infus yang melekat di tanggannya.


Danu terkejut, darah keluar dari tangan bekas jarum infus yang di cabut paksa oleh Laska.


Dengan sempoyongan Laska berjalan tertatih dan kemudian limbung terjatuh, beruntung Danu menahan tubuh Laska yang hampir membentur lantai marmer import kamar Laska.


" Tuan, kalau tuan ingin membalas dendam tuan harus bangkit, jangan seperti ini!" Danu membawa Laska kembali ke ranjangnya dan menghubungi tenaga kesehatan yang mengurus Laska.


like


like


Akankah Laska bangkit?


simak terus ceritanya.

__ADS_1


salam dari Dzaky dan ul.


__ADS_2