Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung

Tulang Rusuk Dan Tulang Punggung
GUNDAH


__ADS_3

"BRAKKK ...!"


Taqwim mendorong kuat pintu utama rumah mewah yang terlihat sepi tak berpenghuni, masih dengan nafas memburu terlihat tak sabar ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.


"Astagfirullah, Taqwim ...!" Teriak seseorang dari dalam.


Ternyata ada seorang wanita dewasa yang keluar dari salah satu ruangan dengan tiba-tiba, ia sepertinya kaget karena ulah Taqwim. Sedangkan Taqwim, ia langsung memberhentikan langkah kakinya namun sorot matanya masih di penuhi kabut amarah.


"Ada apa Sayang? Anaknya Bunda kok jadi kasar gini sih ...?" Tutur wanita dewasa itu, lalu mendekati Taqwim penuh kasih sayang dan kesabaran.


"Bunda kapan sampenya?! Kok gak kasih kabar Taqwim kalo mau pulang?" Tanya Taqwim heran setelah melihat sosok Ibunya sekarang sudah ada di sampingnya.


"Yaa sengaja dong gak kasih tau, biar kejutan!" Ucap Ica penuh kegembiraan, lalu memeluk Taqwim.


"Taqwim kangen sama Bunda ...!" Ucap Taqwim manja, sambil menenggelamkan wajahnya di pundak sang Bunda.


"Yak ampun ...! Sudah besar, masak masih manja kayak bocah Kamu ini." Ucap Ica sambil terkekeh pelan.


"Ya biarin! Taqwim, kan sayang Bunda, kangen Bunda." Ucap Taqwim tak malu dan bahkan emosinya sekarang sudah kembali stabil setelah melihat sang Bunda sekarang berada di dekatnya.


"Bunda pulang sendiri? Papa mana?" Tanya Taqwim setelah melepaskan pelukannya.


"Papa masih belom bisa pulang, kerjaan masih numpuk Sayang. Tapi secepatnya kita kumpul ya ...!" Ucap Ica meyakinkan anaknya itu.


"Alasan terus." Jawab Taqwim datar, dan terlihat kecewa. "Taqwim masuk kamar dulu, Bunda Istirahat aja, kan baru sampe!" Lanjutnya lalu pergi setelah mendapat izin dari sang Bunda.


---


"Bagaimana? Berapa ganti rugi Kita hari ini?" Tanya seorang pria di sebrang telepon itu.


"Hari ini pemecahan rekor terbaru Tuan! Karena Kita hanya mengeluarkan Lima Juta saja." Jawab pria lain dengan nada penuh semangat.


"Humzz ... bagus. Jadi, untuk mengganti apa saja uang itu?" Lanjut pria itu bertanya.


"Hanya untuk mengganti grobak sayur dan mengobati luka seorang gadis Tuan." Jawab peria satunya penuh keyakinan.


"Baiklah, pantau terus apa saja yang ia lakukan. Satu lagi! Beri penjagaan terbaik untuk anak dan istri Saya, selagi Saya belum bisa kembali." Tutur pria itu lalu memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Baik Tuan, siap laksanakan!" Ucap pria satunya, namun sudah tak terdengar lagi di sebrang sana karna sambungan teleponnya sudah terputus.


---


"Huuuuh ...!"


Taqwim membuang nafasnya lesu, sekarang ia sudah terlihat jauh lebih segar karena beberapa waktu yang lalu Taqwim melaksanakan ritual mandinya.


"Jadi ..., dia Yatim Piatu?" Ucap Taqwim sambil menatap langit-langit kamarnya.


Entah kenapa bayangan gadis itu berlintasan di benaknya, banyak pertanyaan dan kecemasan akan keadaan Aza di fikiran Taqwim.


"Arghhhh ..., gila! Kenapa malah mikirin dia terus sih?!" Teriak Taqwim frustrasi, sambil mengusap wajahnya kasar.


Bahkan saat Taqwim sudah berkumpul dengan teman-temannya seperti biasa, rasa gundah akan keadaan gadis itu terus saja menghantuinya.


"Lo kenapa lagi Wim, Kok kayak banyak fikiran gitu?" Tanya Erza, sambil menepuk pundak Taqwim mencoba menyadarkannya dari lamunan.


"Hahh ...? E-enggak kok." Jawab Taqwim sedikit terbata-bata dan terlihat bingung.


"Dih ... Kenapa ni Bocah? Kesambet ...!" Ucap Lean ikut berkomentar sambil terkekeh pelan melihat tingkah Taqwim yang tak seperti biasanya.


"Terserah Kalian dah ...! Gue mau pulang, keknya badan Gue butuh istirahat nih." Ucap Taqwim berpamitan, ia sama sekali tidak memperdulikan ejekan teman-temannya.


