
"JAHAHAHA... Parah... Parah."
"Iyak ... Bisa setega itu ya, Gua mah gak berani. Hebat ... Hebat."
" AHAHAHAH ... perut Gua keram!"
"Prokk ... Prokk ... Prokk."
Suara riuh tawa dan tepukan tangan dari sekelompok pemuda dengan pakaian santai, terdengar nyaring di salah satu tempat nongkrong sederhana di sudut kota yang ramai itu.
Entah topik apa yang sedang mereka gibah kan, sampai bisa membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut masing-masing.
Jika di lihat dari gaya berpakaian yang mereka kenakan, mereka bukanlah sekelompok pemuda biasa. Walau hanya dengan setelan baju kaos, celana Jeans dan sepatu, tidak sama sekali menutup aura mereka yang jelas adalah orang kaya. Tapi kenapa malah nongkrong di pinggiran kota seperti ini? Memang sekelompok orang tidak biasa.
"Wim, kok Lo gak ketawa sih ...? Beneran ini tu lucu banget, hahahah ... ."
Erza merasa heran dengan temannya yang sedari tadi tidak sama sekali mengeluarkan suara.
"Ngapain ketawa, lucunya juga udah gak ada."
Jawab ketus Taqwim pada temannya itu.
"Wetssss ... Santai dong Broo ... ."
Alfi mencoba menenangkan suasana, karna mendengar nada Bicara Taqwim yang sedikit meninggi.
"Iyaa mending kita lanjut ketawa! ya gak ... ya gak?"
Basil mencoba menyenggol pelan pundak Taqwim.
"Apaan sih Bas, gak jelas banget serius."
Taqwim bergidik ngeri karena ulah Basil yang menyenggol - nyenggol tubuhnya.
"Lo itu kenapa? kok dari tadi bawaannya sensi banget, Kek cewek lagi PMS aja. Ahahaha ... ."
Lean mencoba meledek tingkah aneh Taqwim dan itu membuat ke tiga orang teman Taqwim ikut menertawakan pria muda bertubuh atletis itu.
Hati Taqwim mulai dongkol dengan tingkah ke empat temannya, yang malah menjadikan dirinya sebagai bahan ledekan. Tak terima dengan itu semua, Taqwim langsung mencopot sepatu yang di kenakannya lalu melempar sepatu yang ada di tangannya itu dengan sekuat tenaga ke arah Lean.
"BRUKKKKK ...,"
suara sepatu mengenai sasaran dengan kuat, namun suara itu di ikuti dengan lenguhan lembut dari korban penerima lemparan sepatu Taqwim.
"Awwwhhh ...,"
Suara lembut itu seketika membuat ke lima pemuda itu terperanjat, lima pasang mata tajam itu langsung melirik kearah sumber suara.
"Wim, sepatu Lo salah sasaran Bro ... ."
Erza mengeluarkan satu kalimat dan kalimat itu di jawab dengan anggukan tanda setuju dari ke empat temannya.
__ADS_1
Tak ada yang bergerak, mata tajam kelima pemuda itu hanya berkedip sesekali mencoba memfokuskan pandangan pada sesosok indah mahluk ciptaan tuhan yang sekarang berada di depan mereka dengan darah bercucuran di dahinya.
Sepatu Taqwim sama sekali tidak menyentuh Lean, tapi sepatu itu malah mendarat di dahi seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut terikat anggun.
5 menit berlalu, mereka masih tertegun menatap gadis yang sedang asik memegang dahinya mencoba menutup sumber darah yang terus mengalir.
"Ehhh ... Lu pada ngapain cuma melongo gitu, anak gadis orang ini berdarah!"
Suara cempreng mang Kodir si pemilik warung, berhasil membuat kelima pemuda itu sadar dari tatapan terpesona mereka pada gadis cantik itu.
Dengan sigap Lean, Erza, Basil, dan Alfi membantu gadis itu berdiri, mereka bekerumun di sekeliling gadis itu bak semut mengelilingi sebutir gula.
Sedangkan Taqwim malah kembali duduk di kursinya, dengan wajah santai seolah bukan Dia pelakunya. Erza yang melihat tingkah cuek Taqwim mulai meradang menahan kesal.
ini anak bener-bener gak tau diri kayaknya.
Batin Erza,
"Ehhh ... Wim, tanggung jawab ni!"
Erza bersuara dengan wajah tidak suka melihat tingkah Taqwim, sambil melirik cepat ke arah gadis di sampingnya itu berusaha memberi kode pada si pelaku.
"Alahh ... Lebay banget sih, cuma luka gitu doang. Kasih uang, tu anak juga bakalan langsung sembuh!"
Taqwim malah menjawab dengan sinis ke arah teman-temannya sambil memberikan tatapan pedas pada gadis itu, merasa di tatap pedas Gadis itu langsung menunduk takut.
