
" Daddy kenapa menangis? Ai ada berbuat salah?." Tanya Ai melepaskan pelukannya, lalu menghampiri daddy Revan.
" Ai gak berbuat salah sayang, daddy bahagia melihat kalian bahagia seperti ini. Apa lagi kita bisa berkumpul dengan kakakmu Zie daddy akan lebih bahagia. Hari tua bersama dengan anak-anak dan cucunya, daddy juga sedih nanti akan berpisah dengan putri daddy yang cepat atau lambat akan dibawa suaminya." Ucap daddy Revan membuat Ai sedih, daddy Revan mengusap air matanya.
" Kalau gitu Ai tolak saja biar Ai akan selalu ada di samping daddy Ai tidak keberatan kalau tidak menikah." Ucap Ai yakin.
" Jangan sayang walau daddy sedih, tapi kehidupanmu harus tetap berjalan mempunyai suami terus punya anak yang banyak biar masa tuamu tidak sepi." Ucap daddy Revan sambil mengelengkan kepala.
" Tapi." Ucap Ai terpotong.
" Daddy tau akan ketakutanmu sayang, daddy akan menjadi orang yang paling depan membuat siapa pun yang menjadi suamimu nanti baik itu Arga atau siapapun yang membuat putri kesayanganku ini menderita akan akan daddy balas berkali-kali lipat terlebih kalau sampai dia berani menghianatimu karena tidak ada satu orang tua pun yang mau anaknya disakiti." Ucap daddy Revan serius Ai menatapnya sendu, lalu memeluk kembali daddy Revan.
" Terima kasih daddy, tapi daddy harus janji sama Ai akan selalu sehat untuk selalu menjagaku dari suami yang berhianat." Ucap Ai bahagja kedua orang tuanya selalu menyemangati disaat dia sedang lemah.
" Daddy janji sayang." Ucap Revan dengan menyodorkan jari kelingkingnya.
" Is kalian ini curang mommy gak di ajak telletubis berpelukkan." Ucap mommy Ara, lalu memeluk keduanya dan terkekeh membuat Ai dan daddy Revan tertawa.
" Telletubisnya kurang 1 mom ponya gak ada." Ucap Ai sambil tertawa melepaskan pelukannya.
" Kamu ini bisa aja nanti kakakmu bersin disana." Ucap mommy Ara.
" Biarin." Ucap Ai cuek.
" Yaudah siap-siap sebentar lagi kita akan pergi." Ucap daddy Revan dan mommy Ara mengandengnya mesra keluar dari kamar Ai
" Ok daddy." Ucap Ai, lalu mommy Ara dan daddy Revan keluar dari kamar Ai dengan bergandengan.
" Senangnya punya keluarga yang harmonis, saling mendukung satu sama lain mudah-mudahan aku juga nantinya bisa seperti mommy dan daddy." Gumam Ai dalam hati.
" Eh tunggu dulu mommy kan tadi bilang mau membantuku make up kok malah keluar sama daddy." Ucap Ai mengendus kesel, lalu dia mengoleskan bedak cassen baby,lipstik berwarna pink dibibirnya, dan melukis alisnya dengan pensil alis berwarna coklat agar alisnya sedikit kelihatan biar dia gak dibilang tidak mempunyai alis begitulah Ai dia selalu tampil natural sama seperti mommy Ara.
Di Jerman
" Hacih." Bersin seseorang yang tidak lain adalah Kenzie.
__ADS_1
" Siapa sih yang lagi membicarakanku." Gumam Kenzie dalam hati.
" Tuan sakit?." Tanya seketarisnya yang bernama Jimmy.
" Gak ini berkasnya sudah saya tanda tangan." Ucap Kenzie dingin dengan wajah datarnya, Jimmy mengambil berkasnya dan keluar dari ruangan Kenzie.
" Jadi kangen dengan mommy, daddy dan si bontot." Ucap Kenzie mengambil hpnya menghubungi daddy Revan lewat video call.
" Tut tut." Bunyi sambungan telvon terhubung dan tak berapa lama dingkat.
" Halllo assalamu'alaikum sayang tumben telvon." Ucap daddy Revan langsung menyindir ketika melihat wajah putranya tidak lupa dia menlospeker hpnya agar mommy Ara dan Ai mendengarnya juga.
" Walaikumsalam hehehe daddy bisa aja." Ucap Kenzie terkekeh dengan tangan yang mengaruk tengku lehernya yang tiba-tiba terasa gatal.
" Ya bisalah orang kakak jarang banget nelvon kalau gak ditelvon duluan pasti lupa masih ada keluarga." Ucap Ai sama menyindir.
" Bontot jangan ikut-ikutan ngompor kakak gak lupa keluarga ya kakak disini kerja dan harus menjadi orang tua single." Ucap Kenzie mengelak.
" Oh ya dimana Zo keponakanku yang ganteng itu?." Tanya Ai mengenai anak Kenzie yang diberi nama Kenzo yang sekarang berumur 2 tahun.