Melihat tingkah Taqwim yang sedikit tak biasa, membuat Alfi, Lean, Basil dan Erza tercengang. Mereka merasa ada yang yang tidak beres pada Taqwim, karena pemuda itu seharusnya emosi jika di ejek tapi kali ini tidak.


"Ckrekkk ...!"


Suara itu di timbulkan oleh ulah Taqwim membuka pintu dari salah satu ruangan, di rumah yang sedang di kunjungi Taqwim saat ini.


"Selamat malam, Om Andre?" Ucap Taqwim pelan.


"Ehh ... Taqwim, malam. Tumben main ke sini? Silakan duduk!" Jawab pria dewasa yang langsung berdiri dari posisi duduknya setelah melihat Taqwim.


"Iya makasih Om, Taqwim ke sini mau minta tolong sama Om." Tutur Taqwim To the point sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk di kursi.


"Bisa dong, memangnya apa itu?" Jawab Andre menyanggupi permintaan Taqwim.

__ADS_1


"Taqwin minta, tolong Om cari tau informasi lengkap seseorang!" Lanjut Taqwim dengan nada penuh ketegasan.


"Kalo masalah itu gampang Taqwim, serahkan saja pada Om! Jadi, Kamu kasih Om waktu berapa lama untuk tugas ini?" Tanya Andre sedikit menantang.


"Secepatnya!" Jawab Taqwim singkat dan terlihat datar.


Cukup lama Taqwim menghabiskan sedikit waktunya untuk berbincang dengan Andre, sampai pada akhirnya pemuda itu memutuskan untuk berpamitan.


"Ya sudah Om, kalo gitu Taqwim pamit pulang dulu!" Ucap Taqwim sambil memgangkat tubuh tegapnya dalam posisi berdiri tegak.


"Baiklah, akan Om kirim data itu secepatnya!" Jawab Andre ikut berdiri dan perlahan berjalan keluar mengantar Taqwim sampai depan pintu utama.


Bunyi klakson mobil Taqwim sudah hilang sejak beberapa detik yang lalu, pemuda itu secepat kilat meninggalkan rumah yang telah lama tak di kunjunginya itu.


Taqwim melajukan mobil mewahnya menerobos jalanan yang sedikit lengang, di tengah waktu yang hampir mendekati fajar.


Entah apa yang berhasil menggerakkan hatinya, sehingga ia sampai kembali menapakkan kakinya lagi di perkampungan kumuh yang tadi sudah dari di sambanginya.


"Ngapain jam segini udah bangun tu bocah?" Ucap Taqwim sangat pelan, dengan pandangan menatap ke dalam rumah dari balik jendela kaca.


Mata tajam Taqwim terus mengawasi pergerakan seorang gadis yang terlihat masih mengantuk, dengan pisau kecil yang di genggamannya mencoba memotong beberapa sayuran.


"Bahaya banget, masih ngantuk udah pegang senjata tajam gitu!" Tutur Taqwim sambil menggeleng pelan karna ulah gadis yang sedang di awasinya itu.


"Huaaah ...!" Suara keras terdengar dari mulut mungil Aza, entah suara khas itu sudah berapa kali terucap.


"Yak ampun! Kok badan capek banget si ...?!" Lanjutnya sambil meregangkan Otot-ototnya. "Semangat Aza ...!" Lagi-lagi Aza berteriak kencang, padahal di luar sedang ada seseorang yang tengah asik memperhatikan tingkah anehnya itu.


Aza dengan telaten menyelesaikan kegiatan yang setiap hari biasa ia lakukan, yaitu membuat beberapa gorengan untuk di jual. Sedangkan Taqwim masih asik mengawasi pergerakan Aza, gigitan nyamuk, rasa kantuk, dan dinginya angin tak membuat Taqwim goyah.


Sudah hampir lima belas menit tubuh tegap Taqwim masih belum melakukan pergerakan, hanya mata tajamnya yang terus bergerak mengikuti pergerakan Aza.


Sampai pada akhirnya, tubuh Taqwim tiba-tiba berlari dan mendobrak pintu dapur Aza dengan kuat. Alhasil tingkahnya itu membuat Aza kaget dan histeris.


"Aaaa ...! Maling ...!" Teriak Aza kuat sambil berlari dan hilang di balik lemari berukuran sedang.


"ASTAGA ...! Pintu macam apa ini...? Lembek banget!" Ucap Taqwim sambil mengejar Aza.

__ADS_1


"JANGAN ...!" Lagi-lagi Aza berteriak, tubuhnya meringkuk ketakutan sambil tangannya terus bergerak seolah-olah sedang memberikan perlawanan.


__ADS_2