"Iya kak, Aza gak Apa-apa kok. Ini cuma lecet doang."
"Udah kamu gak usah dengerin tu omongan Kakek - kakek sensi."
Lean tetap tidak melepaskan genggamannya dari tangan Aza, Lean malah menyebut Taqwim sebagai Kakek sensi dan itu seketika membuat Taqwim naik darah.
Taqwim berjalan dengan langkah seribu mendekati Aza dan teman-teman nya, tiba-tiba tangan kekar Taqwim menarik paksa Aza secepat sambaran kilat dari kerumanan taman-temannya sampai tubuh Aza tersungkur di lantai semen kasar itu.
Semua mata terbelalak melihat tingkah konyol nan Brutal Taqwim, entah apa yang ada dalam fikiran pemuda kasar ini sampai-sampai tega memperlakukan Aza seperti itu.
"Lo gila ya Wim?!"
Alfi menarik kuat baju kaos Taqwim, sungguh tak ada sopan santun sekali temannya ini.
"Apa ...?! Kenapa kalian natap Gue kek gitu? Cuma cewek kampugan, gak usah berlebihan lah!"
Taqwim malah semakin tak terkendali, bukannya merasa bersalah ia malah semakin sok-sok-an.
Di saat kelima pemuda itu masih terus larut dalam emosi mereka. Tubuh Aza mulai lemas, pandangannya mulai gelap, Aza pingsan di lantai dengan kondisi badan penuh luka di beberapa bagian.
"Woyyyy ...! Pingsan anak orang ...!"
Lagi-lagi suara mang Kodir membuat mereka menoleh ke arah sumber suara, Basil langsung mengangkat tubuh lemas Aza masuk ke dalam mobil mewahnya yang ternyata terparkir cantik bersama dengan mobil Taqwim, Lean, Erza, dan Alfi di bagian belakang warung sederhana itu.
"Cepet-cepet masukin!"
__ADS_1
"Gue aja yang nyetir!"
"Hati-hati kepalanya, awas kejedot!"
Mereka berlari dan mulai berjejalan memasuki Mobil, sedangkan Taqwim dengan malas membawa tubuhnya mengikuti mereka dari belakang.
"Mau ikut gak Lo?! Kalo gak mau udah stop di situ aja!"
"Iya ... Lelet banget, kayak siput patah tulang!"
Lean dan Basil berteriak ke arah Taqwim sahut-sahutan, tapi bukannya mempercepat laju langkah kakinya Taqwim malah terlihat santai. Erza yang memegang kemudi tanpa pikir panjang langsung menancap gas meninggalkan Taqwim, Erza benar - benar sudah tak tahan dengan tingkah Taqwim.
Mobil terus melaju kencang, sampai akhirnya berhenti di salah satu rumah sakit yang paling dekat dengan posisi awal mereka.
30 menit berlalu, keadaan sudah terkondisikan kembali. Di ruangan itu terlihat seorang gadis masih terbaring lemas belum sadarkan diri, dengan perban menutup sebagian kepalanya.
Sedangkan di sebrang tempat gadis itu berbaring, ada lima pemuda dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Mata tajam mereka terus terfokus pada objek di depan mereka, sama-sama menunggu pergerakan dari objek itu.
"Ngapain Lo ikut ke sini?"
Tanya Lean ketus ke arah Taqwim yang ternyata telah hadir di sana.
"Bukan urusan Lo ...!"
Suara Taqwim terdengar lebih keras di bandingkan Lean.
"Ehhhh ... Kok malah mau ribut si, gak asik banget. Jaga sikap, ini rumah sakit bukan warung mang Kodir!"
Basil mencoba melerai.
"Iya nih, yang penting kan tu cewek udah di obatin. Sekarang tinggal kita tunggu dia sadar, terus anterin pulang. Kelar kan ...?"
Sedangkan Alfi langsung menyambung ucapan Basil memberikan penjelasan.
"Lagian ngapain juga kita mau ribut cuma gara-gara masalah sepele gini, udah lah jangan kek Bocil gitu."
Erza menunjukkan sikap sok bijaknya, dan itu berhasil membuat yang lain merasa geli mendengarnya.
"Lo juga Wim, kurangin lah sikap kasar Lo itu. Kasian tu cewek sampe lecet-lecet badannya."
Lean menengur sikap Taqwim tadi, tapi tidak sama sekali ada tanggapan dari Taqwim. Ucapan Lean seolah hanya di telan mentah-mentah oleh Taqwim.
"Suka-suka kalian aja."
Jawab singkat oleh Taqwim.
"Nahh ... Gitu dong, yang akur ... Hehehehhe."
Basil malah cengar-cengir melihat teman-temannya mulai akur kembali.
#salam hangat dari author semoga kalian suka 😍
__ADS_1