" Daddy kalau bawa mobil matanya ke depan jangan ambil kesempatan dalam kesempitan." Tegur mommy Ara kesel yang melihat daddy Revan matanya mengarah ke layar hp dengan jakut yang naik turun.
" Itu anak kecil aja sudah mesum apa lagi sudah besar, ini pasti ajaran dari orang tuanya. Jangan dilihatin terus nanti pengen lagi kan sudah 2 tahun ditinggal enter hilaf lagi." Ucap Ai kesel bercampur malu, tapi dia tetap mengoda Kenzie sehingga Kenzie langsung mengarahkan kameranya ke wajahnya kembali.
" Shit... kenapa harus melihat penampakan seperti itu ini anak senang banget buat papahnya main solo." Gumam Kenzie dalam hati mengumpat dan sesekali matanya mengarah ke Kenzo.
" Ai." tegur mommy Ara dan daddy Revan secara bersamaan dengan suara agak keras membuat Kenzie tersadar dari lamunannya.
" Ehem." Dehem Kenzie menetralkan nafasnya yang sedikit naik turun walau bagaimana pun dia adalah laki-laki normal yang sudah hampir 2 tahun menahannya.
" Kalian pada mau kemana ni malam-malam keluar?." Tanya Kenzie mengalihkan pembicaraan ketika melihat kedua orang tuanya dan adiknya sedang berada di dalam mobil dengan baju rapi seperti akan ada pertemuan atau undangan.
" Ketemu dengan calon suaminya adikmu."
" Widiw ternyata adik bontotku sudah besar dan sekarang mau nikah aja." Ucap Kenzie dengan tersenyum mengoda.
__ADS_1
" Memangnya aku harus jadi anak kecil terus apa? ingat umurku sudah 20 tahun dan sebentar lagi mau lulus kuliah." Ucap Ai membangakan dirinya.
" Asik, sekarang sudah gak takut lagi ya." Ucap Kenzie.
" Masih sih, tapi kalau dia berani menghianatiku dia akan tau akibatnya." Ucap Ai dengan mengebu-gebu.
" Jangan-jangan kamu akan membuatnya menjadi santapan peliharaanmu lagi." Ucap Kenzie sambil terkekeh.
" Bisa jadi." Ucap Ai ambigu dengan wajah serius dan senyum menyerigai, mommy Ara dan Kenzie yang melihatnya mengerti artinya sedangkan daddy Revan tidak mengerti karena dia menganggap kalau putrinya itu adalah perempuan yang lemah lembut, feminim dan tidak tau sifat asli Ai yang disembunyikan oleh mommy Ara dan Kenzie sedari kecil.
Setengah jam mereka mengobrol didalam mobil akhirnya mereka nyampai di restoran jepang.
" Sayang kita sudah sampai mommy tutup dulu ya telvonnya nanti dirumah kita lanjut lagi." Ucap mommy Ara.
" Iya mom kalian nanti pulangnya hati-hati assalamu'alaikum." Ucap Kenzie sebelum mengakhiri telvon.
" Walaikumsalam." Ucap ketiganya.
Mereka bertiga masuk dengan diantar seorang pelayan menuju ruangan yang telah di pesan oleh keluarga Pramana.
" Assalamu'alaikum." Ucap daddy Revan setelah mengetuk dan pintu dibuka oleh seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah Aditya Pramana papah dari Arga.
" Walaikumsalam pak Revan sekeluarga silahkan masuk." Ucap papah Arga kepada daddy Revan, mommy Ara dan Ai.
Arga menyambutnya dengan ikut berdiri serta tidak lupa senyum manis dia perlihatkan Ai yang melihatnya membalas dengan senyum canggung karena sampai sekarang belum ada laki-laki yang bisa membuat dirinya nyaman kecuali Aska sahabatnya dan pak Denny dosennya yang setiap bertemu selalu membuat mereka bertengkar.
" Nak Aisyah sudah kenal kan dengan anak kami Arga?." Tanya mama Arga yang bernama Anita.
" Sudah tante." Jawab Ai singat, padat dan jelas.
" Gimana menurut nak Aisyah?." Tanya mama Arga membuat Ai menatapnya sekilas dengan mengerutkan keningnya tidak mengerti maklum Ai belum pernah berpacaran, apa lagi menyangkut soal perasaan dia sama sekali belum tau yang mana disebut cinta dan bagaimana rasanya.
" Gimana maksudnya tan?." Tanya Ai dengan wajah bingung.
" Gimana anak tante ini menurut nak Aisyah ?." Tanya mama Arga memperbaiki pertanyaannya.
__ADS_1
" Baik." Jawab Ai bingung sehingga dia hanya menyawab satu kata aja, lalu menundukan kepalanya karena risih ditatapi oleh Arga sedangkan Arga yang mendengar jawaban Ai menjadi gemes.